Rabu, 28 Agustus 2013

[10daysforASEAN] Borobudur Vs Angkor Wat

Obrolan
Nyi Iteung dan Kang Kabayan

Borobudur Vs Angkor Wat

Negara-negara serumpun akan lebih mudah berkolaborasi karena memiliki kesamaan dalam pola pikir, cara pandang, tindakan, dan tujuan.
Hal ini akan memudahkan dalam terbentuknya komunitas ASEAN.

“Nyampe nggak?” tanya Kang Kabayan sewaktu tangan Nyi Iteung mencoba menyentuh Kunto Bimo. Arca dalam stupa yang konon dapat mengabulkan permintaan, jika kita berhasil menyentuhnya. Bagian yang disentuh telapak kaki untuk wanita dan tangan untuk pria.
“Nyampe, Kang,” jawab Iteung dengan senyum sumringah. Beberapa menit kemudian dia komat-kamit minta sesuatu. Mitos ini hingga sekarang berkembang di masyarakat.
Mitos lainnya, menurut cerita, jika ada sepasang kekasih lewat di antara sepasang arca singa yang ada di sebelah kanan dan kiri candi, maka hubungannya tidak akan sampai pada jenjang pernikahan. Mitos-mitos seperti ini memang banyak berkembang seiring dengan kepercayaan masyarakat pada saat itu.
Visual dari Blog Ini

Candi Borobudur dibangun oleh pengikut Buddha Mahayana pada masa pemerintahan Dinasti Dinasti pada abad IX, sekitar tahun 800 sebelum masehi. Pada saat pemerintahan Raja Samaratungga dan selesai pada masa pemerintahan Ratu Pramudawardhani, putri Raja Samaratungga.
Candi Borobudur terletak di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, sekitar 40 KM dari Yogyakarta. Selama berabad-abad candi tidak digunakan karena tertutup tanah vulkanik letusan gunung berapi. Bangunan juga tertutup pepohonan dan semak belukar. Candi pun terlupakan saat Islam datang ke Indonesia sekitar abad XV.
Tahun 1814, pada saat Inggris menduduki Indonesia, Sir Thomas Stamford Raffles mendengar penemuan benda arkeolog di Desa Bumisegoro, Magelang. Raffles kemudian meminta  Cornelius, seorang Insinyur Belanda untuk menyelediki dan ternyata memang benar ada bangunan besar di sana. Pada tahun 1835, kemudian dimulailah penggalian seluruh kawasan candi.
Tahun 1956 pemerintah Indonesia meminta bantuan daru UNESCO untuk memeriksa kerusakan Candi Borobudur. Pada tanggal 10 Agustus 1973 pemerintah Indonesia memutuskan pelaksanaan pemugaran Borobudur oleh UNESCO. Proses renovasi selesai pada tahun 1984.  UNESCO kemudian menetapkan Candi Borobudur sebagai salah satu World Heritage Site yang perlu dijaga.
Visual diambil dari Blog Ini

Tidak jauh berbeda dengan Candi Borobudur. Nun jauh di Kamboja sana juga ada Candi Angkor Wat yang dibangun pada abad XII. Pernah ditenggelamkan oleh pepohonan dan kemudian direstorasi hingga menjadi salah satu bangunan yang luar biasa. Angkor Wat juga tercatat sebagai World Heritage Site oleh UNESCO dan perlu  kita jaga.
Ada kesamaan antara Borobudur dan Angkor Wat selain sama-sama dikukuhkan sebagai World Heritage Site. Kesamaan ini terungkap dari prasasti Sdok Kak Thom di Kamboja. Ada hubungan kultural, politik, dan ekonomi antara Jawa dan Kamboka.
Raja Kamboja –Jayavarman II menurut sejarah pernah merantau ke tanah Jawa hingga abad IX. Kemungkinan besar dari Raja Jayavarman II inilah yang membuat relief yang ada di Angkor Wat mirip dengan relief yang ada di Borobudur.
Kemungkinan-kemungkinan ini kemudian diseminarkan oleh para cendikia dan pemerhati candi, pada tanggal 5-6 Desember 2009 di Siem Reap Kamboja. Mereka sepakat, antara Borobudur dan Angkor Wat memang memiliki kesamaan, walaupun keduanya dibangun pada masa yang berbeda.
“Nyai tadi minta apa?” tanya Kang Kabayan setelah Nyi Iteung mengeluarkan tangannya.
“Nyai minta kepada Tuhan supaya suatu saat nanti bisa berkunjung ke kembaran Borobudur di Kamboja.”
“Memang Borobudur punya kembaran?”
“Punya Kang, namanya Angkor Wat. Makanya atuh akang teh harus banyak baca biar tahu.”
“Kok bisa kembar? Apa itu menandakan antara Indonesia dengan Kamboja serumpun?” tanya Kang Kabayan lagi.
Paling tidak ada banyak kesamaan antara Indonesia dengan Kamboja. Pertama akar budaya. Akar budaya Indonesia dan Kamboja memiliki kesamaan, terutama karena sama-sama dipengaruhi oleh kebudayaan Agama Budha dan Agama Hindu. Tidak heran, banyak mitos-mitos yang tersebar di antara kedua negara tersebut. Mitos ini menguatkan kesamaan kultur dan budaya.
Kedua Bahasa. Bahasa negara-negara di wilayah Asia Tenggara termasuk Indonesia dan Kamboja masuk dalam rumpun Austranesia. Rumpun Austranesia menjadi rumpun bahasa dengan penutur terbanyak ke-5 di dunia. Dalam rumpun Austronesia, Bahasa Indonesia dan Bahasa Cham (yang digunakan di Vietnam dan Kamboja) termasuk dalam kategori Bahasa Maloyo. Sehingga, antara Indonesia dan Kamboja tidak diragukan lagi ke-serumpunan-nya.
Ketiga Fisik. Fisik antara orang Indonesia dan Kamboja sama. Walaupun ada yang bilang warna kulit penduduknya berbeda. Negara-negara asia yang wilayahnya berada di bawah cenderung hitam, sementara kulit penduduk negara-negara asia yang berada di wilayah atas kulitnya lebih putih dan sipit-sipit.
“Jadi kapan minta ke Kambojanya?” sekali lagi Kang Kabayan bertanya.
“Secepatnya Akang. Soalnya, sebentar lagi kan ASEAN Economic Community. Siapa tahu nanti Iteung bisa ikut berpartisipasi meramaikannya.”
“Maksudnya?” Kang Kabayan belum mengerti.
Dalam ASEAN Economic Community itu ada salah satu pilar utama yang sangat penting dan bisa dikembangkan, yaitu sektor pariwisata.
“Siapa tahu Nyai jadi duta wisata kan, lumayan bisa jalan-jalan gratis. Didoakan ya, Akang, ” jawab Nyi Iteung sambil senyum bungah.

Kang Kabayan mengangguk, ikut bungah dengan keinginan Nyi Iteung menyukseskan ASEAN Economic Community.***


Mau Jago Nulis dan Jadi Pemenang di Dunia Tulis Menulis? Ikut Kelas Nulis "WinnerClass" aja.

0 komentar:

Poskan Komentar

Ditunggu Komentarnya Teman-Teman

Blog Archive

Komentar