SUDAH cukup lama saya ingin sekali ajak anak-anak jalan ke Semarang. Akan tetapi karena waktunya selalu tidak tepat, jadwal yang telah ditetapkan pun selalu saja dilanggar, hehehe.
Makanya, begitu ada waktu luang saya buru-buru cari tiket kereta api ke Semarang. Beruntung banget, masih ada beberapa seat yang masih avalable dalam satu gerbong. Kebetulan anak-anak sudah lama nggak naik kereta, begitu tahu akan jalan-jalan pakai kereta wajah mereka terlihat sumringah.
Jadilah, pada hari yang ditentukan kita berlima naik kereta malam dari Stasiun Hall Bandung menuju Stasiun Tawang Semarang. Karena sudah malam, anak-anak di kereta langsung terlelap. Mereka terbangun saat tiba di Stasiun Tawang sesaat menjelang azan subuh berkumandang.
Begitu matahari mulai bersinar, kita meninggalkan Stasiun Tawang. Tujuan pertama apa lagi kalau bukan sarapan Nasi Ayam khas Semarang. Rasanya kalau ke Semarang tidak sarapan Nasi Ayam tidak lengkap.
Setelah semua kenyang, kami langsung menuju halte terdekat dari Stasiun Tawang. Kami naik bus Trans Semarang menuju destinasi pertama yang akan kita eksplor, yaitu Lawang Sewu. Tidak lebih dari sepuluh (10) menit bus berhenti di halte BRT depan kampus Udinus dan semua turun dengan penuh ceria.

Ngeri-Ngeri Sedap di Lawang Sewu
Dari halte langsung menuju Tugu Muda di Komplek Tugu Muda, Jl. Pemuda, Sekayu, Kota Semarang, Jawa Tengah dan menikmati Semarang di pagi hari. Lanjut mengunjungi Lawang Sewu yang memang berada di dekat Tugu Muda. Karena masih pagi jadi antrean tidak terlalu panjang. Kami pun keliling ditemani seorang pemandu.
Setelah melewati pintu masuk, diarahkan menuju ruang pameran yang berisi foto-foto yang dipajang dengan sangat menarik. Sebetulnya saya ingin sekali berlama-lama di ruangan tersebut, apa daya harus mengikuti anak-anak dan pemandu.
Lawang Sewu merupakan salah satu landmark Kota Semarang yang sangat ikonik. Bangunan peninggalan Belanda paling mistis, tetapi paling dijadikan tujuan utama ketika berkunjung ke Semarang.


Lawang Sewu merupakan Bahasa Jawa yang artinya seribu pintu. Tempat ini dibangun pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1904 dan selesai pada tahun 1907. Bangunan megah tersebut dahulu digunakan sebagai kantor NIS (Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij), sebuah jawatan perkeretaapian swasta yang dimiliki oleh pemerintah Belanda zaman dahulu.
Setelah Belanda pergi meninggalkan Semarang, bangunan Lawang Sewu menjadi milik pemerintahan Jepang pada tahun 1940-an dan diubah menjadi tempat peristirahatan tentara Jepang. Tragisnya, ruangan bawah tanah, digunakan sebagai tempat pembantaian kaum pribumi, pemuda Indonesia serta tahanan Belanda. Maka tak heran jika sering terdengar kisah mengerikan atau horor dari Lawang Sewu mengingat  kisah kelam masa lalu dari tempat tersebut.
Lawang Sewu sendiri, menjadi salah satu saksi bisu dari kekejaman pemerintahan Jepang yang tega menyiksa para tahanan, penduduk pribumi, dan orang-orang yang tidak bersalah.
Setelah Jepang pergi dari Indonesia pada tahun 1945, Lawang Sewu diambil alih pemerintah Indonesia dan resmi menjadi kantor dari beberapa institusi pemerintah Indonesia seperti Djawatan Kereta Api Republik Indonesia (DKARI) yang sekarang dikenal sebagai PT. KAI, Kantor Prasaran Komando Daerah Militer atau (Kodam IV/Diponegoro), dan Kantor Kementrian Perhubungan yang ada di Jawa Tengah.
Selain ruang bawah tanah yang misteri, ada hal menarik yang perlu kita tahu dari Lawang Sewu, seluruh ruangan di sana menggunakan AC alami, jadi meski pun Semarang panas, ruangan di Lawang Sewu tetap dingin.

Megahnya Klenteng Sam Poo Kong
Setelah berkeliling di Lawang Sewu, kami langsung menuju salah satu kuil terbesar di Semarang, Klenteng Sam Poo Kong. Suasana Klenteng Sam Poo Kong sudah ramai. Setelah mengabadikan kenangan di pintu gerbang dan membeli karcis, kami masuk ke dalam.
Klenteng Sam Poo Kong wajib dikunjungi karena penuh dengan jejak sejarah umat Muslim di Indonesia. Dalam sebuah catatan yang saya baca, pada sekitar Abad 14, seorang penjelajah samudra bernama Cheng Ho atau Zheng He atau Haji Mahmud Shams tiba di Kota Semarang.
Cheng Ho dikenal sebagai seorang pelaut dan penjelajah dari daratan Cina yang melakukan pelayaran antara tahun 1405 hingga 1433.  Cheng Ho memang dari keluarga muslim. Ia anak dari Haji Ma Ha Zhi dan ibu dari marga Oen (Wen) di Desa He Tay, Kabupaten Kun Yang. Cheng Ho menjadi salah seorang kepercayaan Kaisar Cina Yongle yang berkuasa dari tahun 1403 hingga 1424 dari Dinasti Ming.
Sejarah mencatat, kapal laut Cheng Ho besarnya tujuh (7) kali lebih besar dari kapal yang digunakan Culombus, si Penemu Benua Amerika.



Begitu tiba di dalam kawasan klenteng, mata saya langsung kelilipan warna merah yang mendominasi bangunan. Ada bangunan klenteng yang sangat besar dan dijadikan panggung dan beberapa bangunan klenteng yang mengitari lapangan.
Bangunan utama Klenteng Sam Poo Kong adalah sebuah gua batu yang dahulu digunakan Laksamana Cheng Ho untuk melakukan ibadah shalat. Uniknya, Laksamana Cheng Ho juga menjadikan gua itu sebagai tempat beribadah untuk para awak kapalnya yang beragama Budha. Tidak heran kalau di sekitarnya juga berdiri sebuah klenteng.
Karena hari telah siang, kami kemudian menuju Masjid Agung Semarang yang cukup megah untuk shalat zuhur. Setelah istirahat dan menikmati kesejukan Masjid Agung Semarang, kami memutuskan makan siang di Kota Lama.

Nostalgia di Kota Lama
Siapa pun yang suka pada bangunan-bangunan tua pasti tidak akan menyia-nyiakan untuk menikmati Kota Lama Semarang karena di sini memang salah satu destinasi wisata yang penuh dengan bangunan tua.


Konon kota lama Semarang mulai berdiri sejak abad 18, ketika pemerintah dipegang oleh Hindia Belanda. Dahulu di sini menjadi pusat perekonomian dan budaya masyarakat Jawa Tengah sekaligus menjadi pusat pemerintahan Hindia Belanda yang berada di Jawa Tengah.
Dahulu, beberapa etnis berkumpul menjadi satu di Kota Lama Semarang. Sebut saja misalmnya di bagian utara yang dipotong oleh Kali Mberok terdapat kawasan kampung melayu yang beragama islam dengan peninggalan berupa Masjid Layur (Masjid Menara).
Pada sisi barat terdapat kawasan orang Jawa islam dengan dibangunnya Masjid Kauman Semarang.  Sisi bagian selatan pemukiman keturunan cina yang berkumpul menjadi satu membentuk kawasan Pecinan Semarang.
Tepat di tengah-tengah Kota Lama Semarang berdiri bangunan kuno dengan arsitek yang cukup apik dan dipertahankan hingga saat ini. Masyarakat menamai bangunan tersebut dengan nama Gereja Blenduk.
Sebelum menjelajah dan mengabadikan diri di sekitar Kota Lama, kita makan siang dulu di salah satu sudut kaki lima di belakang Gereja Bleduk. Bukan makan berat, hanya makan Soto Semarang, tetapi nikmatnya luar biasa.
Kami menjelajah Kota Lama hingga matahari siap istirahat di peraduannya. Karena dari awal hanya trip sehari, kami langsung menuju Stasiun Tawang untuk kembali ke Bandung dengan kereta malam.
@KreatorBuku

Jalan ke Semarang? Jangan Lupa dengan Tiga Tempat Ini


SUDAH cukup lama saya ingin sekali ajak anak-anak jalan ke Semarang. Akan tetapi karena waktunya selalu tidak tepat, jadwal yang telah ditetapkan pun selalu saja dilanggar, hehehe.
Makanya, begitu ada waktu luang saya buru-buru cari tiket kereta api ke Semarang. Beruntung banget, masih ada beberapa seat yang masih avalable dalam satu gerbong. Kebetulan anak-anak sudah lama nggak naik kereta, begitu tahu akan jalan-jalan pakai kereta wajah mereka terlihat sumringah.
Jadilah, pada hari yang ditentukan kita berlima naik kereta malam dari Stasiun Hall Bandung menuju Stasiun Tawang Semarang. Karena sudah malam, anak-anak di kereta langsung terlelap. Mereka terbangun saat tiba di Stasiun Tawang sesaat menjelang azan subuh berkumandang.
Begitu matahari mulai bersinar, kita meninggalkan Stasiun Tawang. Tujuan pertama apa lagi kalau bukan sarapan Nasi Ayam khas Semarang. Rasanya kalau ke Semarang tidak sarapan Nasi Ayam tidak lengkap.
Setelah semua kenyang, kami langsung menuju halte terdekat dari Stasiun Tawang. Kami naik bus Trans Semarang menuju destinasi pertama yang akan kita eksplor, yaitu Lawang Sewu. Tidak lebih dari sepuluh (10) menit bus berhenti di halte BRT depan kampus Udinus dan semua turun dengan penuh ceria.

Ngeri-Ngeri Sedap di Lawang Sewu
Dari halte langsung menuju Tugu Muda di Komplek Tugu Muda, Jl. Pemuda, Sekayu, Kota Semarang, Jawa Tengah dan menikmati Semarang di pagi hari. Lanjut mengunjungi Lawang Sewu yang memang berada di dekat Tugu Muda. Karena masih pagi jadi antrean tidak terlalu panjang. Kami pun keliling ditemani seorang pemandu.
Setelah melewati pintu masuk, diarahkan menuju ruang pameran yang berisi foto-foto yang dipajang dengan sangat menarik. Sebetulnya saya ingin sekali berlama-lama di ruangan tersebut, apa daya harus mengikuti anak-anak dan pemandu.
Lawang Sewu merupakan salah satu landmark Kota Semarang yang sangat ikonik. Bangunan peninggalan Belanda paling mistis, tetapi paling dijadikan tujuan utama ketika berkunjung ke Semarang.


Lawang Sewu merupakan Bahasa Jawa yang artinya seribu pintu. Tempat ini dibangun pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1904 dan selesai pada tahun 1907. Bangunan megah tersebut dahulu digunakan sebagai kantor NIS (Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij), sebuah jawatan perkeretaapian swasta yang dimiliki oleh pemerintah Belanda zaman dahulu.
Setelah Belanda pergi meninggalkan Semarang, bangunan Lawang Sewu menjadi milik pemerintahan Jepang pada tahun 1940-an dan diubah menjadi tempat peristirahatan tentara Jepang. Tragisnya, ruangan bawah tanah, digunakan sebagai tempat pembantaian kaum pribumi, pemuda Indonesia serta tahanan Belanda. Maka tak heran jika sering terdengar kisah mengerikan atau horor dari Lawang Sewu mengingat  kisah kelam masa lalu dari tempat tersebut.
Lawang Sewu sendiri, menjadi salah satu saksi bisu dari kekejaman pemerintahan Jepang yang tega menyiksa para tahanan, penduduk pribumi, dan orang-orang yang tidak bersalah.
Setelah Jepang pergi dari Indonesia pada tahun 1945, Lawang Sewu diambil alih pemerintah Indonesia dan resmi menjadi kantor dari beberapa institusi pemerintah Indonesia seperti Djawatan Kereta Api Republik Indonesia (DKARI) yang sekarang dikenal sebagai PT. KAI, Kantor Prasaran Komando Daerah Militer atau (Kodam IV/Diponegoro), dan Kantor Kementrian Perhubungan yang ada di Jawa Tengah.
Selain ruang bawah tanah yang misteri, ada hal menarik yang perlu kita tahu dari Lawang Sewu, seluruh ruangan di sana menggunakan AC alami, jadi meski pun Semarang panas, ruangan di Lawang Sewu tetap dingin.

Megahnya Klenteng Sam Poo Kong
Setelah berkeliling di Lawang Sewu, kami langsung menuju salah satu kuil terbesar di Semarang, Klenteng Sam Poo Kong. Suasana Klenteng Sam Poo Kong sudah ramai. Setelah mengabadikan kenangan di pintu gerbang dan membeli karcis, kami masuk ke dalam.
Klenteng Sam Poo Kong wajib dikunjungi karena penuh dengan jejak sejarah umat Muslim di Indonesia. Dalam sebuah catatan yang saya baca, pada sekitar Abad 14, seorang penjelajah samudra bernama Cheng Ho atau Zheng He atau Haji Mahmud Shams tiba di Kota Semarang.
Cheng Ho dikenal sebagai seorang pelaut dan penjelajah dari daratan Cina yang melakukan pelayaran antara tahun 1405 hingga 1433.  Cheng Ho memang dari keluarga muslim. Ia anak dari Haji Ma Ha Zhi dan ibu dari marga Oen (Wen) di Desa He Tay, Kabupaten Kun Yang. Cheng Ho menjadi salah seorang kepercayaan Kaisar Cina Yongle yang berkuasa dari tahun 1403 hingga 1424 dari Dinasti Ming.
Sejarah mencatat, kapal laut Cheng Ho besarnya tujuh (7) kali lebih besar dari kapal yang digunakan Culombus, si Penemu Benua Amerika.



Begitu tiba di dalam kawasan klenteng, mata saya langsung kelilipan warna merah yang mendominasi bangunan. Ada bangunan klenteng yang sangat besar dan dijadikan panggung dan beberapa bangunan klenteng yang mengitari lapangan.
Bangunan utama Klenteng Sam Poo Kong adalah sebuah gua batu yang dahulu digunakan Laksamana Cheng Ho untuk melakukan ibadah shalat. Uniknya, Laksamana Cheng Ho juga menjadikan gua itu sebagai tempat beribadah untuk para awak kapalnya yang beragama Budha. Tidak heran kalau di sekitarnya juga berdiri sebuah klenteng.
Karena hari telah siang, kami kemudian menuju Masjid Agung Semarang yang cukup megah untuk shalat zuhur. Setelah istirahat dan menikmati kesejukan Masjid Agung Semarang, kami memutuskan makan siang di Kota Lama.

Nostalgia di Kota Lama
Siapa pun yang suka pada bangunan-bangunan tua pasti tidak akan menyia-nyiakan untuk menikmati Kota Lama Semarang karena di sini memang salah satu destinasi wisata yang penuh dengan bangunan tua.


Konon kota lama Semarang mulai berdiri sejak abad 18, ketika pemerintah dipegang oleh Hindia Belanda. Dahulu di sini menjadi pusat perekonomian dan budaya masyarakat Jawa Tengah sekaligus menjadi pusat pemerintahan Hindia Belanda yang berada di Jawa Tengah.
Dahulu, beberapa etnis berkumpul menjadi satu di Kota Lama Semarang. Sebut saja misalmnya di bagian utara yang dipotong oleh Kali Mberok terdapat kawasan kampung melayu yang beragama islam dengan peninggalan berupa Masjid Layur (Masjid Menara).
Pada sisi barat terdapat kawasan orang Jawa islam dengan dibangunnya Masjid Kauman Semarang.  Sisi bagian selatan pemukiman keturunan cina yang berkumpul menjadi satu membentuk kawasan Pecinan Semarang.
Tepat di tengah-tengah Kota Lama Semarang berdiri bangunan kuno dengan arsitek yang cukup apik dan dipertahankan hingga saat ini. Masyarakat menamai bangunan tersebut dengan nama Gereja Blenduk.
Sebelum menjelajah dan mengabadikan diri di sekitar Kota Lama, kita makan siang dulu di salah satu sudut kaki lima di belakang Gereja Bleduk. Bukan makan berat, hanya makan Soto Semarang, tetapi nikmatnya luar biasa.
Kami menjelajah Kota Lama hingga matahari siap istirahat di peraduannya. Karena dari awal hanya trip sehari, kami langsung menuju Stasiun Tawang untuk kembali ke Bandung dengan kereta malam.
@KreatorBuku

Tidak ada komentar

Ditunggu Komentarnya Teman-Teman