Social Items


SAYA lupa ..., entah sejak kapan ditemani enaknya seduhan Kopi Kapal Api. Barangkali sejak pertama kali menulis puisi anak-anak untuk majalah belasan tahun lalu, saat masih memakai seragam biru putih.
Barangkali saat saya terkantuk-kantuk karena ngotot mengetik cerpen yang ingin segera saya tuntaskan dan kirim ke majalah. Padahal sudah larut malam. Saat itu, almarhum Ibu sering sekali membuatkan kopi yang aromanya hingga kini melekat di benak.
Hingga saya harus melanjutkan sekolah dan memakai seragam putih abu-abu di asrama yang jauh dari Ibu. Kebiasaan menulis semakin menggelora. Terlebih lagi jika tengah berada di depan mesin tik dan ditemani secangkir kopi kapal api, enaknya mampu menginspirasi saya dalam setiap tulisan.
Tak sedikit tulisan yang kemudian dimuat media, baik media daerah atau pun media nasional sejak saya masih berseragam abu-abu putih. Pengalaman indah tersebut membuat saya makin menyenangi dunia tulis menulis. (Zaman sebelum internet merajalela, media massa menjadi satu-satunya media kebanggan penulis seperti saya).

Pengalaman Tak Terlupa
Kebiasaan menulis yang saya lakukan, ternyata tidak bisa dihentikan. Sebaliknya, malah makin menjadi-jadi hingga saya melanjutkan kuliah di Bandung. Bedanya, jika dahulu saya banyak menulis cerita anak, seiring dengan bertambahnya usia dan pengalaman, saya pun menulis cerita remaja.
Saya ingat sekali salah satu moment paling penting yang kemudian membuat saya menceburkan diri menulis cerita remaja dan berani bersaing dengan penulis-penulis favorite saya yang ceritanya sering dimuat di majalah remaja (dahulu banyak majalah remaja yang khusus membuat cerita remaja/ fiksi remaja).
Saat itu saya baru saja mengikuti Ujian Akhir Semester (UAS), karena tidak ada aktivitas lain, saya meluncur ke ruang komputer fakultas yang masih baru. Hari itu saya memang ingin menulis cerita untuk sebuah lomba yang deadline penerimaan naskahnya sudah di depan mata.
Seperti biasa, sebelum menulis, saya menyeruput terlebih dahulu enaknya secangkir kopi kapal api yang saya pesan di kantin fakultas. Berharap, setelah menyeruputnya, ide tulisan yang sudah ada di kepala bisa dituangkan dengan mudah.
Benar saja, tanpa menunggu lama, setelah menikmati enaknya Kopi Kapal Api, ide-ide pun berlompatan ke sana-kemari. Tidak lebih dari dua jam, cerita yang tadinya tertancap di kepala bisa dituangkan dalam komputer dengan sangat mudah.
Setelah saya edit, cerita tersebut kemudian saya print dan kirim ke majalah remaja untuk diikutkan dalam lomba. (Dahulu masih pakai komputer desktop dan belum ada email, semua artikel untuk media dikirim melalui pos, hehehe).
Kurang lebih satu bulan kemudian, saya mendapat telepon dari awak redaktur majalah tersebut. Saya diminta untuk mengikuti malam penganugerahan pemenang Lomba Cipta Cerpen Remaja karena saya menjadi salah satu pemenangnya.



Sungguh antara percaya dan tidak. Saat pengumuman, nama saya dipanggil paling terakhir, saya dinobatkan sebagai pemenang utama. Bagai mimpi di siang bolong, dengan grogi saya menerima Tropy yang selama ini diperebutkan para penulis senior.
Cerpen anak yang saya sertakan dalam lomba di majalah anak-anak nomer wahid di Indonesia pun, tak lama setelah penganugerahan di atas, dinobatkan sebagai salah satu pemenang.
Sejak peristiwa tersebut, saya semakin yakin, enaknya Kopi Kapal Api itu emang benar-benar mampu menginspirasi siapa pun, termasuk penulis seperti saya. Sejak itu, tanpa sehari pun saya lewatkan tanpa ditemani enaknya Kopi Kapal Api.

Dari Cerita Menulis Buku
Selain menulis cerita remaja, selama kuliah saya tetap nulis cerita anak. Di sela-sela kuliah, saya menjadi kontributor tetap rubrik musik, artis, dan hiburan di salah satu koran terbesar di Jawa Barat. Entah telah berapa ratus cerita dan artikel yang saya tulis. Entah telah berapa cangkir Kopi Kapal Api menemani hari-hari saya. Yang jelas, setiap saya menulis, secangkir Kopi Kapal Api dengan setia menjadi teman sejati.



Hingga saya selesai kuliah dan bekerja di sebuah Penerbit Buku di Bandung sebagai editor. Jika dahulu bergelut dengan cerita dan artikel, kali ini saya bergelut dengan manuskrip calon buku. Beruntungnya saya, saya kembali bergelut dengan naskah buku anak dan remaja.
Tidak hanya mengedit, saya pun diberi kesempatan untuk menulis buku, terutama buku anak-anak. Kesempatan tersebut tidak saya sia-siakan. Satu persatu buku yang saya tulis terbit. Awalnya memang tidak mudah, tetapi setelah mencoba malah ketagihan.



Tepat, setelah delapan tahun menulis buku, tepatnya tahun 2009, nama saya tercatat dalam Museum Rekor Muri, sebagai Pengarang Buku Anak Terbanyak dengan 300 Judul Buku Dalam Kurun Waktu 8 Tahun.



Bayangkan, menulis yang awalnya hanya sebuah kesenangan, sekarang menjadi profesi yang menghasilkan. Tidak hanya menghasilkan, tetapi juga sangat menyenangkan. Saya yakin sekali, semua tak akan terjadi tanpa enaknya kopi kapal api yang memang mampu menginspirasi.
Sama seperti Kopi Kapal Api, saya menulis buku anak pun karena ingin menginspirasi anak-anak Indonesia supaya kehidupannya jauh lebih baik, lebih bahagia, dan lebih inspiratif.

Travel Blogger
Inspirasi dari enaknya Kopi Kapal Api ternyata tidak berhenti sampai di sana. Seiring dengan perkembangan zaman, saat ini saya tidak hanya menulis untuk media dan buku, tetapi juga blog alias ngeblog.
Blog saya lebih banyak berisi dunia perbukuan dan traveling yang saya lakukan ke beberapa daerah. Baik yang saya lakukan sendiri, diajak traveling gratis oleh agent travel ataupun memenangkan sebuah lomba blog.
Lomba terakhir yang saya ikuti berhadiah jalan-jalan ke Labuan Bajo. Lagi-lagi saya harus berterima kasih dengan enaknya Kopi Kapal Kapi yang terus menginspirasi tulisan-tulisan traveling saya sehingga saya pun punya cerita tentang #KapalApiPunyaCerita.




Sama seperti saat menulis artikel untuk media atau buku, saat ngeblog pun saya tetap menyeruput Kopi Kapal Api. Bahkan, saat traveling seperti ke Labuan Bajo kemarin pun, tak pernah lepas dari Kopi Kapal Api, padahal di atas Kapal Feri sudah disediakan Kopi Flores.







Jauh sebelum eksplor Labuan Bajo pun, berkat blog saya sempat melakukan tes drive salah satu merk mobil terkenal bareng beberapa travel blogger dari Kota Palu Sulawesi Barat hingga Kota Makasar Sulawesi Selatan. Mengeksplor wisata di Pulau Kyusu Jepang selama satu minggu dan beberapa tempat wisata lain di dalam atau pun di luar negeri. Hampir semuanya gratis.











Kopi Kapal Api Jelas Lebih Enak
Hingga saya menulis ini, saya tetap ditemani secangkir Kopi Kapal Api. Entah, sejak pertama kali menyeruput dahulu hingga kini enaknya tetap tak berubah, tetap menginspirasi. Tak bisa dipungkiri lagi, Kopi Kapal Api memang Jelas Lebih Enak. Paling tidak ada 4 hal yang membuat Kopi Kapal Api Jelas Lebih Enak:
1). Hanya Biji Pilihan
Sejak dahulu Kapal Api selalu menggunakan biji kopi Arabika dan Robusta terbaik untuk bahan kopi yang akan dikemas. Biji kopi juga telah melalui proses seleksi yang ketat.
Meski pun harga kopi di pasaran sedang melonjak, Kapal Api tetap menggunakan biji kopi pilihan untuk menghasilkan kopi dengan aroma yang harum dan rasa yang jelas lebih enak. Hal ini membuktikan bahwa Kapal Api benar-benar konsisten dalam memberikan produk berkualitas terbaik untuk penikmat kopi di Indonesia.
2). Tahap Mix and Roasting
Setelah mendapatkan biji kopi pilihan yang siap untuk diolah, berikutnya biji kopi melalui tahap berikutnya, yaitu mix and roasting. Proses ini yang akan menentukan karakter, aroma, dan cita rasa Kopi Kapal Api.
Prosesnya, biji kopi yang telah benar-benar dipilih dimasukkan ke dalam mesin khusus roasting, lalu disangrai pada suhu sekitar 200 derajat Celcius selama kurang lebih 15 menit.
Tahap mix and roasting ini bertujuan untuk mengurangi kadar air yang terkandung dalam biji kopi. Semakin rendah kadar air dalam biji kopi, maka akan semakin kuat aroma dan cita rasa kopi yang dihasilkan.




3). Tahap Grinding and Quality Control
Supaya menghasilkan kopi yang jelas lebih enak aroma dan rasanya, tahap selanjutnya biji kopi didinginkan di dalam mesin khusus bersuhu sekitar 50 derajat Celcius. Setelah suhu pada biji kopi menurun lantas dimasukkan dalam mesin penggiling hingga halus. Proses ini dinamakan dengan grinding.
Oh iya, mesin grinder secara otomatis akan memisahkan hasil gilingan yang halus dan kasar. Gilingan yang kasar akan kembali diproses hingga benar-benar halus. Sedangkan, gilingan yang sudah halus akan langsung diambil dan diproses hingga tahap pengemasan.
4). Inovasi Tiada Henti
Bukan Kapal Api jika tidak melakukan inovasi tiada henti. Temen-temen mungkin sudah sangat familiar dengan Kopi Kapal Api Special Mix yang sehari-hari diseduh untuk teman beraktivitas.
Apa semua sudah pada tahu, kalau Kapal Api juga mengeluarkan inovasi varian produk bernama Kapal Api Easy Drip? Easy Drip ini dikemas dalam wadah drip bag. Varian produk ini cocok buat yang ingin menikmati sensasi nikmatnya minum kopi layaknya seduhan pourover di kafe favorit.
Ada tiga varian yang bisa dipilih, Kapal Api Easy Drip Flores Manggarai Blend, Kapal Api Easy Drip Luwak Blend, dan Kapal Api Easy Drip Brazilian Blend. Nikmatnya minum Kapal Api Easy Drip, kita bisa menikmati kopi tanpa ampas dengan aroma dan cita rasa yang jelas lebih enak.

Info Tambahan
Tahun 2017, Kapal Api mengeluarkan 3 varian kopi terbaru yang siap memanjakan Teman Ngopi. Kapal Api Special Kemasan Sachet, Kapal Api Special Kemasan Ekonomis, dan Kapal Api White Coffee Premium.
Khusus untuk Kopi Kapal Api Special Kemasan Sachet, saya selalu membawanya ke mana pun, termasuk saat traveling karena memang praktis. Nyeduhnya juga sangat mudah, cukup menyiapkan air panas (90°C-95°C) kurang lebih 200ml untuk mendapatkan segelas kopi yang siap minum.
Memang, sampai saat ini tak bisa saya pungkiri kalau enaknya kopi Kapal Api itu sangat menginspirasi. Siapa pun pasti mengamini dan mengakui jika Kopi Kapal Api, Jelas Lebih Enak!

@KreatorBuku

Inspirasi Menulis Terus Menerus Berkat Enaknya Kopi Kapal Api


SAYA lupa ..., entah sejak kapan ditemani enaknya seduhan Kopi Kapal Api. Barangkali sejak pertama kali menulis puisi anak-anak untuk majalah belasan tahun lalu, saat masih memakai seragam biru putih.
Barangkali saat saya terkantuk-kantuk karena ngotot mengetik cerpen yang ingin segera saya tuntaskan dan kirim ke majalah. Padahal sudah larut malam. Saat itu, almarhum Ibu sering sekali membuatkan kopi yang aromanya hingga kini melekat di benak.
Hingga saya harus melanjutkan sekolah dan memakai seragam putih abu-abu di asrama yang jauh dari Ibu. Kebiasaan menulis semakin menggelora. Terlebih lagi jika tengah berada di depan mesin tik dan ditemani secangkir kopi kapal api, enaknya mampu menginspirasi saya dalam setiap tulisan.
Tak sedikit tulisan yang kemudian dimuat media, baik media daerah atau pun media nasional sejak saya masih berseragam abu-abu putih. Pengalaman indah tersebut membuat saya makin menyenangi dunia tulis menulis. (Zaman sebelum internet merajalela, media massa menjadi satu-satunya media kebanggan penulis seperti saya).

Pengalaman Tak Terlupa
Kebiasaan menulis yang saya lakukan, ternyata tidak bisa dihentikan. Sebaliknya, malah makin menjadi-jadi hingga saya melanjutkan kuliah di Bandung. Bedanya, jika dahulu saya banyak menulis cerita anak, seiring dengan bertambahnya usia dan pengalaman, saya pun menulis cerita remaja.
Saya ingat sekali salah satu moment paling penting yang kemudian membuat saya menceburkan diri menulis cerita remaja dan berani bersaing dengan penulis-penulis favorite saya yang ceritanya sering dimuat di majalah remaja (dahulu banyak majalah remaja yang khusus membuat cerita remaja/ fiksi remaja).
Saat itu saya baru saja mengikuti Ujian Akhir Semester (UAS), karena tidak ada aktivitas lain, saya meluncur ke ruang komputer fakultas yang masih baru. Hari itu saya memang ingin menulis cerita untuk sebuah lomba yang deadline penerimaan naskahnya sudah di depan mata.
Seperti biasa, sebelum menulis, saya menyeruput terlebih dahulu enaknya secangkir kopi kapal api yang saya pesan di kantin fakultas. Berharap, setelah menyeruputnya, ide tulisan yang sudah ada di kepala bisa dituangkan dengan mudah.
Benar saja, tanpa menunggu lama, setelah menikmati enaknya Kopi Kapal Api, ide-ide pun berlompatan ke sana-kemari. Tidak lebih dari dua jam, cerita yang tadinya tertancap di kepala bisa dituangkan dalam komputer dengan sangat mudah.
Setelah saya edit, cerita tersebut kemudian saya print dan kirim ke majalah remaja untuk diikutkan dalam lomba. (Dahulu masih pakai komputer desktop dan belum ada email, semua artikel untuk media dikirim melalui pos, hehehe).
Kurang lebih satu bulan kemudian, saya mendapat telepon dari awak redaktur majalah tersebut. Saya diminta untuk mengikuti malam penganugerahan pemenang Lomba Cipta Cerpen Remaja karena saya menjadi salah satu pemenangnya.



Sungguh antara percaya dan tidak. Saat pengumuman, nama saya dipanggil paling terakhir, saya dinobatkan sebagai pemenang utama. Bagai mimpi di siang bolong, dengan grogi saya menerima Tropy yang selama ini diperebutkan para penulis senior.
Cerpen anak yang saya sertakan dalam lomba di majalah anak-anak nomer wahid di Indonesia pun, tak lama setelah penganugerahan di atas, dinobatkan sebagai salah satu pemenang.
Sejak peristiwa tersebut, saya semakin yakin, enaknya Kopi Kapal Api itu emang benar-benar mampu menginspirasi siapa pun, termasuk penulis seperti saya. Sejak itu, tanpa sehari pun saya lewatkan tanpa ditemani enaknya Kopi Kapal Api.

Dari Cerita Menulis Buku
Selain menulis cerita remaja, selama kuliah saya tetap nulis cerita anak. Di sela-sela kuliah, saya menjadi kontributor tetap rubrik musik, artis, dan hiburan di salah satu koran terbesar di Jawa Barat. Entah telah berapa ratus cerita dan artikel yang saya tulis. Entah telah berapa cangkir Kopi Kapal Api menemani hari-hari saya. Yang jelas, setiap saya menulis, secangkir Kopi Kapal Api dengan setia menjadi teman sejati.



Hingga saya selesai kuliah dan bekerja di sebuah Penerbit Buku di Bandung sebagai editor. Jika dahulu bergelut dengan cerita dan artikel, kali ini saya bergelut dengan manuskrip calon buku. Beruntungnya saya, saya kembali bergelut dengan naskah buku anak dan remaja.
Tidak hanya mengedit, saya pun diberi kesempatan untuk menulis buku, terutama buku anak-anak. Kesempatan tersebut tidak saya sia-siakan. Satu persatu buku yang saya tulis terbit. Awalnya memang tidak mudah, tetapi setelah mencoba malah ketagihan.



Tepat, setelah delapan tahun menulis buku, tepatnya tahun 2009, nama saya tercatat dalam Museum Rekor Muri, sebagai Pengarang Buku Anak Terbanyak dengan 300 Judul Buku Dalam Kurun Waktu 8 Tahun.



Bayangkan, menulis yang awalnya hanya sebuah kesenangan, sekarang menjadi profesi yang menghasilkan. Tidak hanya menghasilkan, tetapi juga sangat menyenangkan. Saya yakin sekali, semua tak akan terjadi tanpa enaknya kopi kapal api yang memang mampu menginspirasi.
Sama seperti Kopi Kapal Api, saya menulis buku anak pun karena ingin menginspirasi anak-anak Indonesia supaya kehidupannya jauh lebih baik, lebih bahagia, dan lebih inspiratif.

Travel Blogger
Inspirasi dari enaknya Kopi Kapal Api ternyata tidak berhenti sampai di sana. Seiring dengan perkembangan zaman, saat ini saya tidak hanya menulis untuk media dan buku, tetapi juga blog alias ngeblog.
Blog saya lebih banyak berisi dunia perbukuan dan traveling yang saya lakukan ke beberapa daerah. Baik yang saya lakukan sendiri, diajak traveling gratis oleh agent travel ataupun memenangkan sebuah lomba blog.
Lomba terakhir yang saya ikuti berhadiah jalan-jalan ke Labuan Bajo. Lagi-lagi saya harus berterima kasih dengan enaknya Kopi Kapal Kapi yang terus menginspirasi tulisan-tulisan traveling saya sehingga saya pun punya cerita tentang #KapalApiPunyaCerita.




Sama seperti saat menulis artikel untuk media atau buku, saat ngeblog pun saya tetap menyeruput Kopi Kapal Api. Bahkan, saat traveling seperti ke Labuan Bajo kemarin pun, tak pernah lepas dari Kopi Kapal Api, padahal di atas Kapal Feri sudah disediakan Kopi Flores.







Jauh sebelum eksplor Labuan Bajo pun, berkat blog saya sempat melakukan tes drive salah satu merk mobil terkenal bareng beberapa travel blogger dari Kota Palu Sulawesi Barat hingga Kota Makasar Sulawesi Selatan. Mengeksplor wisata di Pulau Kyusu Jepang selama satu minggu dan beberapa tempat wisata lain di dalam atau pun di luar negeri. Hampir semuanya gratis.











Kopi Kapal Api Jelas Lebih Enak
Hingga saya menulis ini, saya tetap ditemani secangkir Kopi Kapal Api. Entah, sejak pertama kali menyeruput dahulu hingga kini enaknya tetap tak berubah, tetap menginspirasi. Tak bisa dipungkiri lagi, Kopi Kapal Api memang Jelas Lebih Enak. Paling tidak ada 4 hal yang membuat Kopi Kapal Api Jelas Lebih Enak:
1). Hanya Biji Pilihan
Sejak dahulu Kapal Api selalu menggunakan biji kopi Arabika dan Robusta terbaik untuk bahan kopi yang akan dikemas. Biji kopi juga telah melalui proses seleksi yang ketat.
Meski pun harga kopi di pasaran sedang melonjak, Kapal Api tetap menggunakan biji kopi pilihan untuk menghasilkan kopi dengan aroma yang harum dan rasa yang jelas lebih enak. Hal ini membuktikan bahwa Kapal Api benar-benar konsisten dalam memberikan produk berkualitas terbaik untuk penikmat kopi di Indonesia.
2). Tahap Mix and Roasting
Setelah mendapatkan biji kopi pilihan yang siap untuk diolah, berikutnya biji kopi melalui tahap berikutnya, yaitu mix and roasting. Proses ini yang akan menentukan karakter, aroma, dan cita rasa Kopi Kapal Api.
Prosesnya, biji kopi yang telah benar-benar dipilih dimasukkan ke dalam mesin khusus roasting, lalu disangrai pada suhu sekitar 200 derajat Celcius selama kurang lebih 15 menit.
Tahap mix and roasting ini bertujuan untuk mengurangi kadar air yang terkandung dalam biji kopi. Semakin rendah kadar air dalam biji kopi, maka akan semakin kuat aroma dan cita rasa kopi yang dihasilkan.




3). Tahap Grinding and Quality Control
Supaya menghasilkan kopi yang jelas lebih enak aroma dan rasanya, tahap selanjutnya biji kopi didinginkan di dalam mesin khusus bersuhu sekitar 50 derajat Celcius. Setelah suhu pada biji kopi menurun lantas dimasukkan dalam mesin penggiling hingga halus. Proses ini dinamakan dengan grinding.
Oh iya, mesin grinder secara otomatis akan memisahkan hasil gilingan yang halus dan kasar. Gilingan yang kasar akan kembali diproses hingga benar-benar halus. Sedangkan, gilingan yang sudah halus akan langsung diambil dan diproses hingga tahap pengemasan.
4). Inovasi Tiada Henti
Bukan Kapal Api jika tidak melakukan inovasi tiada henti. Temen-temen mungkin sudah sangat familiar dengan Kopi Kapal Api Special Mix yang sehari-hari diseduh untuk teman beraktivitas.
Apa semua sudah pada tahu, kalau Kapal Api juga mengeluarkan inovasi varian produk bernama Kapal Api Easy Drip? Easy Drip ini dikemas dalam wadah drip bag. Varian produk ini cocok buat yang ingin menikmati sensasi nikmatnya minum kopi layaknya seduhan pourover di kafe favorit.
Ada tiga varian yang bisa dipilih, Kapal Api Easy Drip Flores Manggarai Blend, Kapal Api Easy Drip Luwak Blend, dan Kapal Api Easy Drip Brazilian Blend. Nikmatnya minum Kapal Api Easy Drip, kita bisa menikmati kopi tanpa ampas dengan aroma dan cita rasa yang jelas lebih enak.

Info Tambahan
Tahun 2017, Kapal Api mengeluarkan 3 varian kopi terbaru yang siap memanjakan Teman Ngopi. Kapal Api Special Kemasan Sachet, Kapal Api Special Kemasan Ekonomis, dan Kapal Api White Coffee Premium.
Khusus untuk Kopi Kapal Api Special Kemasan Sachet, saya selalu membawanya ke mana pun, termasuk saat traveling karena memang praktis. Nyeduhnya juga sangat mudah, cukup menyiapkan air panas (90°C-95°C) kurang lebih 200ml untuk mendapatkan segelas kopi yang siap minum.
Memang, sampai saat ini tak bisa saya pungkiri kalau enaknya kopi Kapal Api itu sangat menginspirasi. Siapa pun pasti mengamini dan mengakui jika Kopi Kapal Api, Jelas Lebih Enak!

@KreatorBuku

24 komentar:

  1. Kopi Kapal Api ini kopiku dari kecil. Aku udah minum kopi ini dari kecil gara-gara sekeluarga pada seneng ngopi

    BalasHapus
  2. wowww...keren banget mas. sampe masuk muri gitu. kopi kapal api andalan paksu nihh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih Mbak Lia, hehehe. Sama berarti dunk

      Hapus
  3. mantap kali prestasi dari kang ali ini. keren!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih Koh, sama mantabnya dengan prestasi Koh Dedi

      Hapus
  4. Kopi yang jelas lebih enak. Kusuka jg kopi kapal api terutama kopi lampungnya

    BalasHapus
  5. saya jugaa sukaa minum kopi kapal api sejak kecil...

    BalasHapus
  6. Saya juga pecandu kopi.
    Dan suka juga sama kopi kapal api...
    Kalau penulis biasanya minum ini menemani aktivitasnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaah, rata-rata penulis emang pecandu kopi ya

      Hapus
  7. pengen banget bisa nulis cerpen kaya gini tapi pas dicoba kok kayaknya ceritanya malah hawur2an

    BalasHapus
  8. Saya suka kopi. Kalau ingat kopi Kapal Api ingat bapak, suka sama-sama bikinnya Campur pake susu hehe

    BalasHapus
  9. Kopi Kapal Api, brand kopi di Indonesia ini sudah cukup melekat kuat sampai saat ini. Sambil ngopi biasanya enak kalau ditemani cemilan ya Kang. ;-)

    BalasHapus
  10. Wah kopi saya nih sejak jaman SMA. Di keluarga saya merk ini tak tergantikan

    BalasHapus
  11. Waaah..kopi kapal api mah kesukaan suamiku. kalau saya pas bikinin saya cium dulu aromanya...dan saya suka sama aromanya..

    BalasHapus
  12. Dari penulis buku anak sampai travel writer enak kali Kang Alee ini, semua dicicipi 😀 btw mintak lah kopi kapal apinya hehe, dulu waktu emak ayah buka warung aku sering nyicip kopi kapal api yg dijual lalu diseduh utk dihidangkan buat Ayah, rasanya paaasss...

    BalasHapus
  13. waaah.. kapal api berjasa banget untuk karier Bang Ali nih... keren foto2nya...

    BalasHapus
  14. penulis itu identik banget yah dengan kopi, katanya kopi bisa memberikan inspirasi... apalagi kopi yang diminum adalah kopi kapal api, widih makin banyak isnpirasi yang datang. Kopi ini favourite aku juga lho ^^ jelas lebih enak...

    BalasHapus
  15. kopi kapal api inikopi pertama yang aku tahu sebelum bermunculan merk-merk kopi sekarang. dan ternyata ada varian barunya yaa

    BalasHapus
  16. wah, sudah dapet rekor muri, 300 buku dalam 8 tahun. Subhanallah, kapan aku bisa begitu yaa? apa aku harus minum kopi kapal api dulu biar bisa seproduktif Kang ALe?

    BalasHapus
  17. Saya juga suka ngopi Bang Ali. Salut atas prestasi Bang Ali yang sudah sukses menulis 300 judul buku. Semoga kesuksesan ini menular kepada penulis lainnya. Salam Olahraga!

    BalasHapus

Ditunggu Komentarnya Teman-Teman