Kamis, 04 Juni 2015

Legitnya Kopi Susu di Warung Kopi Purnama


BAGI penikmat kopi, jangan kecewa jika jalan-jalan ke Bandung dan tidak menemukan kedai atau warung kopi seperti di Aceh, Makasar, atau Ambon. Bandung memang bukan kota penghasil kopi meski pun Bandung punya yang legendaris, yaitu Kopi Aroma.

Kopi Susu dan Camilan di Kedai Purnama

Akan tetapi, jangan khawatir, ada satu Warung Kopi yang juga sangat legendaris dan layak untuk dijadikan tempat singgah jika jalan-jalan ke Bandung, namanya Warung Kopi Purnama. Lokasinya ada di kawasan pusat Kota Bandung, tepatnya di Jalan Alkateri No. 22 Bandung.
Hampir setiap pagi atau sore hari warung kopi ramai pengunjung. Saya sendiri kalau sedang berada di tengah kota, baik sedang sendirian, bersama teman-teman atau keluarga sesekali berkunjung ke sini, sekadar untuk menikmati segelas Kopi Susu dan Roti Bakar Srikayanya. Dua menu itu sejak warung ini berdiri memang jadi menu yang paling dicari.
Meski pun warung kopi selalu identik dengan orangtua, warung kopi purnama tidak demikian, bisa dinikmati oleh siapa pun termasuk anak-anak. Terakhir berkunjung ke sana, minggu lalu, saat sedang ada aktivitas di seputar alun-alun Bandung.

Berdiri Sejak 1930
Hebat sekali, apa nggak capai berdiri sejak tahun 1930 hingga tahun 2015? Seloroh hati saya setiap kali memasuki pintu warung kopi purnama yang tidak pernah berubah, tetap mempertahankan bangunan khas kolonial.
Letak Warung Kopi Purnama memang berada di distrik perekonomian yang dibangun oleh Belanda. Pertokoan di sana hampir semua mempertahankan bangunan lama, kalau pun berubah mungkin sekadar mengganti warna cat atau menambal tembok yang terkelupas.

Bagian Depan Warung Kopi Purnama

Bagian Dalam Warung Kopi Purnama

Begitu masuk ruangan, saya mencari tempat duduk di pojok supaya lebih nyaman menikmati kopi susunya. Ada beberapa orang tua keturunan Tionghoa yang sepertinya sedang santai di pojok lainnya. Aroma Tionghoa Melayu memang sangat kental di ruang depan. Lihat saja jendela besar di samping kiri kanan pintu yang diberi teralis kayu mengingatkan bangunan-bangunan lama di Kota Medan.
Kemudian empat lampu bulat yang menggantung dari atap, meja kayu yang diberi marmer, kursi, hingga lemari tempat memajang beberapa cemilan, yang mengelilingi kasir pun terasa sekali aroma melayunya.
Pada dinding-dinding bergantung foto-foto bangunan tempo dulu yang mengingatkan sejarah Kota Bandung, foto-foto artis jaman dulu, dan beberapa kliping liputan media yang beberapa kertasnya sudah memudar dimakan usia.
Beberapa saat kemudian pramusaji menyodorkan daftar menu yang sudah saya hafal betul harga-harganya. Sekarang harganya naik sedikit, tetapi tidak apa-apa demi secangkir Kopi Susu Khas Warung Kopi Purnama.
Saya memesan Kopi Susu dan Roti Selai Nanas, sementara kedua anak saya memilih Jus Jambu, Cokelat Hangat dan masing-masing Roti Cokelat. Sebagai penetral rasa manis, saya pesan Teh Tubruk.

Kopi Susu dan Roti Selai Nanas


Kopi Bandung Rasa Medan
Warung Kopi Purnama kini dikelola oleh pengusaha generasi ketiga, namanya Lily Josana yang mendapat warisan dari ayahnya, Allen Josana. Warung awalnya yang mendirikan kakek Lily, Young A Tong pada tahun 1990. Saat pertama kali berdiri namanya Ching Sang Shu (Bahasa Khek) yang artinya “Silahkan Mencoba”.
Pertama kali didirikan bukan di Bandung, melainkan di Medan, Sumatra Utara. Pada tahun 1960-an, seiring dengan kebijakan pemerintah pada saat itu, nama warungnya diganti menjadi Warung Kopi Purnama.
Sempat pindah di Jakarta selama beberapa tahun, baru kemudian pindah ke Bandung, tepatnya di Jalan Oto Iskandardinata, baru kemudian pindah pecinan lama, tepatnya di Jalan Alkateri no. 22 Bandung hingga sekarang. 
Berdasarkan pengalaman sang Kakek, dahulu orang Medan kalau minum kopi pada pagi hari pasti ditemani roti, maka Warung Kopi Purnama pun menyediakan roti kukus selain kopi sebagai menu utama. Lambat laun, pengunjung warung ketagihan dengan Kopi Susu dan Roti Kukus Selai Sirkaya. Jadilah, kedua menu tersebut primadona hingga sekarang.
Rasa kopi susunya memang sangat berbeda, tidak seperti kopi susu pada umumnya yang kadang tidak nge-bland antara kopi dan susunya. Begitu dicoba, sruputan awal rasa pahit dan sepat kopinya cukup terasa. Sruputan berikutnya bikin kita melayang di udara.
Rahasia kenikmatan kopi susu di warung kopi purnama, salah satunya karena kopinya yang digiling sendiri itu langsung dibeli dari Medan. Warung membeli kopi pilihan pada penyuplai yang sama sejak warung berdiri.
Biji-biji kopi tersebut kemudian disimpan terlebih dahulu untuk menciptakan aroma yang sangat kuat. Setelah itu biji-biji kopi digiling dengan penggilingan yang sama, yang digunakan sejak jaman dulu kala. Penggilingan dilakukan di rumah kediaman Lily, sehingga tidak ada pegawai yang tahu.
Lyli pun punya resep khusus dalam menyeduh kopi supaya membuat peminumnya ketagihan. Setelah gelas yang berisi bubuk kopi dituangi air mendidih, biarkan beberapa saat hingga ampasnya mengendap. Setelah ampasnya mengendap, air seduhan tersebut direbus lagi, baru kemudian disajikan.  
Sementara rahasia kelezatan Roti Selai Sirkayanya ada pada gula merah yang digunakan. Ini sudah menjadi resep turun temurun dari pendiri Warung Kopi Purnama. Selain itu, selai Sirkayanya tanpa bahan pengawet. Di kasir dijual juga selai sirkaya yang bisa dibeli untuk oleh-oleh.
Selain Roti Selai Sirkaya, Roti Gulung Telur Sosisnya juga menjadi salah satu favourite pengunjung warung yang buka mulai pukul 06.30 hingga pukul 22.00 ini. Terkadang, pagi-pagi sekali pelanggan sudah antre untuk sarapan di sini. Selain itu, masih banyak menu-menu lain yang bisa dipilih pengunjung.
Oh iya, sekarang ini di bagian belakang yang dahulu taman juga telah direnovasi dan dijadikan bangunan untuk pengunjung bebas rokok, sehingga pengunjung yang membawa keluarga bisa nyaman makan di sini. Belum lagi sekarang sudah ada wifi sehingga makin enak nongkrong di sini.

Bagian Dalam Warung yang Nyaman

Tak terasa, sore mulai menjelang, saya segera menghabiskan sruputan terakhir kopi susu yang saya pesan. Rasanya, tak ingin setetes pun tertinggal di cangkir, walau cangkirnya cangkir biasa, sama seperti cangkir-cangkir di rumah, tidak seperti cangkir-cangkir yang digunakan di café-café kopi modern yang mulai menjamur di Bandung. Selamat minum kopi kawan!

Warung Kopi Purnama
Jl. Alkateri No. 22
Bandung , Jawa Barat , Indonesia
Tlp: (022) 4201841
Jam Buka : Senin – Sabtu , 06.30-18.00 dan Minggu/Hari libur , 06.30-15.00
Email: warungkopipurnama@gmail.com

18 komentar:

  1. Wah.. asik banget suasana warung kopinya, Kang. Gak kebayang kalo warung ini udah ada sejak tahun 1930. Selalu salut dan penasaran ama warung-warung yang udah berdiri puluhan tahun dan tetap eksis sampai sekarang, seperti warung kopi ini.

    BalasHapus
  2. Keren, ne lidah tidak mo diam ngilerrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi ... blogmu endi Mase ...

      Hapus
  3. rasa roti nya ganti cokelat kayanya lebih sip ,.wkwkwk

    BalasHapus
  4. http://tioa55.blogspot.com/

    BalasHapus
  5. Om aleee kirimin erna juga dunk kopinya asyekkkk ngarep.com
    www.catatan-mamana-fatifay.blogspot.com
    www.ernawatililys.blogspot.com

    BalasHapus
  6. agrrrr... saya pecinta kopi dan langsung ngiler dah.. *duh mana lagi puasa lagi XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi .... bacanya pas puasa sih ya ... mudah-mudahan dengan menahan diri dari minum kopi pahalanya makin besar

      Hapus
  7. Salah waktu membaca. Aduh bikin galau saja ini, Mas Ali. ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi ... nanti kalau buka langsung ngopi :D

      Hapus
  8. wah.. kang alee, saya salah waktu nih. Harusnya baca beginian pas maghrib aja ^__^ jadi kepengen minum kopi kan jadinya. Hayoo... kang alee, tanggung jawab. Kirimin kopinya ke bekasi hehehehh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Boleh-boleh, mau berapa cangkir, hehe
      Kalau sampai sana dingin nanti dikirim lagi :D

      Hapus
  9. waaaah! pingin ke sana. kalo ke Bandung lain kali mau ah...

    Yuk, ikutan! -> GIVEAWAY: Hemat Ongkos dengan Uber http://wp.me/p39Fhn-ps #senjamoktika

    BalasHapus

Ditunggu Komentarnya Teman-Teman

Blog Archive

Komentar