Bagi sebagian traveler, menjelajah Indonesia timur, terutama Labuan Bajo sepertinya mainstream sekali. Akan tetapi, karena ini untuk pertama kalinya saya ke sana, saya tetap saja exited. Terlebih lagi Tiket Pesawat sudah ada di tangan.
Bagaimana saya tidak exited? Selama 3 hari 2 malam saya akan tinggal di kapal dan berada di lautan lepas untuk menjelajah dan menikmati keindahan pesona Labuan Bajo!

PAGI-PAGI sekali, usai shalat subuh saya sudah berada dalam Bus Primajasa jurusan Bandung – Bandara Soekarno-Hatta Banten karena dapat jadwal penerbangan dengan Pesawat Garuda Indonesia dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Bandara Komodo Labuan Bajo tepat pukul 10.50 WIB.
Sesuai perkiraan, setelah 3 jam bus yang saya tumpangi menembus jalanan, bus merapat di Terminal 3 Ultimate Bandara Soekarno-Hatta. Saya langsung bergabung dengan teman-teman lain yang sama-sama akan menjelajah Labuan Bajo.
Setelah cek-in dan mengurus bagasi, sesuai waktu yang tertera pada Tiket Pesawat Garuda Indonesia  yang akan membawa kami mengarungi angkasa, pesawat melesat menuju Bandara Komodo Labuan Bajo. Ini yang saya suka dari Garuda Indonesia, selalu tepat waktu, hehehe.
Tiket Pesawat Garuda Indonesia (Foto Ali)

Terbang dari Bandara Soekarno-Hatta Banten menuju Bandara Komodo Labuan Bajo Nusa Tenggara Timur hanya memerlukan waktu kurang lebih 3.5 jam. Saya habiskan dengan tiduran karena semalam tidurnya kurang pulas.
Saya baru terbangun setelah teman sebelah membangunkan, “Sudah sampai Labuan Bajo,” katanya, mirip bisikan komodo yang kegirangan ketemu daging segar.
Karena Bandara Komodo tidak terlalu besar, setiap penumpang tidak boleh berlama-lama berada di area lintasan pesawat. Padahal semua penumpang ingin mengabadikan moment terindahnya di sana. Jadilah, semua terburu-buru masuk ke dalam ruangan Bandara untuk mengambil bagasi dan selekas mungkin menuju pelabuhan dengan bus atau taksi yang sudah dipesan.
Sebelum benar-benar tiba di pelabuhan Labuan Bajo, wisatawan atau traveler biasanya berhenti sejenak di salah satu sudut jalan yang menanjak. Melihat semenanjung pulau-pulau yang akan didatangi selama berada di Labuan Bajo. Namanya Bukit Waringin.

Pulau Kelor Labuan Bajo
Meski badan masih agak capek karena menempuh perjalanan yang cukup padat dan panjang, namun karena rasa kepenasaran yang demikian pekat, begitu naik kapal langsung ingin buru-buru menuju destinasi pertama selama di Labuan Bajo; Pulau Kelor. 
Konon, Pulau Kelor salah satu pulau indah yang ada di semenanjung Labuan Bajo, yang wajib didatangi. Makanya, meski sebelumnya saya tidak pernah mencari tahu, saya ikut penasaran juga.
“Itu pulaunya,” kata Kapten Kapal menunjuk pulau kecil yang menjulang cukup tinggi, begitu kapal ditambatkan di tengah lautan. Kapal tidak bisa merapat di pantainya karena pantainya sangat dangkal.
Satu persatu penumpang diantar menggunakan boat menuju Pulau Kelor. Eh, ini beda banget lho, dengan Pulau Kelor yang ada di Kepulauan Seribu. Meski sama-sama kecil, tetapi tidak ada benteng. Hanya ada bukit, pantai yang dipenuhi tumbuhan, pasir putih, dan taman bawah laut.
Sebagian memilih main dipantai dan pose-pose cantik, sebagian lagi naik ke atas bukit untuk mengabadikan keindahan pamandangan dilihat dari atas bukit, dan sebagian lagi snorkeling.
Pulau Kelor dari kejauhan (Foto Ali)

Pantai Indah Pulau Kelor (Foto Ali)
Karena waktu yang sangat terbatas, saya manfaatkan untuk mengelilingi Pantai Pulau Kelor. Setelah itu ikut gabung melihat keindahan taman bawah lautnya. Awal-awal saya agak menyesal karena terumbu karang di tepi pantai sudah rusak. Mungkin karena sudah banyak yang menjejak.
Saya kemudian mencoba berenang lebih jauh lagi hingga menemukan terumbu karang dan ikan-ikan cantik yang ada di sana. Menemukan indahnya taman laut Pulau Kelor.
Beruntung sekali, ombak laut di sana hampir tidak ada, kalau pun ada sangat kecil, jadi nyaman sekali untuk snorkeling. Ingin sekali rasanya berlama-lama di sana, tetapi karena matahari sudah mulai tenggelam, saya dan teman-teman buru-buru kembali ke kapal untuk istirahat.

Bermalam di Kapal
Destinasi berikutnya adalah Pulau Padar. Bukit yang terkenal dengan Bukit Purba karena jika dilihat dari atas bukit, gugusan bukit dan lautnya seolah tersesat di zaman purba. Letaknya cukup jauh dari Pulau Kelor.
Supaya bisa tiba di sana pagi-pagi, kapal yang membawa kami melanjutkan perjalanan dan akan bermalam di dekat Pulau Padar.
Kapal Pinisi yang Sangat Nyaman (Foto Ali)
“Kita cari tempat yang ombaknya tidak besar,” kata Kapten Kapal sebelum menjalankan kapal.
Karena baru kali ini menginap di kapal, rasanya nggak karuan. Antara senang dan takut bercampur menjadi satu. Beruntung saya sudah benar-benar lelah. Begitu usai makan malam dan shalat, saya langsung tertidur ditemani deru ombak dan angin sepoi-sepoi.

Pulau Padar Labuan Bajo
Pagi-pagi sekali, sebelum matahari terbit, mesin kapal sudah kembali menyala. Saya dan kawan-kawan yang terlelap seketika terbangun. Kapal akan merapat di Pulau Padar.
Pulau Padar adalah pulau ketiga terbesar di Labuan Bajo atau Kawasan Taman Nasional Komodo setelah Pulau Komodo dan Pulau Rinca. Selain itu ada Pulau Bidadari, Kenawa Beach, Loh Buaya, Pink Beach, dan sebagainya.
Pagi-pagi sekali menuju Pulau Padar sebetulnya demi apa? Tak lain dan tak bukan demi mengejar trekking pagi-pagi supaya tidak kepanasaran. Benar saja, sesuai jadwal, kapal merapat di Pulau Padar saat matahari belum tinggi, jadi belum begitu panas.
Trekking Pulau Padar Dimulai dari Pantai Ini (Foto Ali)
Undakan untuk Membantu Trekking (Foto Ali)
Saya pikir trekking di Pulau Padar hanya sebentar, ternyata untuk mencapai bukit perlu waktu kurang lebih 45 menit hingga 1 jam. Tergantung kecepatan kita menaiki bukit.
Beruntung sekali, sekarang sudah dibangun undakan dari kayu dan batu, jadi cukup membantu siapa pun yang akan naik Bukit Padar. Karena sedang tidak musim hujan, sepanjang bukit rerumputan kering karena terpanggang matahari.
Lebih beruntung lagi, meski baru sepuluh menit menaiki bukit, tanda-tanda keindahan lanscape alam sekitar Bukit Padar sudah terlihat. Bahkan sudah dibangun tempat untuk istirahat sekaligus mengabadikan moment indah di sana.
Puncaknya saat benar-benar berada di atas bukit. Masya Allah ... alam ciptaan Sang Kuasa benar-benar terlihat luar biasa indah. Saya sampai tertegun cukup lama saat menikmatinya.
Sebuah pulau besar berdiri tegak dan memanjang bagaikan ular. Di sekelilingnya terlihat pantai dan laut lepas. Bernaung di bawah langit biru yang teramat cerah. Sungguh, nikmat mana lagi yang kau dustakan?
Bukit Padar yang Memesona (Foto Leon)
Indonesia benar-benar luar biasa! Tidak perlu jauh-jauh melihat keindahan ciptakan Sang Khalik. Cukup ke Labuan Bajo, kita akan menemukan salah satu pesona keindahannya.
Menjelang matahari memanas di atas kepala, kita turun dan kembali ke kapal. Menjelang sore, saatnya menikmati keindahan taman bawah laut Pink Beach atau Pantai Pink. Letak Pink Beach kurang lebih 1 jam perjalanan dari Pulau Padar.

Pink Beach Labuan Bajo
Sore-sore traveling ke Labuan Bajo, paling enak tentu menikmati keindahan salah satu pantainya. Makanya, usai berlelah-lelah trekking di Pulau Padar, kapal langsung menuju Pink Beach.
Supaya energi tetap penuh, tak lupa selama dalam perjalan menuju Pink Beach makan siang terlebih dahulu. Bukan apa-apa, biar puas bermain-main dan berenang-renang manja di Pink Beach, hehehe.
Pink Beach bikin penasaran karena warna pasir pantainya berwarna pink. Konon, warna pink atau merah muda yang ada di sana merupakan komposisi dari koral, pecahan kerang, dan kalsium karbonat dari biota laut.
Mungkin karena gemas dan penasaran, banyak wisatawan yang mengambil dan membawanya pulang. Pantas saja, sekarang warna pinknya mulai memudar. Duh, padahal yang dibawa cukup foto dan kenangannya saja, nggak perlu bawa pasirnya segala.
Bukan hanya pantainya yang bisa dinikmati dengan berjemur atau duduk-duduk di bawah pohon yang ada di sekitar pantai, taman bawah laut Pink Beach pun bisa dinikmati dengan snorkeling. Lagi-lagi saya dibuat takjub.
Pesona Pink Beach (Foto Ali)

Pink Beach Dilihat dari Bukit (Foto Ali)

Snorkeling di Pink Beach tidak perlu jauh-jauh, hanya berenang dalam jarang beberapa meter saja sudah disuguhi keindahannya. Taman bawah lautnya juga tidak terlalu dalam, jadi buat yang takut berenang tak perlu khawatir tenggelam atau terseret ombak.
Rasanya ingin sekali berlama-lama di sana jika tidak ingat waktu karena selain terumbu karangnya masih terjaga dengan baik, biota lautnya pun beraneka macam. Rasanya tak cukup jika hanya sebentar.
Karena sudah sore, saya dan teman-teman akhirnya mengalah untuk kembali ke kapal. Malam ini kembali menginap di kapal. Kapal pun kembali berlayar. Kali ini mendekati Pulau Komodo.
Malam kedua berbeda sekali dengan malam pertama. Suasana sudah lebih santai dan bisa menikmati malam di kapal. Suasana kapal malam itu sangat meriah di bawah bintang gemintang yang bergelantungan di atas langit.
Selama makan malam semua bercanda dan cerita pengalaman perjalanan yang pernah ditempuh selama ini. Selain itu menggerakan badan dengan Goyang Maumere. Semua baru terlelap setelah malam benar-benar larut.

Pulau Komodo Labuah Bajo
Pagi-pagi sekali, lagi-lagi saya dan teman-teman dibangunkan suara mesin kapal yang mulai bergerak saat fajar mulai menyingkap alam Labuan Bajo. Kapal berlayar menuju Pulau Komodo.
Setelah fajar menyingsing dan matahari mulai bersinar semua membersihkan diri dan sarapan pagi. Menu pagi ini cukup beragam, tetapi saya hanya ambil pisang coklat keju yang lezat.
Menikmati Pagi dari Atas Kapal (Foto Leon)
Hari ini waktu kita sangat terbatas karena sebelum pukul 14.00 harus sudah kembali ke pelabuhan dan bandara. Saya cek Tiket Pesawat. Jadwal penerbangan Pesawat Garuda Indonesia dari Bandara Komodo – Bandara Soekarno-Hatta Banteng tepat pukul 15.05 WITA.
Menurut perkiraan Kapten Kapal, dari Pulau Komodo menuju Pelabuhan Labuan Bajo kurang lebih 4-5 Jam, jadi ambil short trek alias hanya diberi waktu 1.5 jam saja untuk mengeksplor Pulau Komodo.
Dermaga Pulau Komodo (Foto Ali)

Gerbang Pulau Komodo (Foto Ali)

Jembatan di Pulau Komodo (Foto Ali)

Rusa di Pulau Komodo (Foto Ali)
Karena waktunya sangat singkat, begitu kapal merapat di dermaga, semua berlompatan, seolah berlomba-lomba menuju gerbang Pulau Komodo. Setelah diberi pengaran sebentar, semua berjalan beriringan di belakang pemandu.
Saya agak kaget saat seorang teman menunjuk Komodo sedang tiduran cantik di bawah gazebo. Usut punya usut, komodo tersebut baru saja menghabiskan seekor rusa.
Perjalanan selanjutnya makin mengagetkan dan mendebarkan. Pagi-pagi ternyata Komodo banyak yang berjemur di pantai dan sebagian tiduran manja di tengah rerimbunan hutan. Kurang lebih ada 3 komodo yang menyebar di beberapa tempat. Supaya keamanan tetap terjaga, semua berjalan di belakang pemandu.
Meski keamanan dijaga ketat, tetap saja ada kejadian yang mengerikan. Tiba-tiba seekor Komodo berdiri dan berlari mengejar salah satu teman. Usut punya usut ternyata teman tersebut sedang datang bulan.
Orang yang sedang datang bulan atau sedang terluka sebaiknya tidak masuk ke Pulau Komodo karena jarak penciuman Komodo hingga mencapai 7 Km. Pantas saja dia tahu teman yang sedang datang bulan.
Gagahnya Komodo di Pulau Komodo (Foto Ali)
Pemandu kemudian mengalihkan perhatian Komodo hingga suasana kembali tenang. Teman pun buru-buru kembali ke kapal tanpa terluka sedikit pun. Duuuh, benar-benar pengalaman yang sangat menegangkan.
Walau hanya sebentar, semua tetap bisa menikmati Pulau Komodo dengan bahagia. Salah satunya bisa foto-foto ganteng dan foto-foto cantik bersama tuan rumah alias Sang Komodo.
Tepat pukul 09.00 WITA, semua say goodbye pada pemandu dan Komodo untuk kembali ke dunia nyata. Sambil berharap, suatu kali bisa kembali ke sini, menjelajah nusantara yang indahnya tiara. Supaya bisa kembali ke sana, musti sering-sering mengunjungi Skyscanner.

Mencari Perjalanan di Skyscanner
Saya tahu Skyscanner dari beberapa teman traveler yang lebih sering mencari informasi kebutuhan travel di sana. Skyscanner adalah perusahaan pencarian travel global yang menawarkan jasa pencarian penerbangan, hotel, dan penyewaan kendaraan secara gratis di seluruh dunia.
Skyscanner dirintis pada tahun 2003 dan hadir dalam 30 ragam bahasa. Setiap bulan Skyscanner membantu lebih dari 70 juta orang yang mencari tujuan perjalanan dan tujuan wisata terbaik.
Info dari Skyscanner, dalam tiga belas tahun terakhir Skyscanner telah menyebar di belahan dunia seperti Inggris, Singapura, Beijing, Miami, Barcelona, Indonesia, India, dan sebagainya.

Skyscanner (Foto Web Skyscanner)

Setiap bulan Skyscanner dikunjungi lebih dari 30 juta pengunjung unik. Mereka menggunakan lebih dari 30 bahasa. Wajar sekali jika Skyscanner menjadi tempat paling tepat saat merencanakan perjalanan dengan harga terbaik.  
Sangat wajar sekali jika kita ketik kata kunci Tiket Pesawat, Tiket Murah, dan beberapa kata kunci lain di mesin pencari maka situs Skyscanner langsung muncul di halaman pertama.

Kenapa banyak yang menggunakan Skyscanner? Paling tidak karena ada tiga alasan; Gratis, Hemat waktu dan uang, dan Situs travel terpercaya di seluruh dunia.

Aplikasi Mobile Skyscanner
Supaya memudahkan pengguna, selain web, Skyscanner juga menydiakan aplikasi mobile Skyscanner yang bisa diunduh di playstore. Banyak fitur yang bisa digunakan di sana. Sebut saja misalnya:
1). Fitur Bagan untuk melihat hari atau bulan dengan harga tiket pesawat termurah
2). Fitur Info Harga untuk mendapatkan pemberitahuan bila harga tiket pesawat yang kita cari berubah
3). Fitur Ke Mana Saja untuk mendapatkan penawaran dan inspirasi terbaik
4). Fitur Penelusuran Terkini untuk menelusuri penawaran terkini. (Fitur Penelusuran Terkini bisa diakses dari ponsel, tablet, dan komputer, lho)
5). Fitur Bagikan untuk berbagi informasi berbagai penawaran menarik dengan mudah kepada teman dan keluarga.



Fitur Baru Lainnya
Selain fitur-fitur di atas, ada juga fitur-fitur baru lainnya yang tidak ada pada aplikasi lain. Fitur-fitur yang sangat berguna dan sangat memudahkan pengguna. Fitur tersebut antara lain;
1). Fitur Perjalanan Akhir Pekan yang berguna untuk menemukan harga tiket pesawat murah untuk liburan akhir pekan.
2). Fitur Top Deals yang berguna untuk menjelajahi penawaran tiket pesawat murah dengan tujuan domestik dan internasional.
3). Fitur Pantau Penerbangan yang berguna untuk memantau penerbangan sehingga kita mudah saat mencari penerbangan.
4). Fitur Hotel & Mobil yang berguna untuk mencari tiket sekaligus hotel dan mobil secara bersamaan.
5). Fitur Rating penerbangan yang berguna untuk mendapatkan penerbangan terbaik dengan sistem penilaian dan menggunakan kode warna untuk membedakan faktor harga, jumlah pemberhentian, dan durasi penerbangan.
6). Fitur Tips Perjalanan yang berguna bagi siapa pun yang akan melakukan perjalanan.


Penghargaan
Sebagai alat pencari informasi perjalanan terbaik, Aplikasi Mobile Skyscanner telah diakui keberadaannya. Bahkan mendapat beberapa penghagaan. Berikut ini penghargaan yang telah diraih;
1). New York Times, Review Aplikasi Perencanaan Perjalanan.
2). Webby Awards, nominasi Aplikasi Perjalanan Terbaik.
3). Penghargaan Appy, Aplikasi Perjalanan Terbaik.
4). Refinery29, Hacks Terbaik untuk Mendapatkan Penerbangan Murah.

5). TimeOut, Aplikasi Perjalanan Terbaik.

Kalender Libur 2018
Pada awal tahun 2018, seperti dilansir liputan6.com (19/1/2018), supaya wisatawan Indonesia tidak kesulitan merencanakan liburan, Skyscanner merilis fitur Kalender Hari Libur 2018 yang berguna bagi wisatawan Indonesia saat libur nasional yang berdekatan dengan akhir pekan.
Kalender interaktif ini memberikan usulan jumlah hari cuti yang bisa diambil, rekomendasi tujuan wisata  baik domestik maupun  internasional, berikut informasi harga tiket penerbangan yang paling murah.
Fitur ini menjadi cara termudah dalam merencanakan liburan bagi wisatawan Indonesia di tahun 2018 dengan menampilkan tempat-tempat wisata terpopuler yang kemudian diurutkan berdasarkan harga tiket penerbangan yang paling ekonomis sepanjang tahun.
Skyscanner sendiri bagian dari Ctrip Group. Sebuah perusahaan yang telah memiliki lebih dari 800 anggota tim yang tersebar di penjuru dunia, termasuk Barcelona, Beijing, Budapest, Edinburgh, Glasgow, London, Miami, Shenzhen, Singapura, dan Sofia.
So, sekarang tidak perlu galau lagi saat mencari informasi keperluan wisata karena bisa  mencari melalui Skyscanner. Termasuk saat ingin mencari informasi keperluan wisata ke Labuan Bajo.
 (IG: alimuakhir)



 Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog 
yang diselenggarakan oleh ID Corners dan Skyscanner

Siapa Pun Akan Susah Move On Setelah Menjelajah Labuan Bajo



Bagi sebagian traveler, menjelajah Indonesia timur, terutama Labuan Bajo sepertinya mainstream sekali. Akan tetapi, karena ini untuk pertama kalinya saya ke sana, saya tetap saja exited. Terlebih lagi Tiket Pesawat sudah ada di tangan.
Bagaimana saya tidak exited? Selama 3 hari 2 malam saya akan tinggal di kapal dan berada di lautan lepas untuk menjelajah dan menikmati keindahan pesona Labuan Bajo!

PAGI-PAGI sekali, usai shalat subuh saya sudah berada dalam Bus Primajasa jurusan Bandung – Bandara Soekarno-Hatta Banten karena dapat jadwal penerbangan dengan Pesawat Garuda Indonesia dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Bandara Komodo Labuan Bajo tepat pukul 10.50 WIB.
Sesuai perkiraan, setelah 3 jam bus yang saya tumpangi menembus jalanan, bus merapat di Terminal 3 Ultimate Bandara Soekarno-Hatta. Saya langsung bergabung dengan teman-teman lain yang sama-sama akan menjelajah Labuan Bajo.
Setelah cek-in dan mengurus bagasi, sesuai waktu yang tertera pada Tiket Pesawat Garuda Indonesia  yang akan membawa kami mengarungi angkasa, pesawat melesat menuju Bandara Komodo Labuan Bajo. Ini yang saya suka dari Garuda Indonesia, selalu tepat waktu, hehehe.
Tiket Pesawat Garuda Indonesia (Foto Ali)

Terbang dari Bandara Soekarno-Hatta Banten menuju Bandara Komodo Labuan Bajo Nusa Tenggara Timur hanya memerlukan waktu kurang lebih 3.5 jam. Saya habiskan dengan tiduran karena semalam tidurnya kurang pulas.
Saya baru terbangun setelah teman sebelah membangunkan, “Sudah sampai Labuan Bajo,” katanya, mirip bisikan komodo yang kegirangan ketemu daging segar.
Karena Bandara Komodo tidak terlalu besar, setiap penumpang tidak boleh berlama-lama berada di area lintasan pesawat. Padahal semua penumpang ingin mengabadikan moment terindahnya di sana. Jadilah, semua terburu-buru masuk ke dalam ruangan Bandara untuk mengambil bagasi dan selekas mungkin menuju pelabuhan dengan bus atau taksi yang sudah dipesan.
Sebelum benar-benar tiba di pelabuhan Labuan Bajo, wisatawan atau traveler biasanya berhenti sejenak di salah satu sudut jalan yang menanjak. Melihat semenanjung pulau-pulau yang akan didatangi selama berada di Labuan Bajo. Namanya Bukit Waringin.

Pulau Kelor Labuan Bajo
Meski badan masih agak capek karena menempuh perjalanan yang cukup padat dan panjang, namun karena rasa kepenasaran yang demikian pekat, begitu naik kapal langsung ingin buru-buru menuju destinasi pertama selama di Labuan Bajo; Pulau Kelor. 
Konon, Pulau Kelor salah satu pulau indah yang ada di semenanjung Labuan Bajo, yang wajib didatangi. Makanya, meski sebelumnya saya tidak pernah mencari tahu, saya ikut penasaran juga.
“Itu pulaunya,” kata Kapten Kapal menunjuk pulau kecil yang menjulang cukup tinggi, begitu kapal ditambatkan di tengah lautan. Kapal tidak bisa merapat di pantainya karena pantainya sangat dangkal.
Satu persatu penumpang diantar menggunakan boat menuju Pulau Kelor. Eh, ini beda banget lho, dengan Pulau Kelor yang ada di Kepulauan Seribu. Meski sama-sama kecil, tetapi tidak ada benteng. Hanya ada bukit, pantai yang dipenuhi tumbuhan, pasir putih, dan taman bawah laut.
Sebagian memilih main dipantai dan pose-pose cantik, sebagian lagi naik ke atas bukit untuk mengabadikan keindahan pamandangan dilihat dari atas bukit, dan sebagian lagi snorkeling.
Pulau Kelor dari kejauhan (Foto Ali)

Pantai Indah Pulau Kelor (Foto Ali)
Karena waktu yang sangat terbatas, saya manfaatkan untuk mengelilingi Pantai Pulau Kelor. Setelah itu ikut gabung melihat keindahan taman bawah lautnya. Awal-awal saya agak menyesal karena terumbu karang di tepi pantai sudah rusak. Mungkin karena sudah banyak yang menjejak.
Saya kemudian mencoba berenang lebih jauh lagi hingga menemukan terumbu karang dan ikan-ikan cantik yang ada di sana. Menemukan indahnya taman laut Pulau Kelor.
Beruntung sekali, ombak laut di sana hampir tidak ada, kalau pun ada sangat kecil, jadi nyaman sekali untuk snorkeling. Ingin sekali rasanya berlama-lama di sana, tetapi karena matahari sudah mulai tenggelam, saya dan teman-teman buru-buru kembali ke kapal untuk istirahat.

Bermalam di Kapal
Destinasi berikutnya adalah Pulau Padar. Bukit yang terkenal dengan Bukit Purba karena jika dilihat dari atas bukit, gugusan bukit dan lautnya seolah tersesat di zaman purba. Letaknya cukup jauh dari Pulau Kelor.
Supaya bisa tiba di sana pagi-pagi, kapal yang membawa kami melanjutkan perjalanan dan akan bermalam di dekat Pulau Padar.
Kapal Pinisi yang Sangat Nyaman (Foto Ali)
“Kita cari tempat yang ombaknya tidak besar,” kata Kapten Kapal sebelum menjalankan kapal.
Karena baru kali ini menginap di kapal, rasanya nggak karuan. Antara senang dan takut bercampur menjadi satu. Beruntung saya sudah benar-benar lelah. Begitu usai makan malam dan shalat, saya langsung tertidur ditemani deru ombak dan angin sepoi-sepoi.

Pulau Padar Labuan Bajo
Pagi-pagi sekali, sebelum matahari terbit, mesin kapal sudah kembali menyala. Saya dan kawan-kawan yang terlelap seketika terbangun. Kapal akan merapat di Pulau Padar.
Pulau Padar adalah pulau ketiga terbesar di Labuan Bajo atau Kawasan Taman Nasional Komodo setelah Pulau Komodo dan Pulau Rinca. Selain itu ada Pulau Bidadari, Kenawa Beach, Loh Buaya, Pink Beach, dan sebagainya.
Pagi-pagi sekali menuju Pulau Padar sebetulnya demi apa? Tak lain dan tak bukan demi mengejar trekking pagi-pagi supaya tidak kepanasaran. Benar saja, sesuai jadwal, kapal merapat di Pulau Padar saat matahari belum tinggi, jadi belum begitu panas.
Trekking Pulau Padar Dimulai dari Pantai Ini (Foto Ali)
Undakan untuk Membantu Trekking (Foto Ali)
Saya pikir trekking di Pulau Padar hanya sebentar, ternyata untuk mencapai bukit perlu waktu kurang lebih 45 menit hingga 1 jam. Tergantung kecepatan kita menaiki bukit.
Beruntung sekali, sekarang sudah dibangun undakan dari kayu dan batu, jadi cukup membantu siapa pun yang akan naik Bukit Padar. Karena sedang tidak musim hujan, sepanjang bukit rerumputan kering karena terpanggang matahari.
Lebih beruntung lagi, meski baru sepuluh menit menaiki bukit, tanda-tanda keindahan lanscape alam sekitar Bukit Padar sudah terlihat. Bahkan sudah dibangun tempat untuk istirahat sekaligus mengabadikan moment indah di sana.
Puncaknya saat benar-benar berada di atas bukit. Masya Allah ... alam ciptaan Sang Kuasa benar-benar terlihat luar biasa indah. Saya sampai tertegun cukup lama saat menikmatinya.
Sebuah pulau besar berdiri tegak dan memanjang bagaikan ular. Di sekelilingnya terlihat pantai dan laut lepas. Bernaung di bawah langit biru yang teramat cerah. Sungguh, nikmat mana lagi yang kau dustakan?
Bukit Padar yang Memesona (Foto Leon)
Indonesia benar-benar luar biasa! Tidak perlu jauh-jauh melihat keindahan ciptakan Sang Khalik. Cukup ke Labuan Bajo, kita akan menemukan salah satu pesona keindahannya.
Menjelang matahari memanas di atas kepala, kita turun dan kembali ke kapal. Menjelang sore, saatnya menikmati keindahan taman bawah laut Pink Beach atau Pantai Pink. Letak Pink Beach kurang lebih 1 jam perjalanan dari Pulau Padar.

Pink Beach Labuan Bajo
Sore-sore traveling ke Labuan Bajo, paling enak tentu menikmati keindahan salah satu pantainya. Makanya, usai berlelah-lelah trekking di Pulau Padar, kapal langsung menuju Pink Beach.
Supaya energi tetap penuh, tak lupa selama dalam perjalan menuju Pink Beach makan siang terlebih dahulu. Bukan apa-apa, biar puas bermain-main dan berenang-renang manja di Pink Beach, hehehe.
Pink Beach bikin penasaran karena warna pasir pantainya berwarna pink. Konon, warna pink atau merah muda yang ada di sana merupakan komposisi dari koral, pecahan kerang, dan kalsium karbonat dari biota laut.
Mungkin karena gemas dan penasaran, banyak wisatawan yang mengambil dan membawanya pulang. Pantas saja, sekarang warna pinknya mulai memudar. Duh, padahal yang dibawa cukup foto dan kenangannya saja, nggak perlu bawa pasirnya segala.
Bukan hanya pantainya yang bisa dinikmati dengan berjemur atau duduk-duduk di bawah pohon yang ada di sekitar pantai, taman bawah laut Pink Beach pun bisa dinikmati dengan snorkeling. Lagi-lagi saya dibuat takjub.
Pesona Pink Beach (Foto Ali)

Pink Beach Dilihat dari Bukit (Foto Ali)

Snorkeling di Pink Beach tidak perlu jauh-jauh, hanya berenang dalam jarang beberapa meter saja sudah disuguhi keindahannya. Taman bawah lautnya juga tidak terlalu dalam, jadi buat yang takut berenang tak perlu khawatir tenggelam atau terseret ombak.
Rasanya ingin sekali berlama-lama di sana jika tidak ingat waktu karena selain terumbu karangnya masih terjaga dengan baik, biota lautnya pun beraneka macam. Rasanya tak cukup jika hanya sebentar.
Karena sudah sore, saya dan teman-teman akhirnya mengalah untuk kembali ke kapal. Malam ini kembali menginap di kapal. Kapal pun kembali berlayar. Kali ini mendekati Pulau Komodo.
Malam kedua berbeda sekali dengan malam pertama. Suasana sudah lebih santai dan bisa menikmati malam di kapal. Suasana kapal malam itu sangat meriah di bawah bintang gemintang yang bergelantungan di atas langit.
Selama makan malam semua bercanda dan cerita pengalaman perjalanan yang pernah ditempuh selama ini. Selain itu menggerakan badan dengan Goyang Maumere. Semua baru terlelap setelah malam benar-benar larut.

Pulau Komodo Labuah Bajo
Pagi-pagi sekali, lagi-lagi saya dan teman-teman dibangunkan suara mesin kapal yang mulai bergerak saat fajar mulai menyingkap alam Labuan Bajo. Kapal berlayar menuju Pulau Komodo.
Setelah fajar menyingsing dan matahari mulai bersinar semua membersihkan diri dan sarapan pagi. Menu pagi ini cukup beragam, tetapi saya hanya ambil pisang coklat keju yang lezat.
Menikmati Pagi dari Atas Kapal (Foto Leon)
Hari ini waktu kita sangat terbatas karena sebelum pukul 14.00 harus sudah kembali ke pelabuhan dan bandara. Saya cek Tiket Pesawat. Jadwal penerbangan Pesawat Garuda Indonesia dari Bandara Komodo – Bandara Soekarno-Hatta Banteng tepat pukul 15.05 WITA.
Menurut perkiraan Kapten Kapal, dari Pulau Komodo menuju Pelabuhan Labuan Bajo kurang lebih 4-5 Jam, jadi ambil short trek alias hanya diberi waktu 1.5 jam saja untuk mengeksplor Pulau Komodo.
Dermaga Pulau Komodo (Foto Ali)

Gerbang Pulau Komodo (Foto Ali)

Jembatan di Pulau Komodo (Foto Ali)

Rusa di Pulau Komodo (Foto Ali)
Karena waktunya sangat singkat, begitu kapal merapat di dermaga, semua berlompatan, seolah berlomba-lomba menuju gerbang Pulau Komodo. Setelah diberi pengaran sebentar, semua berjalan beriringan di belakang pemandu.
Saya agak kaget saat seorang teman menunjuk Komodo sedang tiduran cantik di bawah gazebo. Usut punya usut, komodo tersebut baru saja menghabiskan seekor rusa.
Perjalanan selanjutnya makin mengagetkan dan mendebarkan. Pagi-pagi ternyata Komodo banyak yang berjemur di pantai dan sebagian tiduran manja di tengah rerimbunan hutan. Kurang lebih ada 3 komodo yang menyebar di beberapa tempat. Supaya keamanan tetap terjaga, semua berjalan di belakang pemandu.
Meski keamanan dijaga ketat, tetap saja ada kejadian yang mengerikan. Tiba-tiba seekor Komodo berdiri dan berlari mengejar salah satu teman. Usut punya usut ternyata teman tersebut sedang datang bulan.
Orang yang sedang datang bulan atau sedang terluka sebaiknya tidak masuk ke Pulau Komodo karena jarak penciuman Komodo hingga mencapai 7 Km. Pantas saja dia tahu teman yang sedang datang bulan.
Gagahnya Komodo di Pulau Komodo (Foto Ali)
Pemandu kemudian mengalihkan perhatian Komodo hingga suasana kembali tenang. Teman pun buru-buru kembali ke kapal tanpa terluka sedikit pun. Duuuh, benar-benar pengalaman yang sangat menegangkan.
Walau hanya sebentar, semua tetap bisa menikmati Pulau Komodo dengan bahagia. Salah satunya bisa foto-foto ganteng dan foto-foto cantik bersama tuan rumah alias Sang Komodo.
Tepat pukul 09.00 WITA, semua say goodbye pada pemandu dan Komodo untuk kembali ke dunia nyata. Sambil berharap, suatu kali bisa kembali ke sini, menjelajah nusantara yang indahnya tiara. Supaya bisa kembali ke sana, musti sering-sering mengunjungi Skyscanner.

Mencari Perjalanan di Skyscanner
Saya tahu Skyscanner dari beberapa teman traveler yang lebih sering mencari informasi kebutuhan travel di sana. Skyscanner adalah perusahaan pencarian travel global yang menawarkan jasa pencarian penerbangan, hotel, dan penyewaan kendaraan secara gratis di seluruh dunia.
Skyscanner dirintis pada tahun 2003 dan hadir dalam 30 ragam bahasa. Setiap bulan Skyscanner membantu lebih dari 70 juta orang yang mencari tujuan perjalanan dan tujuan wisata terbaik.
Info dari Skyscanner, dalam tiga belas tahun terakhir Skyscanner telah menyebar di belahan dunia seperti Inggris, Singapura, Beijing, Miami, Barcelona, Indonesia, India, dan sebagainya.

Skyscanner (Foto Web Skyscanner)

Setiap bulan Skyscanner dikunjungi lebih dari 30 juta pengunjung unik. Mereka menggunakan lebih dari 30 bahasa. Wajar sekali jika Skyscanner menjadi tempat paling tepat saat merencanakan perjalanan dengan harga terbaik.  
Sangat wajar sekali jika kita ketik kata kunci Tiket Pesawat, Tiket Murah, dan beberapa kata kunci lain di mesin pencari maka situs Skyscanner langsung muncul di halaman pertama.

Kenapa banyak yang menggunakan Skyscanner? Paling tidak karena ada tiga alasan; Gratis, Hemat waktu dan uang, dan Situs travel terpercaya di seluruh dunia.

Aplikasi Mobile Skyscanner
Supaya memudahkan pengguna, selain web, Skyscanner juga menydiakan aplikasi mobile Skyscanner yang bisa diunduh di playstore. Banyak fitur yang bisa digunakan di sana. Sebut saja misalnya:
1). Fitur Bagan untuk melihat hari atau bulan dengan harga tiket pesawat termurah
2). Fitur Info Harga untuk mendapatkan pemberitahuan bila harga tiket pesawat yang kita cari berubah
3). Fitur Ke Mana Saja untuk mendapatkan penawaran dan inspirasi terbaik
4). Fitur Penelusuran Terkini untuk menelusuri penawaran terkini. (Fitur Penelusuran Terkini bisa diakses dari ponsel, tablet, dan komputer, lho)
5). Fitur Bagikan untuk berbagi informasi berbagai penawaran menarik dengan mudah kepada teman dan keluarga.



Fitur Baru Lainnya
Selain fitur-fitur di atas, ada juga fitur-fitur baru lainnya yang tidak ada pada aplikasi lain. Fitur-fitur yang sangat berguna dan sangat memudahkan pengguna. Fitur tersebut antara lain;
1). Fitur Perjalanan Akhir Pekan yang berguna untuk menemukan harga tiket pesawat murah untuk liburan akhir pekan.
2). Fitur Top Deals yang berguna untuk menjelajahi penawaran tiket pesawat murah dengan tujuan domestik dan internasional.
3). Fitur Pantau Penerbangan yang berguna untuk memantau penerbangan sehingga kita mudah saat mencari penerbangan.
4). Fitur Hotel & Mobil yang berguna untuk mencari tiket sekaligus hotel dan mobil secara bersamaan.
5). Fitur Rating penerbangan yang berguna untuk mendapatkan penerbangan terbaik dengan sistem penilaian dan menggunakan kode warna untuk membedakan faktor harga, jumlah pemberhentian, dan durasi penerbangan.
6). Fitur Tips Perjalanan yang berguna bagi siapa pun yang akan melakukan perjalanan.


Penghargaan
Sebagai alat pencari informasi perjalanan terbaik, Aplikasi Mobile Skyscanner telah diakui keberadaannya. Bahkan mendapat beberapa penghagaan. Berikut ini penghargaan yang telah diraih;
1). New York Times, Review Aplikasi Perencanaan Perjalanan.
2). Webby Awards, nominasi Aplikasi Perjalanan Terbaik.
3). Penghargaan Appy, Aplikasi Perjalanan Terbaik.
4). Refinery29, Hacks Terbaik untuk Mendapatkan Penerbangan Murah.

5). TimeOut, Aplikasi Perjalanan Terbaik.

Kalender Libur 2018
Pada awal tahun 2018, seperti dilansir liputan6.com (19/1/2018), supaya wisatawan Indonesia tidak kesulitan merencanakan liburan, Skyscanner merilis fitur Kalender Hari Libur 2018 yang berguna bagi wisatawan Indonesia saat libur nasional yang berdekatan dengan akhir pekan.
Kalender interaktif ini memberikan usulan jumlah hari cuti yang bisa diambil, rekomendasi tujuan wisata  baik domestik maupun  internasional, berikut informasi harga tiket penerbangan yang paling murah.
Fitur ini menjadi cara termudah dalam merencanakan liburan bagi wisatawan Indonesia di tahun 2018 dengan menampilkan tempat-tempat wisata terpopuler yang kemudian diurutkan berdasarkan harga tiket penerbangan yang paling ekonomis sepanjang tahun.
Skyscanner sendiri bagian dari Ctrip Group. Sebuah perusahaan yang telah memiliki lebih dari 800 anggota tim yang tersebar di penjuru dunia, termasuk Barcelona, Beijing, Budapest, Edinburgh, Glasgow, London, Miami, Shenzhen, Singapura, dan Sofia.
So, sekarang tidak perlu galau lagi saat mencari informasi keperluan wisata karena bisa  mencari melalui Skyscanner. Termasuk saat ingin mencari informasi keperluan wisata ke Labuan Bajo.
 (IG: alimuakhir)



 Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog 
yang diselenggarakan oleh ID Corners dan Skyscanner

42 komentar:

  1. Aahh seruu abis ya di Labuan Bajo,suatu saat nani aku pasti kesanaaa, pastinya bakalan susah mupon ya kang..

    BalasHapus
  2. Trekking di Pulau Padar ternyata ada undakannya ya biar memudahkan.. Duh, baca ini aku mupeng banget pingin ke sana.. :D Apalagi nginepnya pun di kapal ya.. Semogaaa ada kesempatan buat ke sana juga..

    BalasHapus
  3. Kece benar liburannya, Kang. Saya langsung mupeng ke sana hehehe. Terima kasih cerita serunya, Kang.

    BalasHapus
  4. aku pun belum pernah ke bajo walau udah jadi mainstream :(

    BalasHapus
  5. Klo ke Labuan Bajo enaknya sekitar bulan apa ya kang?

    BalasHapus
  6. Kesempatan dan pemandangan yang luar biasa sekali ya, Kang. Subhanallah.

    BalasHapus
  7. Surga Dunia, awas ada komodo !

    BalasHapus
  8. mupeeng, semoga kesampaian bisa main ke Labuan Bajo aamiin..

    BalasHapus
  9. Ya ampun, indahnya Indonesia....

    BalasHapus
  10. Ih, jalan-jalan teruuuus
    Bikin mupeng

    BalasHapus
  11. they can help you determine whether the medicine is available or not. (If the first doctor says no, don’t be afraid to try another doctor… or three or four. Some can be a bit stubborn.) low cost long distance movers

    BalasHapus
  12. wih.. bagus banget ya Labuan Bajo. Lautnya bikin seger. Kapan-kapan aku pingin explore Labuan Bajo juga. Tempat ini bakal masuk dalam list akhir tahun .. hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiiin. Semoga secepatnya. Nggak bakal nyesel

      Hapus
  13. waaaahh maoooook jalan2 gratiiisss

    BalasHapus
  14. Foto jalur naik ke Pulau Padar kok agak beda ya Kang. Seingat saya gak pakai jalur seperti ini. Jalurnya kayu semua dari bawah hingga ke sadel.

    Btw udah sejak tahun 2000an saya menggunakan skyscanner, seru banget suka tiba² mendapatkan tiket murah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tangga kayu ada di bawah. Mulai di atas tangga batu

      Hapus
  15. MasyaAllah.. cantik sekali pemandangan alamnya. suatu hari saya harus bisa ke sana.. Aamiin

    BalasHapus
  16. Ada vlognya gak kang? Aku pensaran vlognya kayak gimana kalau disana...

    BalasHapus
  17. Wah ngeri juga ya, kang kalau sampai dikejar komodo secara mereka karnivora juga. Perlu diingat nih kalau misalnya mau ke sana

    BalasHapus
  18. Masya Allah indah banget pemandangannya. Ada Komodo juga bikin mupeng ke sana.

    BalasHapus
  19. liat foto-fotonya indah banget, jadi pengen suatu saar bisa ke labuan bajo

    BalasHapus
  20. Kamar di atas kapalnya unik bangettt. Seru yaa traveling labuan bajonya

    BalasHapus
  21. Labuan Bajo oh Labuan Bajo, ku hanya pernah menginjak airportnya hehe. Moga2 ada kesempatan ke sana lagi, kali ini bisa lihat komodo2nya :D

    BalasHapus
  22. setuju sama judulnya, aku aja susah move on dari sini
    Flores luar biasa cantiknya. aku juga pasang aplikasi skyscanner, memudahkan untuk nyari2 tiket yg sesuai kantong juga

    BalasHapus
  23. sudah dua kali ke Labuan Bajo, lihat postingan ini tetep aja pengen balik lagi

    BalasHapus
  24. huhuhuhu.. kapan ya bisa ke sini lagi..
    Bang Ali harus tanggung jawab nih.. saya nggak bisa move on dari nih pulau..

    BalasHapus
  25. Aw, Labuhan Bajo! My dream destination!

    BalasHapus
  26. Dari dulu pengen banget sail komodo...tapi karena belum ada waktu berhari-hari jadinya ya cuma gigit jari,..hehehe

    BalasHapus

Ditunggu Komentarnya Teman-Teman