Kamis, 01 September 2011

[Dongeng] Tiga Permintaan


[Dongeng] Tiga Permintaan



Tiga Permintaan

Dongeng Rakyat Inggris

Dahulu kala, ada seorang nelayan miskin yang tinggal di tepi pantai dalam pondok yang tua dan rengat. Dia tinggal bersama istrinya yang selalu tidak puas dan tidak peduli betapa kerasnya nelayan itu bekerja.
Suatu nialam nelayan itu mencoba melempar jalanya sekali lagi sebelum hari makin gelap. Dia belum menangkap apa-apa sepanjang hari ini. Ketika dia mulai menarik jalanya, jalanya terasa berat sehingga dia yakin dia mendapat ikan besar. Tapi di jalanya hanya ada seekor ikan kecil. Tiba-tiba ikan itu berbicara. Nelayan itu menggosok-gosokkan matanya dengan terkejut.
"Kumohon, lemparkan aku kembali ke laut," ujar ikan itu. "Aku sangat kecil sehingga tidak bisa membuatmu kenyang."
Tapi nelayan itu lelah dan lapar.
"Meskipun kamu kecil, aku tidak bisa melemparmu kembali. Istriku tidak akan senang kalau aku pulang tanpa membawa apa-apa," ujarnya sambil menghela napas dalam-dalam.
"Aku akan mangabulkan tiga permintaan pertama yang kauminta di pondokmu, kalau kamu melepaskanku," ujar ikan itu, "tapi aku peringatkan, tidak semua permintaanmu akan dikabulkan."
Nelayan itu tidak mendengar peringatan ikan tersebut. Dia hanya mendengar sedikit tentang tiga permintaan dan dia berpikir akhirnya istrinya yang penggerutu itu bisa mendapatkan apa pun yang dia inginkan. Jadi dengan hati-hati dia melepaskan ikan kecil itu dari jala dan melemparkannya ke laut. Dengan mengepakkan ekornya, ikan itu menghilang jauh ke dalam air.
Nelayan itu berlari di sepanjang jalan pulang dan dengan gembira menceritakan kepada istrinya tentang ikan kecil itu. Tapi, bukannya senang, istrinya malah berteriak marah kepadanya seperti biasa.
"Kamu percaya hal seperti itu? Siapa yang pernah mendengar ikan berbicara, dasar suami gila," dan dia membanting piring berisi roti kering dan kulit keju yang keras di depan nelayan yang malang itu.
"Aku minta sepiring sosis yang enak. Aku lapar sekali," ujar nelayan itu penuh harap.
Segera setelah kata itu terucap dari mulutnya, tercium bau yang lezat dan di depannya telah ada sepiring sosis panas! Dia senang sekali dan mengambil pisau, tapi tiba-tiba istrinya berteriak kepatlanya.
"Kenapa kamu tidak meminta sesuatu yang lebih baik? Lebih baik kita punya berpeti-peti emas dan baju bagus untuk dipakai!" kata-kata ini keluar dari mulut perempuan yang sebelumnya tidak percaya cerita laki-laki itu. "Kamu bodoh! Aku harap sosis itu menempel di hidungmu!"
Terjadi keheningan ketika si istri memandang suaminya yang malang. Ada sederet sosis bergantung di cuping hidung suaminya. Nelayan itu teringat ucapan ikan itu dan tiga permintaan pertama yang diminta di pondok.
Nelayan dan istrinya menarik sosis itu, tapi tidak berhasil. Sosis-sosis itu melekat erat. Tidak ada jalan lain, mereka harus mengucapkan permintaan terakhir.
"Aku minta sosisnya menghilang," ujar nelayan itu sedih, dan sosis itu hilang dalam sekejap. Nelayan dan istrinya yang penggerutu itu hanya bisa duduk terdiam. Tidak ada makanan lezat sosis panas, dan yang lebih buruk, tidak ada permintaan ajaib. Nelayan itu tidak pernah menangkap ikan kecil itu lagi, dan sejauh yang saya tahu, istrinya tidak pernah berhenti mengomel. Tidak semua permintaan akan dikabulkan. (dari 100 Kisah Klasik).(

0 komentar:

Poskan Komentar

Ditunggu Komentarnya Teman-Teman

Blog Archive

Komentar