Kamis, 28 Agustus 2014

Impian Yang Berkelanjutan



Impian Yang Berkelanjutan
Oleh Ali Muakhir

Dream, Mimpi, Impian Harus diwujudkan

Mimpi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan sebagai sesuatu yang terlihat atau dialami dalam tidur. Mimpi juga diartikan sebagai angan-angan. Impian harus diwujudkan supaya kita tidak disebut sebagai pemimpi, orang yang suka bermimpi meskipun tidak tidur atau orang yang suka berhayal.
Sekadar intermezo, pada tahun 2007 lalu saya bermimpi untuk menjadi seorang Writerpreuner khusus bacaan untuk anak-anak. Pada tahun itu pula saya memutuskan keluar dari pekerjaan dan focus menulis bacaan anak-anak.
Mengubah kebiasaan ternyata tidak semudah membalikan telapak tangan. Saya yang biasanya bangun pagi langsung siap-siap ke kantor, kali ini nyantai. Tidak perlu lagi buru-buru mandi, memakai baju kantor, menyiapkan berkas-berkas untuk meeting atau bertemu kline. Akibatnya, selama hampir sebulan produktivitas saya menurun.  Saya belum menemukan pola bekerja sebagai freelancer.
Saya seperti orang yang sedang melakukan detoksifikasi untuk mengubah kebiasaan. Saya membaca banyak buku dan artikel. Hingga, ada artikel tentang mengubah kebiasaan dalam waktu 21 hari.
Artikel tersebut diambil dari buku seorang ahli bedah plastik, Dr. Maxwell Maltz. Pada tahun 1960 Mazwell meneliti pasien-pasien yang diamputasi. Ternyata, mereka memerlukan waktu rata-rata 21 hari untuk beradaptasi terhadap kehilangan anggota tubuh mereka.
Berdasarkan pengamatan tersebut, Maxwell mengambil kesimpulan pendek bahwa manusia memerlukan waktu sekitar tiga minggu untuk mengadaptasikan diri terhadap perubahan-perubahan di dalam hidup.
Beberapa tahun kemudian, kesimpulan tersebut dimatangkan lagi oleh Phillippa Lally dari University College London. Hasil riset Phillippa dipublikasikan dalam European Journal of Social Psychology. Hasilnya, manusia dalam menciptakan habit baru itu bervariasi, tergantung tingkat kesulitan perilaku yang diinginkan. Manusia memerlukan waktu antara 21-66 hari (sekitar 2 bulan). Waktu tersebut kemudian ditetapkan menjadi batas yang universal.
Saya kemudian memantapkan diri dan bertekad kuat untuk mengubah kebiasaan sebagaimana layaknya seorang writerpreuner sesungguhnya dengan menggunakan hasil riset Phillippa. Saya bertekad selama 21 hari mengubah kebiasaan saya dari orang kantoran menjadi penulis bacaan untuk anak-anak.
Saya membuat jadwal nulis dengan waktu lebih banyak daripada aktivitas lainnya. Saya memilih waktu tidur lebih awal agar bisa bangun pada tengah malam untuk menulis. Siang hari saya gunakan untuk mencari ide dan bertemu dengan kline.
Awal-awal pasti sangat susah karena mengubah metabolisme tubuh. Satu dua hari mata masih terkantuk-kantuk. Bahkan tidak menghasilkan tulisan yang cemerlang. Menginjak hari-hari berikutnya pikiran mulai focus. Seminggu kemudian mulai bisa beradaptasi. Menjelang minggu kedua, tubuh seolah sudah diatur. Usai makan malam pasti terkantuk-kantuk dan tengah malam pasti terbangun. Waktu 21 Hari mengubah mimpi menjadi kenyataan pun terlampaui dengan baik.
Tekad dan kerja keras pelan-pelan membuahkan hasil. Keinginan yang kuat serta impian yang tervisualisasikan mulai terwujud. Konsep-konsep buku yang saya tawarkan kepada penerbit diterima dan akan diterbitkan.
Tahun 2008, salah satu buku saya yang berjudul Si Towet mendapat Adikarya Ikapi 2008 sebagai salah satu buku anak terbaik di Indonesia. Tahun 2009, tanpa menghitung, ternyata buku yang saya tulis mencapai 300 judul. Saya diakui dan masuk Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai Penulis Paling Produktif dengan 300 Judul buku.
Buku-buku saya pun diterjemahkan ke dalam Bahasa Melayu, Bahasa Inggris, dan Bahasa Belanda serta terbit di Malaysia, Singapura, dan Belanda.
Tanpa terasa, setelah hampir 7 tahun berjuang mewujudkan mimpi, saya tularkan gairah menulis bacaan anak-anak melalui kelas nulis WinnerClass. Setiap bulan WinnerClass membuka kelas bekerjasama dengan beberapa penerbit. Juga melalui Forum Penulis Bacaan Anak yang hingga sekarang diikuti hampir 20.000 member.
 
Transformasi Judul dan Cover Buku Si Doel Anak Betawi serta Buku Si Jamin dan Si Johan
Melanjutkan Mimpi
Sekarang, setelah malang melintang dalam dunia kepenulisan bacaan anak-anak, ada satu mimpi saya yang belum terwujud, yaitu menjadi sastrawan untuk bacaan anak-anak dan terjun di dunia sinema sebagai penulis skenario film untuk anak.
Kenapa ingin menjadi sastrawan untuk bacaan anak-anak? Karena sastrawan di Indonesia yang menulis bacaan anak-anak bisa dihitung dengan jari. Sebut saja misalnya Aman Datuk Madjoindo yang menulis novel Si Doel Anak Betawi yang terbit pada tahun 1932.
Novel yang diterbitkan Penerbit Balai Pustaka tersebut berkisah tentang seorang anak Betawi yang biasa dipanggil Doel (dengan menggunakan ejaan lama) di tengah-tengah kota Jakarta.
Dalam novel tersebut Aman menggunakan bahasa dan dialek Betawi. Aman ingin memperkenalkan bahasa Betawi kepada pembaca di luar Jakarta yang belum tentu mengenal bahasa Betawi.
Novel tersebut kemudian dibuat sinematografinya dalam bentuk film dan sinetron. Sambutan sinematografinya tidak kalah dengan bukunya, sama-sama disukai pemirsa dan sama-sama best seller. Buku tersebut kemudian menjadi salah satu buku sastra yang wajib dibaca anak-anak sekolah.
Kemudian ada sastrawan Merari Siregar yang menulis novel Si Jamin dan Si Johan. Novel yang menceritakan tentang kekejaman ibu tiri tersebut hingga sekarang terus dicetak ulang oleh Penerbit Balai Pustaka. Meski pun tidak seheboh Si Doel Anak Betawi, novel Si Jamin dan Si Johan masuk dalam jajaran karya sastra yang diakui. Si Jamin dan Si Johan juga dimuat sinematografinya.
Selain kedua sastrawan tersebut, tidak ada lagi generasi selanjutnya. Ada beberapa nama yang muncul, tetapi seiring dengan banyaknya aktivitas, tidak dikenal lagi sebagai sastrawan. Padahal karya sastra untuk anak-anak sangat penting untuk perkembangan anak-anak. Baik perkembangan kognitif, psikomotorik, dan kinestetik. Mengembangkan keinginan, impian, dan imaginasi anak-anak.
Dunia sinematografi terutama penulis skenario film anak-anak juga sangat jarang, bisa dihitung dengan jari. Mungkin impian-impian tersebut sangat sulit diraih, tetapi saya yakin jika berusaha pasti akan teraih.
Berdasarkan pengalaman sebelumnya, ada beberapa tahap yang saya lakukan dalam mengejar mimpi.
Pertama saya menuliskan impian saya dalam selembar kertas. Ini sudah saya lakukan sejak dari dahulu, jika menginginkan sesuatu, selalu ditulis dalam selembar kertas. Tulisan keinginan, harapan, atau impian harus sangat jelas sehingga mudah divisualisasikan. Baik dalam angan-angan atau dalam benak. Paling tidak, impian yang awalnya hanya berupa angan-angan (abstrak) telah terwujud nyata dalam bentuk tulisan.
Jhon D. Rockeffeler

 Ingat kata-kata John D. Rockefeller, pria pertama penyandang gelar miliarder dunia. Rockefeller awalnya hanya seorang penjual permen. Berkat impian yang dituliskan, dia menyulap dirinya menjadi pemegang industri perminyakan raksasa di dunia pada pertengahan tahun 1880-an.
John D. Rockefeller pernah bilang, “Banyak orang yang mempunyai impian. 97% menyimpannya dalam angan-angan. 3% menuliskannya secara rinci. Itulah mengapa jumlah orang sukses di dunia ini hanya 3%.”
Jika Rockefeller saja menuliskan impian-impiannya, kenapa kita tidak melakukannya? Jangan biarkan kita masuk dalam bagian prosentase 97%, melainkan masuk dalam bagian prosentase 3%. Dengan cara menuliskan impian ini, akan menjadi goal setting dari impian kita.
Kedua membaca biografi para sastrawan dan penulis skenario handal, baik dari dalam negeri ataupun dari luar negeri untuk mengenal lebih jauh kehidupan mereka sekaligus mempelajari cara mereka dalam menemukan ide tulisan, menuliskan ide, dan sebagainya. Saya juga membaca banyak karya sastra yang direkomendasikan dan melihat film anak-anak serta membaca skenarionya.
Cara ini dilakukan supaya saya bisa membayangkan atau memvisualisasikan bagaimana mereka bekerja menghasilkan karya sehingga saya bisa mengambil langkah awal dalam mewujudkan impian.
Biografi mereka sekaligus menjadi motivator yang akan membakar semangat dan keinginan kita untuk terus mengejar impian hingga tercapai. Biografi mereka juga menjadi penyemangat pada saat motivasi melemah karena berbagai faktor, baik faktor internal ataupun faktor eksternal.
Tidak dipungkiri, sebagai manusia biasa pastilah ada saat-saat tertentu tidak memiliki energi atau kehabisan energi saat mengejar impian. Biografi merekalah menjadi salah satu bahan bakarnya, begitu pun buku-buku dan film yang telah mereka hasilkan.
Ketiga memiliki komitmen yang ajeg. Komitmen menjadi salah satu hal yang penting karena bisa jadi dalam mewujudkan impian yang telah kita tulis memerlukan waktu yang panjang dan lama. Ingat, kita ini bisa menjadi apapun sesuai dengan keinginan kita. Akan tetapi, untuk benar-benar menjadi seperti yang kita inginkan tidak bisa instan. Tetap perlu waktu, kesabaran, dan komitmen.
Dalam hal mengejar impian saya ini, maka saya harus berkomitmen untuk terus mencari ide, menulis, menulis, dan menulis untuk benar-benar menghasilkan karya yang luar biasa hingga diakui khalayak.

Keempat punya mental yang kuat. Di mana-mana yang namanya berusaha pasti ada godaan dan ujiannya. Apalagi untuk naik kelas atau level yang lebih tinggi, pasti godaan dan ujiannya lebih berat dan lebih dahsyat dari yang kita perkirakan. Di sinilah diperlukan mental baja.
Jangan sampai hanya gara-gara tulisan kita dianggap belum layak oleh teman yang kebetulan baca karya kita, lantas kita mutung, pundung, hingga mundur teratur. Dijamin, impian kita tak akan pernah tercapai jika mental kita lemah.
Kelima jaga kesehatan. Kelihatannya sepele, tetapi ini justru yang sesungguhnya kita butuhkan dalam mengejar impian. Ibarat lomba lari, mengejar impian tak jauh berbeda, membutuhkan energi yang tinggi. Oleh karena itu menjaga kesehatan adalah hal yang sangat mutlak. Baik kesehatan jasmani ataupun kesehatan rohani.
Usahakan hidup yang seimbang. Makan-makanan yang bergizi, bekerja sesuai dengan porsinya, istirahat yang cukup, serta olahraga yang memadai.
Jadi ingat, dunia tulis menulis dan dunia film itu dunianya para seniman yang terkadang tidak menjaga kesehatan. Tidak mengontrol pola makan, tidak mengontrol waktu, kapan harus istrirahat, kapan bekerja, kapan berolah raga. Bahkan, dunianya rentan dengan asap rokok dan alkohol.
Jika belum apa-apa kita sudah tidak sehat, bagaimana akan mengejar impian? Jangan sekali pun berharap impian yang sedang kita kejar akan tercapai dengan sukses. Jangan harap apa yang telah diimpikan sejak lama akan teraih.
Terus Mengejar Impian Tanpa Lelah

Keenam tak lain dan tak bukan adalah berdoa dan tawakal. Sudah menjadi sunah Rasul, jika kita berusaha maka suportlah dengan doa yang diikuti dengan tawakal. Doa sebagai pendorong, tawakal sebagai bentuk kepasrahan akan kuasa-Nya.
Dengan doa dan tawakal, apapun yang terjadi di kemudian hari pada impian-impian kita, tidak akan berakibat pada kegembiraan atau sebaliknya, kesedihan yang berlebihan sehingga kita melupakan kodrat kita sebagai manusia biasa.
Ibarat sebuah rumah, mimpi juga harus dibangun dengan baik. Harus menggunakan pondasi yang kokoh, bahan bangunan terbaik, cara membangunnya sesuai dengan prosedur, dan finishingnya pun harus rapi.
Semoga mimpi-mimpi saya, mimpi-mimpi kamu, mimpi-mimpi kalian akan tercapai di kemudian hari. Selamat bermimpi dan mengejar impian dengan senang dan bahagia! ***

 
  

5 komentar:

  1. Mimpi yang sangat langka, semoga segera tercapai apa yang telah diimpikan selama ini, wuiiish jadi minder sama sang pemecah rekor yang satu ini :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, bisa aja neh Mbak Aida. Makasih banyak ya ... mohon doanya.

      Hapus
  2. setiap artikel akang sy simak utk dibaca... alhamdulillah jd bnyk info yg sy dapatkan. nuhun kang Alee

    BalasHapus
  3. Alhamdulillah kalau bermanfaat.

    BalasHapus
  4. Alhamdulillah, artikelnya mencerahkan. Terima kasih, kang! :D

    BalasHapus

Ditunggu Komentarnya Teman-Teman

Blog Archive

Komentar