Senin, 17 Agustus 2015

70 Tahun Indonesia Mengenang Bung Karno Saat di Pengasingan

TIDAK terasa, Indonesia telah 70 tahun merdeka. Kemerdekaannya pastilah tak akan sia-sia jika para penerus bangsa menghargai jasa-jasa pejuangnya dengan ikut membangun bangsa. Sesuai dengan bidangnya masing-masing.
Rumah Pengasingan Bung Karno di Bengkulu (Foto: Alee)

Salah satu pejuang yang patut diteladani adalah Bung Karno. Siapa lagi kalau bukan Presiden Pertama Republik Indonesia. Seorang pahlawan nasional yang selama berjuang melawan penjajah beberapa kali diasingkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda di beberapa tempat, salah satunya di Bengkulu.
Mata saya langsung terbelalak, dada rasanya sesak karena susah bernapas, dan badan hampir lunglai saking harunya begitu tiba di pintu gerbang rumah pengasingan. Sungguh, rasanya tak percaya bisa menginjakan kaki di sini melihat salah satu rumah sakral, saksi sejarah perjuangan salah satu orang terbaik di negara ini.

Penuh dengan Buku
Rumah pengasingan Bung Karno terlihat tidak ada yang istimewa, sama seperti rumah-rumah lainnya. Berlokasi di Jalan Soekarno-Hatta. Dahulu, jalan ini bernama Jalan Jeruk, Kelurahan Anggut Atas, Kecamatan Gading Cempaka, Kota Bengkulu. Dari tempat saya menginap kurang lebih jaraknya sekitar 15 menit perjalanan. Lokasinya di pusat kota jadi mudah ditemukan.
Begitu menginjak pintu gerbang, barulah tersadar jika rumah yang terlihat biasa-biasa saja tersebut ternyata luar biasa. Saya jadi teringat pelajaran sejarah mengenai pengasingan Bung Karno di Bengkulu.
Setelah diasingkan di Ende, Flores, Bung Karno diasingkan di Bengkulu dan menempati rumah tersebut dari tahun 1938 hingga 1942. Di Bengkulu, Sang Proklamator kemudian bertemu dengan Fatmawati, gadis asli Bengkulu yang kemudian menjadi istri beliau sekaligus sang penjahit Bendera Sang Saka Merah Putih saat Proklamasi 17 Agustus 1945.
Sebelum masuk, saya membubuhkan nama dan alamat serta membayar uang kebersihan Rp. 5000,-. Begitu masuk ruang tamu, langsung disambut seperangkat kursi tamu yang terbuat dari kayu dan anyaman rotan, dipagar dengan rapi supaya tetap awet dan menjadi benda bersejarah yang bisa dilihat dan kenang sepanjang masa.
Kursi di Ruang Tamu yang Sengaja Dipagar Supaya Tidak Rusak (Foto: Alee)

Dalam rumah yang sekarang berfungsi sebagai museum tersebut  tersimpan benda-benda peninggalan Bung Karno yang memiliki nilai sejarah sekaligus menemani Sang Proklamator dalam menyusun strategi-strategi perjuangan selama di pengasingan. Pembagian ruangan dan penataan koleksi benda bersejarah begitu rapi dan teratur.
Pada sisi kanan ruang tamu terdapat tiga buah kamar dan di sisi kiri terdapat dua kamar tidur. Di dalam kamar tidur terdapat ranjang besi tempat tidur Bung Karno. Dalam salah satu dari tiga kamar lainnya, yang terletak di bagian depan, terpajang duplikat sepeda tua, kendaraan yang biasa dipakai Bung Karno.
Pada kamar paling tengah ada sebuah lemari gandeng berukuran 2X1,5 meter yang berisi buku koleksi Bung Karno. Sebuah lemari pakaian serta beberapa benda bekas pemain sandiwara, seperti kebaya dan payung tua terbuat dari kertas. Semuanya telah tampak usang dan pudar.
Kamar terakhir kosong, hanya terpajang bingkai-bingkai foto berukuran besar. Ada foto-foto Bung Karno beserta Ibu Inggit dan keluarga serta kerabatnya yang lain, termasuk foto Ibu Fatmawati.
Bagian belakang rumah terdapat beranda dengan sepasang kursi santai. Pada bagian kanan terdapat bangunan memanjang ke belakang, terdiri atas lima petak, di antaranya merupakan kamar kecil, gudang, dan dapur.

Lapuk Termakan Usia
Koleksi peninggalan Bung Karno yang sebenarnya paling berharga adalah buku-buku yang jumlahnya mencapai ratusan judul. Deretan buku-buku tebal tersebut meliputi buku karya sastra klasik, ensiklopedia, data kepemimpinan Jong Java, hingga Alkitab Pemuda Katolik.
Sayang sekali, buku-buku yang sebagian besar berbahasa Belanda itu sudah dalam keadaan rapuh dan hancur termakan usia. Jika diprosentasikan, sekitar 60 persen dari semua buku yang ada di Rumah Pengasingan Bung Karno ini rusak parah.
Koleksi Lapuk Dimakan Usia (Foto: Alee)

Sampul buku sebagian besar terkoyak. Warna buku pun pudar dan kusam. Tidak ada alat pengatur suhu atau sarana penjaga keawetan buku, seperti layaknya sebuah museum.
Selain buku koleksi Bung Karno, puluhan seragam kelompok Tonil Monte Carlo (kelompok sandiwara yang didirikan dan diasuh Bung Karno selama pengasingan di Bengkulu)  juga disimpan di rumah ini. Kondisinya tidak jauh beda dengan buku, di dalam lemari penyimpanan tidak dilengkapi dengan pengatur suhu dan cahaya untuk mencegah kerusakan akibat pelapukan dan berbagai faktor lain.
Rumah berukuran 162 meter persegi dengan ukuran bangunan 9x18 meter tersebut memiliki halaman yang cukup luas. Pintu utamanya berdaun ganda berbentuk persegi panjang dengan jendela persegi panjang berhias kisi-kisi. Belum diketahui kapan rumah ini pertama kali didirikan. Diperkirakan dibangun awal abad ke-20.
Awalnya rumah tersebut milik pengusaha Tionghoa bernama Tan Eng Cian yang bekerja sebagai penyumplai  sembako untuk Pemerintah Hindia Belanda. Rumah tersebut kemudian disewa oleh Pemerintah Hindia Belanda untuk menempatkan Bung Karno selama diasingkan di Bengkulu.
Saat ini bangunan lamanya masih dipertahankan, hanya saja pada 2006 Pemprov Bengkulu menambahkan bangunan di samping rumah pengasingan bernama Persada Bung Karno yang berfungsi sebagai museum, perpustakaan, ruang pertemuan, dan gedung pertunjukan.
Senang, haru, sedih, bahagia, dan banyak perasaan lainnya berbaur, campur aduk berkecamuk dalam dada. Saya bayangkan betapa dahulu Bung Karno dan para pahlawan lainnya berjuang dengan sangat berat untuk mencapai kemerdekaan. Demi kebebasan rakyat Indonesia tercinta. 
@KreatorBuku 

4 komentar:

  1. keren... semoga jiwa bangsa ini sebesar jiwa para pendahulunya...

    http://irfanazizi.blogspot.com/2015/08/alur-pembangunan-karakter.html

    BalasHapus
  2. yg di bengkulu ini juga salah satu destinasi wajib yg udah masuk list. mudah2an tahun depan bisa terlaksana. setiap hari tempat ini buka kah? atau hari sabtu minggu tutup?

    BalasHapus

Ditunggu Komentarnya Teman-Teman

Blog Archive

Komentar