Senin, 25 Januari 2016

Menolong dengan Gelang Harapan


Menolong dengan Gelang Harapan

SEJAK pertengahan tahun 2015 lalu, Lelaki Berciput sudah sering mendengar Gelang Harapan yang didengang-dengungkan oleh artis Wulan Guritno. Gelang harapan yang terlihat simpel ternyata menyimpan banyak arti.
Bahkan, sejak akhir tahun lalu Wulan bersama dua rekannya gencar mencari Warrior of Hope di sekolah dan kampus-kampus. Warrior of Hope adalah sebutan bagi pejuang harapan yang mendedikasikan diri untuk berbuat baik, menyebarkan kebaikan dari hal kecil hingga hal besar.
***
Berawal dari impian dan sebuah harapan kecil untuk membangkitkan solidaritas dan budaya menyumbang di antara masyarakat, terciptalah gerakan Bracelet of Hope yang  diprakarsai oleh Janna Soekasah, Amanda Soekasah, dan Wulan Guritno. Gerakan tersebut kemudian diwujudkan dalam bentuk Gelang Harapan, gelang yang dibuat khusus dari kain Pelangi Jumputan karya desainer Indonesia Gea Panggabean.
Menggunakan kain Pelangi Jumputan karena pelangi merupakan simbol harapan. Gelang tersebut membawa pesan kepada masyarakat untuk peduli, terutama peduli pada penderita kanker. Membawa pesan kepada masyarakat untuk selalu menyebarkan harapan bagi penderita kanker maupun keluarga penderita kanker.
Tak dinyana, gerakan tersebut mampu menjangkau banyak kalangan. Sejak diluncurkan, lebih kurang 11.000 lebih gelang terjual. Seluruh hasil keuntungan penjualan kemudian disalurkan kepada para penderita kanker dan keluarganya.

Menolong dengan Gelang Harapan

Gerakkan @gelangharapan #BraceleOfHOPE berkomitmen untuk terus menyebarkan harapan kepada seluruh lapisan masyarakat, berawal memberi harapan kepada pejuang kanker dan keluarganya. Pada tahun-tahun mendatang Gelang Harapan memberi harapan pada segala aspek kehidupan.
Bicara kangker, Lelaki Berciput jadi teringat sahabatnya, seorang CEO sebuah perusahaan PR ternama di Indonesia yang hampir setiap tahun mendapat penghargaan sebagai perusahaan PR terbaik di Indonesia bahkan di asia.
Dalam sebuah perjalanan selama satu minggu di Jepang, beliau bercerita salah satu gerakan yang digalangnya untuk silaturahmi dan saling menguatkan bagi penderita kangker. Gerakan tersebut sekarang sudah merangkak di beberapa kota besar di Indonesia.
Beliau merasa miris dengan pemerintah yang tiba-tiba mencabut izin penggunaan salah satu alat pengobatan kangker hasil produksi anak bangsa. Padahal, alat tersebut telah diakui masyarakat dunia. Banyak pejuang kangker yang sembuh setelah menggunakan alat tersebut.
Pemerintah melarang penggunaan alat tersebut dengan alasan, alat tersebut belum terbukti secara medis. Sangat naif sekali, bukan? Padahal sudah jelas-jelas memberi manfaat bagi banyak pejuang kangker. Selama sebulan, sejak diperentikan peredarannya, hampir 100 lebih pasien yang tidak mendapat perawatan. Saat ini, gerakan mengetuk hati pemerintah untuk mencabut larangan tersebut terus bergulir di kalangan masyarakat.
Walau Lelaki Berciput hanya mendengar, tetapi ikut merasakan betapa pentingnya dukungan untuk pejuang kangker. Lebih luas lagi, dukungan untuk saudara-saudara kita yang membutuhkan.  Gerakan yang dilakukan Wulan serta kedua sahabatnya penting untuk diinformasikan seluas-luasnya kepada masyarakat, termasuk melalui Film I Am Hope.

Film I Am Hope
Sebagai insan perfileman yang sangat diperhitungkan, tentu Wulan tidak dengan serta merta membuat film. Setelah inspirasi didapatkan, baru kemudian ide cerita, membentuk tim produksi, dan sebagainya sehingga shooting dan film siap tayang Bulan Februari 2016 mendatang.

Menolong dengan Gelang Harapan

Film yang diproduseri Wulan Guritno, diproduksi oleh Alkimia Pictures kemudian disutradarai Adilla Dimitri, yang tak lain suami Wulan. Film dibintangi oleh para bintang senior  seperti Tio Pakusadewo dan Ray Sahetapy dan para pemain muda berbakat seperti Tatjana Saphira dan Alessandra Usman. Ada juga Fachri Albar, Feby Febiola, Fauzi Baadilah, Kenes Andari, Ariyo Wahab, Ray Sahetapy, dan Ine Febriyanti. 
Film berkisah tentang perjuangan seorang gadis muda berusia 21 tahun bernama Mia (diperankan oleh Tatjana Saphira) yang divonis dokter mengidap penyakit kanker. Dalam situasi tersebut, ada seorang sahabat Maia (diperankan oleh Alessandra Usman) yang memberikan semangat serta inspirasi kepada Mia untuk melalui tantangan demi tantangan dalam menghadapi penyakit kanker. Mia kemudian tertantang untuk memperjuangkan mimpinya dalam berkarya.
Bagaimana kisah Mia dalam memperjuangkan mimpinya? Bisa kita liat pada tanggal 18 Februari 2016 di seluruh bioskop di Indonesia.
Seperti halnya Gelang Harapan yang keuntungannya disumbangkan, keuntungan Film I Am Hope pun 25% keuntungan akan disumbangkan ke yayasan kangker atau kegiatan untuk awareness cancer, jadi tidak ada alasan untuk tidak menonton film tersebut karena selain mendapat pencerahan dan hiburan juga kita bisa menyumbang.
Menolong dengan Gelang Harapan

Oh iya, Gelang Harapan didesign untuk pria dan wanita dengan beberapa model yang bisa dipilih, jadi siapa pun tidak perlu ragu untuk menggunakan gelang tersebut. Harganya cukup murah, hanya Rp.100.000,-. Penggalangan dana yang mereka sebut sebagai “Journey Of Hope” atau “Perjalanan Harapan” bisa diakses melalui website Gelang Harapan.
Melalui website tersebut, siapa pun dapat bergabung menjadi Warriors of hope. Siapa pun dapat membantu mewujudkan harapan dan mengekspresikan kepedulian terhadap penderita kanker. I am hope, and you?

@KreatorBuku

9 komentar:

Ditunggu Komentarnya Teman-Teman

Blog Archive

Komentar