Senin, 21 September 2015

[Dongeng] Salju Putih dan Mawar Merah


Salju Putih dan Mawar Merah
Dikisahkan kembali dari cerita asli karya Grimm Bersaudara

Zaman dahulu, ada seorang janda yang punya dua orang putri: Salju Putih dan Mawar Merah. Salju Putih bersifat tenang dan lembut, sedangkan Mawar Merah lincah, tapi mereka saling menyayangi, demikian juga terhadap ibu mereka. Karena itu, rumah mungil di hutan itu menjadi rurnah yang bahagia.
Pada suatu malam di musim dingin, saat mereka semua sedang duduk di dekat perapian, terdengar bunyi ketukan pintu. Mawar Merah membukanya dan menjerit. Ada beruang cokelat yang sangat besar! Tapi dengan suara bergetar beruang itu berkata,
"Jangan takut. Aku hanya minta izin tidur dekat perapian malam ini. Di luar dingin sekali."
"Tentu, kamu bisa menginap bersama kami," ujar sang ibu. Dan dia memanggil anak-anaknya untuk memanaskan sup dan menambah kayu bakar di perapian.
"Maukah kamu membersihkan salju yang ada di buluku?" tanya beruang itu. Mawar Merah pun mengambil sapu besar dan dengan hati-hati menyikat lapisan tebal bulu beruang yang kasar itu. Salju Putih memberi semangkuk besar sup panas dan beruang itu menghabiskannya dalam sekali tegukan. Lalu dia berbaring di depan perapian dan langsung tertidur.
Esok paginya, Putih Salju membiarkan beruang itu keluar dari rumahnya dan kembali ke hutan melintasi salju tebal. Tapi pada malam hari, beruang itu kembali dan sekali lagi Salju Putih, Mawar Merah, dan ibu mereka merawatnya. Sejak itu, beruang itu selalu datang setiap malam sepanjang musim dingin. Mereka semua senang kepadanya. Tapi ketika musim semi datang, beruang itu mengatakan bahwa dia tidak akan kembali lagi.
"Aku harus menjaga harta karunku. Setelah salju mencair, orang-orang jahat pasti akan datang mencurinya," ujarnya, kemudian sebelum pergi kembali ke hutan, dia memeluk mereka. Saat melintasi pintu taman, bulunya tersangkut paku. Sekilas Salju Putih merasa melihat kilatan emas, tapi beruang itu bergegas pergi dan segera menghilang dari pandangan.
Beberapa hari kemudian, ketika Mawar Merah dan Salju Putih keluar meanetik beri untuk dibuat selai, mereka melihat sebuah pohon tumbang. Mereka melihat kurcaci yang sangat pemarah sedang menarik-narik janggutnya yang terjepit batang pohon besar.
"Hei, jangan berdiri saja seperti sepasang angsa bodoh! Ayo, bantu aku!" teriaknya.
Betapa pun kerasnya mereka menarik, Mawar Merah and Salju Putih tidak dapat mengangkat pohon itu, sehingga Mawar Merah mtngeluarkan guntingnya dan memotong ujung janggut kurcaci itu. Tentu saja kurcaci itu sangat rnarah. Kemudian dia merenggut sekantong besar ernas dari akar pohon, dan menghilang tanpa berterima kasih.
Beberapa hari kemudian, ibu kedua gadis itu ingin sekali makan ikan untuk makan malam. Mereka pun pergi ke sungai untuk melihat apa yang dapat mereka tangkap. Tapi, bukannya menemukan ikan, di tepi sungai mereka melihat kurcaci teman mereka yang pemarah. Kali ini janggutnya tersangkut tali pancing.
"Jangan hanya berdiri melihat saja," teriaknya, "bantu aku melepaskannya."
Salju Putih berusaha mengurainya, tapi tidak bisa sehingga dia menggunting sedikit janggutnya. Wajah kurcaci itu menjadi merah karena marah, Lalu dia menyambar peti permata di tepi sungai dan pergi tanpa berterima kasih.
Beberapa hari kemudian ada Pekan Raya Musim Semi. Gadis-gadis itu berniat pergi membeli beberapa pita baru untuk topi mereka, dan jarum sulam untuk ibu mereka. Jadi, mereka berangkat lebih pagi. Tak lama kemudian mereka mendengar jeritan dan tangisan mengerikan. Mereka berlari ke arah suara itu, dan sekali lagi mereka bertemu kurcaci pemarah itu. Kali ini, dia sedang berjuang melawan cakar besar seekor elang. Mereka menarik dan menarik kurcaci itu, dan akhirnya burung elang itu melepaskannya.
"Kamu merobek jubahku," gerutu kurcaci yang tidak tahu terima kasih itu. Dia mengambil sekeranjang mutiara, lalu berjalan terpincang-pincang secepat mungkin. Gadis-gadis itu tertawa dan melanjutkan perjalanan mereka ke pekan raya.
Mereka bersenang-senang, dan hari sudah malam ketika mereka berjalan pulang. Matahari baru saja tenggelam di belakang batu besar. Dan secara mengejutkan, mereka bertemu kurcaci itu lagi. Tumpukan emas, permata, dan mutiara berharga berserakan di depannya.
Tiba-tiba kurcaci itu melihat Salju Putih dan Mawar Merah.
"Pergi! Pergi! Kalian gadis menyebalkan yang selalu menghalangiku," teriaknya. Tapi kemudian terdengar bunyi geraman keras dan beruang cokelat besar berdiri di samping mereka. Dengan satu kibasan, beruang itu melempar kurcaci itu ke atas langit dan tidak ada yang pernah melihat di mana jatuhnya. Beruang itu berbalik menghadap Salju Putih dan Mawar Merah. Saat mereka berpandangan, lapisan tebal berbulu kasarnya perlahan-lahan menghilang. Di sana berdiri seorang pemuda tampan, memakai baju beludru keemasan yang mahal.
"Jangan takut, Salju Putih dan Mawar Merah," katanya dengan tersenyum. "Nah, kalian bisa lihat siapa diriku sebenarnya. Kurcaci jahat itu telah mengutukku agar bisa mencuri semua harta karunku, tapi kalian telah melenyapkan kutukannya dengan kebaikan kalian." Mereka semua pulang ke rumah dengan membawa harta karun itu. Mereka berbincang-bincang hingga larut malam. Salju Putih menikah dengan pemuda tampan itu yang ternyata memunyai seorang adik yang akhirnya menikahi Mawar Merah. Mereka semua hidup bahagia selamanya.
Tapi kalau kamu pernah bertemu kurcaci yang jenggotnya tinggal separuh, saya akan berhati-hati kalau saya menjadi kamu.

0 komentar:

Poskan Komentar

Ditunggu Komentarnya Teman-Teman

Blog Archive

Komentar