Rabu, 20 Mei 2015

Mengunjungi Penjara Pangeran Diponegoro

UDARA Kota Makasar yang kering dan lembab, tidak membuat saya surut untuk melangkahkan kaki mengunjungi salah satu destinasi terbaik di Makasar. Sebuah benteng peninggalan Raja Gowa yang dibangun pada abad 17. Benteng apa lagi, kalau bukan Benteng Fort Rotterdam.
Kebetulan, tempat saya menginap tidak terlalu jauh dari benteng. Walau bisa menggunakan becak, tetapi saya memilih untuk jalan kaki di bawah terik mentari sore hari. Setelah melewati beberapa jalan, termasuk Jalan Somba Opu yang keramaiannya tidak kalah dengan Jalan Malioboro Jogjakarta, sampailah saya di Jalan Penghibur.
Jalan Penghibur salah satu jalan yang juga ramai karena di sinilah terdapat anjungan Pantai Losari, pusat jajanan, dan pusat kemaraian Kota Makasar. Setelah menyusuri jalan kurang lebih 15 menit, saya tiba di area Benteng Fort Rotterdam.


Benteng Fort Rotterdam di Makasar (Foto: Alee)
  
Ada Penjara Pangeran Diponegoro
Pada bagian luar benteng, ada taman kecil yang rapi dan bersih. Di sana, disediakan Joging Track. Ada beberapa anak muda dan beberapa suami istri yang lari sore atau sekadar jalan kaki mengelilingi taman.
Dari taman, benteng terlihat gagah. Saya sempat mengambil gambar sungai jernih yang mengalir di tepian benteng. Pantulan tembok berwarna kuning gading Fort Rotterdam seolah menggambarkan kegagahannya.
Sebelum masuk, saya membubuhkan nama dan alamat di pos jaga sebelah kiri pintu masuk. Serta memberikan uang kebersihan ala kadarnya. Masuk ke benteng tidak dikenakan biaya karcis, tetapi cukup uang kebersihan yang nilainya tidak ditentukan.
Benteng Fort Rotterdam berbeda dengan benteng-benteng yang pernah saya kunjungi. Fort Rotterdam terlihat cerah dengan dominasi cat warna kuning. Taman yang berada di tengah benteng pun ditata dengan apik dan bersih. 
Bangunan yang Bersih di Dalam Benteng (Foto: Alee)
 Benteng memiliki 15 bangunan. Beberapa di antaranya disebut bastion atau benteng pertahanan bagi orang Bone, Mandarsyah, Ambon, Buton, dan Bacan. Sebagian lain adalah rumah dinas, gudang senjata, gedung, pengadilan, istana bawah tanah, gereja, dan penjara.
Benteng seluas 28.595,55 meter persegi atau sekitar tiga hektare ini dipagari tembok teknik susun timbun dengan bahan balok batu padas dengan berbagai variasi ukuran. Rata-rata balok berukuran panjang 44-62 cm, lebar 21-34 cm dengan ketebalan 10-20 cm. Dinding bentengnya antara 5-7 meter.
Saya menelusuri benteng melalui jalanan lebar yang berada di sebelah kiri pintu masuk. Baru kemudian berjalan menelusuri seluruh bangunan. Di benteng ini ada Museum La Galigo yang menyimpan sebagian sejarah Kota Makassar, khususnya jejak kejayaan kerajaan Gowa, lengkap dengan khasanah budaya suku Makassar, Bugis, Mandar, dan Toraja.
Ada benda-benda pusaka khas Sulawesi Selatan seperti badik, sebagai bukti majunya teknologi tempa logam sejak jaman dulu. Badik dari sisi kearifan lokal, tidak saja mewakili benda budaya, melainkan juga berfungsi sebagai pusaka. Badik digunakan untuk upacara-upacara adat, di samping sebagai alat ekonomi serta alat bela diri.
Koleksi Museum di Benteng Fort Roterdam (Foto: Alee)
 Ada kalewang atau pedang yang dijadikan senjata perang suku Bugis. Senjata ini wajib dimiliki sebagai syarat sah menjadi raja. Selain senjata, masih banyak koleksi lainnya termasuk senjata api kuno zaman kolonial Belanda.
Tiba pada bagian bangunan paling pojok, tepatnya di Blok N, sebelah kiri pintu masuk, saya menemukan bangunan dua lantai yang berukuran kira-kira tidak lebih dari 6X5 meter persegi. Bangunan inilah yang dahulu menjadi penjara bagi pahlawan nasional, Pangeran Diponegoro.
Bangunan dengan dua lantai ini cukup lebar, tetapi tetap saja tidak nyaman dan tidak membuat orang yang dipenjara di dalamnya bebas. Saya membayangkan bagaimana rasanya dahulu Pangeran Diponegoro dipenjara di sini. Terisolasi dan tidak bisa melakukan apapun hingga wafat.
Fort Rotterdam, dahulu merupakan markas pasukan katak Kerajaan Gowa. Dahulu dikenal dengan nama Benteng Panyuwa karena denahnya mirip penyu. Bagi warga Gowa, penyu memiliki makna khusus, yaitu kedigdayaan kerajaan Gowa baik di darat maupun di laut.
Penjara Pangeran Diponegoro di Dalam Benteng (Foto: Alee)
 Benteng sendiri dibangun oleh Raja Gowa IX, Daeng Matanre Karang Manguntungi Tumaparisi Kallona. Selesai dibangun pada tahun 1545 Masehi oleh penerusnya, raja Gowa X, Manriwa Gau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tunipallangga Ulaweng.
Pada masa penjajahan Belanda, benteng diserahkan kepada pemerintah Belanda. Benteng yang pada masa awal pembangunan terdiri dari tiang-tiang tinggi khas bangunan tradisional Makasar direnovasi hingga berarsitektur Portugis. Kemudian berganti lagi menjadi bangunan bergaya Eropa atau gotik. Terutama ketika dikuasai Belanda atau VOC pada abad 17.
Benteng Fort Rotterdam sekarang ini menjadi salah satu destinasi wisata yang menyerap banyak wisatawan. Baik wisatawan lokal maupun manca negara. Benteng dibuka pukul 08.00-06.00. Informasi dari petugas, setiap hari benteng dikunjungi sekitar 5000-10.000 pengunjung. Benteng yang dahulu juga pernah menjadi tempat penyimpanan rempah-rempah, kini menjadi saksi bisu penjajahan Belanda di wilayah Sulawasi Selatan. (Ali Muakhir, penikmat wisata dari Forum Penulis Bacaan Anak, tinggal di Bandung) ***

0 komentar:

Poskan Komentar

Ditunggu Komentarnya Teman-Teman

Blog Archive

Komentar