Kamis, 27 Oktober 2016

Candi Cangkuang Tetap Memikat Wisatawan


Candi Cangkuang Tetap Memikat Wisatawan

JIKA di beberapa tempat di Jawa Tengah banyak candi peninggalan jaman kerajaan, maka di Jawa Barat hanya ada satu candi. Itu pun ukurannya tidak sebesar candi-candi di Jawa Tengah. Bahkan bisa dibilang ukurannya super kecil. Namanya Candi Cangkuang.
Beberapa waktu lalu saya sengaja mengunjunjungi candi tersebut bersama keluarga. Dari Bandung pergi usai sarapan pagi sekitar pukul 07.30 WIB. Menyusuri Jalan Soekarno-Hatta, Daerah Cibiru, lanjut Daerah Cileunyi. Pagi itu suasana cukup lengang sehingga perjalanan lancar.
Jalanan tersendat saat memasuki Daerah Nagrek yang memang terkenal cukup padat. Selain karena ada belokan tajam juga ada beberapa truk besar yang lewat, jadi sangat wajar. Kurang lebih satu jam setengah kemudian masuk Kota Garut.
Tepat sebelum Alun-Alun Leles ada jalan ke kanan, di mana Candi Cangkuang berada. Mobil pun melaju mengikuti petunjuk jalan. Tak lama kemudian, sebuah lahan parkir Candi Cangkuang terpampang di depan mata.

Pemandangan Menakjubkan
Setelah parkir dan membeli tiket masuk obyek wisata yang cukup murah, dewasa 5000 dan anak-anak 3000, saya dan anak-anak masuk dermaga kecil. Di dermaga sudah menunggu beberapa perahu terbuat dari bambu yang siap mengantar wisatawan menyeberangi Situ Cangkuang.
Ritual menaiki salah satu perahu khas Jawa Barat ini menurut saya menjadi daya tarik tersendiri. Wisatawan akan merasakan sensasi menyeberang Situ Cangkuang menuju Kampung Pulo, di mana Candi Cangkuang berada.
Sejak dari dermaga hingga Kampung Pulo wisatawan disuguhi pemandangan alam yang sangat memesona. Ada air situ yang biru, perahu dari bambu, rerimbunan pepohonan Kampung Pulo berlatar belakang pemandangan gunung nan elok. Terlebih jika ke sana pagi-pagi, semua terasa sangat indah dan menakjubkan.

Candi Cangkuang Tetap Memikat Wisatawan
Dermaga untuk Naik Perahu Bambu (Foto Kang Alee)

Menyeberangi Situ Cangkuang dari dermaga menuju Kampung Pulo memerlukan waktu kurang dari 10 menit, tetapi sensasinya luar biasa. Bagi anak-anak yang jarang menemukan destinasi seperti ini akan mengenangnya seumur hidup.
Setelah sampai di pinggir Kampung Pulo wisatawan menaiki tepian Kampung Pulo yang dibeton. Jangan khawatir takut terjatuh karena sangat aman.
Lantas saya jalan memutar menuju pintu masuk Kampung Pulo. Sepanjang jalan, wisatawan disuguhi deretan penjual makanan seperti jagung bakar, ubi bakar, atau sosis bakar. Ada juga es dan mei rebus. Setelah itu ada penjual suvenir yang sangat murah. Bayangkan, 3 gelang antik hanya dihargai 10.000 saja.

Rumah Adat, Masjid, dan Candi
Setelah melewati penjual makanan dan suvenir wisatawan masuk gerbang Kampung Pulo. Saya baru tahu jika di sini dahulu menjadi tempat tinggal penduduk Kampung Pulo. Masih ada beberapa rumah adat yang berdiri dan menjadi cagar budaya, musala, dan tempat permandian umum.
Halaman luas dengan tanah yang ditutup paving blok tepat berada di tengah-tengah rumah-rumah Kampung Pulo, sehingga terkesan lega. Saya membayangkan, dahulu di halaman ini pasti digunakan anak-anak Kampung Pulo untuk menghabiskan malam Bulan Purnama dengan main ucing sumput.

Candi Cangkuang Tetap Memikat Wisatawan
Rumah di Kampung Pulo yang Masih Dipertahankan (Foto Kang Alee)

Beberapa langkah dari Komplek Perumahan Kampung Pulo, sebuah gerbang dari tanaman rambat seolah menggoda wisatawan untuk segera memasuki komplek Candi Cangkuang. Wisatawan pun mengikuti jalan setapak berundak.
Pada kanan jalan, sebelum masuk pintu masuk Candi Cangkuang, terlihat sebuah museum yang menyimpan benda-benda peninggalan penduduk Kampung Pulo serta artefak yang tersisa dari Candi Cangkuang.
Candi Cangkuang merupakan satu-satunya candi Hindu di Tatar Sunda. Letaknya bersebelahan dengan makam Embah Dalem Arief Muhammad, sebuah makam kuno pemuka agama Islam yang dipercaya sebagai leluhur penduduk Desa Cangkuang.

Candi Cangkuang Tetap Memikat Wisatawan
Penampakan Candi Cangkuang (Kang Alee)

Candi pertama kali ditemukan pada tahun 1966 oleh tim peneliti Harsoyo dan Uka Tjandrasasmita. Penelitian dilakukan berdasarkan laporan Vorderman dalam buku Notulen Bataviaasch Genotschap terbitan tahun 1893.
Dalam buku tersebut tertulis adanya sebuah arca yang rusak serta makam kuno di bukit Kampung Pulo, Leles. Pada awal penelitian ditemukan batu yang merupakan reruntuhan sebuah bangunan candi.
Selain reruntuhan candi, ditemukan pula serpihan pisau serta batu-batu besar yang diperkirakan merupakan peninggalan zaman megalitikum. Penelitian dilanjutkan pada tahun 1967 - 1968 dan berhasil menggali bangunan makam.
Candi berukuran 4.5X4.5 M ini merupakan candi peninggalan agama Hindu yang dibangun pada abad ke-8, satu zaman dengan candi-candi di situs Batujaya dan Cibuaya. Candi mulai dipugar pada tahun 1974-1975 dan pelaksanaan rekonstruksi pada tahun 1976 yang meliputi kerangka badan, atap, dan patung Syiwa.
Di sebelah candi dibangun museum untuk menyimpan dan menginventarisir benda-benda bersejarah bekas peninggalan kebudayaan dari seluruh Kabupaten Garut. Pada tahun 1978 Candi selesai direkonstruksi dan diresmikan.
Candi berdiri pada lahan berukuran 4.7X4.7 M dengan tinggi 30 CM. Kaki bangunan yang menyokong pelipit padma, pelipit kumuda, dan pelipit pasagi berukuran 4.5X4.5 M dengan tinggi 1.37 M. Di sisi timur terdapat penampil tempat tangga naik yang panjangnya 1.5 M dengan lebar 1,26 M.
Anak-anak yang memang senang melihat bangunan bersejarah ingin sekali berlama-lama mengeksplorasi Candi, namun karena harus melanjutkan perjalanan, saya mengajaknya kembali menyeberang.
Sebelum pulang, saya dan anak-anak sempat melihat-lihat sekitar candi, ada batu-batu besar serta makam para leluhur lainnya. Setelah itu baru keluar komplek melewati pintu gerbang utama.

Candi Cangkuang Tetap Memikat Wisatawan
Suvenir Murah di Tempat Wisata (Foto Kang Alee)

Candi Cangkuang tak hanya bersejarah, melainkan juga menjadi pengingat bagi Warga Jawa Barat, jika dari zaman dahulu toleransi agama di Jawa Barat telah dijunjung tinggi, terbukti ada Masjid dan Candi berdampingan dalam sebuah pulau kecil.
Sebelum benar-benar meninggalkan Kampung Pulo, sambil menunggu perahu, saya dan anak-anak menikmati jagung bakar sambil mengagumi keindahan panorama di sekeliling Candi Cangkuang yang memang sangat memesona, menakjubkan, dan memikat wisatawan.

IG: alimuakhir

2 komentar:

  1. Dah lama pengen ke siniteh. Saya suka wisata alam dan sejarah

    BalasHapus
  2. Meski kecil menyejarah yaa. Sudah ada sejak abad ke-8...

    BalasHapus

Ditunggu Komentarnya Teman-Teman

Blog Archive

Komentar