Rabu, 16 Januari 2013

[Tips Nulis] 7 Kesalahan Calon Penulis (bag 2)


7 Kesalahan Calon Penulis
Gambar dari sini http://kampus.okezone.com/read/2010/06/10/373/341493/ratusan-penulis-cilik-ngumpul-di-jakarta

Bag 2 (dari 3 bagian)
1). Kirim naskah via email
Meskipun dunia internet mudah diakses, bukan berarti kita bisa memanfaatkannya untuk semua hal, termasuk pengiriman naskah kepada penerbit melalui surel (email). Sependek yang saya tahu, pengiriman via email ini hanya untuk naskah-naskah yang sudah jelas-jelas akan diterbitkan atau naskah-naskah pesanan penerbit. Antara penulis dan penerbit telah terjalin kerjasama sebelumnya, sehingga fasilitas ini bisa dimanfaatkan.
Bagi calon penulis, sebaiknya tidak mengirimkan naskah via email karena akan memakan waktu yang sangat panjang. Bayangkan, jika 10 Calon Penulis mengirim naskah novel yang tebalnya 200 halaman secara bersamaan. Akan perlu waktu berapa lama, bagian sekretariat mengunduhnya? Perlu berapa lama mengeprintnya? Perlu berapa rim pula kertas yang harus digunakan?
Selain waktu, cost yang akan dikeluarkan penerbit akan melambung tinggi dan bisa jadi akan mendiamkan atau mencari kertas bekas untuk sekadar mengeprint. Padahal, jika Calon Penulis mau berkorban sedikit saja mengeluarkan modal untuk mengeprint, menjilid, dan mempercantik tampilan jilidan, bisa jadi naskah yang dikirim, begitu tiba di meja editor akuisi akan langsung dibaca dan diputuskan segera.
2). Ingin Cepat Nerbitin Buku
Dunia kepenulisan sudah terbuka lebar, siapapun bisa jadi penulis, bahkan orang yang tidak pernah nulis naskah sekalipun tiba-tiba mengeluarkan buku lewat bantuan ghost writer. Belum lagi dengan banyaknya jasa self publishing yang tumbuh bak jamur di musim hujan serta indie publishing, lengkap sudah, seolah daun pintunya dijebol.
Saya selalu menyarankan bagi Calon Penulis, menurut saya akan sangat baik jika mengawali kariernya lewat media massa atau blog. Menulis artikel yang baik, menarik, dan kontinue. Dengan banyak menulis artikel, ketahanan kita sebagai penulis makin menggunung. Tahan ujian penolakan, tahan dalam mengasah kemampuan, dan tahan dalam membentuk self branding.
Coba lihat, berapa penulis yang bertahan di alam jagad ini? Berapa penulis yang pada saat ramai-ramainya novel remaja menulis buku, tetapi kemudian tenggelam dalam lautan yang tak bernama? Sangat banyak. Ini karena mereka tidak sabar ingin segera menerbitkan buku. Padahal, jika saja mau bersabar, semuanya akan baik-baik saja.
3). Ingin Royalti 20 Persen
Dalam dunia kepenulisan royalti buku itu antara 5-12 persen, kalau standar internasional malah 6-10 pesen (kalau tidak salah) dari harga jual, jadi kalau kita nulis buku harga jualnya 100.000,- dengan royalti 10% saja, ketika buku tersebut terjual 100.000 explar, maka royalti kita 1 Miliyar.
Penerbit juga terkadang menerapkan royalti dari harga produksi dan ini besarannya dua kali lipat dari royalti harga jual. Jangan sampai tidak jeli ya. Royalti yang besarannya dari biaya produksi bisa jadi nilainya lebih kecil.
Ketentuan besaran royalti di atas tentu saja tidak dengan serta merta, melainkan dengan berbagai pertimbangan. Pertimbangan biaya produksi, biaya promosi, biaya marketing, dan biaya lain-lain, jadi pasti sudah terukur. Jangan sampai kita ngeyel, keukeuh minta royalti 20 persen dari harga jual, ya. 
Next … bagian 3
 


Mau Jago Nulis dan Jadi Pemenang di Dunia Tulis Menulis? Ikut Kelas Nulis "WinnerClass" aja.

3 komentar:

  1. sama-sama BacaWajah, semoga bermanfaat, kalau mau kasih kritik, jangan sungkan-sungkan, ya

    BalasHapus

Ditunggu Komentarnya Teman-Teman

Blog Archive

Komentar