Selasa, 27 Agustus 2013

[10daysforASEAN] Salon Thailand Vs Salon Geulis

Obrolan 
Nyi Iteung dan Kang Kabayan
1_#10daysforASEAN


Salon Thailand Vs Salon Geulis


Kompetensi dan sertifikasi sangat penting untuk menumbuhkan kepercayaan. 
Jangan pernah sekali-sekali meremehkan. 
Apalagi menjelang ASEAN Economic Community (AEC) 2015 mendatang.     

     Hari ini Nyi Iteung dan Kabayan mau kondangan. Karena yang ngundang pejabat, Nyi Iteung harus tampil cantik. Sejak pagi Nyi Iteung sudah ribut soal dandan. Dia tidak mau mengulang kejadian seperti minggu lalu. 
     Masa, hanya pakai sanggul ala artis Syahrini saja perlu waktu 5 Jam? Sudah bedaknya luntur kena keringat, polesan alisnya antara alis kiri dan alis kanan ukurannya berbeda, dan bulu mata palsunya mau lepas sebelah. Padahal itu salon paling top di tatar sunda, namanya Salon Geulis. Begitu sampai tempat undangan sudah mau bubar dan makanan ludes. Jadilah, minggu lalu hari paling naas buat Nyi Iteung. Sudah dandanan berantakan, perut keroncongan pula.
visual dari sini
      “Jadi nyanggul, Nyi?” tanya Kang Kabayan.
      “Jadi atuh Akang,” jawab Nyi Iteung.
      “Nyanggulnya tong dina salon kamari atuh,” saran Kang Kabayan.
     “Iya Akang, Iteung oge kapok. Masa mau kayak Syahrini saja harus duduk bengong 5 jam. Itu salon bener-bener nggak profesional,” cerocos Nyi Iteung kayak petasan meledak saat acara kawinan.
     “Terus mau nyalon di mana?” tanya Kang Kabayan lagi.
     Nyi Iteng ingat Ceu Romlah waktu ngobrol di warung awug kemarin. Ceu Romlah sudah tiga bulan ini menjadi pelanggan tetap salah satu Salon Thailand tidak jauh dari komplek rumahnya. Salon itu selain tempatnya nyaman, pelayanannya juga memuaskan.
  “Keluar salon wajah cantik, body mulus, hati riang.” Berhamburan Ceu Romlah menceritakan kelebihan salon yang berasal dari negeri tetangga itu. “Sudah gitu, mereka profesional. Baru masuk saja neh, ada apa itu namanya yang kayak di hotel-hotel … welcome … welcome … “
      “Welcome Drink?” sela Nyi Iteung.
“Tah eta bener, welcome drink. Mana ada salon-salon di kita kayak gitu. Apalagi Salon Geulis langganan Nyi Iteung.”
      “Hus! Jangan menggunjingkan salon lian atuh.”
   “Bukan bergunjing Nyai, ini mah fakta. Terus ya, di Salon Thailand itu kita tidak dibiarkan nunggu lebih dari sepuluh menit. Mereka menyediakan pegawai-pegawai yang bersertifikat. Cuecue lihat sendiri di dinding ruang tamu. Foto-foto pegawainya dipampang dengan penjelasan, lulusan dari sekolah kecantikan terkenal.”
     Nyi Iteung ngangguk-ngangguk. Jika memang benar apa yang dikatakan Ceu Romlah, bisa-bisa salon-salon yang selama ini susah payah dibangun teman-teman Nyi Iteung bangkrut. Selama ini, setahu Nyi Iteung, salon yang dibangun teman-temannya itu lebih banyak jasanya digunakan karena pertemanan, bukan karena keprofesionalan mereka. Kalau pun mereka kemudian profesional, lebih karena telah terbiasa ngedandani orang.
     Pegawai mereka juga rata-rata diberikan kursus dadakan bagaimana cara merias wajah, rambut, badan, dan sebagainya. Mereka tidak belajar secara akademik di bidangnya. Malah, banyak salon yang berdiri dengan pegawai kebanyakan perempuan jadi-jadian alias waria, wanita setengah pria.
    Beberapa salon berhasil membesarkan salonnya dengan kemampuan seadanya, bahkan pelanggannya hingga dari luar daerah dan luar kota, ada juga beberapa pemiliknya yang ikut kejuaraan kecantikan di luar negeri hingga juara tingkat international. Piala dan piagam berderet di ruang tunggu, tetapi itu milik pemilik salonnya, bukan pegawainya.
    Jika ini dibiarkan terus menerus, mereka mudah tergusur rata oleh salon-salon luar negeri yang mulai berdiri di negeri tercinta ini. Yang diceritakan Ceu Romlah baru salon dari Negeri Gajah Putih-Thailand, belum dari Negerinya Syahru Khan-India, Negeri Jiran-Malaysia, dan negeri-negeri lainnya.
    Bisa saja mereka yang datang ke sini dan bekerjasama dengan salon-salon lokal atau pekerjanya dari lokal, tetapi tetap saja akan berbeda jika semua adalah produk lokal dari mulai pemilik, pekerja, hingga alat-alat dan ramuan kecantikan yang digunakan. Apalagi jika produk lokal ini bisa merambah keluar negeri, akan lebih membanggakan. Bayangkan, putra Indonesia berhasil mengembangkan usahanya ke luar negeri setelah sukses di dalam negeri. Siapa yang tidak bangga?
     Dan, untuk menjadi terkenal dan dipercaya seluruh lapisan masyarakat di dunia ini, tidak cukup bermodal cukup; cukup bisa merias, cukup bisa merawat, cukup bisa management. Akan tetapi harus lebih dari cukup.
      Terlebih lagi, nanti bakal ada perdagangan bebas, semua bebas berjualan di mana pun, bebas membuat salon di mana pun tanpa prosedur yang sulit. Jika ini terjadi dan salon-salon di sini tidak bebenah baik dari sisi SDM, Management, Promosi, dan yang paling penting nilai lebihnya (ciri khas) maka salon-salon dari luar yang berkembang di sini akan mengambil alih peran. Sungguh sangat berbahaya. 
    “Nyi, kok malah bengong? Jadi nggak nyalonnya? Sudah siang, neh. ” Kang Kabayan nyenggol pundak Nyi Iteung.
      “Eh, i … iya atuh akang,” Nyi Iteung tersadar dari lamunannya.
      “Jadi mau di mana? Di Salon Geulis lagi apa di mana?”
    “Nyai mau nyobian di Salon Thailand saja, deh. Siapa tahu nanti dapat ilmu di sana,” jawan Nyi Iteung membuat Kang Kabayan mengerutkan kening dan dalam hati bertanya-tanya. Ilmu? Ilmu apa? Kok, nyalon dapat ilmu? ***


Catatan kecil:
1). Tong dina salon kamari: Jangan di salon kemarin
2). Oge: Juga
3) Eta: Itu
4). Atuh: Imbuhan (lah)
5). Nyi/Nyai/Ceuceu: Panggilan khas untuk perempuan sunda (Mbak)
6). Nyobian: Mencoba



Mau Jago Nulis dan Jadi Pemenang di Dunia Tulis Menulis? Ikut Kelas Nulis "WinnerClass" aja.

0 komentar:

Poskan Komentar

Ditunggu Komentarnya Teman-Teman

Blog Archive

Komentar