Selasa, 20 September 2016

Festival Siti Nurbaya 2016 Membuat Saya Tahu Kearifan Lokal dalam Budaya Minang



SELAMA ini, saya tahu Padang hanya sekadarnya saja. Hanya tahu Rumah Makannya yang bertebaran di hampir setiap kota besar di Indonesia, kulinernya, dan tentu saja beberapa pantainya yang indah.
Ternyata, apa yang saya ketahui tentang Padang baru seujung kuku saja karena masih banyak yang belum saya ketahui termasuk budaya yang sudah mengakar di sana. Budaya yang membuat masyarakat Padang punya kekhasan dan keunikannya sendiri. Budaya yang lebih dikenal dengan Budaya Minang.
Saya mengetahui kearifan lokal Budaya Minang lantaran informasi yang bersliweran di timeline media sosial seperti twitter, facebook, dan instagram FestivalSiti Nurbaya 2016. Festival yang diadakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (DisBudPar) Kota Padang pada tanggal 7-10 September 2016. Saya penasaran karena baru kali ini mendengar festival tersebut.
Padahal, festival yang memang bertujuan untuk melestarikan sekaligus mengenalkan Budaya Minang kepada masyarakat luas itu telah dilaksanakan hingga enam kali. Waaaah, ke mana saja gue?

Event, Pagelaran, dan Acara Rakyat
Dalam festival yang dibuka oleh Bapak Wakil Walikota Padang itu, digelar beberapa event, diantaranya lomba blog dan lomba yang berkaitan dengan publikasi di media sosial seperti Twitter, Instagram, dan Facebook.
Di Taman Muaro Lasak juga disediakan Wall of fame sehingga masyarakat bisa foto-foto dan mengunggah fotonya di media sosial dengan hastag #FestivalSitiNurbaya.
Kemudian pada saat event berlangsung ada Karnaval, Lomba Perahu Hias, Lomba Maelo Pukek, Lomba Selaju Sampan, Lomba Panjat Pinang, Lomba Fotografi Jurnalistik, dan video liputan.
Asa eksebisi seperti Lomba Giliang Lado, Lomba Kukur Karambiah, Permainan Anak Nagari seperti Sepak Rago, Enggrang, Tarompa Tampuruang. Acara diramaikan dengan Ghatering Komunitas Kota Padang serta Pentas Seni Tradisional dan Musik Pop.
Ada yang menarik dan berbeda dalam Festival Siti Nurbaya 2016 dibanding dengan Festival Siti Nurbaya sebelum-sebelumnya. Panitia menggandeng seluruh lapisan masyarakat termasuk generasi muda. Maka terjadilah perpaduan yang harmonis  antara pemuda yang sangat fasih dengan media sosial dan kekinian dengan Budaya Minang yang melegenda.
Acara festival dibuka dengan karnaval dan Perahu Hias yang diikuti oleh masyarakat luas. Usai karnaval dan Perahu Hias.
Kemudian ada Selaju Sampan atau mendayung sampan. Sebagai kota pesisir, masyarakat Kota Padang sejak dahulu menggunakan alat transportasi sampan dalam aktivitas keseharian, salah satunya saat bersilaturahmi. Selaju sampan perlu dilestarikan untuk mengurangi kemacetan Kota Padang.
Lomba Salaju Sampan Festival Siti Nurbaya (Foto Agus)
Maelo Pukek atau menarik jala. Maelo Pukek merupakan cara tradisional nelayan Ranah Minang saat menangkap ikan di pinggir laut atau pun dipantai. Dalam Maelo Pukek dibutuhkan banyak orang untuk menarik jala secara bergotong royong. Jala diangkut ke pinggir pantai secara bergantian hingga ke darat.
Lomba Maelo Pukek Festival Siti Nurbaya (Foto Agus)
Maelo Pukek selain mengingatkan kembali akan pentingnya bergotong royong juga pentingnya menjaga laut supaya ikan terus berkembang biak dengan baik. Masyarakat mencari ikan cukup dengan jala bukan dengan granat atau alat-alat yang merusak terumbu karang dan mencemarkan.
Salah satu budaya Padang adalah membuat Teh Talua, makanya di Festival Siti Nurbaya 2016 pun diadakan lomba Membuat Teh Talua. Teh Talua atau teh telur ini minuman khas Minangkabau. Hebatnya Teh Talua, meski pun menggunakan bahan telur, tetapi teh tidak bau amis.
Lomba Membuat Teh Taula (Foto Agus)
Lomba yang tak kalah serunya adalah Manggiling Lado. Kita tahu, hampir seluruh kuliner khas Minangkabau pasti pedas. Lado atau cabe tak bisa dipisahkan dari kuliner khas Minangkabo karena masyarakat minang menyukai rasa pedas. Rasanya tak berlebihan jika aktivitas Manggiliang Lado (Mengulek Cabe) pun menjadi salah satu bumbu penyedap dalam Festival Siti Nurbaya 2016. Event yang tak kalah seru adalah pemutaran Film Salisiah Adaik dan Kukur Karambia.
Wisatawan Asing pun ikut lomba Manggiling Lado (Foto Agus)

 Antara Salisiah Adaik dan Kukur Karambia
Pada Festival Siti Nurbaya 2016 kali ini, Ada dua event yang mendapatkan apresiasi luar biasa dari pengunjung. Event pemutaran Film Salisiah Adaik dan Kukur Karambia. Film yang diputar pada malam hari pertama tersebut membuat pengunjung Festival Siti Nurbaya 2016 sangat padat.
Sebuah Film yang mengungkap perjalanan manis dan pahitnya budaya dan tradisi di Minang. Kebetulan, sutradara film tersebut memang asli Minang, jadi bisa digarap dengan baik. Film bercerita tentang perbedaan yang ada dalam tradisi Minang.
Suasana Nonton Bareng yang Sangat Penuh (Foto Panitia Festival)

Tersebutlah seorang laki-laki bernama Muslim asal Pariaman. Dia  berumur 28 tahun dan berprofesi sebagai tukang emas. Muslim pindah ke Payakumbuh untuk menggantikan karyawan Ajo Amaik yang pulang kampung. Karena perbedaan tradisi dalam berbahasa, di Payakumbuh terjadi miss komunikasi, Muslim pun mendapat musuh.
Muslim kemudian bertemu dengan Ros, gadis Payakumbuh yang membuatnya jatuh hati dan berniat untuk menikahi wanita tersebut. Lagi-lagi lantaran perbedaan tradisi, kisah percintaan mereka pun ditentang oleh keluarga dan orang-orang di Payakumbuh.
Mengetahui hubungan antara Muslim dengan Ros ditentang karena tradisi, orang tua Muslim pun memberikan perlawan dengan tradisi.
Film ini menjadi menarik karena adanya jurang perbedaan yang sangat lebar antara tradisi di Pariaman dan Payakumbuh. Banyak orang mengatakan, Pariaman dan Payakumbuh memiliki tradisi pernikahan yang berbeda seratus delapan puluh derajat. Padahal, pada saat sekarang tetap saja banyak terjadi pernikahan antara orang Pariaman dengan orang Payakumbuh.
Film menjadi jembatan untuk membuka mata bahwa justru dengan perbedaan tradisi seharusnya tidak terjadi pertentangan, malah sebaliknya perkawinan dua tradisi yang berbeda akan memperkaya nilai masing-masing budaya dan tradisi yang ada.
Sang sutradara, Ferdinan Almi, lahir di Padang Panjang, Sumatera Barat, tanggal 5 November 1986, masih sangat muda. Menurut saya Ferdinan menjadi anak muda yang mewakili generasinya dalam mengenalkan tradisi dan Budaya Minang.
Kukur Karabia Pun Diikuti Wisatawan Asing (Foto Panitia)

Event kedua Lomba Kukur Karambia atau memarut kelapa. Saya sempat tertegun ketika melihat beberapa peserta Kukur Karambia adalah orang asing. Waaah, rupanya Tradisi Kukur Karambia membuat para turis penasaran!
Anak-anak Remaja Tak Mau Kalah (Foto Panitia)
Kita tahu, bahan utama kuliner Minang pasti menggunakan santan kelapa, mulai dari Rendang, Pangek Ikan, hingga Aneka Gulai. Oleh karena itu, perlu alat dan teknik tersendiri pada saat memarut kelapa.
Kukur Karabia dilestarikan karena memiliki nilai-nilai luhur, yaitu menghargai waktu dan memupuk kesabaran. Kita tahu, memarut kepala dengan parutan atau garudan pasti membutuhkan waktu dan kesabaran yang tinggi karena sangat berbeda dengan mesin pemarut. Di sinilah, nilai-nilai luhur tersebut ditanamkan kepada masyarakat terutama generasi muda. Dengan menghargai waktu dan kesabaran, diharapkan generasi muda kehidupannya akan sukses di masa yang akan datang. Luar biasa pisan! Okay, sampai jumpa pada Festival Siti Nurbaya tahun depan!
@KreatorBuku













4 komentar:

Ditunggu Komentarnya Teman-Teman

Blog Archive

Komentar