Rabu, 27 Mei 2015

Serunya Festival Gunungan di Kota Parahyangan


KALAU mendengar festival budaya, pasti yang terbayang masa lampau yang tidak modern, bikin kening berkerut, dan berat. Akan tetapi, tidak dengan Gunungan International Mask and Puppets Festival atau lebih dikenal Festival Gunungan yang baru-baru ini diadakan di Bandung. Tepatnya di Balepare Kota Baru Parahyangan, Padalarang, Kabupaten Bandung sejak tanggal 22-24 Mei 2015.
 
Seniman dari Bali Ikut Meramaikan Festival Gunungan
Festival yang telah diadakan untuk keempat kalinya ini, selain mengadakan pameran juga pertunjukan kesenian wayang dan topeng dari berbagai daerah di Indonesia serta pelaku seni seperti Aat Soeratin, budayawan yang aktif di berbagai bidang seni sejak tahun 70-an.
Aat yang biasa dipanggil Abah Aat adalah pituin Sunda yang hingga kini aktif mengisi panggung kesenian di tahan air. Pendiri Depot Kreasi Seni Bandung yang melahirkan nama-nama besar seperti almarhum Harry Roesli dan Didi Petet. Sekarang bergiat di Rumah Nusantara.
Jose Rizal Manua dengan Teater Tanah Air-nya yang telah keliling dunia dan mendapat banyak penghargaan International. Musisi Dwiki Dharmawan, pendongeng PM Toh dari Aceh, Wanggi Hoed seniman pantomim dari World Mime Organisation, penari muda yang mampu mewakili perkembangan tari kontemporer,  penari topeng I Made Sidia dari Bali, penari topeng Nani Sawitri, Gita Kinanthiwayang kulit, wayang golek, wayang kancil, wayang potehi, wayang pring, wayang sampah, wayang hihid, wayang jurnalis, dan sebagainya.
Ada dua ruang pameran, ruang kreasi, dan tiga panggung yang digunakan untuk meramaikan festival. Panggung Bale, Panggung Pare, dan Panggung Eksebisi (Exhibition Hall). Tiap panggung diisi secara bergantian, sehingga tiap berganti sesi pertunjukan pengunjung harus berpindah panggung. Bikin heboh dan tidak membosankan.

Ramah Keluarga
Saya datang ke sana pada hari terakhir. Suasana festival terasa sekali sangat ramah keluarga. Pagi-pagi di pintu masuk disuguhi pertunjukan teater dari Majelis Sastra Bandung. Setelah itu Ria Enes di panggung eksebisi bersama boneka Suzan-nya menyapa para pengunjung.
Ria Enes seorang penyiar radio, pembawa acara, dan pendidik yang popoler sebagai penyanyi bersama boneka Suzannya pada era 90-an. Album-albumnya seperti Si Kodok, Kodok dan Semut, Suzan Punya Cita-cita, dan album-album lainnya meledak di pasaran hingga mendapat beberapa penghargaan.
Dengan gaya kenesnya, Kak Ria menyapa para pengunjung yang sudah duduk lesehan di depan panggung. Kursi yang disediakan panitia di panggung bahkan dibiarkan begitu saja oleh Kak Ria. Semata-mata karena Kak Ria ingin bisa lebih dekat dengan pengunjung.

Ria Enes dan Boneka Suzan Menghangatkan Suasana

“Siapa yang masih ingat sama Boneka Suzan?” tanya Kak Ria mencoba mengenalkan boneka yang ke mana-mana selalu bersamanya.
Tidak ada yang mengangkat tangan kecuali para orang tua yang seangkatan dengan masa keemasan Boneka Suzan. Namun Kak Ria tidak menyerah. Dia mengambil Suzan dari asistennya lalu mengajak ngobrol Suzan.
Suasana yang tadinya agak dingin mendadak bertabur tawa. Anak-anak terpikat dengan celotehan khas Suzan yang polos, lugu, dan kadang-kadang nggemesin.
Suasana makin hangat saat Kak Ria dan Suzan mendongeng cerita rakyat Aji Saka yang memiliki kekuatan pada surbannya. Dongeng ditutup dengan lagu Suzan Punya Cita-Cita yang diikuti dengan mudah oleh anak-akan.
 Acara dilanjutkan di Panggung Bale. Ada pertunjukan Wayang Kancil yang diisi anak-anak usia Sekolah Dasar dari Padepokan Sarotama. Dalang, sinden, dan penambuh gendingnya anak-anak, kecuali penabuh gendang.
Dalang Cilik yang Asyik dengan Wayang Kancilnya

Padepokan Sarotama bermarkas di Gunung Sari, desa kecil di tepian Sungai Bengawan Solo. Kurang lebih 2 km di sebelah timur Kota Solo. Berkiprah di bidang seni karawitan dan pedalangan anak sejak tahun 1983. Padepokan terbuka bagi siapa pun yang ingin belajar di sana.
Acara dilanjutkan di Panggung Pare. I Made Sidia menari beberapa tarian bali dengan sangat menarik dan menggelitik karena dibumbui dengan beberapa teatrikal. Nani Sawitri dengan tarian Topeng Losarinya yang benar-benar memukau.
Terakhir, seorang penari berkebangsaan Belanda membawakan Tari Petani yang juga tak kalah membuat gelitik dan memukau pengunjung. Anouk Wilke sendiri lahir dan besar di Belanda. Sejak usia 12 tahun mendalami tari, terutama balet. Sekolah di akademi tari Lucia Marthas dan tahun 2009 mendapat beasiswa di Institute Seni Indonesia di Yogyakarta. Dengan keahliannya, Anouk menciptakan koreografi untuk nusantara berjudul Tumbuh, Bejowo, Debu, dan sebagainya.
Setelah istirahat pengunjung mengerumuni Panggung Bale. Tarian Topeng Ireng menghentak suasana yang mulai redup. Topeng Ireng ditarikan oleh Komunitas Lima Gunung dari Magelang. Tarian yang mirip tarian indian tersebut mampu membuat pengunjung berdecak dan ikut bersorak-sorai menginguti gerakan para penari yang energik.
Thomas Herford Bercanda dengan Pengunjung
 Acara sore itu ditutup oleh Thomas Herford. Pendiri teater boneka keliling dengan nama Kabare Pupala. Artis panggung asal German ini sempat mengikuti berbagai festival boneka international, teater, dan festival anak-anak di German, Meksiko, Spanyol, Hungaria, Turki, dan Taiwan.
Apa yang membuat Kabare Pupala dengan Thomas Herford menarik semua pengunjung? Keahlian dalam berteater dengan boneka. Tahu panggung-panggung boneka yang memainkan boneka dengan tali? Bedanya, jika panggung boneka biasanya dalam sebuah kotak, Thomas memainkannya langsung di panggung terbuka sehingga bisa berkomunikasi langsung dengan pengunjung.
Jangan kan anak-anak, orangtua yang melihatnya pun tak henti-hentinya tertawa terbahak-bahak dengan tingkah laku boneka yang dimainkan Thomas. Tak perlu kisah yang berbelit, pengunjung merasa terhibur sekaligus mendapat pengetahuan secara tidak langsung. Sudah pernah melihat Thomas beraksi? Kalau belum sayang sekali. []
@KreatorBuku

7 komentar:

  1. Balasan
    1. Yoi sis ... jadi inget masa kecil ketemu Suzan

      Hapus
  2. Liputan yg keren abiz om. Thanks bgt

    BalasHapus
  3. Om Ali, bikin tentang festival-festival keren yang ada di Indonesia dong. Biar kita kagak kalah sama Jepang, Korea dll yang festivalnya dipublikasikan gimana.... gitu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siap keliling dari Festival satu ke festival lain Mas Koko

      Hapus

Ditunggu Komentarnya Teman-Teman

Blog Archive

Komentar