Rabu, 05 Oktober 2016

Kecantikan Roro Jongrang Tak Pernah Pudar

 Situs Warisan dan Cagar Budaya Candi Prambanan

MENTARI pagi masih terasa hangat menyentuh kulit, saat tiba di parkiran kawasan Wisata Candi Prambanan. Salah satu candi Hindu terbesar di Indonesia dan tercantik di Asia. Kawasan Candi Prambanan terletak di perbatasan bagian timur Jogjakarta dan Jawa Tengah. Tepatnya di wilayah administrasi Desa Bokoharjo, Prambanan, Sleman.
Setelah memarkir dan memastikan keamanan kendaraan, saya dan keluarga keluar dari kendaraan membeli tiket. Pengunjung belum begitu penuh, sehingga antrean di depan loket tidak sampai mengular.
“Mau sekalian ke Candi Boko (Keraton Ratu Boko)? Ada harga khusus kalau beli tiket terusan ke Candi Boko dan Candi Prambanan,” tawar penjaga tiket dengan senyum ramah, sambil menyodorkan brosur.
Sejenak, saya membaca brosur dan menimbang-nimbang sebelum akhirnya membeli tiket terusan. Berhubung bus kecil yang akan membawa pengunjung ke Keraton Ratu  Boko sudah siap, saya dan keluarga langsung naik bus.

Istana Cantik di Atas Bukit
Sejak memutuskan backpakeran bareng ketiga anak saya dengan membawa kendaraan sendiri, selain Candi Borobudur dan Candi Prambanan, Keraton Ratu Boko memang masuk agenda perjalanan kali ini, hanya tidak menyangka ada tiket terusan.
Saya lihat raut wajah anak-anak sangat senang. Kelelahan karena menempuh perjalanan dari Bandung, Jawa Tengah, hingga Jogjakarta yang memakan waktu lebih dari 12 jam melalui jalur selatan seakan sirna. Apalagi semalaman mereka pulas beristirahat di sebuah penginapan di dekat keraton Jogjakarta.
Walau saya tetap was-was karena ketiga anak saya masih kecil dan ini perjalanan darat terjauh yang pernah mereka tempuh, tetapi saya senang, akhirnya bisa mengenalkan kepada mereka salah satu Warisan Budaya yang tak ada duanya di dunia. Si sulung baru sepuluh tahun, yang kedua delapan tahun, dan si bungsu enam tahun.
“Jauh, Yah?” tanya Rahma anak kedua saya.
“Tadi bilangnya sepuluh menitan sampai,” jawab saya sambil memeluk kepalanya.
Bus bergerak menuju arah selatan, melewati Pasar Prambanan, menuju Piyungan. Benar saja, berapa menit kemudian tiba di kawasan Keraton Ratu Boko. Kami dan wisatawan lain langsung melewati pintu penjaga dan naik beberapa anak tangga, melewati koridor beratap pohon yang menjalar dan kursi-kursi taman. Sepintas, mirip sekali dengan koridor-koridor istana atau rumah pembesar di Eropa abad ke-8.
Situs Warisan dan Cagar Budaya Candi Prambanan
Taman di Pelataran Depan Ratu Boko (Foto Kang Alee)

Situs Warisan dan Cagar Budaya Candi Prambanan
Koridor Bernuasa Eropa di Ratu Boko (Foto Kang Alee)
         Ada taman yang sangat luas dengan saung-saung untuk duduk-duduk sebelum melewati gapura istana. Nah, view di antara sepasang gapura inilah yang menjadi spot paling cantik yang biasa digunakan wisatawan untuk berfoto-foto.
Saya ajak anak-anak menuju bangunan sebelah kiri gapura. Ada bangunan bujur sangkar dengan ukuran 26M X 26M dan memiliki dua teras. Menurut info yang saya dapat dari salah seorang pengunjung, itu tempat pembakaran jenazah. Kurang lebih sepuluh meter dari tempat pembakaran ada batu berundak dan kolam yang digunakan untuk memandikan jenazah.
Brrr ….! Bulu kuduk mendadak merinding. Kalau tiba-tiba ada bayangan mayat yang muncul dari pembakaran atau ada suara memanggil-manggil tanpa wujud kan berabe. Buru-buru saya mengajak anak-anak meninggalkan bangunan tersebut menuju bangunan sebelah kanan gapura.
Setelah melewati halaman yang cukup luas dan lapang, terlihat reruntuhan sepasang paseban (ruang tunggu tamu sebelum menemui raja). Paseban sebelah timur memiliki panjang 24.6M, lebar 13.3M, dan tinggi 1.16M. Sedang paseban sebelah barat memiliki panjang 24.42M, lebar 13.34M, dan tinggi 0.83 meter.

Situs Warisan dan Cagar Budaya Candi Prambanan
Gerbang Ratu Boko yang Sangat Cantik (Foto Kang Alee)

Situs Warisan dan Cagar Budaya Candi Prambanan
Spot Paling Favourite untuk Foto-Foto (Foto Kang Alee)
Kemudian ada reruntuhan pendopo istana yang mempunyai panjang 40,80M, lebar 33,90M dengan ketinggian 3,45M. Konon, bagian dasar dan atap pendopo dahulu di kelilingi batu adesit dengan dinding berasal dari batu putih.
Setelah melewati pendopo, sampailah di keputren, tempat pemandian keluarga kerajaan. Pemandian ini dahulu menjadi salah satu sentral pengairan yang memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat sekitar.
Perjalanan mengunjungi Istana Ratu Boko berakhir di Gua Istana. Goa Wadon (Gua Perempuan) dan Goa Lanang (Gua laki-laki). Gua yang berada di bawah dinamakan Goa Wadon karena di sana ditemukan relief yang menggambarkan jasad perempuan (simbol Yoni) di depan pintu. Gua yang di atas dinamakan Goa Lanang karena ditemukan relief yang menggambarkan seorang laki-laki berada di atas bukit. Kedua gua tersebut dahulu digunakan sebagai tempat semedi.
Keraton Ratu Boko dibangun sekitar abad ke-8 hingga ke-9 masehi.  Perkiraan tersebut berdasar pada prasasti yang bertuliskan tahun 792. Prasasti yang ditorehkan pada zaman kerajaan Rakai Pikatan. Pada sekitar tahun 856 masehi seseorang bernama Rakai Walaing Pu Kumbayoni (bawahan Rakai Pikatan) mengubah Bukit Boko tersebut menjadi tempat tinggal.
Sejenak saya menghirup udara Bukit Bobo dalam-dalam, sekadar untuk melegakan perasaan. Udara terasa sejuk dengan aroma pegunungan dan bebatuan.
Keraton Ratu Boko walaupun tidak seterkenal Candi Borobudur atau Candi Prambanan, ternyata menyimpan kecantikan dan kemegahan tersendiri. Struktur bangunan keraton yang bercorak Hindu dan Budha tersebut hampir mirip dengan struktur istana-istana di negara lain. Ini membuktikan, arsitektur dan sosiologi kemasyarakatan, masyarakat jawa jaman dahulu, sudah berkembang.

Cantiknya Candi Prambanan
Setelah puas melihat-lihat Keraton Ratu Boko, saya dan beberapa wisatawan kembali menuju kawasan Candi Prambanan. Tepat di pintu masuk area candi, seluruh pengunjung disodori kain batik warna biru oleh penjaga untuk dipakai wisatawan.
Berdiri di pelataran depan candi rasanya luar biasa. Candi terlihat begitu cantik dan sakral. Ini pertama kali saya menginjakan kaki di sini. Saya yang sudah mengenal Candi Prambanan lewat beberapa literatur saja takjub luar biasa saat melihatnya, apalagi anak-anak. Mereka langsung berteriak-teriak kegirangan sambil berlari secepat mungkin untuk menelusuri seluruh bangunan candi.
“Kita boleh naik, Yah?” si Bungsu paling antusias, diikuti si Sulung.
“Ini beneran dari batu, Yah?” Rahma, anak kedua saya yang memang tingkat ke-kepo-annya luar biasa tidak yakin candi di depannya tersusun dari bebatuan.
“Iya, dari batu. Nanti setelah kita keliling candi, kita buktikan dengan nonton film dokumenternya, ya,” jelas saya beberapa saat kemudian.
Candi Prambanan dibangun abad ke-10, pada masa pemerintahan Rakai Pikatan dan Rakai Balitung. Tinggi candi mencapai sekitar 47 M, lebih tinggi dari Candi Borobudur yang hanya 42 M.
Situs Warisan dan Cagar Budaya Candi Prambanan
Siapa pun Akan Takjub Melihat Keindahannya (Foto Kang Alee)
Candi Prambanan terdiri dari tiga candi utama; Candi Wisnu, Candi Brahma, dan Candi Siwa. Ketiga candi tersebut menjadi lambang Trimurti (dalam kepercayaan Agama Hindu). Ketiga candi tersebut menghadap ke timur.
Setiap candi memiliki satu candi pendamping yang menghadap ke barat, sehingga saling berhadap-hadapan. Ada Candi Nandini yang berhadapan dengan Candi Siwa, Candi Angsa yang berhadapan dengan Candi Brahma, dan Candi Garuda yang berhadapan dengan Candi Wisnu.
Selain candi-candi tersebut, masih ada candi lainnya, yaitu dua candi apit, empat candi kelir, dan empat candi sudut. Pada halaman luar, yang mengitari candi utama terdapat kurang lebih 224 candi. Candi-candi di halaman luar tidak dipugar karena sudah tinggal puing-puing candi.
Situs Warisan dan Cagar Budaya Candi Prambanan
Deretan Candi yang Mengagumkan (Foto Kang Alee)
Dalam Candi Siwa yang bangunannya paling tinggi dan terletak tepat di tengah-tengah, ditemukan empat ruangan. Satu ruang utama berisi Arca Siwa dan tiga ruang lainnya berisi Arca Durga (Istri Dewa Siwa yang dikenal sebagai Roro Jongrang), Arca Agastya (Guru Dewa Siwa), dan Arca Ganesha (Putra Dewa Siwa). Arca Durga itulah yang disebut-sebut sebagai Roro Jonggrang yang mashur dalam legenda terjadinya Candi Prambanan.
Tak henti-henti, anak-anak berdecak kagum setiap menaiki candi dan melihat arca yang ada di dalam candi. Keingintahuan mereka seolah tak terpuaskan sebelum menyentuh satu persatu arca yang ada di sana. Belum lagi pertanyaan demi pertanyaan yang mengalir seolah tanpa jeda.
 
Situs Warisan Budaya Candi Prambanan
Dari Berbagai Sisi Tetap Mengagumkan (Foto Kang Alee)

Situs Warisan Budaya Candi Prambanan
Tetap Mengagumkan (Foto Kang Alee)

Situs Warisan Budaya Candi Prambanan
Menanmkan Kecintaan Sejak Kecil (Foto Kang Alee)

Kecantikan Candi Prambanan Pernah Pudar
Menurut beberapa literasi, pada sekitar tahun 930-an, Ibu Kota kerajaan pindah ke Jawa Timur. Penyebab kepindahan Ibu Kota kemungkinan besar disebabkan oleh letusan Gunung Merapi yang menjulang di utara Candi Prambanan. Kepindahan tersebut mengakibatkan candi terlantar.
Kecantikan candi pelan-pelan memudar hingga kemudian runtuh akibat gempa bumi hebat pada abad ke-16. Meskipun telah memudar dan tidak lagi menjadi pusat keagamaan dan tempat ibadah umat Hindu, candi masih diketahui oleh masyarakat sekitar. Pudarnya kecantikan Candi Prambanan inilah yang mengilhami cerita rakyat Jawa Tengah, yaitu Legenda Roro Jonggrang.
Sekitar tahun 1733, seorang berkebangsaan Belanda bernama CA. Lons menemukan kembali keberadaan candi. Candi kemudian semakin dikenal saat Colin Mackenzie, seorang surveyor bawahan Sir Thomas Stamford Raffless (penemu Bunga Rafflesia) melakukan penyelidikan.
Pemugaran candi secara besar-besaran baru dimulai pada tahun 1918, akan tetapi upaya serius yang sesungguhnya dimulai pada tahun 1930-an oleh arkeolog-arkeolog dari Belanda. Pada tahun 1942, pemugaran diserahkan kepada putra bangsa hingga benar-benar siap dibuka untuk publik.
Pada tahun 1991, Candi Prambanan masuk dalam Situs Warisan Dunia oleh UNESCO. Hingga sekarang ada beberapa bagian candi Prambanan yang masih direnovasi untuk memperbaiki kerusakan akibat gempa Yogyakarta tahun 2006. Gempa ini telah merusak sejumlah bangunan dan patung.
Hampir satu jam saya dan anak-anak mengelilingi candi sekaligus menjelaskan panjang lebar candi-candi utama di kawasan Candi Prambanan. Kelihatannya mereka sangat puas dan cukup untuk menambah pengalaman dan pengetahuan. Saya kemudian mengajak anak-anak keluar untuk beristirahat.
Dalam kawasan Candi Prambanan yang sangat luas masih ada candi-candi lain yang bisa ditempuh dengan kereta yang disediakan pengelola wisata atau dengan menyewa sepeda. Kami lebih memilih rame-rame menyewa sepeda untuk menyusuri beberapa destinasi lain dalam kawasan Candi Prambanan. Ada Candi Sewu, Candi Budha, dan Museum Purbakala.
Tanpa terasa, hampir tiga jam lebih kita berwisata di kawasan Candi Prambanan, lelah tetapi sangat menyenangkan. Keluar kawasan kita membeli oleh-oleh yang dijual di luar kawasan. Arena oleh-oleh terlihat rapi dan bersih, sehingga wisatawan senang memilih oleh-oleh.
Sebelum meninggalkan Candi Prambanan, wisatawan bisa mengisi perut di rumah makan-rumah makan yang ada di sekitar kawasan. Banyak rumah makan dengan berbagai menu, sehingga kita bisa memilih sesuai dengan selera dan kantong kita.

Saya memilih sebuah tempat makan yang menyediakan menu makanan jawa. Ada sayur asem, tempe, tahu, ikan, dan tentu saja pete dan jengkol. Ditambah ikan asin dan sambel terasi, makan siang terasa lahap sekali.
@KreatorBuku 

4 komentar:

  1. Jalan-jalan sambil belajar ini namanya, ya. Biasanya belajar seperti ini lebih diingat daripada sekadar belajar di kelas ^_^

    BalasHapus
  2. Ponakan ku ngak demen di ajak ke candi2 gini, kata nya bosan ihik ihik ihik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkwkw ... jangan-jangan ponakannya penghuni candi neh :D

      Hapus

Ditunggu Komentarnya Teman-Teman

Blog Archive

Komentar