Jumat, 07 Juli 2017

Menerobos Lawang Sewu dan Klenteng Sam Poo Kong di Kota Semarang



Menerobos Lawang Sewu dan  Klenteng Sam Poo Kong di Kota Semarang

LIBUR lebaran tak akan berkesan tanpa jalan-jalan, kira-kira begitu kalimat yang sering kita dengar. Pada kenyataannya, libur lebaran memang banyak dimanfaatkan keluarga untuk jalan-jalan. Selain refreshing juga mengeratkan tali silaturahmi antar keluarga. Seperti yang saya lakukan pada detik-detik hari terakhir liburan, saya dan keluarga pun menyempatkan jalan-jalan, kali ini backpakeran sehari di Semarang, Ibu Kota-nya Jawa Tengah.
Karena starnya dari Tegal, lebih mudah menggunakan kereta, jadilah sehari sebelumnya cari tiket dan dapat Kereta Kaligung untuk pemberangkatan pukul 05.00 dan untuk pulang menggunakan Kereta Kamandaka pukul 17.00.
Jadilah, pagi-pagi sekali terjadi huru-hara kecil karena semua harus siap-siap ke Stasiun Tegal pagi-pagi sebelum subuh, supaya tiba di stasiun bisa shalat subuh. Alhamdulillah, sesuai rencana, rombongan pun tiba di stasiun pas azan subuh berkumandang.
Tak berapa lama kemudian kami semua sudah meninggalkan Stasiun Tegal menuju Stasiun Poncol Semarang. Saya lihat anak-anak senang karena baru kali ini mereka bepergian dengan kereta.
Kurang lebih dua (2) jam kemudian, kereta tiba di Stasiun Poncol. Sebelum eksplor semarang , terlebih dahulu sarapan Nasi Pecel di warung nasi depan stasiun yang sudah dipenuhi pengunjung. Setelah semua kenyang langsung cari halte terdekat yang ada di seberang stasiun. Naik bus Trans Semarang menuju tujuan pertama, Lawang Sewu. Tidak lebih dari sepuluh (10) menit bus berhenti di halte BRT depan kampus Udinus dan semua turun dengan penuh ceria.
Menerobos Lawang Sewu dan  Klenteng Sam Poo Kong di Kota Semarang

Lawang Sewu
Dari halte langsung ngabring menuju Tugu Muda di Komplek Tugu Muda, Jl. Pemuda, Sekayu, Kota Semarang, Jawa Tengah dan menikmati Semarang di pagi hari. Lanjut mengunjungi Lawang Sewu yang memang berada di dekat Tugu Muda. Karena masih pagi jadi antrean tidak terlalu panjang. Kami pun keliling ditemani seorang pemandu.
Setelah melewati pintu masuk, diarahkan menuju ruang pameran yang berisi foto-foto yang dipajang dengan sangat menarik. Sebetulnya saya ingin sekali berlama-lama di ruangan tersebut, apa daya harus mengikuti anak-anak dan pemandu.
Lawang Sewu merupakan salah satu landmark Kota Semarang yang sangat ikonik. Bangunan peninggalan Belanda paling mistis, tetapi paling dijadikan tujuan utama ketika berkunjung ke Semarang.
Menerobos Lawang Sewu dan  Klenteng Sam Poo Kong di Kota Semarang

Lawang Sewu merupakan Bahasa Jawa yang artinya seribu pintu. Tempat ini dibangun pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1904 dan selesai pada tahun 1907. Bangunan megah tersebut dahulu digunakan sebagai kantor NIS (Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij), sebuah jawatan perkeretaapian swasta yang dimiliki oleh pemerintah Belanda zaman dahulu.
Setelah Belanda pergi meninggalkan Semarang, bangunan Lawang Sewu menjadi milik pemerintahan Jepang pada tahun 1940-an dan diubah menjadi tempat peristirahatan tentara Jepang. Tragisnya, ruangan bawah tanah, digunakan sebagai tempat pembantaian kaum pribumi, pemuda Indonesia serta tahanan Belanda. Maka tak heran jika sering terdengar kisah mengerikan atau horor dari Lawang Sewu mengingat  kisah kelam masa lalu dari tempat tersebut.
Lawang Sewu sendiri, menjadi salah satu saksi bisu dari kekejaman pemerintahan Jepang yang tega menyiksa para tahanan, penduduk pribumi, dan orang-orang yang tidak bersalah.
Menerobos Lawang Sewu dan  Klenteng Sam Poo Kong di Kota Semarang

Setelah Jepang pergi dari Indonesia pada tahun 1945, Lawang Sewu diambil alih pemerintah Indonesia dan resmi menjadi kantor dari beberapa institusi pemerintah Indonesia seperti Djawatan Kereta Api Republik Indonesia (DKARI) yang sekarang dikenal sebagai PT. KAI, Kantor Prasaran Komando Daerah Militer atau (Kodam IV/Diponegoro), dan Kantor Kementrian Perhubungan yang ada di Jawa Tengah.
Selain ruang bawah tanah yang misteri, ada hal menarik yang perlu kita tahu dari Lawang Sewu, seluruh ruangan di sana menggunakan AC alami, jadi meski pun Semarang panas, ruangan di Lawang Sewu tetap dingin.

Klenteng Sam Poo Kong
Setelah berkeliling di Lawang Sewu, kami langsung menuju salah satu kuil terbesar di Semarang, Klenteng Sam Poo Kong. Agak mengubah rencana sih, karena awalnya setelah dari Lawang Sewu menuju Kampung Pelangi.
Supaya mudah, saya langsung buka aplikasi booking kendaraan online menggunakan internet lancar XL. Begitu buka langsung ada yang nyaut. Beneran deh, XL membantu banget selama kami berwisata di Semarang karena mulai dari googling lokasi wisata hingga booking kendaraan online pakai XL lancar banget.
Belum lagi selama di lokasi acara bisa apdate medsos, kirim foto di group WA, plus livegram, hehehe. Maaf ya, kalau keseringan update, soalnya pakai XL sih, jadi semua lancar dan dimudahkan.
Kami langsung pesan tiga (3) kendaraan dari tiga (3) gadget dan langsung ready hanya dalam hitungan menit. Satu persatu kami meluncur menuju Kuil Sam Poo Kong di Jalan Simongan No.129, Bongsari, Kota Semarang, Jawa Tengah. Alhamdulillah jalanan sangat lancar, bahkan saya sempat top-up e­_money buat pembayaraan booking kendaraan online.
Suasana Klenteng Sam Poo Kong sudah ramai karena masih dalam suasana libur Lebaran. Setelah mengabadikan kenangan di pintu gerbang dan membeli karcis, kami masuk ke dalam.
Menerobos Lawang Sewu dan  Klenteng Sam Poo Kong di Kota Semarang

Mungkin karena memang lagi libur lebaran, jadi banyak sekali tenda penjual makanan di sana. Agak mengganggu sih, tetapi nikmati aja, toh tenda mereka ada di dekat pintu masuk hingga panggung utama.
Klenteng Sam Poo Kong wajib dikunjungi karena penuh dengan jejak sejarah umat Muslim di Indonesia. Dalam sebuah catatan yang saya baca, pada sekitar Abad 14, seorang penjelajah samudra bernama Cheng Ho atau Zheng He atau Haji Mahmud Shams tiba di Kota Semarang.
Cheng Ho dikenal sebagai seorang pelaut dan penjelajah dari daratan Cina yang melakukan pelayaran antara tahun 1405 hingga 1433.  Cheng Ho memang dari keluarga muslim. Ia anak dari Haji Ma Ha Zhi dan ibu dari marga Oen (Wen) di Desa He Tay, Kabupaten Kun Yang. Cheng Ho menjadi salah seorang kepercayaan Kaisar Cina Yongle yang berkuasa dari tahun 1403 hingga 1424 dari Dinasti Ming.
Sejarah mencatat, kapal laut Cheng Ho besarnya tujuh (7) kali lebih besar dari kapal yang digunakan Culombus, si Penemu Benua Amerika.
Begitu tiba di dalam kawasan klenteng, mata saya langsung kelilipan warna merah yang mendominasi bangunan. Ada bangunan klenteng yang sangat besar dan dijadikan panggung dan beberapa bangunan klenteng yang mengitari lapangan dan asli saya tidak sempat menjelajah karena keterbatasan waktu.
Menerobos Lawang Sewu dan  Klenteng Sam Poo Kong di Kota Semarang

Bangunan utama Klenteng Sam Poo Kong adalah sebuah gua batu yang dahulu digunakan Laksamana Cheng Ho untuk melakukan ibadah sholat. Uniknya, Laksamana Cheng Ho juga menjadikan gua itu sebagai tempat beribadah untuk para awak kapalnya yang beragama Budha. Tidak heran kalau di sekitarnya juga berdiri sebuah klenteng.
Konon, gua asli sudah runtuh karena longsor pada tahun 1704, ketika itu Laksamana Cheng Ho sudah melanjutkan perjalanannya. Akan tetapip, gua batu yang memiliki mata air yang tak pernah kering tersebut dibangun kembali sebagai duplikatnya karena dipercaya sebagai petilasan dan tempat yang pernah ditinggali Laksamana Cheng Ho atau Sam Po Tay Djien.
Selain Gua Batu, dalam kawasan Klenteng Sam Po Kong  ada beberapa bangunan pemujaan utama Klenteng Besar, Klenteng Tho Tee Kong, dan beberapa tempat pemujaan yang dikenal dengan Kyai Juru Mudi, Kayai Jangkar, Kyai Cundrik Bumi, dan Kyai Tumpeng.
Pengunjung biasanya datang ke klenteng untuk berziarah dan melakukan ritual yang dinamakan Ciam Si, melihat suatu keberuntungan peziarah di masa depan. Ritual dengan membakar hio atau dupa di dalam gua batu lalu melemparkan kepingan di depan altar sembahyang yang ditandai dengan Im dan Yang. Apabila hasil lemparan tersebut salah satu keping terbuka dan satunya lagi tertutup, dipercaya pengunjung akan memperoleh keberuntungan.
Ada juga cara lainnya, yaitu peziarah melemparkan sekumpulan batang bambu secara acak, lalu apabila terdapat batang bambu yang jatuh di hadapan altar sembahyang, batang bambu tersebut tinggal diserahkan kepada petugas/ juru kunci yang ada di sana. Petugas kemudian mengambil selembar kertas yang telah dinomori 1 sampai dengan 28. Nomor yang diambil tentu disesuaikan dengan batang bambu yang jatuh. Kertas yang bernomor tadi adalah berisi syair-syair dengan maknanya akan diterjemahkan oleh juru kunci. Dipercaya itu merupakan gambaran bagian dari peruntungan nasib pengunjung yang melakukan ritual Ciamshie di masa depan.
Ah, sebetulnya saya ingin berlama-lama di sana, apa daya hari sudah semakin siang dan harus melanjutkan perjalanan menuju Masjid Agung Jawa Tengah. Setelah ini masih ada cerita lanjutannya, lho, jadi tunggu ya ...
@KreatorBuku

23 komentar:

  1. Lawang sewu kece banget buat poto2. Ngga ke goa kreo kang? Seru loo ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, tapi belum puas explorasi, hehe.
      Nanti ke Gua Kreo kalau ke sana lagi

      Hapus
  2. Balasan
    1. Hihi, iya bikin merinding disko

      Hapus
  3. Seru sekali Kang Alee, semoga bisa boyong keluarga juga buat jalan-jalan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget ... amiiin, semoga ya Erna

      Hapus
  4. Bagus banget ya, bisa foto kece nih di sini. Ajak keluarga makin seru. Jalan-jalan makin asyiik

    BalasHapus
  5. Alhamdulillah saya udah ke Lawang Sewu dan Sam Poo Kong, LW 3 kali sedangkan SPK 2 kali. Seru sekali ke sana karena selain tempatnya bersejarah juga instagramable banget.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pengin ke sana lagi, kemarin belum puas

      Hapus
  6. Hwaaaa aku rindu semaraaaaaang jadinyaaaaa

    BalasHapus
  7. jiah jadikangen semarang, tahun lalu sempat ke sini sama keluarga. Kang lawang sewu seru loh kalau datengnya malem, suasanan beda gitu. Terus di Sam Po Kong udah nyobain baju china-nya gak, itu juga seru loh jadi model untuk foto dirumah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Belum sempat explore lebih jauh, nanti next perjalanan

      Hapus
    2. oke deh kang, ada satu tempat lagi loh yang seru. namanya sih lupa tapi tempatnya ada di gunung terus ada pemandangan candi gitu. keren deh. Happy traveling kang

      Hapus
  8. eh ternyata saya baru komentar. kemarin berarti bukan komentar di kang Ali hehe, maaf.
    .
    Ngomongin Semarang, emang Lawang Sewu jadi destinasi wajib. Semoga esok bisa main2 ke sini.

    BalasHapus
  9. wah sudah lama nih ga ke sam po kong...foto2nya kece2 kang ali...anak2ku suka buku karanganmu lho mas terutama yang aku suka pakai kaus kaki sendiri (betul ndak ya?)

    BalasHapus
  10. Lawang Sewu tampaknya makin cantik saja, nih. SAya ke sini sekitar 3 tahut lalu, dan nyesel enggak terlalu banyak bikin foto. Haha

    BalasHapus
  11. Ada rencana ke dua tempat ini nih....
    Gereja Mledug (bener gak nih namanya? ��)juga

    BalasHapus
  12. ane aja yang deeket belum pernah ke cheng ho :D

    BalasHapus
  13. Wah pada nongol tuh Bang, hehehehe. Btw saya sering ke Semarang tapi belum pernah berkunjung ke wisatanya huhuhu...

    BalasHapus
  14. pas ke Lawang Sewu pas malam dong kang widih merinding tiada henti apalagi pas foto pose kayak kang ali gitu tau2 ada yang jebretin pintunya langsung ngacir hahaha

    BalasHapus

Ditunggu Komentarnya Teman-Teman

Blog Archive

Komentar