Jumat, 12 Februari 2016

Keunikan Kampung Naga yang Tetap Terjaga


Keunikan Kampung Naga yang Tetap Terjaga

SEJAK puluhan tahun lalu, Kampung Naga yang terletak di Kota Tasikmalaya sangat dikenal wisatawan karena keunikannya. Di tengah modernisasi, penduduk Kampung Naga tetap mempertahankan tradisi dan menjunjung nilai-nilai luhur nenek moyang.
Saya berwisata ke Kampung Naga di penghujung Bulan Desember lalu, saat hujan belum kerap, saat matahari masih menyapa sepanjang hari, makanya bisa menikmati keunikan Kampung Naga hingga lorong-lorong sudutnya.
***

Pagi-pagi sekali, usia sarapan, saya bersama keluarga kecil saya meninggalkan Bandung menuju Tasikmalaya. Perjalanan sangat lancar kecuali di daerah Nagreg (menjelang Garut) yang memang dikenal sering macet karena ada tanjakan cukup tajam dan truk-truk yang membawa beban berat berjalan melambat.
Kurang lebih, satu  jam setengah kemudian tiba di Garut yang dikenal sebagai Kota Dodol. Sampai di ujung kota, tepatnya di pertigaan, saya memilih meneruskan perjalanan menuju Tasikmalaya melalui jalan utama Garut-Tasikmalaya.
Garut yang dikitari pegunungan sejak dahulu dikenal sebagai Swiss Van Java karena keindahan alam dan kesejukannya. Saat ini banyak potensi alam yang dijadikan sebagai tempat wisata. Sekarang banyak wisatawan berkunjung ke Garut.
Di tengah perjalanan, tepatnya di Desa Neglasari, Kecamatan Sawalu, Tasikmalaya saya memperlambat kendaraan. Begitu melihat tanda lokasi Kampung Naga, saya langsung belok kiri masuk parkiran tempat Wisata Kampung Naga yang cukup luas.
Keunikan Kampung Naga yang Tetap Terjaga
Begitu Tiba di Parkiran Disambut Ucapan Selamat Datang (Foto Kang Alee)

Saya pikir Kampung Naga berada di sisi jalan, ternyata harus menuruni anak tangga di lahan bukit dengan kemiringan 45 derajat. Sungguh, tidak mudah menapaki deretan tangga yang curam seperti itu, apalagi bagi yang tak terbiasa naik turun bukit.
Menurut pemandu, anak tangga menuju Kampung Naga jumlahnya 439 buah dengan panjang sekitar 400 meter. Yang unik, konon siapa pun yang mencoba menghitung anak tangga jumlahnya akan berubah-ubah. Mungkin yang menghitung lelah, jadi konsentrasinya berkurang. Sama sekali bukan karena hal mistis.
Tepat di belokan tangga, dari atas ketinggian terlihat atap ijuk abu kehitaman rumah-rumah penduduk Kampung Naga. Sangat kontras dengan sekelilingnya yang tampak hijau dan subur.
Setelah melewati anak tangga, jalan setapak, dan pematang sawah akhirnya sampai juga di kawasan perumahan penduduk Kampung Naga yang luasnya kurang lebih 1.5 hekter ini. Nuansa tradisional begitu sangat terasa.
Mulai dari jalan perkampungan yang didominasi tanah dan bebatuan yang ditata sedemikian rupa, bangunan perumahan yang terbuat dari kayu dan bambu yang dibiarkan begitu saja atau hanya dipoles kapur putih, tanpa alat elektronik serta listrik.
Keunikan Kampung Naga yang Tetap Terjaga
Jalan yang Berliku Menuju Kampung Naga (Foto Kang Alee)
 Semua bangunan berkonsep rumah panggung dengan pondasi bongkahan batu besar pada setiap penjuru bangunan. Batu yang juga berfungsi sebagai penyangga hanya menancap tidak lebih dari 5 sentimeter ke dalam tanah.
Meskipun  terlihat sederhana dan rapuh, tidak ada bangunan di Kampung Naga yang ambruk saat gempa besar berskala 7,2 richter mengguncang Kota Tasikmalaya beberapa tahun lalu. Padahal, banyak bangunan permanen di sekitar Tasikmalaya dan Garut mengalami kerusakan parah.
Bagi penduduk Kampung Naga, setiap bangunan yang ada di Kampung Naga itu diibaratkan sebagai tubuh manusia. Atapnya yang terbuat dari ijuk diibaratkan kepala, bangunannya sebagai badan, dan batu penyangga sebagai kaki. Dengan keyakinan tersebut, mereka merawat bangunan sebagaimana merawat tubuh manusia.
Dengan konsep yang telah dibuktikan ketangguhannya, banyak tempat makan dan café-café di beberapa daerah termasuk Kota Bandung mempercayakan konsep pembangunannya kepada ahli bangunan dari warga Kampung Naga. Tentunya dengan mengusung keunikan, kenyamanan, dan keamanan bangunan tersebut.
Total bangunan yang ada di Kampung Naga hanya ada 103 bangunan, tidak boleh lebih dan kurang. Terdiri dari 100 bangunan rumah warga dan 3 bangunan fasilitas umum seperti Masjid, Balai Pertemuan, dan Lumbung. Kampung dihuni oleh 314 warga. Sebagai pembatas kampung, di sekeliling kampung dipasang bambu pendek.
***

Mempertahankan Tradisi
Sebagai kampung adat, siapa pun yang bertempat tinggal di Kampung Naga harus patuh pada tata aturan, adat istiadat, dan tradisi Kampung Naga tanpa terkecuali, termasuk saat membangun rumah.
Setiap rumah di Kampung Naga dibangun menghadap utara dan selatan sehingga satu dengan yang lain saling berhadap-hadapan serta saling membelakangi terhadap barisan rumah berikutnya.
Setiap rumah tidak memiliki pintu belakang. Menurut kepercayaan, jika rumah memiliki pintu masuk dan pintu keluar, maka setiap rezeki yang masuk pintu depan akan keluar lagi melalui pintu belakang.
Setiap rumah di Kampung Naga tidak memiliki perabotan di dalam rumah selain lemari tempat menyimpan barang-barang dan alat dapur. Tidak ada kursi, meja, tempat tidur, dan perabotan rumah tangga lainnya. Mereka memasak menggunakan tungku kayu bakar. Dapur dan ruang tamu di tempatkan bersisian.
Setiap rumah di Kampung Naga tidak menggunakan listrik, meski pun pemerintah daerah siap memberikan fasilitas listrik untuk warganya, sehingga tidak ada satu pun alat elektronik ada di sana. Padahal secara materi mereka sanggup membelinya.
Keunikan Kampung Naga yang Tetap Terjaga
Kayu, Batu, Bambu, dan Ijuk Menjadi Bahan Bangunan Utama (Foto Kang Alee)

Apa yang diterapkan di Kampung Naga bukan semata-mata untuk menimbulkan keunikan, melainkan untuk mempertahankan tradisi yang memang sudah terasa manfaatnya.
Misalnya saja menggunakan ijuk sebagai atap rumah. Ijuk memberikan  rasa dingin dan adem pada siang hari dan memberikan rasa hangat pada malam hari. Ijuk bisa bertahan hingga 40 tahun sehingga lebih ekonomis dibanding menggunakan genting tanah atau genting beton.
Tanpa meja tamu membuat warga Kampung Naga tidak membeda-bedakan tamu yang datang berkunjung, semua duduk sama rendah di atas lantai kayu. Sebagaimana halnya di hadapan Yang Mahakuasa, semua manusia derajatnya sama. Filosofi yang sederhana, tetapi sangat dalam.
Begitu pun dengan tanpa tempat tidur, semua tamu yang datang, dari kalangan mana pun tidur di atas lantai kayu di ruangan yang lapang. Semua diperlakukan sama, tanpa perbedaan sama sekali. Tanpa mengenal pangkat, jabatan, dan popularitas.
Bentuk rumah sendiri menunjukan sikap kesederhanaan dan lebih terasa membaur dengan alam. Unsur alam begitu melekat pada setiap bagian bangunan, mulai dari kayu, bambu, ijuk, dan batu.
Oh iya, untuk memenuhi kebutuan kayu dan bambu untuk bangunan, warga Kampung Naga memiliki lahan khusus sehingga tidak sembarangan menebang pohon dan bambu. Bahkan untuk kebutuhan kayu bakar untuk memasak pun ada lahan sendiri.
Ada hutan di sekitar Kampung Naga yang dikeramatkan hingga benar-benar dijaga keutuhan dan kelestariannya, efek positifnya kebutuhan air bersih bagi warga pun tak pernah kering.
Warga Kampung Naga tidak hanya menjaga lingkungan sekitar, lingkungan warga pun dijaga sejak dini. Salah satu caranya, setiap rumah tidak memiliki toilet atau kamar mandi sendiri. Setiap warga harus menuju kakus umum yang berada di luar tanah adat. Begitu pun kandang ternak atau kolam ikan yang menjadi mata pencaharian tambahan warga, semua berada di luar batas pemukiman Kampung Naga.
Keunikan Kampung Naga yang Tetap Terjaga
Masjid dan Fasilitas Umum di Kampung Naga (Foto Kang Alee)

Warga Kampung Naga adalah pemeluk agama Islam. Ada sebuah masjid berada di tengah-tengah perkampungan, bersebelahan dengan balai pertemuan warga. Di tempat inilah, pusat segala aktivitas warga.
Mata pencaharian utama warga Kampung Naga bercocok tanam. Mereka memiliki lahan sawah yang subur di sekitar kampung dan di luar Kampung Naga. Mereka menanam padi setahun dua kali, setiap Bulan Januari dan Bulan Juli, sehingga tidak perlu bahan kimia untuk membasmi serangga. Mereka percaya, pada bulan-bulan tersebut, sawah bebas dari hama. Beras mereka pun benar-benar beras organik yang sehat dari obat-obatan.
Setiap panen, tanpa diminta, mereka menyisihkan sebagian untuk disimpan di lumbung padi umum. Lumbung tersebut dimanfaatkan oleh warga untuk kepentingan bersama seperti menyambut tamu atau upacara adat.
Mata pencaharian lainnya diperoleh dari usaha ternak, budi daya ikan, dan jasa keahlian warga seperti ahli bangunan dan kerajinan tangan. Kerajinan tangan warga sangat diminati wisatawan yang berkunjung di Kampung Naga.
Sebagai tempat wisata, Kampung Naga juga melestarikan beberapa jenis kesenian warga, di antaranya angklung, Terbang Sejak, dan Terbang Gentung. Kesenian  Angklung dan Terbang Sejak bersifat hiburan dan bisa dimainkan kapan pun. Sementara Terbang Gentung hanya dimainkan pada waktu-waktu tertentu saja, pada saat acara keagamaan.
Keunikan Kampung Naga yang Tetap Terjaga
Tempat Penangkaran Ikan dan Jamban Berada di Luar Lingkungan Perumahan (Foto Kang Alee)

Terbang Sejak dan Terbang Gentung adalah kesenian dengan alat musik serupa rebana. Alat musik Terbang Sejak terdiri dari beberapa susunan alat musik berbagai ukuran mulai dari yang kecil hingga besar. Alat musik Terbang Gentung menggunakan alat musik berukuran besar saja.
Sejak kecil anak-anak warga Kampung Naga sudah diperkenalkan pada kesenian-kesenian tersebut sehingga ke mana pun mereka melangkah pergi, mereka tidak melupakannya. Mereka tidak dilarang mengenal kesenian lain, asalkan begitu mereka kembali menginjak Kampung Naga, mereka tidak membawa apalagi mempermainkannya di Kampung Naga.
Demi kelestarian kesenian, kelestarian adat-istiadat, kelestarian lingkungan, dan kelestarian alam semesta ciptaan Yang Maha Esa.
***
Bagaimana Menuju Kampung Naga?
Siapa pun bisa berkunjung dan berwisata ke Kampung Naga. Bagi wisatawan dari luar daerah, bisa transit terlebih dahulu di Bandara Soekarno-Hatta Tangerang dan melanjutkan perjalanan ke Bandung menggunakan bus bandara. Kemudian meneruskan dengan menggunakan Bus jurusan Bandung-Tasikmalaya dari Terminal Luewipanjang. Bisa juga langsung ke Bandara Husein Sastranegara Bandung.
Banyak maskapai penerbangan dari banyak kota besar di Indonesia menuju Bandara Husein Sastranegara Bandung selain beberapa penerbangan dari luar negeri seperti Malaysia, Singapura, dan sebagainya. Sebut saja seperti Garuda Indonesia, Lion Air, Citylink, Wing Air, dan Air Asia. Tiket Pesawat pun sangat mudah didapatkan melalui offline atau online.
Dari Bandara Husein Sastranegara menuju Kampung Naga memerlukan waktu tempuh perjalanan kurang lebih 4 jam, jadi sebaiknya memilih penerbangan paling pagi. Jika memungkinkan lagi, sebaiknya sudah ditemani oleh guide, syukur-syukur sudah sewa mobil, jadi lebih memudahkan.
Akan tetapi, kalau wisatawan mau pakai Bus pun tak masalah. Dari Bandara Husein Sastranegara wisatawan bisa menuju Terminal Cicaheum Bandung dengan waktu tempuh kurang lebih 30 menit hingga 1 jam. Bisa menggunakan angkot, taksi, atau ojek yang ada di sekitar Bandara.
Wisatawan kemudian melanjutkan perjalanan dengan Bus jurusan Bandung-Tasikmalaya kurang lebih 2-3 Jam. Enaknya naik Bus, wisatawan tidak perlu lagi pindah kendaraan karena Bus jurusan Bandung-Tasikmalaya melewati Jalur Utama Garut-Tasikmalaya. Tinggal minta tolong Pak Kondektur untuk menurunkan di Kampung Naga.
Keunikan Kampung Naga yang Tetap Terjaga
Tugu Kujang Pusata Dekat Pintu Masuk Kampung Naga (Foto Kang Alee)

Jangan khawatir bosan, karena sepanjang jalan wisatawan bisa menikmati keindahan Kota Bandung dan Kota Garut dari dalam Bus. Jangan lupa pula, beli peuyeum dan makanan kecil khas Bandung yang bisa dimakan selama dalam perjalanan.
Atau kalau makanan kecil yang dibawa habis, bisa sambil merencanakan perjalanan berikutnya seperti yang sering saya lakukan. Alhasil, dari coretan rencana perjalanan tahun 2016 ini, ada dua destinasi wisata yang ingin sekali saya kunjungi, yaitu Pulau Belitung dan Pulau Lombok.
Ingin mengunjungi Pulau Belitung karena di balik tragedi tambang timahnya, ternyata Pulau Belitung menyimpan banyak tempat-tempat yang unik dan menarik. Menurut saya, itu dua sisi kontradiktif yang penting untuk dilihat dan diteliti.
Sementara ingin mengunjungi Pulau Lombok karena baru saja Pulau Lombok mendapat 2 penghargaan World Halal Travel Summit 2015 sebagai World Best Halal Tourism Destination 2015 dan World Best Halal Honeymoon Destination 2015. Penghargaan diberikan dalam acara World Halal Travel Summit 2015 di Abu Dhabi, UEA.
Dalam kategori World Best Halal Tourism Destination, Lombok berhasil mengungguli Kuala Lumpur yang ada di posisi 7, Istanbul posisi 6, dan Abu Dhabi di posisi 2. Sementara dalam kategori World Best Halal Honeymoon Destination, Lombok mengungguli Kuala Lumpur, Krabi, Antalya, dan Abu Dhabi.
Bagi saya ini penghargaan yang sangat prestisius. Saya sangat penasaran mengapa Pulau Lombok mendapat dua penghargaan tersebut dan ingin membuktikannya. Ah, jadi ingin cepat-cepat pergi ke sana.
Salam Berwisata dan #Halan2Seru!
@KreatorBuku

4 komentar:

  1. asyik kayaknya keliling kampung ituu

    BalasHapus
  2. Terima kasoh utk info ttg Kampug maga. Jika kelombok jgn lupa ke 3 gili: trawangan, air, meno. Saya ksna 2x pd saat kunjungan pertama bisa dg bebas melakukan snokling digili meno krn airnya jernih, tp kunjungan ke2 airnya tdk jernih dan byk sampah jd tdk bisa snokling melihat kapal karamnya. Utk Belitung banyak pantai2 yg indah dg batu bsr menjulang ditengah laut dg pasir putihnya.Jgn lupa snorkling di pulau menjangan dan naik mercusuar, anda akan menikmati pemandangan lautan yg menakjubkan.

    BalasHapus
  3. Info yang menarik. Dekat sekali dari tempat saya nih ...

    Salam,
    Panduan Wisata Indonesia

    BalasHapus
  4. Benar - benar unik Kang Alee, Dari jumlah bangunannya saja di batasi, menghadapnya pun ditentukan,,, dan ituloh mas menghitung anak tangganya, ceritanya sama di Yogyakarta di Makam Imogiri, setiap orang ngehitung nggak ada yang tepat,,,,, salam kenal Kang Alee

    BalasHapus

Ditunggu Komentarnya Teman-Teman

Blog Archive

Komentar