Kamis, 27 Oktober 2016

Komunitas Ngejah Membuat Masyarakat Melek Literasi


Komunitas Ngejah Membuat Masyarakat Melek Literasi

SIAPA bilang tinggal di daerah pegunungan dan lingkungan yang tertinggal, membuat seorang pemuda bernama Taopik berdiam diri dan berserah pada keadaan. Justru dengan kondisi yang serba terbatas tersebut, dia mampu mengajak masyarakat sekitar memberantas ketertinggalan dengan buku.
Kini, setelah enam tahun berjuang, apa yang dilakukan Taopik bersama  Komunitas Ngejah yang didirikannya tahun 2010 mampu membuka masyarakat sekitar melek literasi melalui Taman Bacaan Masyarakat (TBM) AIUEO.
Karena kerja kerasnya pula, akhir tahun 2015 lalu, Taopik diganjar Anugerah Peduli Pendidikan 2015 dari Kementrian Pendidikan untuk kepeduliannya pada pendidikan masyarakat. 

Komunitas Ngejah Membuat Masyarakat Melek Literasi
Nero Taopik Tak Patah Semangat Sedikit Pun (Foto Kang Alee)

Tak Patah Semangat
Taopik mengaku awalnya tak mudah mendirikan Komunitas Ngejah, mengingat kampungnya termasuk dalam kategori daerah tertinggal. Baik secara infrastruktur, informasi, ekonomi, maupun pendidikan. Kalau pun kemudian dia mampu melanjutkan pendidikan hingga jenjang Strata 2, itu pun awalnya sangat sulit.
Taopik melalui pendidikannya tahap demi tahap, mulai dari menyelesaikan Diploma 2 di Universitas Pendidikan Tasikmalaya tahun 2005, lanjut Strata 1 di universitas yang sama tiga tahun kemudian. Hingga melanjutkan Strata 2 di Universitas Pendidikan Indonesia di Bandung tahun 2013 jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD).
Saat Taopik baru menamatkan jenjang Srata 1, masyarakat mengangapnya bukan siapa-siapa, bahkan saat mendaftarkan diri untuk mengabdi menjadi seorang guru honorer di salah satu Sekolah Dasar, dia ditolak dengan alasan sudah banyak guru.
“Padahal saya yakin, itu alasannya karena ekonomi keluarga, buktinya SD tersebut terima guru dari salah satu anak orang yang punya kedudukan di sini,” katanya getir, beberapa waktu lalu saat saya berkesempatan mengunjungi TBM AIUEO.
Pengalaman tersebut membuat Taopik semakin yakin untuk mengubah cara pandang masyarakat. Taopik menyadari, masalah ekonomi dan akses pendidikan yang cukup sulit menjadikan masyakat lebih memilih bekerja daripada melanjutkan pendidikan.
Taopik bertekad kuat untuk menjembatani jurang pendidikan dengan masyarakat yang masih menganga lebar di kampung berjarak kurang lebih 90 KM dari Kota Garut tersebut, dengan menawarkan pendidikan alternatif. Taopik menawarkan pendidikan literasi. Taopik yakin, ada banyak ilmu yang bisa didapat di luar bangku sekolah dengan pendidikan literasi.
Kesempatan itu datang setelah Taopik resmi diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil dan mengajar di SD Culamega Garut tahun 2009. Jarak tempat dia mengajar dengan tempat tinggal yang sekarang menjadi basecamp Komunitas Ngejah dan TBM AIUEO kurang lebih 35 kilometer atau 2.5 jam perjalanan menggunakan motor.
Taopik lantas mengumpulkan beberapa teman yang satu visi. Tepat tanggal 15 Juli 2015, dia bersama beberapa temannya mendirikan komunitas yang diberi nama Komunitas Ngejah. Ngejah  adalah proses awal yang dilakukan oleh anak-anak saat sedang mengaji.

Komunitas Ngejah Membuat Masyarakat Melek Literasi
Saung Komunitas Ngejah Berisi Bacaan (Foto Kang Alee)

Pasang Surut
Apa yang digagas Taopik tak semulus yang dibayangkan. Komunitas yang didirikannya pun pasang surut. Teman-teman yang awalnya ingin sama-sama membangun rontok satu persatu di tengah jalan. Mereka lebih memilih merantau daripada membangun desanya yang tertinggal. Tak jarang pula yang menikah dan focus pada keluarga barunya.
Meski pada akhirnya harus sendirian, Taopik terus bergerilya demi gerakan literasi di kampung halamannya. Setiap bulan, dia menyisihkan penghasilannya yang tak begitu besar untuk menambah koleksi buku. Beberapa temannya pun pelan-pelan menyumbang buku.
Kini sekitar 3000 buku baru dan bekas tersedia di Komunitas Ngejah. Buku yang awalnya diletakan di kamar, kini ditata dengan rapi di beberapa ruang di rumah yang juga menjadi taman baca.
Taopik kemudian mengajak pengunjung taman bacanya yang tak lain adalah anak-anak muda Kampung Singajaya menjadi relawan yang memastikan anak-anak kampung mendapat akses pendidikan selain di bangku sekolah.
Sekarang, setelah lima tahun perjuangan, kurang lebih sekitar 500 anak-anak bisa menikmati rasanya belajar bersama selain di bangku sekolah. Mereka tekun membaca banyak literasi baru, mendengar dongeng anak-anak, dan melatih kebersamaan lewat puisi serta lagu-lagu.

Komunitas Ngejah Membuat Masyarakat Melek Literasi
Buku-Buku Koleksi dan Tropy Penghargaan (Foto Kang Alee)

Mereka juga ikut berlatih mengoperasikan komputer, mengakses informasi melalui internet, menjadi fotografer, menjadi penulis, menjadi jurnalis, menjadi sutradara film, dan sebagainya. Semua dilakukan di Komunitas Ngejah.
Kesempatan mendapatkan pendidikan di luar sekolah bagi anak-anak pelosok dan terpencil yang kurang mampu ternyata tidak berhenti hanya di Kampung Singajaya, tetapi juga ditularkan pada daerah-daerah lain di sekitar Kampung Singajaya.
“Setiap akhir pekan para relawan mengadakan Gerakan Kampung Membaca. Kami memboyong buku ke pelosok-pelosok terpencil yang akses jalannya pun rusak dan berbukit-bukit,” cerita Taopik yang diiyakan para relawan yang saat itu ikut berkumpul.
Dari Gerakan Kampung Membaca, beberapa tempat berkerumun warga seperti warung, posyandu, bahkan pangkalan ojek meminta disediakan lemari buku dan bahan bacaan. Alhasil, sekarang ada sekitar 23 pojok baca tersebar di beberapa tempat.
“Supaya tidak bosan, saya coba merotasi jenis bacaan yang tersedia di pojok-pojok baca tersebut. Tema-tema juga disesuaikan. Misalnya di pangkalan ojek, saya sediakan buku-buku outomotif, di warung bacaan-bacaan khas ibu-ibu seperti buku masakan, di posyandu buku anak-anak dan perkembangan anak,” jelas Taopik.
Tidak takut bukunya hilang?
“Hilang sudah biasa, yang penting dibaca,” jawab Taopik singkat dan seperti tak ada beban sama sekali.
Bukan itu saja, setiap tahun Komunitas Ngejah pada Bulan Desember  mengadakan acara Jurnalistik Pelajar. Seperti Bulan Desember 2015 lalu, acara tdiikuti 500-an pelajar dari berbagai daerah.

Komunitas Ngejah Membuat Masyarakat Melek Literasi
Bersama Para Relawan Saling Memberi Semangat (Dok Kang Alee)

Refleksi 28 Oktober
Apa yang dilakukan Taopik dan Komunitas Ngejah memang belum seberapa, tetapi pasti dampaknya akan sangat luar biasa. Apalagi jika banyak anak muda seperti Taopik dan Komunitas Ngejah di beberapa daerah di Indonesia, pasti dampaknya akan lebih terasa.
Saya jadi teringat anak-anak muda yang 88 tahun lalu berjuang untuk bangsa. Orang-orang yang peduli (Jong United) pada negara. Mereka datang dari berbagai suku dan berjanji dalam Sumpah Pemuda, demi kesatuan Republik Indonesia, tepat pada tanggal 28 Oktober 1928.
Seperti halnya Opini.id media penyaluran aktivitas kreatif, yang menularkan semangat kepada anak-anak muda dengan memberikan berita anak muda yang berprestasi, komunitas yang membangun bangsa, dan peduli pada bangsa. Selamat berjuang anak muda!

IG: alimuakhir

Komunitas Ngejah

Kp. RT 01 RW 01 Desa Sukawangi
Sukawangi, Singajaya, 
Kabupaten Garut, 
Jawa Barat 44173

6 komentar:

  1. Keren pisan Kang Taopik euy, dari gerakan kampung membaca akhirnya membuahkan hasil yang luar biasa..

    Sukses terus ya Kang Taopik semoga menjadi panutan dan menginspirasi pemuda2 lainnya.

    BalasHapus
  2. Keren ya kang Taopik, luar biasa semangatnya memajukan dunia literasi, duuh kita yg di balik meja ke mana aja, jadi malu

    BalasHapus
  3. Menginspirasi Mas Ali, salah utk Kang Taopik ya hehe...

    BalasHapus
  4. semoga komunitasnya makin besar kang, sangat menginspirasi sekali untuk kaum-kaum muda

    BalasHapus
  5. Artikelnya keren mas, jadi ingat dulu pengen bikin perpustakaan IT di kantor. Perpustakaannya sih jadi, lumayan dapat dua slot kabinet. Tapi sampai sekarang yang membaca cuma saya :(. Seharusnya saya berusaha lebih keras mensosialisasikan gemar membaca pada teman2. Bukan menyerah pada google :(

    BalasHapus

Ditunggu Komentarnya Teman-Teman

Blog Archive

Komentar