Senin, 01 Februari 2016

Mengenang Manusia Perahu di Kampung Vietnam



TIDAK banyak yang tahu, jika di Batam ada pulau yang pernah disinggahi pengungsi Vietnam pada saat perang Vietnam tahun 1975-1996. Sekitar 250.000 penduduk Vietnam mengungsi karena ingin aman dari peperangan. Tepatnya di Pulau Galang, Desa Sijantung, Kecamatan Galang.
Sejak pesawat membawa saya dari Bandung menuju Batam, salah satu yang ada di kepala saya adalah mengunjungi pulau tersebut. Sekadar untuk mengingat dahulu bangsa kita dengan tangan terbuka menerima pengungsi Vietnam. Sekadar menyadarkan diri, jika perang akan mengakibatkan kesengsaraan rakyat sipil, perang saudara sekali pun.
Makanya, sehari setelah saya berada di Batam untuk mengisi sebuah seminar kepenulisan, saya langsung menuju Pulau Galang. Kebetulan, ada teman yang menjadi petunjuk jalan. Backpacker singkat saya menuju Pulau Galang pun dimulai setelah matahari sedikit condong ke barat.

Jembatan Barelang
Kurang lebih, setelah lima belas menit meninggalkan tempat acara di Batam Center sambil menikmati pemandangan Pulau Batam yang masih penuh dengan hutan dan pemukiman-pemukiman baru, kendaraan menepi di sebuah taman dekat jembatan. Taman asri yang kelihatannya masih baru, namanya Taman Dendang Melayu.
Ada beberapa bunga yang baru di tanam, ada tempat duduk dari besi, tempat duduk permanen dari beton, ada juga panggung kecil. Setiap malam minggu atau hari-hari libur biasanya di panggung kecil tersebut ada permainan musik dari group musik atau band di sekitar Batam.
Pada ujung taman, ada papan penunjuk dari besi mengkilap bertuliskan Barelang Bridge berlatar jembatan besar dan lautan. Di sinilah, titik awal jembatan yang sekarang menjadi Landmark Pulau Batam, Jembatan Barelang. Banyak pengunjung yang foto-foto berlatar papan tersebut atau menikmati pemandangan laut dari tepian taman.
Jempatan Barelang menjadi penghubung Pulau Batam, Pulau Tonton, Pulau Nipah, Pulau Setotok, Pulau Rempang, Pulau Galang dan Pulau Galang Baru. Di antara ketujuh pulau tersebut ada tiga pulau besar yaitu Pulau Batam, Pulau Rempang dan Pulau Galang, sehingga jembatan ini dinamakan Jembatan Barelang (Batam, Rempang, dan Galang).
Pembangunan Jembatan Barelang diprakarsai oleh mantan presiden Indonesia, B.J Habibie yang dibangun dengan teknologi tinggi. Dibangun dari tahun 1992-1998 dengan menelan biaya sekitar 400 Miliar. Proyek ini menjadi proyek vital karena menghubungkan jalur trans barelang sepanjang kurang lebih 54 kilometer.
Jembatan Barelang terdiri dari enam jembatan. Setiap jembatan diberi nama sesuai dengan nama raja yang dahulu pernah berkuasa pada masa Kerajaan Melayu Riau sekitar abad 15-18 Masehi. Keenam jembatan tersebut antara lain:
Jembatan Tengku Fisabilillah, jembatan terbesar dan terpanjang di antara jembatan-jembatan lainnya. Jembatan Tengku Fisabilillah menghubungkan Pulau Batam dengan Pulau Tonton. Panjang jembatan mencapai 642 meter.
Jembatan Narasinga, jembatan kedua yang tidak kalah megah dengan Jembatan Tengku Fisabilillah. Jembatan Narasinga menghubungkan Pulau Pulau Tonton dengan Pulau Nipah. Panjang jembatan mencapai 420 meter.
Jembatan Ali Haji, jembatan ketiga dengan  panjang mencapai 270 meter. Menghubungkan Pulau Nipah dengan Pulau Setotok. Jembatan Sultan Zainal Abidin, jembatan keempat dengan panjang mencapai 365 meter. Menghubungkan antara Pulau Setokok dengan Pulau Rempang. Jembatan Tuanku Tambusai, jembatan kelima dengan panjang mencapai 385 meter. Menghubungkan antara Pulau Rempang dengan Pulau Galang.
Terakhir Jembatan Raja Kecil. Jembatan dengan panjang hanya 180 meter dan menghubungkan Pulau Galang dengan Pulau Galang Baru ini menjadi jembatan bersejarah karena menjadi saksi para pengungsi vietnam.
Manusia Perahu Kampung Vietnam Batam
Bangkai Perahu yang Dijadikan Pengingat (Foto Kang Alee)
 Kampung Vietnam
Setelah menyurusi pulau dengan jalan yang meliuk-liuk dan melewati keenam jembatan kurang lebih satu jam perjalanan, kendaraan memasuki kawasan Kampung Vietnam. Agak merinding ketika melewati pos penjagaan. Semak belukar dan pohon-pohon besar mengelilingi kampung.
Kendaraan yang saya tumpangi sempat nyasar di jalan buntu karena penunjuk jalan mulai rusak dan terbaca. Agak deg-degan juga karena meski pun ada beberapa mobil, aroma kesunyian amat terasa. Setelah berbalik arah, mulai terlihat tanda-tanda kehidupan.
Begitu melewati gerbang, terlihat sebuah patung perempuan terkulai berwarna putih, kecil, dan menggambarkan seorang perempuan yang duduk. Patung yang menjadi monumen untuk mengenang tragedi kemanusiaan yang terjadi dalam pengungsian. Seorang wanita Vietnam bernama Tinh Han Loai bunuh diri setelah diperkosa sesama pengungsi. Patung tersebut dikenal dengan Patung Humanity Statue.
Kemudian ada komplek pemakaman pemakaman Ngha Trang Grave Galang. Kurang lebih 500 pengungsi dimakamkan di sini. Mereka meninggal karena sakit setelah berbulan-bulan terombang-ambing di lautan. Terkena penyakit kelamin yang sangat berbahaya, Vietnam Rose. Ada juga yang bunuh diri karena tidak mau dipindahkan dari Pulau Galang.
Kendaraan kemudian parkir di area taman. Ada dua perahu besar tergeletak di sana. Dua perahu yang menjadi monumen keberadaan orang-orang Vietnam yang pernah mengungsi di Pulau Galang. Konon, karena mereka tidak mau kembali ke Vietnam, begitu tiba di pantai, mereka sengaja menenggelamkan perahu-perahu mereka. Mereka sudah trauma dengan perang.
Perahu-perahu tersebut kemudian berhasil ditarik ke daratan untuk diperbaiki dan dijadikan monumen untuk mengenang perjuangan dan penderitaan para pengungsi Vietnam.
Manusia Perahu Kampung Vietnam Batam
Barak Pengungsi Semi Permanen (Foto Kang Alee)
 Tidak jauh dari monumen perahu ada barak tempat pengungsian dua lantai yang berhadap-hadapan dengan museum. Museum menyimpan benda-benda yang dibawa dan dipakai para pengungi, alat rumah tangga yang menggambarkan situasi kehidupan di pengungsian, foto keluarga, foto kegiatan, sepeda, dan banyak benda-benda lainnya.
Tidak jauh dari museum ada bangunan bekas rumah sakit yang masih menyimpan kotak-kotak serta botol-botol obat yang dibiarkan terbengkalai. Kemudian ada bangkai-bangkai kendaraan roda empat yang sudah berkarat dan ditumbuhi tanaman rambat, bangunan-bangunan sekolah bahasa yang hanya terlihat sebagian karena mayoritas dindingnya sudah tertutup tanaman rimbun hingga atap.
Agar hubungan dengan Tuhan tetap terjaga, di Kampung Vietnam juga dibangun tempat ibadah yang masih bisa digunakan hingga sekarang. Tempat ibadah yang masih berfungsi antara lain Vihara Quan Am Tu, gereja Katolik Nha Tho Duc Me Vo Nhiem, gereja Protestan, dan Mushala.
Manusia Perahu Kampung Vietnam Batam
Koleksi di Museum Peninggalan Pengungsi Vietnam (Foto Kang Alee)
 Mengelilingi Kampung Vietnam persendian rasanya ngilu sekali. Bayangkan, sejak tahun 1979 kampung ini menjadi saksi kekejaman perang saudara. Perang Vietnam antara Vietnam Utara (komunis) dan Vietnam Selatan. Warga Vietnam yang tidak tahu apa-apa harus rela mengarungi lautan demi menyelamatkan diri hingga terdampar di sini.
Awalnya satu kapal berisi 100 orang, kemudian kapal-kapal lainnya menyusul masuk ke pulau-pulau di sekitar Pulau Galang. Setelah melalui persetujuan dari pemerintah Indonesia dan dibantu United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) dari PBB, ratusan ribu pengungsi diijinkan tinggal di kawasan Pulau Galang.
Mereka diberi sarana dan prasarana untuk menunjang hidup selama dalam pengungsian. Hingga pada tahun 1996, sedikit demi sedikit mereka dipulangkan. Dengan dipulangkannya seluruh warga Vietnam, Kampung Vietnam di Pulau Galang kosong, yang tersisa hanyalah monumen-monumen yang menjadi saksi sejarah kemanusiaan.
@KreatorBuku

14 komentar:

  1. Jembatannya mirip pasopati ya, saya belum pernah kesana, naek angkot aja mabok komo naek pesawat hiks hiks

    BalasHapus
  2. tampilan blognya makin keren iih... ciamik hehehe... pengen ih ke sana #halan2seru

    BalasHapus
  3. Balasan
    1. Kapan neh kita bareng-bareng ke sana?

      Hapus
  4. Ini yang kampung vietnam katanya angker-angker yah mas? gak bayang gimana rasanya 1 perahu di penuhi sesak para tranmigran vietnam waktu itu. ngeri

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget Mas. Dijamin merinding disko kalau ke sana.

      Hapus
  5. Nambah ilmu plus referensi untuk backpacker-an. Izin share Kang Ali . . .

    BalasHapus
  6. Thanks review nya, baru tau klo ada tempat spt ini :D
    Watch movie
    Watch movie HD

    BalasHapus
  7. Wah, saya belum pernah berkunjung ke Batam. Ternyata sempat jadi tempat persinggahan pengungsi Vietnam, bahkan ada Museumnya juga. Baru tahu...

    BalasHapus
  8. Saya sudah pernah mengunjunginya tahun Desember 2012. Suasana memang terasa sunyi walaupun pengunjungnya ramai. Namun sayang dibagian Rumah Sakit, Karantina dan Sekolah tidak terawat, padahal banyak pengunjung yang penasaran dengan dalamnya, dan bagian bagian lagi pun dibiarkan berdebu. Mungkin sekarang telah makin banyak pengunjungnya. Saya belum puas mengintari kampung vietnam.

    BalasHapus

Ditunggu Komentarnya Teman-Teman

Blog Archive

Komentar