Sabtu, 13 Juni 2015

10 Wisata di Bandung yang Dijangkau dengan Jalan Kaki


Singgah di Bandung, tetapi tidak punya waktu untuk mengeksplor wisata di Bandung? Segera saja menuju jalan yang saat ini sedang menjadi destinasi paling diminati sekagad raya, yaitu Jalan Asia Afrika.
Ada banyak tempat wisata yang bisa dikunjugi, seperti Wisata Kota Tua, Wisata Sejarah, Wisata Religi, Wisata Kuliner, Wisata Taman, Wisata Landmark hingga Wisata Belanja yang bisa dijangkau dengan jalan kaki. Hebatnya lagi, tidak perlu ampe gempor untuk menikmatinya. Dari satu destinasi ke destinasi lainnya bisa ditempuh hanya dalam waktu sepuluh menit. Tidak percaya? Yuk, ikuti perjalanan yang saya lakukan baru-baru ini.
Tugu Dasa Sila Bandung di Jalan Asia-Afrika Bandung (Foto: Alee)

1). Jalan Asia Afrika
Saya mulai dari Jalan Asia-Afrika Bandung. Jalan paling tua dan sangat bersejarah dalam pembentukan Kota Bandung. Letaknya di tengah-tengah kota, mulai dari perlimaan antara Jalan Ahmad Yani, Jalan Sunda, dan Jalan Gatot Subroto Bandung.
Tepat di tengah-tengah perlimaan, ada Tugu Dasa Sila Bandung yang pada dindingnya tergrafir nama-nama negara yang mengikuti Konfrensi Asia-Afrika. Jalan Asia-Afrika membentang kurang lebih 1 km dari perlimaan hingga Jalan Pos.
Pasca peringatan ke-60 Konfrensi Asia-Afrika, Jalan Asia Afrika semakin cantik karena pada sepanjang trotoarnya berdiri kursi-kursi taman untuk beristirahat para pejalan kaki, pot-pot bunga, bola-bola dunia, dan lampu-lampu yang didesain mirip dengan jalan-jalan di Eropa.
Bangku-Bangku di Jalan Asia-Afrika Bandung Menyongsong Para Wisatawan (Foto: Alee

 2). Tugu Titik Nol Bandung
Dari Simpang Lima berhenti di Tugu Titik Nol Bandung. Di sinilah titik awal mula Kota Bandung dibangun. Posisinya tepat berseberangan dengan Hotel Savoy Homan. Hotel bersejarah, tempat para delegasi Konfrensi Asia Afrika menginap.
Tempat ini dijadikan titik nol karena pada saat Gubernur Jenderal Belanda, Mr. Herman Willem Daendels menyuruh membangun kota, Daendels menancapkan tongkat. Tanah tempat menancapkan tongkat itulah yang sekarang menjadi titik nol Kota Bandung.
Di belakang tugu, ada monumen kepala lokomotif yang dibuat tahun 1900. Hingga sekarang masih terlihat kokoh dan menjadi salah satu heritage Kota Bandung. Dalam tugu tertulis tanda CLN 18 dan PDL 18. CNL 18 menunjukan daerah timur Kota Bandung yang terdekat dengan tugu adalah daerah Cileunyi dengan jarak 18 Km. PDL 18 menunjukan daerah barat Kota bandung yang terdekat dengan tugu adalah Padalarang dengan jarak 18 Km.
Tugu Titik Nol Bandung di Jalan Asia-Afrika Bandung (Foto: Alee)
 
Kepala Lokomotif Penanda Tugu Titik Nol Bandung (Foto: Alee)
 3). Gedung Merdeka
Tidak jauh dari Tugu Titik Nol, ada gedung yang menjadi simbol perjuangan bangsa dari dua benua, benua Asia dan Afrika. Gedung apa lagi kalau bukan Gedung Merdeka. Di sinilah, tercipta Dasa Sila Bandung yang menjadi pedoman bangsa-bangsa terjajah dalam berjuang memperoleh kemerdekaan. Dasa Sila juga menjadi prinsip dasar dalam usaha memajukan perdamaian dan kerja sama dunia.
Di samping Gedung Merdeka ada Museum Konferensi Asia Afrika yang menyimpan seluruh kenangan bersejarah dalam Konferensi Asia Afrika (KAA). Sangat pantas, jika Gedung Merdeka dan Museum KAA wajib dikunjungi untuk mengenang jasa para pahlawan. 
Bagian Dalam Gedung Merdeka yang Terlihat Sakral (Foto: Alee)

Diorama Saat Bung Karno Membacakan Dasa Sila Bandung di Museum KAA (Foto: Alee)

4). Jalan Braga
Jalan Braga Bandung tidak jauh dari Gedung Merdeka karena salah satu pintu Gedung Merdeka berada di Jalan Braga. Tepatnya Jalan Braga Pendek. Pada tahun 1900-an,  Jalan Braga hanyalah jalan kecil di depan pemukiman sunyi, bahkan dikenal sebagai Jalan Culik karena rawan penculikan.
Sekitar tahun 1920-1930-an, jalan mulai ramai setelah banyak pengusaha berkebangsaan Belanda mendirikan toko, bar, tempat hiburan, dan toko-toko baju serta butik yang menjual baju dengan rancangan baju dari Paris Perancis.  Jalan Braga semakin ramai dan terkenal.
Braga berasal dari Bahasa Sunda Baraga, yang artinya kurang lebih berjalan menyusuri sungai. Sesuai dengan namanya, Jalan Braga memang berada di tepian Sungai Cikapundung. Jalan Braga ini pula yang kemudian membuat Bandung dikenal sebagai Kota Kembang karena banyak kembang (gadis Sunda) bermekaran di Jalan Braga.
Penanda Jalan Braga yang Sangat Sundanes (Foto: Alee)
 
5). Cikapundung Riverspot
Setelah menyusuri Jalan Braga, saya bergegas menuju jalan di samping kanan Gedung Merdeka, Jalan Cikapundung Timur. Di sana ada area bekas lapangan parkir yang diubah menjadi taman asri Cikapundung Riverspot.
Dalam area Cikapundung Riverspot ada deretan bangku persegi empat, berwarna merah menyala yang menggoda untuk segera disinggahi, sekadar melepas lelah atau menikmati makanan kecil.
Tepat di depan bangku-bangku ada undakan-undakan lantai meliuk-liuk.  Di tengah ruang terbuka antara bangku dan undak-undakan ada lantai bergaris melingkar-lingkar. Kurang lebih berukuran dua meter persegi. Di sana ada lubang-lubang kecil serta lampu aneka warna. Pada saat-saat tertentu, dari lubang pipa tersebut meluncur air mancur, yang bergerak mengikuti iringan musik.
Jika malam tiba, saat air mancur tersebut menari-nari mengikuti iringan musik, terlihat berwarna-warni dan sangat cantik. Cocok sekali untuk relaksasi.
Cikapundung Riverspot Jadi Tempat yang Nyaman (Foto: Alee)
 
Jika Malam Hari Ramai karena Air Mancu di Cikapundung Riverspot Menari-nari (Foto: Alee)
6). Masjid Berarsitek Budaya Tionghoa
Tidak jauh dari Cikapundung Riverspot, tepatnya di Jalan Banceuy No. 8 Bandung ada masjid etnis Tionghoa di Bandung, yaitu Masjid Al-Imtizaj. Al-Imtizaj dalam bahasa Tionghoa Ronghe, yang dalam bahasa Indonesia artinya pembauran.
 Masjid dengan arsitek budaya Tionghoa tersebut cukup menyita siapa pun yang melintasinya. Gapura masjid berbentuk kelenteng, di atasnya berdiri kubah. Perpaduan yang cukup indah. Setelah melewati gapura pengunjung menuruni anak tangga menuju pintu masjid.
Bangunan dalam, pada dinding juga masih tetap mempertahankan budaya Tionghoa, walaupun tulisannya adalah kalimat syahadat. Masjid ini terbuka untuk siapa pun yang akan melaksanakan shalat, jadi bukan hanya untuk muslim keturunan saja.
Pintu Gerbang Masjid yang Cukup Unik (Foto: Alee)
 
Mimbar dan Dinding Tetap Mempertahankan Arsitek Tionghoa (Foto: Alee)
 7). Penjara Soekarno
Masih satu kompleks dengan Masjid Al-Imtizaj, ada Penjara Banceuy. Penjara tempat dahulu Bung Karno diasingkan di Bandung. Letaknya di dalam kompleks pertokoan Bancey dan aksesnya agak sulit. Akan tetapi,  sekarang telah dipugar dan  diberi akses dari Jalan Bancey Bandung.
Penjara Banceuy dibangun tahun 1877 oleh Pemerintah Belanda. Ada dua sel berada di sana. Lantai atas atas untuk tahanan politik, lantai bawah untuk tahanan rakyat jelata. Luas selnya sangat sempit, hanya 1,5 x 2,5 meter.
Dalam penjara yang sangat sempit inilah Bung Karno menyusun pidato pembelaan  yang dikenal dengan Indonesia Menggugat. Di sini masih tersimpan benda-benda yang pernah digunakan Bung Karno seperti papan untuk tidur, bantal dari karung goni, selimut, pispot, dan penerangan seadanya.
Sebagai penghormatan, dalam bekas penjara tersebut dipasang foto Bung Karno, Burung Garuda, Teks Pancasila dengan ejaan lama, sebuah bendera, serta buku dan koran terbitan lama yang memberitakan pidato pembelaan Bung Karno.
Di atas pintu penjara yang terbuat dari besi berwarna hitam, ada foto Bung Karno waktu masih muda dan keterangan keberadaan Bung Karno yang dipenjara sejak tanggal 29 Desember 1929 hingga Desember 1930.
Sekarang, tepat di belakang bekas ruang tahanan Bung Karno, ada patung seorang laki-laki sedang duduk. Tangan kanannya memegang pena dan tangan kirinya memegang sebuah buku. Patung  perunggu berwarna kuning gelap tersebut seolah-olah sedang berpikir hendak menulis sesuatu yang sangat penting. Patung siapa lagi kalau bukan patung Bung Karno.
Penjara Bung Karno yang Sempit (Foto: Alee)
 
Ruang dalam Penjara Bung Karno (Foto: Alee)
 
Patung Bung Karno di Area Penjara (Foto: Alee)
8). Warung Kopi Purnama
Cukup capai juga mengitari beberapa destinasi, makanya saya langsung menuju Warung Kopi Purnama untuk melepas lelah. Warung Kopi Purnama, salah satu warung kopi yang berdiri sejak tahun 1930. Wow, lama sekali ya … letaknya di Jalan Alkateri No. 22 Bandung. Dari penjara menyebrang Jalan Banceuy, menyusuri Jalan ABC, lalu masuk Jalan Alkateri No. 22, hanya perlu waktu sekitar 10 menit.
Warung Kopi Purnama memang berada di distrik perekonomian yang dibangun oleh Belanda. Pertokoan di sana hampir semua mempertahankan bangunan lama, kalau berubah mungkin sekadar mengganti warna cat atau menambal tembok yang terkelupas.
Masuk ruangan, aroma melayu terasa sekali. Lihat saja jendela depan yang berukuran besar dan diberi teralis dari kayu. Meja, kursi, lemari tempat memajang beberapa cemilan,  dan empat lampu bulat yang menggantung dari atap. Masih terasa sekali aroma melayunya.
Pada dinding-dinding bergantung foto-foto bangunan tempo dulu yang mengingatkan sejarah Kota Bandung, foto-foto artis jaman dulu, dan beberapa kliping liputan media yang beberapa kertasnya sudah memudar dimakan usia.
Warung kopi ini terkenal dan tetap bertahan karena hingga sekarang masih tetap mempertahankan cita rasa kopi khas yang dibuat sejak tahun 1930 lalu. Jangan lupa, kalau ke sini pesan Kopi Susu dan Roti Kukus Selai Sirkaya. Rasanya mantab.
 
Bagian Depan Warung Kopi Purnama (Foto: Alee)
Bagian Dalam Warung Kopi Purnama (Foto: Alee)

9). Masjid Agung dan Alun-Alun
Dari Warung Kopi Purnama menuju Masjid Agung dan Alun-Alun itu tinggal nyebrang Jalan Asia-Afrika, lalu menyusuri pertokoan lama. Tidak lebih dari 10 menit juga sampai. Kenapa musti mengunjungi Masjid Agung? Karena ini salah satu masjid tertua di Bandung. Didirikan abad ke-19, tepatnya tahun 1812.
Masjid memiliki dua menara kembar setinggi 81 meter. Kita bisa naik menara untuk melihat Bandung dengan cukup memberikan infak sebesar Rp.2000,- saja. Luas area kurang lebih 23.448 M2 dengan luas bangunan 8.575 M2. Mampu menampung 13.000 jamaah.
Sekarang alun-alun masjid sudah dipercantik dengan rumput sintetis dan tamannya ditata sedemikian rupa sehingga menjadi salah satu tempat yang nyaman untuk duduk-duduk. Tak lengkap rasanya ke Bandung kalau nggak mampir ke sini.
Masjid Agung Bandung yang Terlihat Megah (Foto: Alee)

Alun-Alun Bandung Dilihat dari Menara Masjid (Foto: Alee)
10). Dalem Kaum
Setelah muter-muter berwisata Kota Tua, Wisata Sejarah, Wisata Religi, Wisata Kuliner, Wisata Taman, Wisata Landmark, kini saatnya berwisata Belanja. Tidak jauh-jauh, kita tinggal melangkah menuju bagian kiri Masjid Agung dan Alun-Alun ada komplek belanja yang sangat terkenal, komplek Dalem Kaum, terletak di Jalan Dalem Kaum. Di sini apa pun ada dari mulai yang harga emperan hingga harga butik.
Selain menjadi salah satu pusat pertokoan terbesar di Bandung, di Dalem Kaum ada makam Bupati Raden Adipati Wiranatakusumah II, Bupati Kabupaten Bandung ke-6 yang berjasa mendirikan Kota Bandung. Pasti pada nggak tahu, kalau dulu Bandung hanyalah sebuhan hutan dan rawa-rawa yang sunyi senyap, kan?
Karena makan pendiri inilah, jalan ini dinamakan Dalem Kaum untuk menghormati beliau. Dalem Kaum artinya Kanjeng, julukan tertinggi untuk seorang pemangku jabatan. Jadi, sekalian belanja, sekalian juga nyekar ke pendiri Kota Bandung.
Makam Pendiri Kota Bandung di Jalan Dalem Kaum (Foto: Alee)

Pusat Pertokoan dan Belanja Dalem Kaum Selalu Ramai (Foto: Alee)
Tuh, bener kan, nggak kerasa, hanya muter Jalan Asia-Afrika saja sudah sepuluh tempat wisata terlampaui dalam waktu yang relatif singkat. Gimana kalau kapan-kapan kita mengeksplorasi jalan-jalan lainnya di Kota Bandung? Tak usah ragu, saya siap menemani. 
Tulisan ini diikutsertakan dalam rangka blog competition yang diadakan oleh #TravelNBlog

@KreatorBuku

35 komentar:

  1. Wow....lengkap banget ya Kang Kota Bandung ini. Saya juga mau ikutan lomba ini tapi udah 3 hari nge-draft masih buntu. Semoga bisa meneruskan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ... kalau balik ke Garut mampir ya ...
      Cepetan Teh ... tinggal besok lho. Kalau bisa hari ini dikelarin, hehe ... tentang Batam, Luti Gendang, Mie Tarempa, Pantai-pantainya, Kamp Vietnam ... itu seru. Di Camp juga pasti ada 10 hal yang menarik tuh, hehe
      #WajibIkut

      Hapus
  2. Membaca tulisan dirimu selalu diri ini terpancing untuk menjelajah setiap tempat yang kau tulis, mas :-D Sudah sekian tahun jadi urang bandung tapi belum semua tempat-tempat indah nan eksotik terjelajahi, termasuk beberapa tempat yang kau tulis. Hhhh... harus mulai! Eh, lain kali kalau jalan-jalan ajak-ajak dong.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hayuk-hayuk ... kapan pun kau mau menjelajah. Tak temeni pokoke mase.

      Hapus
  3. Bisa jadi pemandu nih artikelnya ... Bagi para turis dometik atau asing merapat ke sini aja - thank you :D

    BalasHapus
  4. Masuk daftar buat dikunjungi, nih...

    BalasHapus
  5. wah, keren banget Kang Ali, bisa menikmati bandung dengan jalan kaki dan sehat, aku pengen ke mueseum2nya nih, belom pernah kesana2

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hayuk Salman. Museum juga nggak terlalu jauh, pakai motor semua museum sehari terkunjungi, hehe

      Hapus
  6. My hometown! Nice blog kang, Bandung makin nyaman dan friendly buat wisatawan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thx u Kang, hehe
      Iya, makin nyaman dan bikin betah.
      Emang sekarang tinggal di mana Kang?

      Hapus
  7. waaa saya buta banget jalan Bandung. Lain kali harus ngebolang ke Bandung nih :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo mau ngebolang tinggal colek aja ... hehe

      Hapus
  8. Wow! Lengkap.. Asik banget niih... Inget dulu pertama kali ke Bandung ama suami & temen2 PA-nya, pernah iseng jalan kaki dari Gedung Sate, lewat Unpad, lewat RS Borromeus, tau-tau sampe di BSM. Pas ngeliat di peta, ternyata itu jalannya muter ya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe ... iya, itu muter-muter Mbak Dee ... untung nggak pusing :D
      Hayuk muter-muter lagi.

      Hapus
  9. waaaaw, baru tau cikapundung jadi keren gitu..! kapan2 kalo ke Bandung mau ke sana aahh :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget Mbak Vira ... bilang-bilang kalau mau ke Bdg ya

      Hapus
  10. Bisa banget dijadiin bahan walking tour nih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yoi Mumun ... sehat jasmani rohani pokokna mah

      Hapus
  11. Wah, itu bisa dijangkau dengan jalan kaki dari Jakarta? Haha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa Mas ... tapi pakai gempor, haha
      Yuk Mas, ka Bandung deuy nganggo BanDros

      Hapus
  12. Wah baru tahu saya Bandung ada sebanyak ini yang dapat dijangkau berjalan kaki. Dulu saya ke kota paling cuma ikut komunitas Aleut keliling heritage2 di sana :D

    Selamat ya Mas sudah menang lombanya! :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mas. Eh, komunitas Aleut juga keren tuh, suka keliling ... kapan-kapan mau ikut ah

      Hapus
  13. Assalamualaikum.salam kenal mas Ali...senang bisa gabung..

    BalasHapus
  14. Assalamualaikum.salam kenal mas Ali...senang bisa gabung..

    BalasHapus
  15. Assalamualaikum.salam kenal mas Ali...senang bisa gabung..

    BalasHapus
    Balasan
    1. W/salam wr wb.
      Salam kenal juga Ceu Eka

      Hapus
  16. waaa mupeng kang....bookmark ahh kalau jalan ke bandung kudu mampir disini..selamat ya kang udah menang...pengen bgt kopdaran lagi dengan kang ale

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hayuk mampir. Siap nemenin keliling Mbak Dedew ... lama sekali tak bersua ya. Makasih Mbak Dedew .... kapan-kapan ke Semarang ah.

      Hapus
  17. wiwwww enak ya bisa dapet dengan jalan kaki
    kalau di semarang mah susah nian

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, semarang bukannya dekat-dekat juga Mas?

      Hapus
  18. duuuh, kapan bisa kemana... kalau kesana siap-siap tak ekplore semua daaah

    BalasHapus
  19. Today,
    Yes dibantu denan Kang Alee, sy coba anakku mau menyusuri destinasi kota dengan banyak tempat bersejarah krn sang kakak Sulung sudah wanti2 mau ke mall atau ke Trans Studio, hihii.....smg cuaca this morning tidak hujan kayak kemarin sore, Jumat 25 Maret yaaaa, menarik posisi hotel perdana wisata ternyata tidak jauh dari stasiun kereta api y, pengen menulis dari titik itu deh.....cu

    BalasHapus

Ditunggu Komentarnya Teman-Teman

Blog Archive

Komentar