Rabu, 20 Mei 2015

Megahnya Istana Maimun Medan

 Bentor –becak motor, salah satu moda angkutan darat paling khas dan terkenal di Kota Medan yang saya naiki berhenti tepat di gerbang selebar kurang lebih 5 meter, di bagian kiri depan sebuah istana yang terletak di Jalan Brigjen Katamso, Medan. Setelah turun dan membayar dengan biaya Rp. 20.000,- mata saya langsung tertuju pada bangunan megah berwarna kuning, yang melintang indah di depan saya.  
Perlahan saya melangkah menuju bangunan yang berdiri di atas tanah seluas 2.772 meter persegi dengan perasaan berdebar. Setelah sekian lama hanya mengetahui kisah kerajaan Deli dari bacaan, baru kali ini saya menginjakan kaki di sini, di Istana Maimun yang dahulu menjadi pusat Kerajaan Deli.

Istana Maimon di Medan Tetap Terlihat Megah (Foto: Alee)

Istana Maimun sekarang ini menjadi salah satu istana paling indah, yang masih bisa dikunjungi sebagai saksi sejarah kesultanan di Indonesia. Dari tempat saya menginap, naik bentor hanya butuh waktu kurang lebih 15-20 menit, jadi sayang sekali kalau sudah di Kota Medan, tetapi tidak berkunjung ke Istana Maimun.
Setelah mengambil gambar Istana dari samping kiri, samping kanan, dan bagian depan bangunan, saya menaiki 28 undakan anak tangga terbuat dari marmer asal Italia yang diapit serambi kanan dan kiri Istana menuju ruang dalam Istana. Di ruang pertama –beranda dalam, foto Sultan ke VIII dan Sultan ke IX menempel di dinding, seolah menyambut kedatangan para tamu.
Sebelum benar-benar masuk ke dalam Istana saya membayar uang perawatan sebesar Rp. 10.000,- sangat murah dibanding harga sebungkus rokok. Sangat murah dibanding pengalaman dan pengetahuan yang akan di dapat di sini.
Tiba di tengah ruangan, mata langsung tertuju pada singgasana berkelambu  kuning. Desain singgasana yang unik memberikan karakter khas budaya melayu.  Di singgasana itulah Sultan menerima tamu dan masyarakat Deli. 

Singgasana Sultan di Istana Maimon Medan (Foto: Alee)


Harmoni Eropa dan Budaya Islam
Istana Maimun terdiri dari dua lantai dengan ketinggian 14,40 meter yang dibagi menjadi tiga bagian. Bangunan utama, sayap kiri, dan sayap kanan. Pada bangunan utama terdiri dari ruang-ruang yang semua didominasi oleh warna kuning. Tidak terkecuali ruangan di mana berdiri dengan kokoh Singgasana Sultan. Ruang tengah dengan luas 412 meter persegi tersebut yang biasa disebut sebagai balairung.
Balairung digunakan untuk acara penobatan Sultan Deli atau agenda tradisional lainnya termasuk acara-acara keislaman. Balairung juga digunakan sebagai tempat Sultan menerima sanak saudara dan keluarga di hari libur Islam. Di ruang utama tersebut pula, saat ini tersimpan foto keluarga, perabotan rumah tangga seperti bokor, gelas, dan alat rumah tangga lainnya serta senjata tua peninggalan kesultanan yang disimpan dalam etalase kaca.
Istana Maimun memiliki kurang lebih 30 ruangan. Ini belum termasuk kamar mandi, gudang, dapur, dan penjara di lantai bawah.
Pada singgasana Sultan ada sebuah lampu crystal yang menerangi singgasana, bentuknya terpengaruh budaya Eropa. Pengaruh yang sama muncul pada perabotan istana seperti kursi, meja, toilet, lemari, dan pintu menuju balairung. 

Pengaruh Berbagi Budaya Ada dalam Arsitektur Istana (Foto: Alee)

Pengaruh budaya Eropa ternyata tidak hanya pada perabotan, tetapi juga pada dasar bangunan istana. Bahkan, beberapa bahan bangunan diimpor dari Eropa, misalnya ubin lantai, marmer, dan teraso.
Pola arsitektur dari daratan Eropa seperti Belanda mempengaruhi desain pintu dan jendela yang tinggi dan lebar, begitu pun gaya Spanyol. Pengaruh Belanda juga terlihat pada prasasti marmer di depan tangga yang ditulis dengan huruf Latin dalam Bahasa Belanda.
Selain budaya Eropa, budaya Islam juga sangat berpengaruh, terutama pada bentuk kurva atau arcade di beberapa bagian atap istana. Kurva yang berbentuk kapal terbalik yang dikenal dengan Persia Curve sering dijumpai pada bangunan di kawasan Timur Tengah, Turki, dan India.
Bangunan tersebut menandakan pada zaman dahulu, sebenarnya sudah terjadi hubungan yang harmonis antara Eropa dengan kaum muslim di Indonesia. Mereka saling mengisi satu sama lain. Walau kesultanan tetap menjaga keislaman kawasannya.
Istana Maimun dibangun oleh Sultan Makmun Ar-Rasyid Perkasa Alamsyah dengan seorang arsitek berkebangsaan Italia pada tahun 1888. Waktu pengerjaannya menghabiskan sekitar 3 tahun dengan menghabiskan biaya kurang lebih 1 juta gulden. Istana diresmikan tanggal 18 Mei 1891.
Medan adalah ibu kota provinsi Sumatera Utara dan kota terbesar di Pulau Sumatera yang menjadi pintu gerbang wilayah Indonesia bagian barat dan juga sebagai pintu gerbang bagi para wisatawan yang akan menuju objek wisata Brastagi di daerah dataran tinggi Karo, objek wisata Orangutan di Bukit Lawang, dan Danau Toba.
Lokasi Istana Maimun sangat mudah dicapai karena berada di tengah kota. Dari Bandara Polonia jarak tempuhnya sekitar 10 Km dan dari Pelabuhan Belawan sekitar 28 Km. Bangunan bersejarah tersebut terbuka umum setiap hari dari pukul 08.00 hingga 17.00 WIB.

Potensi Wisata Budaya
Bandung dan Jawa Barat punya banyak tempat yang unik, menarik, dan mengandung nilai sejarah yang layak untuk dikunjungi seperti Istana Maimun. Hanya saja, tempat-tempat tersebut terkadang kurang terawat, bahkan sama sekali tidak ada jejak promosinya, sehingga masyarakat luar, bahkan masyarakat Bandung dan Jawa Barat sendiri tidak mengetahuinya.
Potensi wisata landmark, wisata arsitektur, dan wisata budaya pada saat ini mulai dilirik para agen wisata baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Potensi tersebut akan sia-sia jika tidak ada pembenahan infa strukturnya dan cara promosinya. Jika potensi tersebut bisa dioptimalkan maka akan mendatangkan devisa yang tidak sedikit untuk pemerintah daerah.
Setelah puas melihat-lihat Istana, sebelum pulang saya sempatkan mampir di toko cinderamata yang menyediakan berbagai perhiasan, pernak-pernik, topi, baju, hingga makanan kecil. Toko cinderamata tersedia di ruang belakang bangunan Istana, jadi tidak perlu jauh-jauh mencari. Saya pun memilih membeli cinderamata berupa bros, cincin, dan kalung untuk oleh-oleh. Modelnya khas melayu, jadi pasti akan jadi cinderamata yang berharga dan bisa mengenang kalau saya pernah singgah di Istana Maimun. (Ali Muakhir, penikmat wisata dari Forum Penulis Bacaan Anak, tinggal di Bandung) ***

0 komentar:

Poskan Komentar

Ditunggu Komentarnya Teman-Teman

Blog Archive

Komentar