TANPA terasa, rumah yang saya tempati saat ini usianya hampir 18 tahun. Satu tahun lebih tua dari usia si Sulung.

Saya ingat sekali, saat itu cari rumah cukup sulit dan perlu waktu hampir berbulan-bulan. Selain harus rajin datang ke pameran properti untuk mengetahui kompleks perumahan yang sedang dikembangkan dan harganya.

Pulang dari pameran bawa setumpuk katalog untuk dilihat desain rumahnya, lokasinya, harganya, cicilannya, uang mukanya, dan pilihan bank yang akan membantu pembiayaan.

Setelah menimbang-nimbang, pagi hari sebelum masuk kantor atau sore hari setelah pulang dari kantor survey lapangan. Satu persatu kompleks perumahan incaran didatangi.



Tidak jarang, setelah mengecek kecewa karena ternyata antara katalog dan kenyataan di lapangan berbeda. Entah karena bangunannya tidak sesuai dengan spesifikasi, kompleksnya berada di daerah banjir atau ternyata jauh dari kantor.

Belum lagi kalau sudah cocok, harus melalui banyak tahapan pada saat akad dan pembiayaan. Sungguh, saat itu cari rumah benar-benar melelahkan. Melelahkan lahir batin, hehehe.

Beruntung sekali, saat ini ada SiKasep, Aplikasi Cari Rumah Bersubsidi Paling Aman dan Tepercaya jadi bisa mencari rumah cukup dalam genggaman. 


Siapa SiKasep?

Pada saat pandemi seperti sekarang ini, pemerintah di beberapa daerah memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) demi memutus rantai penyebaran COVID-19 (Corona Virus Disease). Pembatasan yang berdampak pada terbatasnya aktivitas belajar mengajar, perkantoran, hingga perniagaan.

Tidak sedikit pula perusahaan yang kemudian merumahkan karyawannya karena perekonomian tidak berjalan normal. Melihat kondisi tersebut, pemerintah dengan berbagai cara membantu masyarakat agar dampaknya tidak semakin meluas.

Salah satu yang dilakukan pemerintah, melalui Pusat Pengelolaan Dana Pembiayaan Perumahan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PPDPP PUPR) memastikan proses penyaluran pembiayaan rumah subsidi tetap bisa dilakukan.

Pemerintah memaksimalkan bantuan atau Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) melalui aplikasi Sistem Informasi KPR Subsidi Perumahan atau SiKasep.



Dengan Aplikasi SiKasep, kita bisa mengetahui perumahan bersubsidi yang tersebar di mana pun berada di wilayah Indonesia. SiKasep diluncurkan pemerintah pada Desember tahun 2019 dan berlaku sejak Januari 2020.

 

Langkah Mudah Menggunakan SiKasep

Sudah siap cari dan beli rumah bersubsidi dengan Aplikasi SiKasep? Kalau sudah siap tinggal unduh aplikasinya di playstore, kemudian ikuti langkah mudah menggunakan SiKasep berikut ini;

1). Rekam Data Diri

Setelah unduh, pertama yang kita lakukan adalah mendaftarkan diri pada bagian pendaftaran di Aplikasi SiKasep. Kita cukup mengisi Nama Lengkap Sesuai KTP, buat Kata Sandi, Konfirmasi Kata Sandi, Nomor KTP, NPWP (Jika belum punya NPWP bisa dikosongkan terlebih dahulu), Penghasilan Perbulan, dan Nomor HP.

Setelah diisi sesuai dengan data, tinggal centrang persetujuan dan melanjutkan proses pendaftaran. Kita nggak perlu takut karena data kita akan terekam secara otomatis dalam PPDPP.

2). Unggah Foto

Sebelum masuk menu utama, kita diminta melengkapi pendaftaran dengan mengunggah foto diri sambil memegang KTP asli serta foto KTP asli. Foto yang kita unggah otomatis akan jadi foto profil, jadi fotonya yang cakep, ya.

Jangan lupa, setelah profil kita muncul, pastikan data yang kita masukan sudah benar dengan klik Profil Saya nanti akan muncul menu Data Pribadi, Data Lokasi Rumah Idaman, Data Perumahan Pilihan, dan Bank Pelaksana.


3). Telusuri SiKasep

Saran saya, sebelum mencari rumah idaman ada baiknya telusuri terlebih dahulu SiKasep dengan cara klik menu Lain-Lain yang ada di menu utama. Pada menu Lain-Lain klik Tata Cara Penggunaan Aplikasi nanti kita akan diarahkan pada link Panduan Penggunaan SiKasep dalam format pdf yang bisa diunduh.

Kemudian ada menu Galeri Rumah Sejahtera, menu Kalkulator KPR Sejahtera untuk menghitung perkiraan jumlah angsuran. Caranya sangat mudah, cukup memasukan harga rumah, tenor (jangka waktu kredit), prosentasi uang muka (DP), klik hitung, perkiraan jumlah angsuran pun muncul. Menu Syarat dan Ketentuan Aplikasi SiKasep dan kontak hotline LPDPP bebas pulsa.

4). Cari Rumah Idaman

Cara mencari rumah idaman menggunakan Aplikasi SiKasep benar-benar sangat mudah. Begitu punya akun, isi data lokasi rumah idaman, cek perumahan sekitar rumah idaman, pilih Bank KPR FLPP, dan langsung ajukan KPR. Setelah mengajukan KPR tinggal cek status pengajuan KPR untuk mengetahui proses status pengajuan KPR kita.

 

7 Kelebihan SiKasep

Sebagai aplikasi cari rumah bersubsidi paling aman dan tepercaya, tentunya SiKasep memiliki banyak kelebihan yang layak diacungi jempol.

1). Ringan

Salah satu indikator aplikasi yang baik adalah ukurannya ringan. Nah, aplikasi sistem informasi KPR Sejahtera FLPP SiKasep yang versi terakhirnya, versi 1.3.12 update tanggal 24 Juni 2020 ini ukurannya sangat ringan, hanya 23M. Pantas, hingga saya menulis ini telah diunduh lebih dari 170.000 pengunduh.

Aplikasi bisa diunduh dengan android versi 5.0 keatas, jadi kalau androinnya masih di bawah itu, segera update.

2). Desain Simple dan Aplikatif

Meski pun SiKasep menjadi salah satu aplikasi dalam kategori Rumah & Griya, tetapi desainnya cukup simple. Padahal biasanya aplikasi dalam kategori ini desainnya cukup beraneka warna.

Saat membuka front page-nya pengguna langsung dihadapkan pada ucapan selamat datang, sebuah logo berupa kunci warna emas, dan pilihan masuk atau daftar.

Desain Back End-nya juga simpel, pada Menu Awal (Profil), di bagian atas berisi foto dan profil pengguna dan di bagian bawah berisi 6 kotak menu utama dengan latar belakang batik. Sangat Indonesia sekali, kan? Dari menu-menu tersebutlah pengguna bisa mengoptimalkan Aplikasi SiKasep. 



3). Mudah Digunakan

Mungkin karena aplikasi ini tujuannya sangat jelas, membantu masyarakat  cari rumah idamannya, maka sangat mudah digunakan. Siapa pun pasti tidak akan bingung menggunakannya.

4). Hanya untuk MBR

Point 4 ini menurut saya sangat penting karena Aplikasi SiKasep sangat memihak MBR. Hanya masyarakat berpenghasilan rendah saja yang bisa mengakses aplikasi ini. Terbukti pada saat isi form penghasilan perbulan. Penghasilan terbesar yang bisa diisi hanya 8 juta saja, tidak lebih.

Artinya, masyarakat berpenghasilan di atas 8 juta tidak akan bisa mengakses fasilitas Aplikasi SiKasep.



5). Ribuan Rumah Bersubsidi

Berdasarkan data management control PPDPP, hingga tanggal 4 April 2020, pada Aplikasi SiKasep ada 8.782 lokasi perumahan dari 5.987 pengembang yang berasal dari 19 asosiasi perumahan. Coba hitung, jika setiap lokasi perumahan ada 100 unit rumah saja, artinya  8.782 X 100 = 878.200 unit.

Pada waktu yang sama, PPDPP mencatat, pengguna Aplikasi SiKasep telah mencapai 170.782 pengguna. Sebanyak 55.702 pengguna telah dinyatakan lolos subsidi checking dan 54.266 pengguna dalam tahap verifikasi bank pelaksana.

Data tersebut pastinya setiap hari akan terus bertambah seiring dengan tingginya antusiasme masyarakat dalam mencari rumah melalui Aplikasi SiKasep.

Tahun ini pemerintah telah bekerjasama dengan 37 bank pelaksana; 10 bank nasional dan 27 Bank Pembangunan Daerah (BPD). Baik bank konvensional maupun bank syariah, jadi buat yang merasa nyaman dengan bank syariah bisa pilih dengan nyaman di Aplikasi SiKasep.

6). Beli Rumah Tanpa Ribet

Karena beli rumahnya melalui aplikasi, maka tidak ribet. Tidak perlu repot menghabiskan waktu mengunjungi pamaren properti atau keliling kompleks untuk cari rumah idaman, seperti yang dulu pernah saya lakukan. Proses mencari dan beli rumah sudah difasilitasi Aplikasi SiKasep. 

7). Aman dan Tepercaya

Aplikasi SiKasep dikeluarkan secara resmi oleh pemerintah dan terhubung secara online antara pemerintah, bank penyalur, dan pengembang menggunakan sistem host to host (sistem antar server yang terhubung satu sama lain secara langsung) jadi aman dari penipuan ketika terjadi transaksi.

Selain itu Aplikasi SiKasep telah terhubung dengan Kementerian Dalam Negeri melalui data kependudukan dan catatan sipil (Dukcapil) sehingga data real time bisa langsung diketahui MBR pendaftar.

Supaya pengguna terjamin keamannya, Aplikasi SiKasep telah diverifikasi Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN). Jika sudah seperti ini, apalagi yang diragukan dan dikhawatirkan coba? So, buat siapa pun yang ingin punya rumah, tidak usah ragu lagi untuk menggunakan Aplikasi SiKasep ini, apalagi jika kalian anak milenial.



 

SiKasep Cocok untuk Generasi Milenial

Generasi Milenial berdasarkan Teori Mannheim adalah generasi yang lahir antara tahun 1981 – 1995. Disebut Generasi Milenial karena satu-satunya generasi yang sempat melewati milenium kedua, semenjak teori generasi dikenal masyarakat.

Generasi Milenial lahir bersamaan dengan era komputer baru mulai booming. Era di mana video games, gadget, smartphone, dan internet sedang berkembang sangat pesat. Tidak heran jika mereka terbiasa dimanjakan dengan fasilitas-fasilitas internet yang memudahkan.

Menurut data PPDPP PUPR, saat ini ada 81 juta Generasi Milenial yang belum memiliki rumah, terutama milenial yang masuk dalam kategori Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Mereka pasar potensial bagi para pengembang. Jika tidak difasilitasi maka akan sangat disayangkan.



Apalagi pemerintah sejak tahun 2010 hingga akhir tahun  2019 lalu, telah menyalurkan FLPP melalui PPDPP PUPR hingga Rp44,329 triliun. Dana tersebut untuk membiayai 655.239 unit rumah yang tersebar di seluruh Indonesia. Tahun 2020 ini, pemerintah menganggarkan  Rp11 triliun untuk membiayai 102.500 unit rumah murah.

Anggaran tersebut bisa ketahui dan diakses dengan mudah oleh  Generasi Milenial melalui Aplikasi SiKasep, pada saat mereka memilih dan membeli rumah bersubsidi. Penyaluran FLPP pun lebih transparan, cepat, tepat, dan akuntabel. So, enak banget kan sekarang? Cari rumah hanya dalam genggaman.

Semoga bermanfaat!


Si Kasep, Aplikasi Cari Rumah Bersubsidi Paling Aman dan Tepercaya


OLAH raga apa yang saat ini rutin dilakukan? Kalau saya pada masa pandemi lebih banyak olah raga ringan seperti jalan atau lari kecil keliling kompleks perumahan. Sesekali bulu tangkis di depan rumah dengan anak-anak.

Bukan apa-apa, meski kondisi saat ini sedang tidak bersahabat lantaran wabah Covid-19, bukan berarti kita hanya berdiam diri, bukan? Justru kalau hanya berdiam diri tanpa olahraga bisa membahayakan kesehatan, terlebih jika sebelum wabah sudah rutin olah raga.

Buat saya, menjaga kesehatan tubuh sangat penting karena salah satu investasi jangka panjang yang perlu kita lakukan, termasuk keluarga kita. Dengan kondisi kesehatan yang baik, otomatis kualitas hidup pun akan baik sehingga mengurangi risiko terkena penyakit, terutama di tengah kondisi pandemi saat ini. Jadi jangan sampai menyepelekan.

Menurut riset yang dikeluarkan Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, penyakit tidak menular kritis menjadi salah satu penyebab angka kematian tertinggi di Indonesia, lho. Sebut saja misalnya stroke, jantung, gagal ginjal, dan sebagainya. Penyakit-penyakit tersebut sering diabaikan karena memang tidak menular.

Meski bukan penyakit menular, kita tetap harus waspada, salah satu caranya dengan gaya hidup sehat. Soalnya Saya pernah merasakan sendiri bagaimana kepanikan melanda saat kakak tertua tiba-tiba jatuh dan pingsan. Setelah dibawa ke dokter, ternyata gejala stroke. Beruntung sekali pada saat itu langsung ditengani dengan benar, jadi tidak sampai stroke.

Sejak kejadian tersebut saya lebih waspada supaya jika tiba-tiba penyakit tidak menular kritis menyerang. Berikut beberapa hal yang perlu dipersiapkan saat ada keluarga atau orang terdekat  terpapar penyakit kritis.

1. Catat Nomor Telepon Darurat

Jika di rumah ada keluarga atau orang terdekat yang memiliki riwayat penyakit kritis, sebaiknya kita harus siaga kapan pun, salah satunya dengan memiliki nomer telepon penting.

Telepon penting tersebut menjadi salah satu langkah preventif supaya ketika tiba-tiba keluarga atau orang terdekat tersebut kembali terserang sakit kita bisa cepat mencari bantuan.

Nomor telepon darurat yang harus kita catat di antaranya nomor telepon dokter yang pernah menanganinya, ambulans, polisi, serta rumah sakit terdekat. Walaupun tidak ada yang menginginkan situasi darurat terjadi, sebaiknya persiapan tetap harus dilakukan.

2. Kenali Penyakit dengan Baik

Setelah keluarga atau orang terdekat kita positif terdiagnosis terkena penyakit kritis, tentu perasaan kita menjadi campur aduk dan khawatir. Daripada terus larut dalam kekhawatiran dan kesedihan, alangkah baiknya jika kita gali lebih dalam informasi terkait penyakit tersebut secara komprehensif.

Kita bisa bertanya pada dokter spesialis terkait, mencari tahu di internet dengan tetap pilih sumber yang kredibel, atau ikut dalam patient group agar bisa bertanya pada keluarga penderita lain terkait pengalaman mereka dalam proses penyembuhan. Satu lagi, kita harus tetap semangat dan tidak pantang menyerah saat mendampingi mereka.

3. Riset Rumah Sakit Spesialis

Setiap penyakit kritis biasanya memiliki rumah sakit spesialisnya sendiri, seperti penyakit jantung, stroke, kanker, dan sebagainya. Kita bisa bantu keluarga atau orang terdekat kita mencari tahu dokter spesialis ahli dan rumah sakit yang sesuai sehingga mempermudah saat akan mengakses layanan kesehatan.

Kita tidak boleh lupa juga untuk mengecek apakah rumah sakit tersebut menerima klaim asuransi? Khususnya klaim asuransi untuk penyakit kritis untuk mempermudah proses pengobatan dan meringankan beban keuangan.


Bermain Bersama di Taman (Ilustrasi dari FWD)

4. Jalani Pola Hidup Sehat

Yuk, ajak keluarga dan orang terdekat kita untuk bersama-sama menjalani pola hidup sehat, terutama keluarga dan orang terdekat yang telah sakit. Dengan mengajak hidup sehat, mereka akan lebih semangat menjalani hidup. Mereka juga tidak merasa sendirian.

Menjalankan pola hidup sehat bisa mulai dengan berolahraga bersama hingga memperhatikan gizi seimbang dalam makanan. Catat dan perhatikan juga makanan-makanan yang sekiranya harus dihindari sesuai dengan penyakit kritis yang diderita.

5. Miliki Asuransi Perlindungan Penyakit Kritis

Setelah ada keluarga atau orang terdekat kita yang terserang penyakit kritis, kini saatnya kita memiliki asuransi yang dapat memberikan perlindungan diri dari penyakit kritis.

Pentingnya Memiliki Asuransi yang Cover penyakit Kritis, jika suatu saat terjadi pada kita, kita sudah siap dan terhindar dari rasa khawatir akan tingginya biaya perawatan yang dapat merusak perencanaan keuangan kita.

Oh iya, salah satu produk Asuransi yang Cover Penyakit Kritis adalah FWD Critical Armor. FWD Critical Armor adalah produk asuransi penyakit kritis yang komprehensif, dirancang untuk membantu nasabah mengurangi kekhawatiran terhadap kerentanan keuangan saat terserang penyakit kritis.


Produk Asuransi Penyakit Kritis FWD Life menanggung hingga tiga kali penyakit kritis major dan satu kali penyakit kritis minor hingga usia 80 tahun dengan total manfaat 420% dari uang pertanggungan.

Selain itu, saat terserang penyakit kritis mayor pertama, nasabah juga akan dibebaskan dari kewajiban membayar premi sejak pertama kali didiagnosis penyakit kritis major dan 100% premi yang telah dibayarkan akan dikembalikan jika tidak ada klaim hingga akhir masa perlindungan.

Jadi, kita tidak perlu khawatir terhadap kerentanan keuangan akibat penyakit kritis sehingga dapat fokus untuk sehat kembali dan pastinya tidak ada yang terbuang percuma. Kamu dapat mencari tahu lebih lanjut tentang FWD Critical Armor melalui web resmi FWD.


Bersama Saling Menjaga (Foto Ali)

Yuk ah, tetap jaga diri dengan melakukan pola hidup sehat, merencanakan keuangan secara baik, dan merencanakan asuransi kesehatan dengan matang supaya hidup kita lebih tenang. Jika hidup kita tenang, hidup keluarga dan orang-orang di sekitar kita pun akan lebih tenang.

Jangan lupa tetap semangat menjalani hari dengan bahagia dan terus lindungi orang-orang tersayang dengan FWD Lifa. Informasi lebih lanjut mengenai FWD Life, silakan kunjungi fwd.co.id.

Salam sehat selalu.

 


Ketika Penyakit Kritis Menyerang Orang Terdekat, Ini Hal yang Harus Dipersiapkan


SIAPA yang suka esports? Sudah tahu belum kalau GoPay lagi ngadain GoPay Arena Championship 2020? Saya yakin banget kalian bakal nyesel kalau nggak ikut turnamen keren ini karena total hadiah utamanya 1 miliar plus puluhan juta saldo GoPay.

Festival Esports Online Terbesar di Indonesia tersebut akan mempertandingkan beberapa game keren seperti game Mobile Legends, PUBG Mobile, dan Free Fire. So, buat kalian yang #SeriusMain, daftarkan saja squad mabar kalian sekarang juga. Soalnya pendaftaran sudah dibuka dari tanggal 16-29 Juni 2020. Info lengkapnya bisa cek gopayarena.id.

Kalau kalian mau daftar, syaratnya sangat mudah, kalian hanya perlu memiliki nomor HP yang terdaftar di aplikasi Gojek pada saat registrasi. Kalian juga harus memiliki tim dengan syarat sebagai berikut:

1). Pemain/anggota harus berusia 16 tahun ke atas.

2). Pemain/anggota hanya dapat berpartisipasi dalam 1 tim.

3). Pemain/anggota hanya dapat berpartisipasi dalam 1 game.

4). Setiap pemain harus menggunakan akun (game) yang sudah didaftarkan.


 

Kategori Pertandingan

Supaya pemain pemula dan pemain pro atau pro player banyak yang bisa ikut pertandingan, GoPay Arena Championship 2020 menggelar dua (2) kategori pertandingan.

1). Kategori Open Qualifier

Kategori Open Qualifier merupakan kompetisi yang dipertandingkan secara online untuk seluruh gamer yang ada di indonesia. Kategori ini terbuka untuk umum. Semua gamer di mana pun berada berkesempatan untuk berebut juara dengan tim pro player.

Jadi ada kesempatan buat kalian yang belum pernah ikut esports atau baru coba-coba ikut pertandingan esports bisa ikut kategori ini. Siapa tahu, dari coba-coba kelak jadi profesional, kan?

2). Kategori Invitation Qualifier

Kategori ini menjadi kategori pertandingan paling bergengsi bagi pemain pro karena mereka akan bertanding dalam skala nasional. Mereka akan berebut menjadi tim yang terbaik dari yang terbaik, jadi sarat dengan gengsi.

O iya, salah satu serunya GoPay Arena Championship 2020, selama turnamen berlangsung masyarakat bisa menyaksikan secara langsung melalui akun YouTube GoPay Indonesia, jadi tidak perlu datang ke arena bisa menyaksikan kepiawaian para pemain pro.

Bukan hanya itu, penonton berkesempatan memenangkan berbagai hadiah seperti voucher dan uang kembali (cashback), dengan cara mengisi ulang saldo GoPay untuk layanan game di Google PlayStore.

Babak kualifikasi bagi tim pro player yang melalui jalur Invitation Qualifier dimulai selama 27 Juni 2020 sampai 19 Juli 2020. Sementara bagi peserta umum yang mendaftar akan mengikuti Online Qualifier yang berlangsung 6 Juli 2020 sampai 26 Juli 2020.

Pada babak ini, panitia memberlakukan sistem gugur untuk menemukan juara kategori. Masing-masing kategori akan memberlakukan sistem gugur untuk menentukan juara kategori. Nantinya para pemenang setiap kategori akan beradu di babak Grand Final.

Sejak awal berkecimpung di esport, GoPay memang terus mendukung gamers untuk tidak hanya #SeriusMain, melainkan juga menjadi gamers yang bertanggung jawab, tetap produktif, gaming positif, tidak menjadi toxic gamer, dan bermain dengan sportif.

Untuk menyuarakan pesan game responsibly-nya, GoPay menggandeng Pevita Pearce, aktris yang juga seorang gamer, sebagai GoPay Gaming & Entertainment Brand Ambassador.


 

Sekilas Tentang Esports

Bagi saya, GoPay Arena Championship 2020 ini menjadi salah satu capaian Indonesia khususnya GoPay dalam dunia esports yang luar biasa. Soalnya, sejak esport berkembang sekitar tahun 1972, tidak banyak turnamen esport yang dipertandingkan di negara kita padahal saat ini perkembangan game sudah sangat luar biasa.

Esport pertama kali dipertandingkan di Universitas Stanford. Saat itu mahasiswa diundang dalam sebuah kompetisi yang diberi nama Intergalactic Spacewar Olympic, sebuah kompetisi untuk game yang berjudul Spacewar dan hanya berhadiah satu tahun langganan Majalah Rolling Stone yang tengah hits pada saat itu.

Setelah pertandingan tersebut berlangsung, mulailah satu per satu kompetisi game bermunculan hingga sekitar tahun 1980-an, Atari menggelar kompetisi Space Invader dengan sekitar 10.000 peserta. Kompetisi tersebut menjadi salah satu kompetisi game fenomenal dan diangkat oleh majalah ternama Amerika Serikat, Life and Time.

Sepuluh tahun kemudian, pada era tahun 1990-an, saat teknologi internet mulai merebak di Amerika Serikat, kompetisi game pun berkembang pesat hingga menjadi kompetisi online game.

Lambat laun, bermunculan organisasi yang mempunyai visi untuk menjadikan kompetisi game  menjadi sebuah industri baru, yaitu industri esports. Ketika itu, game yang dipertandingkan mulai beragam, seperti game Quake, Counter Strike, Warcraft, dan sebagainya.

Masuk tahun 2000-an, perkembangan esports semakin pesat. Korea Selatan menjadi salah satu negara yang paling getol mengembangkan esports ini. Para pemainnya disanjung dan dipuja-puja layaknya sosok artis sekelas EXO, Big Bang, BTS, dan sebagainya.

Esport sekarang telah diakui menjadi salah satu turnamen yang dipertandingkan pada event-event olahraga, baik tingkat nasional, asia, hingga tingkat dunia. So, kalau kalian tidak mengikuti perkembangannya, termasuk tidak mengikuti GoPay Arena Championship 2020, kalian bakal menyesal.



Kapan lagi ikut esports berhadiah sebesar ini di Indonesia kalau tidak sekarang? Pendaftaran sudah dibuka dari tanggal 16-29 Juni 2020. Info lengkapnya bisa cek gopayarena.id.

 Selamat bertanding!


GoPay Arena Championship, Festival Esports Berhadiah 1 Miliar yang Wajib diikuti


TIDAK terasa, saat ini anak-anak sudah mulai beranjak remaja. Si Sulung saat ini sudah kelas 1 SMA atau kelas 10, anak ke 2 sudah kelas 2 SMP atau kelas 8, dan si Bungsu kelas 6 SD. Herannya meski sudah beranjak remaja, hingga sekarang masih suka dibacain cerita.

Mungkin karena sejak mereka baru melek sudah dibacakan cerita, baik dari picture book dan board book yang saya koleksi. Atau, sekadar cerita pengalaman kecil yang saya dapatkan atau bundanya dapatkan ketika ada di luar rumah.

Pengalaman kecil seperti ketemu penjual somay yang mangkal di Balai Kota Bandung, yang selalu bawa sekeranjang buku. Buku-buku tersebut lalu dibaca pelanggannya sambil menyantap somay.


Rahma, Fairy, dan Nada Firdaus (Foto Ali)

Pengalaman kecil seperti ketemu pengamen di perempatan jalan yang main musiknya kompak dan enak didengar, sampai-sampai nggak tega kalau cuma kasih mereka uang Rp 10.000,-.

Pengalaman ketemu teman-teman hebat yang membuat si Sulung terkesan dan membuatnya ingin kenal dan bertemu. Setelah bertemu, dengan berani dia berkenalan dan ngobrol tentang keahlian dan kompetensi yang dimiliki teman-teman saya.

Sebelum ngobrol biasanya si Sulung minta ijin untuk merekamnya dalam sebuah tape recorder kecil (dulu belum ada smartphone yang bisa merekam). Saya biasanya ikut mengabadikannya dengan kamera poket.

Setelah tiba di rumah, si Sulung akan mentranskipnya dalam sebuah tulisan tangan yang terkadang nggak kebaca. Karena saya tidak mau momen itu hilang begitu saja, saya biasanya bantu mengetiknya lalu mengirimkannya ke media massa yang menyediakan lembaran anak-anak. Tidak jarang, tulisannya kemudian dimuat.


Nada dan Adik-Adiknya Menjadi Wartawan Cilik di PeerCil (Foto Ali)

Sebut saja misalnya dimuat di rubrik Warcil (Wartawan Kecil) lembar PeerCil Koran Pikiran Rakyat Jawa Barat, rubrik Pengalamanku Kompas Anak (sudah tidak ada) Koran Kompas,  dan Cerpen di Majalah Beeanglala (sudah tidak terbit).

Beberapa minggu setelah tulisannya dimuat, saya biasanya ajak si Sulung untuk datang ke kantor medianya, terutama di kantor Koran Pikiran Rakyat yang lokasinya di Bandung.

Saya ajak untuk bertemu redakturnya sekaligus ambil honor. Saya sengaja minta dia sendiri yang menandatangani kwitansi honor yang diterimanya supaya dia merasakan, bagaimana rasanya menerima honor.

Ketika di depan orang keuangan, dia sempat ditanya honornya untuk apa. Sungguh, saya sangat terharu dan berkaca-kaca dengan jawabannya. Jawabannya sangat simpel, tetapi bagi saya penuh makna, dia jawab “untuk beli buku”.

 

Mengikuti Jejak Kakak

Seiring dengan bertambahnya usia, tulisan-tulisan si Sulung makin banyak dimuat di media, bahkan salah satu cerpennya menjadi salah satu pemenang Lomba Cerpen Hari Anak Nasional 2011 dan diterbitkan bersama para pemenang dalam sebuah buku berjudul The Pinky Girls (DAR Mizan 2011), saat itu si Sulung menjadi peserta terkecil.

Melihat sepak terjang si Sulung, sepertinya adik-adiknya juga terinspirasi. Tak pelak, adik-adiknya pun mengikuti jejak sang Kakak. Meski tidak seintensif kakaknya, mereka selain rajin baca juga rajin menulis.


Tulisan Nada dan Adik-Adiknya di Berbagai Media (Foto Ali)

Anak kedua –Rahmania Nafisah, selain ikut menjadi wartawan cilik di PeerCil dan berhasil menulis beberapa pengalaman perjalanan, menulis cerpen, juga salah satu cerpennya menang tingkat nasional. Dia berhasil masuk SMP Favoritnya karena prestasi menulisnya.

Si Bungsu –Fairy Shaliha, juga menulis. Bedanya, dia lebih senang menulis puisi dan membacakannya. Puisi-puisinya juga beberapa dimuat di PeerCil. Beberapa kali mewakili sekolahnya untuk lomba baca puisi dan pidato.

 

Berawal dari Buku Pertamaku

Mungkin karena saya suka buku dan mengoleksi banyak bacaan anak, maka hiburan paling gampang untuk anak-anak tak lain dan tak bukan bacain buku. Secara bergantian saya dan bundanya anak-anak bacain buku kapan pun dan di mana pun. Terutama ketika jelang tidur. Hal ini dilakukan semata-mata untuk mengenalkan mereka pada budaya membaca.

Kebiasaan tersebut ternyata sempat membuat si Sulung susah tidur kalau belum dibacain buku atau didengarkan cerita. Saya sampai bela-belain merekam banyak audio podcast cerita anak. Podcast tersebut sering didengar si Sulung sebelum tidur. Begitu pun pada adik-adiknya, jadi kalau lelah atau saya sedang keluar kota dan tidak bisa baca buku, gantinya podcast.

Tanpa sadar, dari kebiasaan tersebut efeknya ternyata anak-anak jadi menyukai bahan bacaan meski mereka belum bisa baca. Budaya membaca terbentuk dengan sendirinya.

Bahan bacaan apa pun yang ada di rumah pasti mereka penasaran. Entah picture book, board book, novel, majalah, koran buat mereka menyenangkan. Mereka bisa asyik membuka-buka bahan bacaan tanpa membacanya, hehehe.


Cerpen Nada diterbitkan Dalam Kumpulan Cerpen (Foto Ali)

Setelah antusias mereka terhadap buku mulai tinggi, saya ajak mereka ke toko buku dan memilih buku pertama mereka. Entah ini kebetulan atau memang sudah dari sononya anak-anak selalu tertarik pada binatang, semua anak saya ketika diminta memilih buku pertamanya di toko buku pasti yang dipilih buku tentang binatang. Terutama board book yang berukuran A4 yang dicetak berwarna.

Dari sanalah, saya dan bundanya anak-anak mulai mengajarkan mereka membaca. Bukan dengan mengeja huruf-huruf yang ada di sana, melainkan langsung membaca kata dan kalimat yang tertera pada buku pertamanya.

Setelah buku pertamanya berhasil dikuasai –dalam arti, anak-anak (seolah-olah) bisa membaca, hampir sebulan sekali mereka memilih bahan bacaan yang mereka sukai. Setiap buku diperlakukan sama, dibacakan apa adanya kemudian anak-anak (seolah-olah) membacanya juga. Begitu terus hingga mereka masuk Taman Kanak-Kanak dan buku pilihannya makin banyak.

Tanpa saya dan bundanya mengajarkan membaca, sebelum mereka selesai Taman Kanak-Kanak mereka sudah bisa membaca, menulis, dan memiliki bahan bacaan favorit masing-masing.

Ada cerita lucu yang hingga kini tak pernah hilang dari ingatan. Kalau pada si Sulung dan adiknya yang nomer dua biasanya kita minta baca sambil kita lihat dan dengarkan, si Bungsu sangat berbeda.

Setiap picture book atau board book yang pada saat malam hari dibacakan, pasti pagi hari, saat sarapan dia akan bacakan untuk kita. Meski belum bisa baca, dia akan membacakannya dengan serius, sampai-sampai kalau kita nggak menyimak dia marah dan mengingatkan kita supaya nyimak, hehehe.

Saat ini anak-anak sudah mulai beranjak remaja. Meski aktivitasnya mulai padat, hampir setiap bulan aktivitas memilih bahan bacaan di toko buku tetap dilakukan. Si Sulung meski sudah jarang nulis, selain aktif sebagai atlet basket, pengurus osis,  aktif di karang taruna di lingkungan rumah juga sering merekomendasikan bacaan yang bermanfaat untuk teman-temannya.

Sementara adik nomer duanya selain aktif sebagai atlet basket, dia senang sekali membuat kue. Tiap minggu, dia habiskan waktunya untuk memilih-milih resep, baik lewat buku atau media sosial yang kemudian dia rangkum menjadi resep kue ala dia. Saya beneran sangat respek karena kue buatannya benar-benar enak. Dia mulai mantab, kelak akan menjadi pengusaha kue.

Terakhir si Bungsu, kemampuan vokal dalam mengekspresikan bait-bait puisi dan retorikanya semakin mumpuni, terakhir dia menduduki peringkat ke-5 lomba pidato antar Sekolah Dasar se-Bandung Raya. Saat ini dia sedang berjuang masuk SMP Favoritnya. Doakan saja, semoga keterima.

Keadaan  anak-anak kini telah berubah kecuali kesukaanya pada buku, membaca, dan dibacakan atau didongengkan cerita walau sudah besar dan bisa membaca. Budaya membaca membuat mereka tahu apa yang harus mereka lakukan untuk mengisi hari-hari mereka. Seperti membaca cerita dari Aplikasi Let’s Read.

 

Aplikasi Let's Read (Foto Ali)

Aplikasi Let’s Read Jadi Andalan

Entah sudah berapa lama saya mengunduh Aplikasi Let’s Read, entah 6 bulan lalu atau 5 bulan lalu, yang pasti saat ini cerita-cerita yang ada di sana menjadi salah satu alternatif bahan bacaan anak-anak di rumah.

Aplikasi Let’s Read adalah aplikasi perpustakaan digital untuk anak (dan orangtua pastinya), yang berisi ratusan cerita menarik dalam berbagai bahasa. Hingga saya menulis ini ada sekitar 44 Bahasa. Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Jawa, Sunda, Minangkabau, Pilipino, Tagalog, Tieng Viet, dan beberapa bahasa daerah di Asia lainnya.

Ada 15 Tema cerita anak yang disediakan Let’s Read. Ada Critical Thinking, Health, Science, Adventure, Animals, Problem Solving, Non-focion, Nature, Funny, Folktales, Community, Family & Frienship, Art and Music, Superhero, dan Mighty Girls.

Supaya memudahkan pembaca, Let’s Read menyediakan juga level bacaan untuk Buku Pertamaku mulai dari level 1 hingga level 5.

Contoh ebook level 1 yang berulang kali dibaca anak-anak, ebook berjudul Semut dan Roti. Buku ini diterbitkan sebuah LSM di Nepal bernama Srijanalaya, dengan dukungan The Asia Fondation’s.


Buku berjudul asli Imuwa Mari (Bahasa Nepal) yang diterbitkan tahun 2018 ini sebelumnya pernah terbit tahun 1965. Ditulis oleh Durga Lal Shrestha dan diilustrasi oleh Binita Buddhacharya.

Ceritanya simpel, tetapi maknanya sangat dalam. Tentang seekor semut di jalan yang menemukan sepotong roti. Semut tersebut tanpa takut-takut menarik dan menyeret roti tersebut. Sayang sekali, rotinya tidak bergerak sama sekali.

Semut kecil kemudian meminta pertolongan untuk menarik roti temuannya. Satu persatu teman-teman membantunya hingga roti tersebut bisa dibawa ke sarang. Roti tersebut kemudian dimakan bersama-sama di dalam sarang.

 Pada cerita tersebut anak-anak dikenalkan tentang bagaimana pentingnya kerja keras, persaudaraan, kekeluargaan, dan pentingnya gotong royong dalam menjalani kehidupan.

Keragaman tema yang disediakan Let’s Read ini sangat menguntungkan pengguna karena bisa dijadikan media informasi dan pembelajaran untuk anak. Media informasi dan pembelajaran yang tidak menggurui tentunya.

 

7 Kelebihan Lets Read

Dari sekian puluh aplikasi perpustakaan digital, saya sangat mengapresiasi dengan keberadaan Let’s Read karena salah satu aplikasi perpustakaan yang focus pada bacaan anak-anak. Sebagai pengguna, saya sangat merasakan manfaatnya.  Let’s Read bermanfaat karena memang memiliki beberapa kelebihan sebagai berikut.

1). Ringan

Aplikasi yang baru update versi terbarunya, versi 1.2.19 pada 3 Juni 2020 tersebut kini telah diunduh 50.000 lebih pengunduh. Sangat wajar jika pengunduh aplikasi yang dirilis 6 Maret 2017 ini cukup banyak karena ukurannya sangat ringan, hanya 2.8 Mb.

Padahal, pada aplikasi ini didominasi konten visual karena bacaan anak memang harus ada mengandung visual supaya lebih menarik.

2). Desain Simpel

Meski kontennya penuh dengan warna, desain aplikasi ini sangat simpel. Begitu membuka aplikasi, pengguna langsung disapa dengan tulisan ajakan membaca berbunyi “Ayo Membaca” dan langsung masuk menu utama.

Pada menu utama pengguna dipersilahkan memilih tiga (3) kategori utama; Buku Unggulan, Semua Buku, dan Buku Unduhan. Pengguna juga bisa mencari kategori buku yang akan dibaca atau dibacakan secara detil. Pengguna cukup klik tanda seach yang ada di bagian atas tampilan. Pengguna bisa memilih bahasa, level atau tingkat bacaan, dan tema. Benar-benar simpel, bukan?


Sangat Ringan dengan Desain Simpel (Foto Ali)

3). Konten Telah Dikurasi

Sebagai perpustakaan digital yang menyediakan buku anak, tentu Let’s Read menerapkan standar yang sangat tinggi. Let’s Read tidak akan sembarangan mengunggah konten yang akan diberikan kepada anak-anak.

Let’s Read diinisiasi oleh Lembaga Pembangunan Internasional Nirlaba, The Asia Foundation. Mereka bekerjasama dengan lembaga-lembaga yang kompeten di setiap negara untuk menghadirkan bacaan bermutu untuk anak.

Terakhir mereka mengadakan Lokakarya Penulisan BookLab 2020 Let’s Read di Jakarta untuk sebuah proyek pengadaan bacaan. Penulis yang telah melewati beberapa tahap seleksi diundang untuk mengikuti lokakarya. Mereka mendapat materi tentang kepenulisan dari para pakar selama beberapa hari.

Selesai lokakarya, mereka menulis bacaan untuk anak yang nantinya akan diunggah di Aplikasi Let’s Read. Tentu saja setelah hasil karyanya telah lolos kurasi. Begitu pun ilustrasinya, telah dikurasi sehingga tidak mengandung unsur yang tidak layak untuk dilihat anak-anak.


Contoh Cerita Fabel (Foto Ali)

4). Jenis Cerita Beragam

Buku cerita yang ada di Let’s Read jenisnya cukup beragam sehingga anak-anak tidak akan bosan. Ada cerita keseharian, cerita rakyat, fabel, dan fantasi. Ceritanya pun dikemas dengan berbagai genre. Ada drama, misteri, humor, dan sebagainya.

Ditambah lagi, cara berceritanya simpel dengan ilustrasi yang sesuai dengan usia pembaca sehingga anak-anak mudah memahami dan mengambil hikmahnya.

5). Belajar Berbagai Bahasa

Konon, salah satu cara mudah mempelajari bahasa itu dengan membaca dan memahaminya lewat cerita. Seperti yang saya ceritakan di atas, Let’s Read menyediakan bacaan anak dalam 44 bahasa. Mulai dari Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, dan beberapa bahasa daerah di Indonesia dan dunia ada.

Jangan khawatir anak-anak tidak paham saat kita membacakan cerita berbahasa Inggris (misalnya) kepada anak-anak kita karena anak-anak akan memahaminya melalui ilustrasi yang digarap dengan sangat menarik.


Contoh Cerita Karya Asli Indonesia (Foto Ali)

6). Bisa Baca dan Cetak

Latar belakang didirikannya perpustakaan digital Let’s Read adalah karena sulitnya pendistribusian buku ke pelosok negeri dan untuk efesiensi alias memudahkan pengguna mengakses di mana pun dan kapan pun, Let’s Read membolehkan penggunanya untuk mencetak buku yang telah disediakan. Syaratnya, dicetak untuk dibaca bukan untuk dikomersilkan karena ada Hak Cipta di sana.

Kabar baiknya, siapa pun yang ingin mencetak bisa langsung unduh dari website letsreadasia.org dan tidak perlu izin. Setelah diunduh silahkan dicetak untuk dibacakan atau dibaca anak-anak kita.

7). Mudah dan Gratis

Siapa yang tidak suka pada hal yang mudah dan gratis di dunia ini? Saya yakin siapa pun pasti suka, hehehe. Apalagi yang mudah dan gratis itu sangat berguna dan bermanfaat seperti Aplikasi Let’s Read.

Setelah pengguna mengunduh aplikasi, pengguna dengan mudah bisa menggunakannya. Pengguna bisa cukup dengan membacanya saja dengan syarat dalam keadaan online atau bisa juga mengunduhnya supaya bisa dibaca kapan pun dan di mana pun.

Cukup dengan satu (1) aplikasi pengguna sudah membawa ratusan judul buku yang bisa dibaca anak-anak atau dibacakan kepada anak-anak tanpa takut kehabisan bahan bacaan, hehehe.


Jadi, daripada mengunduh aplikasi macam-macam, lebih baik unduh aplikasi bermanfaat seperti Aplikasi Let’s Read. Caranya sangat gampang, tinggal buka playstore, cari dengan kata kunci Le’st Read dan langsung unduh.

Saat ini karena anak-anak sudah besar dan sudah diperbolehkan memiliki gedget. Selain ada beberapa syarat yang diberikan, terutama jadwal penggunaan dan pemanfaatan, ada satu (1) syarat yang tidak boleh dilewatkan yaitu wajib unduh Aplikasi Let’s Read. Bukan apa-apa, supaya anak-anak tetap bisa baca ketika sedang dalam perjalanan atau sedang santai.

Semoga bermanfaat.


Let’s Read Bahan Bacaan Alternatif untuk Anak-Anak di Rumah