Jumat, 18 September 2015

Datsun Go+ Panca Risers Expedition Sulawesi Sambangi Toraja


INI puncak perjalanan Datsun Go+ Panca Risers Expedition Sulawesi etape 2, sebelum kembali ke daerah masing-masing melalui Kota Makasar. Mengeksplorasi Tanah Toraja. Sungguh, Toraja Sulawesi Selatan buat saya salah satu tanah yang harus disambangi karena budayanya.
Makanya, begitu tahu program Datsun Go+ Panca Risers Expedition Sulawesi etape 2 berakhir di Tanah Toraja, saya seperti mimpi saja rasanya. Dengan budaya Tanah Toraja, Datsun Go+ Panca ingin memperlihatkan keklasikan indonesia yang kaya dan wajib di jaga. Sebagaimana Datsun Go+ Panca, Brand Klasik yang dijaga dan disegarkan kembali oleh Nissan.

Rumah Tongkonan Kete Kesu dan Londa
Ternyata hotel tempat saya dan raisers lainnya yang tergabung dalam Datsun Go+ Panca Risers Expedition Sulawesi tidak terlalu jauh dengan salah satu desa yang menjadi tempat wisata budaya, Desa Kete Kesu, Toraja, Sulawesi Selatan.
Hanya dalam perjalanan kurang lebih lima belas menit, setelah raiser istirahat dan mengisi perut untuk sarapan mengunjungi Kete Kesu. Decak kagum, takjub, heran, dan perasaan-perasaan lainnya seolah tumpang tindih saking senangnya.
Rumah Tongkonan yang selama ini hanya bisa dilihat di brosur-brosur atau cerita teman-teman sekarang ada di depan mata. Di Desa Kete Kesu, ada 5 Rumah Tongkonan yang usianya antara 50-100 tahun. Ada lumbung-lumbung serta ada batu besar tempat pemakanan para leluhur Kete Kesu.
Usai melihat-lihat dan mendengarkan banyak penjelasan tentang Rumah Tongkonan, raiser dibawa ke arah bukit batu di belakang Rumah Tongkonan. Bukit batu yang penuh dengan gua-gua tempat bersemanyam para leluhur.
Rumah Tongkonan di Kete Kesu Toraja (Foto: Alee)
Selain di Kete Kesu, saya dan teman-teman raisers juga mengunjungi Londa. Salah satu bukit batu yang juga menjadi tempat disemayamkannya jenazah para leluhur di Londa. Mobil raiser sempat tersendat karena ada perbaikan jalan, tetapi karena ini kesempatan langka, raisers tancap gas menuju ke sana.
Ini membuktikan semangat raisers sudah menyatu dengan semangat yang diusung oleh Datsun Go+ Panca Go+ Panca, sebagai kendaraan low bugdet atau Low Cost Green Car (LCGC) yang tidak bisa diremehkan. Baik dari sisi interior, eksterior, hingga performanya.
Dari sisi interior menawarkan nilai kemewahan dan elegan sehingga tidak terkesan sebagai mobil dengan harga murah. Beberapa fitur standar seperti foglamp dan rear spoiler yang cantik menambah kesan ‘kelas atas’ pada mobil jenis MPV ini.

Ada Upacara Adat
Tidak ada yang kebetulan di dunia ini, bukan? Begitu pun kedatangan saya dan teman-teman raisers Datsun Go+ Panca Risers Expedition Sulawesi etape 2. Hari ini ada upacara pemakaman salah seorang warga. Biasanya, perayaan pemakaman atau Rambu Solo dilakukan selama tujuh hari. Hari pertama ini keluarga orang yang meninggal mengundang seluruh keluarga.
Saya dan teman-teman raisers meluncur ke lokasi upacara. Ada puluhan orang yang sedang duduk-duduk sambil menikmati hidangan. Raisers disambut sangat ramah oleh tuan rumah. Sambutan yang benar-benar akrab.
Sebagai sambutan tuan rumah untuk para tamu, tuan rumah sudah menyiapkan puluhan babi untuk menjamu. Saya sebagai muslim yang tidak makan babi mencoba mengikuti prosesi tersebut, sebagai bentuk penghargaan kepada tuan rumah yang telah mengijinkan kami melihat prosesi upacar.
Penghargaan yang kami berikan, sebagaimana Datsun Go+ Panca Go+ Panca menghargai pelanggannya dengan kelebihan-kelebihan yang dimilikinya berikut ini.
Iring-Iringan Raisers di Atas Tanah Toraja (Foto: Alee)
Pertama,  7 Seater dengan harga terjangkau. Meskipun tergolong LCGC, Datsun Go+ Panca Go+ Panca memiliki 3 baris kursi. Walau pun, baris kursi belakang hanya dapat diisi oleh penumpang dengan tinggi kurang dari 150 cm (anak-anak). Datsun GO+ Panca sangat cocok untuk keluarga muda yang senang jalan-jalan.
Kedua, Performa mesinnya impresif. Salah satu hasil pengetesan terhadap Datsun GO+ Panca menunjukan angka impresif. Jarak 0 -100 km/jam dapat ditempuh dalam waktu kurang dari 15 detik. Padahal umumnya untuk ukuran mobil LCGC memiliki performa kurang menjanjikan. Putaran mesin terbaik untuk memacu mobil ini ada pada putaran tengah hingga mendekati redline.
Ketiga, irit. Dari hasil pengetesan, Datsun Go+ Panca Go+ Panca mampu menghasilkan konsumsi bahan bakar 12 km/liter untuk dalam kota dan 16 km/liter untuk luar kota. Sebagai mobil dengan 7 penumpang pastilah cukup irit.
Keempat,  Kabin lega. Kursi baris pertama dan kedua penumpang mendapatkan ruang kaki dan kepala yang lega untuk ukuran sebuah city car. Tetapi pada baris kursi ketiga hanya cocok untuk anak-anak.
Kelima, Desain eksterior Datsun Go+ Panca tidak seperti kompetitor di kelasnya yang cenderung kaku dan terlihat seperti mobil murah, Datsun Go Panca sebaliknya, terlihat mewah dengan lekukan-lekukan yang tidak pernah ada pada sebuah mobil harga ekonomis.
Keenam, Irit bahan bakar. Untuk memberikan pengendaraan yang hemat bahan bakar bagi pengemudi. Datsun GO+ Panca sudah dilengkapi dengan ECO indicator. Dengan fitur ini, mobil dengan harga dibawah 100 juta sudah cukup keren.
Ketujuh,  Datsun Go+ Panca dibekali dengan Multi Information Display (MID).  Digital, di balik speedometer bertujuan untuk menghintung konsumsi bahan bakar, jarak tempuh, dan informasi lainnya.
Setelah menimbang dan merasakan kelebihan Dustun, akhirnya Datsun Go+ Panca Risers Expedition Sulawesi etape 2 diakhiri di Tanah Toraja. Bahagia rasanya bisa menjadi bagian dari Datsun Go+ Panca Risers Expedition Sulawesi etape 2.
Semakin bahagia karena pada saat penutupan tim raisers 1, tim raisers saya menjadi tim raisers terbaik. Lengkap sudah rasanya perjalanan bersama Datsun Go+ Panca Risers Expedition Sulawesi etape 2 kali ini.

@KreatorBuku

13 komentar:

  1. Selamat tos janten jawaranya...hatur nuhun cipratan semangatnya...sukses kanggo kang Ali...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama Ceu. Sukses juga Ceu Eka

      Hapus
  2. Waaahh mau donk dipotoh juga di rumah tongkonan
    Moga aku bisa kesanaa eaaa..

    Aiihh kalian B3 hebat, kompak!!
    layak juara nu gaduh bandung
    sukses selalu eaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kayaknya kalau Nci ke sini bakal sering berenti buat potoh dan selpi deh, hehe
      Nci juga hebat.

      Hapus
  3. Jadi pengin juga ke Toraja, budayanya khas banget ya kang. Yang aku inget dari toraja itu cara makam-in orang yang meninggal itu loh. Agak-agak serem, tapi emang budayanya begitu. Ah... kang ali dan team memang keren deh bisa sampai toraja, naik go+ panca, haratis pula ^___^ semoga yang berikutnya adalah saya *eh.. ngarep*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiiin, pantengin twitternya ya ... masih ada kesempatan buat keliling sumatera

      Hapus
  4. Suka banget sekaligus ngiri banget.
    Sayangnya aktivitas ini "cowok" banget hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kenangan yang tak akan pernah terlupakan.

      Hapus
  5. ini dekat kampung mamaku kang ale, di enrekang...kangeeen...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaah ternyata keturunan Enrekang ... daerah yg sangat eksotik

      Hapus
  6. Waw, kok aku malah fokus ke touring Datsun ya? Hasrat pengen ngerasain juga hehehe. Gimana caranya ya, mas?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waktu itu ada pendaftaran Mbak Imelda, bentar lagi ada touring ke Sumatra dan Kalimantan kalau nggak salah, siap-siap aja pantengin infonya.

      Hapus

Ditunggu Komentarnya Teman-Teman

Blog Archive

Komentar