Kamis, 05 September 2013

[10daysforASEAN] Jakarta oh Jakarta

Obrolan
Nyi Iteung dan Kang Kabayan
10_#10daysforASEAN

Jakarta Vs Jakarta

Kota yang tak pernah lepas dari kebisingan.
Kota yang tak pernah lepas dari kesunyian.
Kota yang tak pernah lepas dari kemewakan.
Kota yang tak pernah lepas dari kemiskinan.
Jakarta.

“Ini monas?” tanya Nyi Iteung tercengang berdiri di depan tugu bermahkota emas, yang hanya ada di Jakarta itu.
“Iya Nyi,” jawab Kang Kabayan.
“Ternyata gede banget, ya. Nyai pikir kecil.”
“Mau naik ke atas? Lihat Jakarta dari atas?” ajak Kang Kabayan kemudian.
“Hah? Bisa kitu Kang?”

Visual dari Blog Ini
Tanpa menunggu lama lagi, Nyi Iteung dan Kang Kabayan membeli karcis. Setelah cukup lama antre, mereka naik ke atas monas. Benar apa yang dikatakan Kang Kabayan, dari atas monas bisa melihat Jakarta.
Jakarta yang luar biasa, dicinta banyak manusia, sekaligus dibenci. Apalagi dengan kondisi sekarang, dengan kesemrawutan pedagang kaki lima, kemacetan lalu lintas, urbanisasi yang setiap tahun meningkat, banjir, pembangunan yang terus menerus dilakukan seolah tanpa melalui planing yang jelas. Hal ini pasti menimbulkan efek sosial.
Sebagai Ibu Kota Negara Indonesia, Jakarta menjadi salah satu kota yang strategis untuk segala aktivitas, termasuk aktivitas pemerintahan, hubungan dalam negeri ataupun hubungan luar negeri.
Baru-baru ini, Jakarta ditetapkan sebagai Diplomatic City of ASEAN, sebagai kota penghubung antar negara-negara anggota ASEAN. Jakarta dipercaya menjadi kota tempat memfasilitasi permasalahan apapun yang terjadi di ASEAN, terutama menjelang Komunitas Ekonomi ASEAN 2015.
Pemberian kepercayaan ini, tentu saja bukan hal yang main-main, mengingat di kawasan ASEAN masih banyak kota-kota lain yang berada di negara-negara anggota ASEAN yang memiliki kelebihan di banding dengan Jakarta. Misalnya saja Singapura atau Malaysia.
Pemberian kepercayaan ini, barangkali karena selama ini peran Indonesia sangat besar bagi politik, keamanan, dan ekonomi di ASEAN. Negara mana pun di kawasan ASEAN tidak memungkiri peran Indonesia. Dari mulai pembentukan ASEAN  hingga KTT ASEAN ke-9 tahun 2003 di Bali, di mana Indonesia mendorong terwujudnya Komunitas ASEAN yang memiliki tiga pilar yakni keamanan, ekonomi dan sosial budaya.
Visual dari Blog Ini

“Hebat juga ya, Kang,” kata Nyi Iteung mendengar cerita Kang Kabayang tentang penyematan Jakarta sebagai Diplomatic City of ASEAN. “Padahal, coba lihat itu Kang,” Iteung menunjuk kemacetan di sebuah jalan di Jakarta dari atas monas melalui teropong. “Kemacetan ada di mana-mana. Pedagang kaki lima di mana-mana, pembangunan gedung di mana-mana, mobil mewah di mana-mana, orang kaya dengan rumah mewah di mana-mana, dan orang miskin bergeletakan di mana-mana.”
“Itu dia Nyi Iteung, barangkali dengan pemberian kepercayaan ini Jakarta jadi mau bebenah. Kan malu, menjadi kota yang dipercaya negara-negara se-ASEAN, tetapi masih juga tidak mau bebenah.”
Dengan menjadi Diplomatic City of ASEAN, Jakarta akan sering kedatangan tamu dari negara-negara tetangga, tidak hanya dari ASEAN, tetapi juga dari negara-negara lain di sepenjuru dunia. Kedatangan mereka tentu saja membawa dampak positif bagi perekonomian dan sosial budaya Indonesia.
Jakarta sebagai Ibu Kota Indonesia menjadi wajah bagi Indonesia. Jakarta akan menjadi cermin bagi kota-kota lain di Indonesia. Jika Jakarta lebih sigap dan lebih tegas lagi bebenah, maka Indonesia akan mendapat point lebih. Sebaliknya, jika Jakarta tidak bebenah, akan mendapatkan nilai rendah bagi Indonesia di mata dunia.
Makanya perlu pemerintahan yang lebih tegas dan keras lagi terhadap perubahan Kota Jakarta. Perlu pemerintahan yang punya visi misi dan strategi jitu untuk pembenahan Kota Jakarta.
Pembenahan ini pastinya juga harus didukung oleh masyarakat Jakarta. Jangan sampai bertepuk sebelah tangan. Apa yang dilakukan pemerintah wilayah Jakarta tidak dianggap atau malah tidak didukung.
“Kalau sudah begitu, apapun yang dilakukan pemerintah percuma. Tidak akan ada perubahan walau sejangkal pun,” kata Kang Kabayan sangat berapi-api.
“Semoga saja, kerjasama antara pemerintahan Kota Jakarta dengan masyarakatnya berjalan lancar, ya Kang.” Nyi Iteung sampai menenangkan Kang Kabayan begitu rupa.
Lantas, jika ada pertanyaan, siapkah Jakarta menjadi Diplomatic City of ASEAN? Jawabannya, harus siap. Orang Indonesia, khususnya Jakarta, jika tidak terdesak tidak kreatif, tidak berkembang, dan tidak berubah.

“Kang, sudah waktunya turun, neh,” Nyi Iteung mengingatkan Kang Kabayan yang masih ingin melihat-lihat suasana Kota Jakarta dari atas Tugu Monas. Melihat-lihat kesiapan Kota Jakarta menjadi kota yang selalu dipercaya dunia, menjadi kota yang dicintai seluruh rakyat Indonesia, dan mampu mengemban amanah sebagai Diplomatic City of ASEAN.***

Mau Jago Nulis dan Jadi Pemenang di Dunia Tulis Menulis? Ikut Kelas Nulis "WinnerClass" aja.

0 komentar:

Poskan Komentar

Ditunggu Komentarnya Teman-Teman

Blog Archive

Komentar