Minggu, 20 Oktober 2013

[Artikel] Wisata Pantai Losari

Pagi di Pantai Losari

Matahari belum juga muncul ketika kaki berdiri di tepian Pantai Losari Makasar. Angin laut yang berhembus lembut, sama sekali tidak membawa aroma laut. Mungkin karena posisi tepian pantai yang menjadi salah satu pusat keramaian di Kota Makasar dan sengaja dibeton tinggi ini cukup jauh dari laut lepas.

Mata saya sungguh tak sempat berkedip melihat perahu-perahu yang terlihat kecil yang baru pulang berlayar, terlihat bagai kunang-kunang yang kembali ke sarang. Nun jauh di sana, terlihat Pulau Samaloda, pulau yang sangat indah, memiliki banyak pesona bawah laut serta berpasir putih bersih. Dari Pantai Losari kurang lebih 2km atau 30 menit perjalanan dengan sampan sewaan.
Akan tetapi, saya tidak menikmati keindahan Pulau Samaloda, saya lebih suka menikmati kehangatan mentari pagi yang mulai bersinar, bersama para pejalan kaki dan warga yang berolah raga pagi.

Dibangun Tahun 1945
Sejak menginjakan kaki di bumi Pahlawan Hasanudin selalui penerbangan dari Bandara Soekarno-Hatta Jakarta-Bandara Hasanudin Makasar, saya sudah tidak sabar ingin menyusuri beberapa tempat menarik di Makasar. Makanya, keesokan harinya, pagi-pagi sekali, saya sengaja meninggalkan hotel yang letaknya kurang lebih 15 menit dari Pantai Losari. Setelah menunggu terang, saya segera meluncur dengan jalan kaki.
Setelah melewati beberapa jalan, termasuk Jalan Somba Opu yang mengingatkan saya pada Jalan Malioboro Jogjakarta karena memang di sini menjadi pusat pertokoan oleh-oleh dan pernak-pernik Makasar. Mulai dari kain tenun, kopi toraja yang nikmat itu, cokelat lokal, peci khas Bone, hingga kue-kue kering tradisional.

Sayang, toko-toko masih tutup, jadi saya melanjutkan melenggang menuju Jalan Penghibur, di mana keramaian Pantai Losari berada. Hanya perlu waktu 5 menit dari Jalan Soba Opu.
Pantai Losari sekarang sudah cukup bersih karena para pedagang kaki lima yang dahulu berjejalan di tepian pantai telah dipindahkan. Sepajang pantai telah dibuat joging track, baik di tepian pantai yang berkelok-kelok ataupun di dekat Jalan Penghibur.
Joging track bermuara di anjungan yang bertuliskan Pantai Losari yang sering buat foto para wisatawan, saya pun tidak lupa foto-foto di sini. Karena saya jalan sendirian, saya minta tolong salah satu wisatawan yang juga sedang menikmati pagi di Pantai Losari.
Siapa sangka, kalau sebelum dikenal sebagai Pantai Losari, warga dahulu mengenalnya sebagai Pasar Ikan karena dahulu setiap pagi di pantai ini dimanfaatkan sebagai pasar ikan. Sementara sore hari dimanfaatkan pedagang jajanan khas Makasar seperti kacang, pisang epe, dan makanan ringan khas lainnya.
Anjungan sendiri sebenarnya hanya beton bendungan air yang memanjang, yang sekarang diperluas hingga menjorok ke laut. Di bawah bendungan, merupakan outlet buangan limbah kota. Konsep ini konon telah bertahan hingga 60 tahun.
Pantai dibangun sekitar tahun 1945, dimulai dengan desain lantai dasar beton sepanjang 910 meter yang digagas oleh Pemerintah Wali Kota Makassar, DM van Switten (1945-1946). Pada masa pemerintahan NICA (Nederlands Indies Civil Administration). Pemasangan lantai bertujuan untuk melindungi beberapa objek dan sarana strategis warga di Jalan Penghibur dari derasnya ombak Selat Makassar.
Setelah melalui beberapa tahap pembangunan, kemudian dikenal sebagai Pantai Losari. Hingga saat ini, tidak ada yang tahu, apa arti losari yang sesungguhnya. Hanya, dalam bingkai kata Bahasa Jawa, Los berarti lepas dan Ari berarti pembungkus, jadi Los dan Ari secara sederhana diartikan sebagai kawasan lepas yang diselubungi.

Masjid Apung
Tidak jauh dari anjungan, ada sebuah masjid yang cukup menyita perhatian saya, yaitu masjid apung. Sejak setahun terakhir, kawasan anjungan Pantai Losari, selain identik dengan pemandangan senja di samudera, juga makin menarik dengan masjid terapung, Masjid Amirul Mukminin.
Masjid diresmikan oleh Ketua Dewan Masjid Indonesia, mantan Wapres Jusuf Kalla pada 21 Desember 2012. Masjid berlantai tiga dengan bangunan arsitektur modern ini dilengkapi dua menara dan dua kubah berwarna biru, seolah terapung di atas samudera.


Pembangunan masjid difasilitasi oleh Walikota Makassar Ilham Arief Sirajuddin dengan dana sekitar 9 Miliar dari sumbangan para dermawan di Makassar. Nama Amirul Mukminin sendiri diambil dari nama putra tertua Ilham yang bila diartikan ke dalam Bahasa Indonesia bermakna pemimpin kaum mukmin.
Amirul Mukminin juga merupakan gelar yang disematkan pada Khalifah Umar Bin Khattab di masa kepemimpinannya.
Meskipun ukuran masjid tidak begitu luas, namun masjid ini mampu menampung sekitar 400 jamaah. Jika berkunjung ke Pantai Losari, jangan lupa untuk shalat di sana untuk merasakan kenyamanannya, padahal masjid berada di daerah pantai yang terik.
Menurut seorang Ibu yang kebetulan sedang duduk-duduk di jembatan yang menghubungkan antara anjungan dengan masjid, setiap sore di atas jembatan tersebut, banyak warga yang nongkrong atau sekadar menunggu shalat magrib sambil menyaksikan keindahan matahari tenggelam. Saya pun tak mau menyia-nyiakan kesempatan tersebut, walau saya merasakannya pada pagi hari.
Setelah puas melihat keindahan Pantai Losari dari atas jembatan dan dari jendela masjid, saya segera kembali ke hotel karena harus buru-buru bersiap untuk mengisi sebuah acara literasi yang bertempat di hotel tempat saya menginap.
Ingin sekali rasanya mencicipi jajanan dan kuliner Makasar seperti seafood dari aneka ragam ikan laut yang masih segar, mie kering khas Makassar, Sop Pallubasa, Sop Konro, dan Coto Makassar. Sayang, hari masih pagi, jadi semua masih tutup.
Sore hari, usai acara, saya kembali mengunjungi Pantai Losasi dan menikmati makanan enak di Kota Makasar di kawasan Kuliner Makasar di Jalan Datumuseng, yang tepat berada di seberang anjungan Pantai Losari.  (Ali Muakhir, penikmat wisata dari Forum Penulis Bacaan Anak, tinggal di Bandung) ***



Mau Jago Nulis dan Jadi Pemenang di Dunia Tulis Menulis? Ikut Kelas Nulis "WinnerClass" aja.

0 komentar:

Poskan Komentar

Ditunggu Komentarnya Teman-Teman

Blog Archive

Komentar