Senin, 07 September 2015

Kucing Kecil by Nada Firdaus

Sejak di rumah ada kucing kecil, setiap pagi, siang, sore, dan malam ada saja keributan. Terutama adik saya yang tidak terlalu suka sama kucing.
“Kucing nakal! Buang saja!” kata Rahma, adik saya sambil naik kursi makan.
Saya yang sedang memakai sepatu langsung mengambil kucing kecil belang tiga itu, lalu membawanya keluar. Lalu saya mengambil ikan dan diberikan kepada kucing yang baru berumur sebulan lebih.

“Tenang. Kucingnya nggak galak, kok,” kataku.
“Nggak galak gimana? Orang kemarin juga makan naget aku,” adikku tetep nggak suka.
“Makanya, suka ngasih makan, jadi nagetnya nggak dicuri, hehehe,” aku meledek.
Kalau sudah ribut, Bunda yang melerai, “Nanti kalau ribut terus kucingnya biar dikasih ke orang, biar nggak ribut terus,” katanya.
“Begtul, Bun. Buang saja,” kata adikku.
Apa yang dikatakan Bunda ternyata benar-benar terjadi. Karena aku dan adikku ribut terus, si kucing kecil dibuang di taman dekat komplek. Selama seharian rumah aman dari kucing. Aku dan adikku juga tidak ribut lagi karena si kucing.
Akan tetapi, besoknya, kucing kecil itu sudah ada di depan rumah, sedang meringkuk di tempat biasa tidur. Aku Cuma tersenyum.
Kucing kecil itu ditinggal pergi induknya seminggu setelah lahir. Awalnya ada 3 ekor. Entah, yang 2 ekor kemana. Sekarang yang sering main ke rumah tinggal 1 ekor. Kalau pagi dan malam hari pasti ke rumah dan tidur di depan rumah.
Setiap pagi dan malam, ayah atau bunda memberikan sisa-sisa makanan. Kadanag-kadang ikan, tempe, tulang ayam atau tulang kambing. Jadinya si kucing kecil betah. Hanya adik saya tidak suka, sehingga kucingnya tidak boleh masuk rumah.
Kadang-kadang, kalau adik tidak ada si kucing masuk dan aku ajak main. Aku senang si kucing kecil kelihatan bahagia walau tidak ada induknya. Adik bungsu aku juga suka ikut main. Jadi tinggal adik aku yang pertama yang belum suka kucing.
Pernah, suatu malam ada kucing besar mau menggigit kucing kecil. Mereka sepertinya berebut makanan. Aku mengintip dari jendela, kucing kecil itu melawan dan kucing besar kabur. Aku diam-diam mengacungkan jempol.
Hingga, suatu kali kami semua pergi nengok nenek selama seminggu. Kucing kecil itu tidak diajak. Saat pulang, kucing kecil itu tidak kelihatan.
“Ada kucingnya, Kak?” tanya adik.
“Nggak ada. Mungkin sudah pergi atau mencari rumah lain,” jawabku.
“Mencari rumah lain? Berarti nggak akan ke sini lagi, dong.”
“Mungkin. Kalau ke sini lagi kamu juga nggak suka.”
Adikku diam. Aku lihat dia berdiri melihat kardus sepatu, tempat biasa si kucing kecil tidur.
“Kamu kenapa?” tanyaku.
“Aku kangen sama kucing itu, Kak. Walau pun suka nyuri naget aku,” jawab adikku.
Meong …. Meong … tiba-tiba dari pintu gerbang masuk kucing kecil. Kucing yang selama ini tinggal di rumah kami. Kucing kecil yang nakal, tetapi kami sangat menyayanginya.


0 komentar:

Poskan Komentar

Ditunggu Komentarnya Teman-Teman

Blog Archive

Komentar