Selasa, 26 Mei 2015

Tips Nulis Penyakit Kronis Penulis Pemula


TAHUN 1999 saya mengawali karier dunia editorial dengan memegang buku anak-anak. Tidak lama kemudian memegang editorial buku remaja. Hingga sekarang, masih mengedit, mengelola, bahkan terus mencari naskah-naskah layak terbit, baik yang ditulis oleh penulis yang telah punya nama atau penulis baru alias calon penulis buku.
Selama itu pula banyak hal yang saya alami, baik pengalaman yang menyenangkan atau pengalaman yang tidak menyenangkan. Walau jujur saya akui, dunia editorial dalam dunia perbukuan itu super duper menyenangkan.

Serial Si Olin Direpublish karena Best Seller

Banyak buku yang saya edit kemudian meraih penghargaan. Pada masa-masa itu salah satu penghargaan yang sangat prestisius adalah Anugerah Adikarya Ikapi. Sederet buku yang saya edit membawa buku tersebut sekaligus membawa penulisnya meraih anugerah Adikarya Ikapi yang terakhir diselenggarakan pada tahun 2009.
Buku-buku peraih adikarya tersebut, yang saya ingat antara lain “Rembulan di Mata Ibu” karya Asma Nadia, “Dialog Dua Layar” karya Asma Nadia untuk kategori remaja. “Alhamdulillah Aku Punya Mata” karya Nurul Iksan untuk buku anak-anak. Dan beberapa buku lainnya yang saya lupa judulnya, total hampir sekitar 15 penghargaan didapat.
Pengalaman lain yang tidak kalah menyenangkan adalah menemukan naskah berlian dan Calon Penulis yang berlian pula. Saya bilang berlian karena naskahnya punya potensi besar untuk mendongkrak penulisnya menjadi hebat dan dikenal. Pengalaman ini benar-benar tidak bisa dilupakan.
Pengalaman yang juga tidak bisa dilupakan, ketika kemudian ada calon penulis yang first naskahnya langsung diterima penerbit dan diterbitkan. Banyak hal yang belum dia ketahui dalam dunia penerbitkan, sehingga banyak pula yang membuat kita tersenyum, terutama pada proses penerbitan. Nah, pada artikel berikut ini saya rangkum  Kesalahan-kesalahan Penulis Pemula.

1). Kirim Naskah via e_mail
Meskipun dunia internet mudah diakses, bukan berarti kita bisa memanfaatkannya untuk semua hal, termasuk pengiriman naskah kepada penerbit melalui surel (email). Sependek yang saya tahu, pengiriman via email ini hanya untuk naskah-naskah yang sudah jelas-jelas akan diterbitkan atau naskah-naskah pesanan penerbit. Antara penulis dan penerbit telah terjalin kerjasama sebelumnya, sehingga fasilitas ini bisa dimanfaatkan.
Bagi penulis pemula, sebaiknya tidak mengirimkan naskah via email karena akan memakan waktu yang sangat panjang. Bayangkan, jika 10 Penulis mengirim naskah novel yang tebalnya 200 halaman secara bersamaan. Akan perlu waktu berapa lama, bagian sekretariat mengunduhnya? Perlu berapa lama mengeprintnya? Perlu berapa rim pula kertas yang harus digunakan?
Selain waktu, biaya yang akan dikeluarkan penerbit akan melambung tinggi dan bisa jadi akan mendiamkan atau mencari kertas bekas untuk sekadar mengeprint. Padahal, jika penulis pemula mau berkorban sedikit saja mengeluarkan modal untuk mengeprint, menjilid, dan mempercantik tampilan jilidan, bisa jadi naskah yang dikirim, begitu tiba di meja editor akuisi akan langsung dibaca dan diputuskan segera.

2). Ingin Cepat Nerbitin Buku
Dunia kepenulisan sudah terbuka lebar, siapapun bisa jadi penulis, bahkan orang yang tidak pernah nulis naskah sekalipun tiba-tiba mengeluarkan buku lewat bantuan ghost writer. Belum lagi dengan banyaknya jasa self publishing yang tumbuh bak jamur di musim hujan, lengkap sudah, seolah daun pintu penerbitan dijebol.
Saya selalu menyarankan bagi penulis pemula, menurut saya akan sangat baik jika mengawali kariernya lewat media massa atau blog. Menulis artikel yang baik, menarik, dan kontinue. Dengan banyak menulis artikel, ketahanan kita sebagai penulis makin menggunung. Tahan ujian penolakan, tahan dalam mengasah kemampuan, dan tahan dalam membentuk self branding.
Coba lihat, berapa penulis yang bertahan di alam jagad ini? Berapa penulis yang pada saat ramai-ramainya novel remaja menulis buku, tetapi kemudian tenggelam dalam lautan yang tak bernama? Sangat banyak. Ini karena mereka tidak sabar ingin segera menerbitkan buku. Padahal, jika saja mau bersabar, semuanya akan baik-baik saja.

3). Ingin Royalti 20 Persen
Dalam dunia kepenulisan, royalti buku itu antara 5-12 persen, kalau standar internasional malah 6-10 pesen (kalau tidak salah) dari harga jual, jadi kalau kita nulis buku harga jualnya 100.000,- dengan royalti 10% saja, ketika buku tersebut terjual 100.000 explar, maka royalti kita 1 Miliyar (dipotong pajak).
Penerbit juga terkadang menerapkan royalti dari harga produksi dan ini besarannya dua kali lipat dari royalti harga jual. Jangan sampai tidak jeli, ya. Royalti yang besarannya dari biaya produksi bisa jadi nilainya lebih kecil.
Ketentuan besaran royalti di atas tentu saja tidak dengan serta merta, melainkan dengan berbagai pertimbangan. Pertimbangan biaya produksi, biaya promosi, biaya marketing, dan biaya lain-lain, jadi pasti sudah terukur. Jangan sampai kita ngeyel, keukeuh minta royalti 20 persen dari harga jual, ya.

4). Ingin Desain yang keren Menurut Dia
Mungkin karena exited banget naskahnya bakal diterbitkan, seluruh kemampuan penulis dikerahkan sehingga memberi banyak sekali masukan untuk desain dan visualisasi bukunya kelak. Bahkan ada lho, yang naskahnya tidak mau diedit.
Boleh memberi masukan, tetapi sekadar untuk menambah referensi desainer di penerbit yang akan menerbitkan karya kita. Bukan untuk berdebat tidak jelas, apalagi debat kusir. Percayalah, pada saat penerbit menentukan sebuah desain cover dan visual untuk buku kita, maka sudah mempertimbangkannya masak-masak.
5). Protes Usulan Editor
Ngambek karena usulannya tidak diakomodir editor? Lalu tidak mau bantu mempromokan bukunya? Lalu nggak mau nulis lagi? Lalu …? Jangan merugikan diri sendiri dengan sesuatu yang tidak produktif.
Jalani dahulu apa yang telah dilakukan oleh penerbit kepada kita. Jika di tengah jalan ada hambatan, baru kita protes. Jangan sampai buku belum terbit sudah protes duluan. Repot kan, kalau nanti penerbit tidak percaya lagi kepada kita?

6). Tidak Punya Rencana
Rencana kwartal, semester, pertahun itu penting saudara-saudara. Terutama untuk kontinuitas karya-karya yang akan kita tulis. Konon, di eropa, penulis-penulis yang sudah terkenal itu managemen menulisnya dengan baik. Setiap karya akan didevelop selama 1.5 tahun.
Sebagai gambaran, JK. Rowling selama nulis Harry Potter, dia melakukan hal seperti ini selama 6 bulan doi survei, 6 bulan berikutnya menulis, dan 6 bulan berikutnya promo. Hasilnya, setiap 1.5 tahun ada judul baru.
So, kalau sudah tahu seperti ini, apa kita mau diam saja? Mau cukup dengan nulis 1 buku saja dan tenggelam?

7). Merasa Jadi Seleb
Ini penyakit paling kronis penulis pemula. Artikel baru dimuat di media massa, lalu upload ke FB, Twitter, dan media sosial lainnya, diberi selamat sana-sini langsung jumawa. Belum lagi kalau naskahnya bakal diterbitkan. Hai, dunia tulis menulis itu bukan dunia hiburan, melainkan dunia yang sarat dengan pengetahuan. Oleh karena itu, berlakulah sebagaimana orang yang berpengetahuan.

Jangan sampai terjebak dengan dunia teve yang hanya nayangin yang gemerlap-gemerlap. Saya khawatir, jika penulis pemula belum apa-apa sudah merasa sebagai seleb, tidak sempat mengasah jemarinya supaya lebih tajam lagi dalam menulis. Tajam setajam silet.
Semoga bermanfaat dan sukses.[]
@KreatorBuku

10 komentar:

  1. Terima kasih kang! Ulasannya bikin "mak jleb" bagiku. Ternyata diriku belum apa apa, he he he. Semangat menulis dan menulis. Bismillah.

    BalasHapus
  2. Terima kasih, Kang Ali.
    Tulisan ini mengajarkan saya, bahwa menulis itu juga butuh proses

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama Mas.
      Terima kasih kembali

      Hapus
  3. bener bener bermanfaat mas,,

    salam kenal sebelumnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih
      Salam kenal juga Wahyu

      Hapus
  4. Alhamdulillah satu naskah novel sedang menunggu review kedua editor sebuah penerbit. Sekuelnya sedang saya kerjakan dan tayang berseri di blog pribadi. Semoga bisa segera selesai dan mengusulkan dinterbitkan.

    Kalau berkenan silakan mampir ke catatanbudyah.WordPress.com dan mohon masukan agar tulisan saya lebih layak dibaca. Terima kasih atas tulisan yang mencerahkan

    BalasHapus
  5. Nuhun, Kang Aleee
    Noted :)

    BalasHapus
  6. Setuju banget bro................. Dalam satu hari BW kemari, banyak info yang didapat, sungguh menarik.

    BalasHapus

Ditunggu Komentarnya Teman-Teman

Blog Archive

Komentar