Kamis, 07 Juni 2012

[Novel Anak] Matahari Kecil -5


[Novel Anak] episode 5

Matahari Kecil
Oleh Ali Muakhir




(5)
Ines teringat waktu masih berusia tujuh tahun. Ines punya sahabat bernama Windi. Ke mana pun mereka pergi, selalu berdua. Mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi.
"Aku ingin kaya," kata Ines suatu kali. Matanya menerawang jauh.
"Aku ingin sekolah yang tinggi," kata Windi.
Saat itu, mereka berdua duduk-duduk di pinggir jalan sambil melihat anak-anak pergi ke sekolah.
"Kenapa ingin kaya?" tanya Windi. "Karena kalau kaya, aku bisa sekolah yang tinggi, bisa membantu orang yang tidak mampu, dan baaanyak lagi," jawab Ines sambil membentangkan kedua tangannya.
Windi mengangguk-angguk. Kucir kudanya sampai ikut bergoyang-goyang.
"Kalau kamu, kenapa ingin sekolah yang tinggi?" balik Ines bertanya kepada Windi.
Windi menarik napas dalam-dalam, lalu jawabnya, "Kan, kalau sekolah tinggi bisa jadi orang yang sukses. Bisa kaya. Bisa punya mobil mewah seperti itu, tuh!" Windi menunjuk mobil sedan yang kebetulan lewat di depan mereka. Kesenangan mereka memperhatikan apa pun yang ada di jalan, di depan mereka, terhenti saat seseorang memanggil mereka. Mbak Sri, Mbak yang membantu Bunda Asma mengasuh anak-anak panti.
"Kalian bandel, ya! Sudan dibilang, jangan main di depan jalan!" katanya agak berteriak. Mbak Sri memang agak galak, tetapi dia tetap baik hati. "Kalian dari tadi dicari. Ada orangtua yang sedang mencari anak asuh!"
Tanpa disuruh dua kali, Ines dan Windi berlari pulang mendahului Mbak Sri. Mbak Sri hanya geleng-geleng kepala.
Sampai di panti, mereka langsung mandi dan ganti pakaian, lantas ikut berjejer bersama anak-anak panti lainnya. Bunda Asma selalu menyuruh anak-anak untuk berlaku sebaik dan sesopan mungkin agar bisa terpilih. Hal ini sempat mem-buat Ines berpikir. Apa bedanya mereka dengan boneka yang dijual di pertokoan. Boneka-boneka dihiasi agar bisa punya pemilik, sedangkan mereka agar punya orangtua. Terkadang mere­ka harus bermanis-manis atau malah memasang tampang sememelas mungkin supaya calon orangtua merasa iba.
Tiba-tiba saja Windi berbisik ke telinga Ines, "Kali ini aku harus kepilih. Aku ingin cepat seko­lah," katanya.
Ucapan Windi membuat Ines teringat pada angan-angannya. Dia ingin kaya, hidup enak, tidak lagi makan seadanya, bisa memakai baju yang lebih pantas, tidak perlu bekerja.
"Pa, anak ini manis sekali," Ines mendengar tamu wanita berkata sambil menunjuk dirinya. Lalu dia berbisik, "Iya, kan, Pa?"
Laki-laki gendut dan berkepala agak botak itu mengangguk, lalu menunjuk Windi." Dia juga manis sekali," katanya.
Calon orangtua itu kemudian menemui Bunda Asma. Sepertinya mereka sedang berunding. Tidak lama kemudian, Bunda Asma menemui Ines dan Windi yang masih berdiri di antara anak-anak panti lainnya.
"Di antara kalian akan dipilih menjadi anak asuh," kata Bunda Asma sambil berjongkok mengimbangi tinggi badan Ines dan Windi. "Bunda akan merasa kehilangan, tetapi Bunda yakin, ini yang terbaik buat kalian."
"Bunda? Salah satu ...?" tanpa sadar, Ines dan Windi mengucapkannya bersamaan.
Bunda Asma sampai mengernyitkan kening. "Kami tidak mau berpisah, Bunda," Ines memberanikan diri terus terang.
Bunda Asma member! isyarat kepada Ines dan Windi untuk diam, tetapi terlambat. Tamu wanita anggun itu keburu menghampiri Ines dan Windi. Mereka mendengar keberatan Ines.
"Pa, anak ini tidak mau ikut kita," kata wanita itu pelan, tetapi masih bisa didengar. "Bagaima-na dengan kamu, Nak?" tanyanya kemudian kepada Windi.
"Oh, saya akan senang sekali!" Windi men-jawab disertai binar-binar mata yang tanpa dibuat-buat. Dia benar-benar senang.
Ines terbelalak menatap Windi dengan ber-juta rasa tak percaya.
"Maafkan aku Ines, aku sungguh-sungguh ingin sekolah," ujar Windi setelah sepasang orangtua itu pulang. "Aku tidak akan bisa sekolah dengan baik kalau tinggal di sini terus. Kita ..., kita masih bisa berteman. Bisa berkirim surat."
Ufh! Mana surat yang kamu janjikan? Jangan-kan surat, alamat kamu pun aku tidak tahu. Sekarang kamu berada di mana Windi? Ines membuka matanya, kembali membalikkan ba­dan dan menatap langit-langit kamarnya yang agak buram. Dia masih tergolek di tempat tidur. Harusnya tempat tidur di sebelahnya menjadi tempat tidur Windi hinggasaat ini, tetapi... kamu ingin sekolah hingga melupakan aku.
Begitu menyenangkankah mempunyai orang­tua, sampai kamu melupakan aku? Setelah kita bersahabat sekian tahun, kamu re/a menukarse-mua itu dengan orangtua serta kehidupan yang baru kamu kenal. Sekarang aku sudah tiga betas tahun, Windi. Tidak ada pesta, tetapi aku sangat bahagia sekali. Apa ulang tahun kamu selalu dirayakan? Pasti sangat meriah. Sebelum mata Ines benar-benar terpejam, dia berdoa semoga suatu saat nanti, Allah mempertemukannya dengan Windi. Suatu saat, kalau dia sudah menjadi orang kaya.

bersambung ke-6

0 komentar:

Poskan Komentar

Ditunggu Komentarnya Teman-Teman

Blog Archive

Komentar