Kamis, 07 Juni 2012

[Novel Anak] Matahari Kecil-3



[Novel Anak] episode 3

Matahari Kecil
Oleh Ali Muakhir




(3)
Malam ini, menu makan malam tidak seperti biasanya. Agak istimewa. Ada goreng tempe, tahu, telur, dan sayur sop. Anak-anak panti berdecak senang mengelilingi meja makan.
"Ini pasti karena Teh Ines ulang tahun," kata Uly, anak perempuan berusia sembilan tahun yang sudah menganggap Ines seperti kakaknya sendiri. "Mudah-mudahan Teh Ines selalu sehat, ya?" katanya lagi minta dukungan Dudi, anak laki-laki seusia Uly yang duduk berdampingan dengan Uly.
"Amin," ucap Dudi.
Di mata anak-anak panti, Ines memang luar biasa. Sebagian besar, mereka yang usianya di bawah Ines menganggap Ines sebagai kakak yang luar biasa. Ines mau berbagi cerita, berbagi suka, dan berbagi duka.
Ini untuk anak-anak panti memang baik, teta-pi untuk Ines, ada baiknya dan ada tidak baiknya. Di usianya yang telah menginjak angka tiga belas, belum ada satu orang pun yang mengadopsinya. Tiap kali ada yang mau mengadopsi, Ines meminta calon orangtuanya itu membawa satu atau dua orang anak panti yang sudah dianggapnya sebagai adik. Akibatnya, calon orangtuanya itu lebih memilih anak lain daripada dirinya. Atau ada alasan lainnya.
"Bagaimana? Makanannya enak?" tanya Bunda Asma pada anak-anak panti yang jumlahnya mencapai enam puluh tiga anak. Mulai dari usia 2 tahun sampai 10 tahun. Anak yang seusia Ines hanya satu orang, Dania, yang juga hingga sekarang belum diadopsi. Bedanya, Dania belum diadopsi karena dia cacat. Kaki kanannya pincang.
"Enak sekali, Bunda!!!" jawab anak-anak serempak.
"Bunda, ini untuk ulang tahun Teh Ines, ya?" tanya Uly mengungkapkan kepenasaranannya.
Bunda Asma tersenyum, "Bukan, ini untuk kita semua," jawabnya. "Sesekali Bunda masak masakan yang agak istimewa tidak apa-apa, kan?" tanyanya kemudian.
"Sering-sering juga tidak apa-apa, Bunda," jawab Uly sambil tersenyum.
"lya. Kita senang kok, asal tidak keseringan," Dudi menambahi.
"Yeee!!! Sering juga tidak apa-apa!!!" teriak beberapa anak. Untuk sejenak, suasana agak gaduh. Mereka baru berhenti setelah Bunda Asma meminta mereka berhenti.
"Insya Allah kalau ada rezeki, Bunda akan masak yang istimewa lagi," kata Bunda Asma mengakhiri makan malam, yang disambuttepuk tangan anak-anak panti.
Ines terharu sekali melihat anak-anak panti senang. Ines tidak ingin mengubah keceriaan anak-anak panti dengan mengatakan dari mana sebenarnya masakan makan malam kali ini. Cukup dia dan Bunda Asma yang tahu. Dan, tentunya Yang di Atas, Allah Swt.
Keceriaan mereka berlanjut hingga di tempat tidur. Kamar-kamar berukuran empat kali enam meter yang dihuni oleh sepuluh hingga dua belas orang dengan tempat tidur bertingkat itu, ramai membicarakan makan malam mereka.
Ines yang mendengar perbincangan mereka ikut senang. Kebetulan kamarnya terletak pa­ling ujung, jadi bisamengetahui apayangterjadi di kamar-kamar yang dilewatinya.
Ines menarik napas lega begitu sampai di tempat tidurnya. Sejenak dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, lalu merebahkan diri. Matanya menerawang jauh. Andai aku jadi orang kaya, pasti aku bisa lebih membahagiakan mereka, kata hatinya.
Angannya melayang, mengingat masa-masa pertama dia menyadari kalau dia anak panti asuhan. Dia tinggal di panti sejak masih bayi. Bunda Asma tidak tahu siapa orangtua Ines. Yang Bunda tahu, Bunda menemukan orok Ines di depan pintu panti saat pagi-pagi buta.

bersambung ke-4

0 komentar:

Poskan Komentar

Ditunggu Komentarnya Teman-Teman

Blog Archive

Komentar