Minggu, 10 Juni 2012

[Novel Anak] Matahari Kecil -7


[Novel Anak] episode 7

Matahari Kecil
Oleh Ali Muakhir





(7)
Subhanallah, alhamdulillah, lahaula wala-quwwata ilia billah. Berkali-kali Ines meng­ucapkan kalimat-kalimat tayyibah begitu mem-buka amplop hadiah dari kedua ustadnya. Isinya uang tunai, tidak banyak, hanya dua ratus ribu rupiah, tetapi itu bagi Ines sudah sangat banyak.
Setelah anak-anak panti pergi sekolah, Ines menemui Bunda Asma. Dia menceritakan hadiah dari kedua ustadnya itu. Dia tidak tahu, uang sebanyak itu akan dia pergunakan untuk apa. "Kalau Bunda tidak keberatan, uang ini sebaiknya Bunda yang simpan," ujar Ines.
Bunda Asma tersenyum, "Boleh, tetapi se-baiknya Ines pikirkan baik-baik, uang itu akan diapakan, biar tidak mubazir," nasihatnya. "Maksud Bunda?"
Bunda Asma diam sejenak, "Ya, barangkali Ines mau mempergunakannya untuk modal usa-ha," katanya kemudian.
Mata Ines terbelalak, "Usaha? Usaha apa?!" Sebelum menjawab, Bunda Asma menggeser duduknya mendekati Ines. "Ines, dengan uang ini, Bunda pikir Ines bisa buka usaha kecil-kecilan. Misalnya, buat usaha jual makanan kecil, gorengan, dan sebagainya."
Saat itu juga binar mata Ines makin terang, angannya langsung mengembara ke mana pun yang dia bisa. Tentang keinginannya membantu anak-anak panti, tentang keinginannya menjadi orang sukses, dan tentang keinginannya menjadi orang kaya.
"Gimana? Ines mau memikirkannya?" Ines tersenyum, "Iya, Bunda! Ines akan memi­kirkannya!" tegasnya. "Makasih, Bunda." Ines mencium pipi Bunda Asma sebelum meninggalkannya.
Gadis yang mulai mekar itu, benar-benar membuat Bunda Asma tersenyum senang. Bunda Asma yakin, suatu saat nanti pasti Ines akan berhasil. Selain cantik budi, dia juga gadis yang luas hati.
Membayangkan apa yang bisa dilakukannya dengan uang dua ratus ribu itu, membuat Ines tidak konsentrasi di kelas siang harinya. Kebetulan Ines ikut sekolah siang. Bukan sekolah for­mal. Dia bersama beberapa orang, setelah lulus sekolah dasar, mempelajari pelajaran yang diberikan di sekolah lanjutan tingkat pertama. Tanpa membayar dan tanpa kenaikan kelas.
"Yang penting belajar," prinsip Ines ketika pertama kaliikut kelas yang diadakan para ma-hasiswa pendidikan di Bandung itu.
Dan, meskipun satu minggu hanya tiga kali pertemuan; hari Sabtu, Minggu, dan Rabu, kuali-tas keilmuan Ines sama dengan anak-anak se­kolah lanjutan tingkat pertama pada umumnya. Ines berani membuktikannya.
"Ines, coba selesaikan soal ini!" pinta Teh Vita, salah satu guru yang dengan sukarela mengajar di kelas tersebut amat tiba-tiba, membuat kembara Ines terhenti.
Ines menarik napas dalam-dalam, mengembalikan konsentrasinya yang beberapa saat lalu menguap gara-gara uang dua ratus ribu itu. Aku pasti bisa! Tekadnya sambil maju ke depan.  Tidak lama, Ines berhasil mengerjakan soal
yang diberikan Teh Vita, memang ada kesalahan  sedikit, tetapi buru-buru dibetulkannya.       
"Lain kali jangan melamun, ya," tegur Teh Vita sambil tersenyum nyindir.
Kelas hari ini ditutup dengan pelajaran keterampilan. Teh Yuni dan Aa Yus, dua mahasiswa jurusan perhotelan terkenal di Bandung, mengajar cara membuat kue. Dari mulai bahan-bahan yang digunakan, alat apa saja yang bisa digunakan, hingga bagaimana cara mengolah-nya menjadi kue yang enak.
Pucuk dicinta ulam tiba, kira-kira begitulah yang dirasakan Ines hari ini. Dia berusaha bertanya banyak hal pada kedua guru keterampilannya itu. Dia tidak mau menyia-nyiakannya. Siapa tahu dengan uang dua ratus ribu itu dia bisa membuka usaha kue, seperti yang disarankan Bunda Asma.
"Baik, karena waktu sudah habis, kita tutup kelas hari ini dengan bacaan hamdalah," ucap Aa Yus mengakhiri kelas hari ini. "Mudah-mu-dahan kita bisa bertemu lagi."
Ines mengemasi alat belajarnya yang tidak seberapa banyak, lantas meninggalkan kelas de­ngan hati yang sangat lapang. Dia ingin sekali secepatnya tiba di panti dan menceritakan pela­jaran hari ini pada Bunda Asma. Dia berlari sekencang mungkin, sampai jilbabnya yang sudah rapi berkibar-kibar diterpa angin sore.
***
bersambung ke-8

0 komentar:

Poskan Komentar

Ditunggu Komentarnya Teman-Teman

Blog Archive

Komentar