Minggu, 20 Februari 2011

[Abu Nawas] Minta Tolong Pada Lalat

Minta Tolong Pada Lalat
Abunawas hanya tertunduk sedih mendengarkan penuturan istrinya. Tadi pagi beberapa pekerja kerajaan atas titah langsung Baginda Raja membongkar rumah dan terus menggali tanpa bisa dicegah. Kata mereka tadi malam Bagin­da bermimpi bahwa di bawah rumah Abunawas terpendam emas dan permata yang tak ternilai harganya. Tetapi setelah mereka terus menggali ternyata emas dan permata itu tidak ditemukan. Dan Baginda juga tidak meminta maaf kepada Abunawas. Apabila mengganti kerugian. Inilah yang membuat Abunawas memendam dendam.
Lama Abunawas memeras otak, namun belum juga ia menemukan muslihat untuk membalas Baginda. Makanan yang dihidangkan oleh istrinya tidak dimakan karena nafsu makannya lenyap. Malam pun tiba, namun Abunawas tetap tidak beranjak. Keesokan hari Abunawas melihat lalat-lalat mulai menyerbu makanan Abunawas yang sudah basi. Ia tiba-tiba tertawa riang.
“Tolong ambilkan kain penutup untuk makananku dan sebatang besi.” Abunawas berkata kepada istrinya.
“Untuk apa?” tanya istrinya heran.
“Membalas Baginda Raja.” kata Abunawas singkat.
Dengan muka berseri-seri Abunawas berangkat menuju istana. Setiba di istana Abunawas membungkuk hormat dan berkata, “Ampun Tuanku, hamba menghadap Tuanku Baginda hanya untuk mengadukan perlakuan tamu-tamu yang tidak diundang. Mereka memasuki rumah hamba tanpa ijin dari hamba dan berani memakan makanan hamba.”
“Siapakah tamu-tamu yang tidak diundang itu wahai Abunawas?” sergap Baginda kasar.
“Lalat-lalat ini, Tuanku.” kata Abunawas sambil membuka penutup piringnya. “Kepada siapa lagi kalau bukan kepada Baginda junjungan hamba, hamba mengadukan perlakuan yang tidak adil ini.”
“Lalu keadilan yang bagaimana yang engkau inginkan dariku?”
“Hamba hanya menginginkan ijin tertulis dari Baginda sendiri agar hamba bisa dengan leluasa menghukum lalat-lalat itu.” Baginda Raja tidak bisa mengelakkan diri menolak permintaan Abunawas karena pada saat itu para menteri sedang berkumpul di istana. Maka dengan terpaksa Baginda membuat surat ijin yang isinya memperkenankan Abunawas memukul lalat-lalat itu di manapun mereka hinggap. Tanpa menunggu perintah Abunawas mulai mengusir lalat-lalat di piringnya hingga mereka terbang dan hinggap di sana sini. Dengan tongkat besi yang sudah sejak tadi dibawanya dari rumah, Abunawas mulai mengejar dan memukuli lalat-lalat itu. Ada yang hinggap di kaca.
Abunawas dengan leluasa memukul kaca itu hingga hancur, kemudian vas bunga yang indah, kemudian giliran patung hias sehingga sebagian dari istana dan perabotannya remuk diterjang tongkat besi Abunawas. Bahkan Abunawas tidak merasa malu memukul lalat yang kebetulan hinggap di tempayan Baginda Raja.
Baginda Raja tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menyadari kekeliruan yang telah dilakukan terhadap Abunawas dan keluarganya. Dan setelah merasa puas, Abunawas mohon diri. Barang-barang kesayangan Baginda banyak yang hancur. Bukan hanya itu saja, Baginda juga menanggung rasa malu.
Abunawas pulang dengan perasaan lega. Istrinya pasti sedang menunggu di rumah untuk mendengarkan cerita apa yang dibawa dari istana.

0 komentar:

Poskan Komentar

Ditunggu Komentarnya Teman-Teman

Blog Archive

Komentar