PERNAH mampir di cafe atau coffe shop yang bisa ngeracik dan seduh kopi sendiri nggak? Bukan seduh kopi sasetan lho, melainkan seduh kopi beneran, hehehe. Jadi kita pilih biji kopi sendiri, biji kopi yang disediakan di cafe tentunya. Terus kita giling sendiri, racik sendiri, dan seduh sendiri.
Selama ini saya selalu seduh kopi sendiri, biasanya beli biji kopi yang sudah disangrai dan siap untuk digiling. Akan tetapi, karena kadang ngegilingnya nggak pas jadi rasanya nggak sesuai harapan. Jadi saya beli kopi yang sudah digiling dan siap diracik.
Karena waktu saya nggak banyak, saya lebih memilih racik kopi pakai coffe makker. Saya tinggal ambil kopi bubuk dan air sesuai takaran. Masukan kopi dan air di coffe maker lalu nyalakan. Setelah beberapa menit menunggu, jadilah kopi yang saya inginkan.
Masalahnya, kadang saya juga ingin sesekali meracik dan seduh sendiri secara manual. Pernah beberapa kali mencoba, tetapi hasinya kurang memuaskan, habis nyobanya tanpa bimbingan, hehehe.
Nah, kebetulan banget, di dekat rumah ada Kopi Dewa. Saya dengar dari Teh Ima –teman Blogger Bandung yang juga suka ngopi, di Kopi Dewa kita bisa seduh kopi sendiri. Hebatnya, harga yang ditawarkan murah banget, cukup Rp5000,- saja.

Kang Restu Dewa dan Pengunjung Sedang Berinteraksi (Foto Ali)
“Seduh Goceng,” kata sang pemilik Kopi Dewa, Kang Restu Dewa saat saya datang bareng keluarga di sore hari, di tengah hujan rintik-rintik.
Kok saya bawa pasukan sih, buat ngopi-ngopi dan ngerasain #SeduhGoceng? Bukan apa-apa, anak-anak juga mulai suka ngopi, sayang kan kalau saya belajar seduh sendirian saja? Alhasil, sore itu saya dan anak-anak belajar seduh kopi.

Kopi Dewa Bukan Sekadar Cafe
Awalnya saya pikir Kopi Dewa itu cafe, saya sempat kepoin istagramnya, scrool feed-nya hingga ke bawah sama sekali nggak ada menu terpampang di sana. Setelah tiba di lokasi baru tahu, Kopi Dewa memang bukan cafe melainkan Roastery and Minilab. Pantas tidak ada menu, hehehe.
Meski pun tidak ada menu, banyak pilihan kopi yang ditawarkan dan bisa dipesan di sana, termasuk minuman yang jadi favorite anak-anak sekarang seperti Taro, Green Tea, dan Red Velvet. Si Bungsu waktu ditawari minuman langsung pilih Taro hangat.

Dede Fairy Pesan Taro (Foto Ali)
Saya sendiri yang sore itu masih agak-agak pilek lebih memilih Coffe Latte hangat, sementara si Sulung pilih  Cappuccino dingin. Saya sempat tanya bedanya Coffe Latte sama Cappuccino, soalnya dari cara Kang Restu ngeracik nggak ada bedanya.
“Bedanya pada komposisi antara kopi dan susu, Kang,” jelas Kang Restu.
Selain Coffe Latte dan Cappuccino ada Flat White. Ketiga jenis menu tersebut kayaknya di setiap cafe ada, soalnya memang jadi minuman paling populer dan sering dipesan pengunjung.
Ketiga minuman tersebut memiliki dua bahan utama yang sama yaitu susu atau textured milk dan espresso yang diracik dengan cara berbeda dan disajikan dalam wadah dan aturan berbeda pula.
Jika Cafe Latte perbandingan antara espresso dan susunya kurang lebih 25 : 75, kalau Cappucinno perbandingannya kurang lebih 50 : 50. Makanya, Cafe Latte memiliki rasa susu atau creamy yang jauh lebih kuat dibandingkan dengan cappuccino.
Sementara kalau Flat White konon katanya perpaduan dari Cafe Latte dan Cappucino. Ah, saya belum belajar ini, jadi belum tahu. Nanti kalau ke Kopi Dewa lagi tanya ke Kang Restu.
Kopi yang Dijual dan Alat Seduh di Kopi Dewa (Foto Ali)

Seduh Goceng Kopi Dewa
Setelah minuman yang saya pesan habis, Kang Restu nawarin seduh goceng. Ya ampuuun, saya pengin banget, tetapi hidung rada mampet, takut hasilnya nggak maksimal. Akhirnya, si Sulung yang coba Seduh Goceng.
Sulung yang sekarang udah kelas 1 SMA di SMAN 20 Bandung sudah sering wara-wiri di coffe shop sama teman-temannya. Apalagi dia aktif di OSIS, jadi aja sering meetingnya di coffe shop dan sambil ngopi pastinya.
Sulung memilih kopi yang disedaikan di dalam beberapa toples. Sulung memilih jenis Ciwidey Natural. Kebetulan sudah ada yang digiliring jadi tidak perlu mengiling lagi. Untuk meracih dan menyeduh kopi, Sulung memilih coffee dripper V60.

Kak Nada Nyobain Seduh Goceng (Foto Ali)
Dengan dipandu Kang Agil, salah satu barista di Kopi Dewa, Sulung mulai meracik. Mulai dari menyiapkan coffe driver V60, memasang penyaringnya, membasahi penyaringnya dengan mengucurkan air melalui teko, memasukan kopi ke dalam driver sesuai timbangan, hingga menyeduh kopi hingga tuntas.
Selama proses meracik dan menyeduh si Sulung terlihat menikmatinya. Tahapan mulai dari meracik, menyeduh, hingga menyajikan dalam sebuah gelas dilalui dengan santai.
Setelah kopi jadi, kita diberi tahu cara menyeruput kopi yang benar. Mulai dari mengambil sendok, mencelupkannya pada air putih yang ada dalam gelas, mengambil sesendok kopi, menempelkannya pada bibir bawah (proses ini untuk mengecek apa kopinya masih panas atau tidak), setelah itu diseruput dengan satu tarikan keras.

Sore-Sore Seduh Goceng di Kopi Dewa (Foto DokPri)
Saat menyoba menyeruput kopi semua ketawa, harusnya menimbulkan suara srupuuut, eh, ini tidak menimbulkan suara apa pun, hahaha. Karena penasaran semua mencobanya, termasuk saya.
Tanpa terasa, sore semakin larut dan azan magrib berkumandang. Setelah kopi yang diseduh si Sulung habis, kami semua meluncur menuju masjid yang lokasinya tidak jauh dari Kopi Dewa.
Saya sempat tanya sama Sulung, apa masih penasaran buat Seduh Goceng lagi? Dengan mantab dia mengangguk, “Kalau bisa seminggu sekali, Kakak mau. Mau nyobain semua alat,” katanya menutup sore yang indah di ujung Bulan Desember yang gerimis. Mau Seduh Goceng juga? Yuk datang saja ke Kopi Dewa.  

Kopi Dewa
Komplek Bahagia Permai, Margacinta,
Jl. Bahagia Permai Raya No.2, Margasari,
Kec. Buahbatu, Kota Bandung, Jawa Barat 40286.

Seduh Goceng di Kopi Dewa Itu Bikin Pengin Seduh Terus




BEBERAPA waktu lalu, saya ikut acara ngobrol-ngobrol santai tentang mengelola keuangan. Ada satu hal yang membuat saya tercengang, terutama ketika salah satu pemateri yang notabene seorang Financial Planner bilang jika saat ini, siapa pun termasuk Kaum Milenial telah terpapar Latte Factor.
Latte Factor adalah berbagai pengeluaran kecil yang tidak disadari, tetapi rutin sehingga ketika dijumlahkan selama 1 bulan bahkan 1 tahun nilainya bikin mata terbelalak. Misalnya jajan air kemasan, camilan, top-up uang elektronik, ngopi di cafe, dan hal-hal kecil lain yang menjadi gaya hidup.
Contoh jajan kopi di cafe yang hanya Rp50.000,- perhari. Nilai tersebut jika dikalikan satu bulan bisa mencapai Rp50.000,- x 30 (hari) = Rp1.500.000,-. Coba dikali satu tahun? Hasilnya cukup mencengangkan. Hanya untuk ngopi saja setahun harus mengeluarkan Rp1500.000,- x 12 (bulan) = Rp18.000.000,-.
Latte Factor banyak menjangkiti Kaum Milenial karena mereka generasi yang terbiasa dengan kecanggihan teknologi, ditambah semakin mudahnya berbagai akses kebutuhan hidup melalui gadget. Kebiasaan ini membuat mereka lebih gampang mengeluarkan uang hanya untuk eksistensi di media sosial, ikut-ikutan tren atau memuaskan nafsu belanja yang disesali kemudian.
Apa yang saya dapat dalam acara tersebut semakin dikuatkan ketika Senin, 23 Desember 2019 lalu saya ikut Financial Digital Influencer Camp dengan tema “Financial Freedom in Digital Era”, yang digelar Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dan Ayo Media Network di Hotel Courtyard, Jalan Dago Bandung.
Peserta Financial Digital Influencer Camp (Foto Ali)
Dalam acara bincang-bincang santai yang dihadiri media, blogger, influencer, dan para mahasiswa tersebut mendatangkan AZ Mutakim –Public Relation Officer LPS dan Mellysa Widyastuti –Social Media Strategist Ayo Media Network.

Kaum Milenial Boros
Mellysa yang menjadi pembicara kedua memberikan statement yang cukup menampar Kaum Milenial. Dia bilang, “Milenial Indonesia senang mengeluarkan uang untuk dikenang, bukan untuk dimiliki.”
Statement tersebut tentu bukan tanpa alasan. Paling tidak ada lima (5) hasil survei yang melatarbelakanginya;
1). 95% Milenial Indonesia diprediksi tidak memiliki rumah di tahun 2020.
2). Menutut Go Banking Rate; Milenial sangat boros untuk kebutuhan gaya hidup.
3). 69% Milenial Indonesia tidak memiliki stategi keuangan (Asia Tenggara Luno).
4). Bunga tabungan Milenial kalah dengan inflasi.
5). 80% Milenial memiliki tabungan konvensional.
Dari hasil survei tersebut kita bisa menyimpulkan jika Kaum Milenial memang hidupnya boros banget. Mungkin karena jaman sudah berubah. Kondisi seperti ini jika dibiarkan tanpa edukasi tentu akan merugikan Kaum Milenial.

Padahal, Kaum Milenial adalah generasi ke depan yang akan membangun bangsa. Apa jadinya jika mereka lalai? Mengelola keuangan diri sendiri saja tidak becus apalagi mengelola keuangan negara, coba?
Padahal di era digital seperti sekarang ini, Kaum Milenial dimanjakan dengan kemudahan akses dalam mencari pendapatan. Baik melalui dunia kreatif yang saat ini sedang tumbuh pesat atau cukup mengoptimalkan media sosial yang mereka miliki.
Mereka bisa menjual barang, jasa, atau kebisaan apa pun yang mereka miliki melalui media sosial. Bisa menjadi blogger, vlogger, selebgram, youtuber atau influencer berbagai brand.
Tidak sedikit pula Kaum Milenial yang usianya belum genap 20 tahun sudah menjadi miliarder atau memangku sebuah jabatan di perusahaan yang dirintisnya. Semua sukses berkat media sosial.
Mereka juga menjadi panutan bahkan diidolakan. Tidak heran jika anak-anak sekarang ditanya cita-cita, mereka dengan lantang menjawab ingin menjadi selebgram, menjadi vlogger, youtuber, atau bisnis online. Sudah jarang yang ingin menjadi guru, polisi, atau presiden, hehehe.
 Anak-anak jaman now tahu, jika sukses menjadi youtuber bakal kaya raya. Padahal kerjanya seolah mudah, hanya bikin video yang informatif duit akan mengalir begitu saja. Mereka belum tahu, untuk membuat video itu effort-nya luar biasa. Begitu pun profesi lain di era digital.

Nabung di Bank, Yuk
Pada awal pemaparan, Mellysa menjelaskan tema yang diusung pada Financial Digital Influencer Camp kali ini. Financial Freedom in Digital Era yang dimaksud adalah kita memiliki pendapatan pasif, pendapatan aktif, dan pendapatan investasi.
Pendapatan pasif, pendapatan yang diperoleh dari aset yang kita miliki, jadi biarkan aset yang bekerja dan menghasilkan. Pendapatan aktif, pendapatan yang dihasilkan dengan cara menukar waktu dan pikiran alias bekerja. Pendapatan investasi, uang yang bekerja untuk kita.
Semua pendapatan tersebut akan membuat kita menjadi seorang yang bebas secara keuangan dengan catatan kita mampu mengelolanya dengan benar. Catat ya, mengelola dengan benar.
Mellysa Widyastuti –Social Media Strategist Ayo Media Network (Foto Ali)
Salah satu cara mengelola keuangan yang dianjurkan adalah dengan menabung. Kenapa menabung? Karena menabung banyak sekali manfaatnya. Sebut saja misalnya untuk kebutuhan yang sifatnya mendadak, pendidikan, sarana menggapai impian, beli properti, investasi, dan sebagainya sehingga uang yang kita hasilkan tidak lenyap dan tinggal kenangan.
“Kalau bisa setiap bulan kita sisihkan rutin uang tabungan dan selebihnya untuk keperluan sehari-hari. Jangan kebalik, nabungnya dari uang sisa keperluan sehari-hari,” tegas Mellysa sambil tersenyum kecil.

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS)
Salah satu kelebihan menabung di Bank, selain tabungan kita menumpuk dengan aman, tabungan kita juga dijamin Lembaga Penjamin Simpanan atau LPS sehingga keamanannya semakin terjamin.
“Sejarah berdirinya LPS sendiri cukup berliku. Berawal dari tahun 1998, saat krisis moneter menghantam Indonesia. Krisis tersebut mengakitbatkan 16 bank dilikuidasi dan kepercayaan masyarakat pada perbankan menurun,” ungkap AZ Mutakin yang menjadi pembicara pertama.
AZ Mutakim –Public Relation Officer LPS (Foto Ali)
Pada saat itu pemerintah sempat mengeluarkan kebijakan memberikan jaminan untuk seluruh kewajiban bank terhadap nasabahnya, termasuk simpanan masyarakat yang dikenal dengan blanket guarantee.
Kebijakan tersebut ternyata mampu mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap perbankan. Sayangnya, karena ruang lingkup penjaminannya terlalu luas, malah membebani keuangan negara dan bisa menimbulkan moral hazard bagi pelaku perbankan dan nasabah.
Pemerintah kemudian membentuk LPS, sebuah lembaga independen yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan (UU LPS) yang diubah dengan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2009. UU LPS diundangkan tanggal 22 September 2004 dan mulai berlaku 12 bulan setelah diundangkan, yaitu tanggal 22 September 2005.
LPS diberlakukan sejak tanggal 22 September 2005. Perubahan yang signifikan dalam penjaminan melalui LPS adalah dihapusnya blanket guarantee menjadi limited guarantee atau penjaminan terbatas.

Tugas Lembaga Penjamin Simpanan
LPS selain menjamin simpanan nasabah bank juga ikut aktif memelihara stabilitas sistem perbankan sesuai kewenangannnya. Simpanan nasabah bank yang dijamin, simpanan dalam bentuk tabungan, deposito, giro, sertifikat deposito, dan bentuk lain yang dipersamakan dengan apa yang saya sebut di atas.
LPS juga menjamin simpanan nasabah bank syariah yang berbentuk giro wadiah, tabungan wadiah, tabungan mudharabah, dan deposito mudharabah. Berikut ini tugas LPS secara lengkap;
1). Melindungi nasabah perbankan dengan program penjamin simpanan.
2). Melaksanakan resolusi perbankan.
3). Melaksanakan program restrukturisasi perbankan.
4). Turut aktif dalam memelihara stabilitas perbankan.
LPS menjamin simpanan nasabah hingga Rp2 Miliar rupiah pernasabah perbank. Jika ada nasabah mempunyai beberapa rekening simpanan dalam satu bank, maka simpanan yang dijamin dihitung dari jumlah saldo seluruh rekening.

Nilai simpanan yang dijamin meliputi simpanan pokok ditambah bunga untuk bank konvensional dan simpanan pokok ditambah bagi hasil untuk bank syariah.
Bagaimana dengan simpanan nasabah dengan nilai di atas Rp2 Miliar? Jika hal itu terjadi maka akan diselesaikan oleh Tim Likuidasi berdasarkan likuidasi kekayaan bank. Kemudian bagi nasabah yang mempunyai rekening gabungan atau joint account, saldo pada rekening gabungan dibagi sama besar antar pemilik rekening.

Syarat Berlakunya Simpanan yang Dijamin LPS
“Hati-hati jika ada bank yang memberikan penawaran bunga tidak wajar karena itu menjadi tanda-tanda bank tidak sehat,” ungkap AZ Mutakim lagi saat saya tanya ciri-ciri bank yang tidak sehat. “Maka jangan pernah sekali pun menyimpan uang kita di sana,” pungkasnya.
Selain banknya tidak sehat, jika di kemudian hari bank dinyatakan bangkrut dan dilikuidasi maka LPS tidak akan menjamin simpanan nasabah. Baik simpanan pokok mau pun bunganya.
Jadi, kalau kita mau menabung kita harus tetap melihat bunga yang ditawarkan bank supaya simpanan kita dijamin LPS. Lebih jelasnya, berikut ini syarat berlakunya simpanan yang dijamin LPS, yang biasa disingkat dengan 3 T;
1). Tercatat pada pembukuan bank.
2). Tingkat bunga simpanan tidak melebihi bunga penjaminan LPS.
3). Tidak melakukan tindakan yang merugikan bank.
Sesuai Pasal 37B Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1999 tentang Perbankan, setiap bank wajib menjamin dana nasabah yang disimpan di bank. Semua biaya peserta penjaminan simpanan LPS ditanggung bank yang bersangkutan dan nasabah tidak dibebani biaya apapun.

Jenis bank peserta penjaminan LPS meliputi bank umum dan BPR, termasuk bank nasional, bank campuran dan bank asing, serta bank konvensional dan bank syariah. Jadi, semua bank yang ada di Indonesia bisa menjadi peserta penjaminan LPS tanpa pandang bulu.
Tanpa terasa acara yang  dimulai sejak pukul 14.00 WIB dan sarat faedah tersebut berakhir sekitar pukul 16.30 WIB. Usai tanya jawab dan pembagian hadiah, acara ditutup dengan ramah tamah dan makan-makan dong pastinya, hehehe.
Ramah tamah dan makan-makan peserta (Foto Ali)

Peserta saling berdiskusi sambil makan (Foto Ali)
Btw, kalau sudah seperti ini kondisi perbankan di Indonesia, saya rasa tidak ada alasan lagi untuk tidak menabung di bank karena uang tabungan atau uang simpanan kita pasti aman. Bagaimana tidak aman? Jika terjadi apa-apa pada bank, uang tabungan atau uang simpanan kita sudah dijamin Lembaga Penjamin Simpanan alias LPS.
Semoga bermanfaat!
***

Kaum Milenial, Yuk Nabung di Bank Mumpung Tabungan Kita Dijamin LPS



APA Financial Goal tahun depan? Mendengar pertanyaan tersebut terus terang saya langsung diam saking terhenyaknya. Bukan apa-apa, selama ini yang jadi focus utama saya ketika akan merencanakan sesuatu bukan financial dulu yang jadi pijakan awal, melainkan keinginan dulu.
Padahal, menurut Dipa, salah seorang financial planner yang juga manager artis yang membawahi beberapa komika terkenal, financial goal itu sangat penting. Tanpa finacial goal yang jelas dan terencana, apa yang kita targetkan bisa jadi meleset.
“Financial goal penting karena akan berpengaruh pada perencaan financial atau keuangan kita ke depan,” pungkas Dipa yang saat itu jadi salah satu pembicara dalam acara FunAncial bareng HomeCredit di salah satu restoran kekinian di bilangan Jalan Cihampelas Bandung.
Selain Dipa, dalam acara yang menurut saya cukup penting tersebut juga mengundang Takdis, seorang travel blogger asal Bandung yang sekarang memiliki agen perjalanan.
Takdis sejak pertama kuliah memang senang backpacker-an, tidak hanya backpacker menjelajah Indonesia, melainkan juga ke manca negara. Saking senangnya backpackeran, pada Smester 5 di-DO dari kampusnya. Pada saat di-DO, posisi Takdis sedang mendaki Gunung Rinjani. Gokil juga, ya, hehehe.


Gagal Menjalankan Usaha
Sejak di-DO, Takdis banting setir jadi enterpreaner, dia mulai usaha membuat tas untuk anak-anak milenial yang senang backpackeran dan naik gunung. Tas yang dijual dengan harga di atas 1 juta tersebut, dalam waktu beberapa jam ludes terjual.
Tidak hanya jual tas, Takdis lantas merambah usaha foodtruck yang pada saat itu sedang booming. Setelah usaha foodtruck-nya jalan, Takdis membuat cafe. Lagi-lagi, karena mungkin usaha yang dijalankan momentnya tepat, usahanya lancar.
Seiring berjalannya waktu, karena saat menjalankan usaha Takdis tidak terlalu peduli dengan management keuangan, satu-satu persatu usahanya bangkrut dan tutup.
“Waktu itu karena saya pikir itu uang-uang saya, mau dipakai apa saja terserah,” ungkap Takdis blak-blakan, hehehe.
Setelah mengalami beberapa kegagalan Takdis mulai sadar, kini dalam menjalankan usaha travel yang baru digeluti serius beberapa tahun kebelakang, Takdis menggandeng teman sesama travel blogger yang tahu tentang keuangan. Jadi keuangan perusahaan lebih terkontrol.


Waspada Latte Factor
Ada yang tahu, apa itu Latte Factor. Latte factor itu istilah keuangan yang diperkenalkan oleh pakar keuangan terkenal bernama David Bach. Istilah ini menurut saya sangat relate dengan kehidupan zaman now.
Dalam teori financial, Latte Factor diartikan berbagai pengeluaran kecil yang tidak disadari tetapi rutin dilakukan. Sebut saja misalnya beli air mineral kemasan, beli cemilan, biaya transfer antarbank, hingga biaya top-up uang elektronik.
Pengeluaran kecil sehari-hari yang jadi kebiasaan ini sebetulnya nilainya terlihat sangat kecil. Akan tetapi jika kita sadar, setelah dihitung selama satu bulan saja, kita akan tercengang.
“Setiap bulan rata-rata menghabiskan kurang lebih Rp900.000,-“ ungkap Dipa.
Karena sudah menjadi kebiasaan, siapa pun tidak merasa telah terjangkit Latte Factor sehingga susah dihilangkan kecuali harus benar-benar sadar. Terlebih lagi, saat ini generasi milenial menjadi generasi yang sudah terbiasa dengan kecanggihan teknologi, sehingga semakin mudah mengakses berbagai kebutuhan hidup melalui gadget. 
Kebiasaan ini menjadikan mereka lebih gampang mengeluarkan uang hanya untuk eksis di media sosial, ikut-ikutan tren atau memuaskan nafsu belanja yang disesali kemudian.
Latte Factor Latte Factor bisa muncul dengan mudah hanya karena kebiasaan, tekanan sosial hingga kontrol diri yang lemah.

Efek Latte Factor
Seperti yang saya bilang di atas, anak-anak milenial sekarang tidak pernah merasakan telah terjangkit Latte Factor. Latte Factor jika dilakukan terus menerus tanpa sadar akan  menggerogoti penghasilan. Salah satu efeknya, kita akan sulit untuk menabung atau berinvestasi.
Efek lainnya, keuangan jadi tidak sehat, boros, dan hidup tidak ada perkembangan. Mau hidup terhenti hanya karena Latte Factor? Jangan pernah gaesss ... hidup kalian masih panjang, masih perlu mewujudkan impian-impian besar yang ada dalam hidup kalian.
Nah, lantas apa yang bisa dilakukan supaya tidak terpuruk karena Latte Factor? Caranya sangat sederhana, cari apa saja yang menjadi Latte Factor dalam hidup kalian? Kemudian catat dan cari ide untuk meninggalkannya.
Contoh, kita sering beli minuman kekinian yang sekali beli harus merogoh kocek sekitar Rp10.000,-, coba hitung (Rp10.000 X 30 hari = Rp300.000,-), mulai sekarang bolehlah merasakan minuman kekinian seminggu sekali, jadi cuma mengeluarkan Rp10.000,- X 4 = Rp40.000,-, uang yang kita keluarkan jadi jauh berkurang, kan? Sisanya sekitar Rp.260.000,- ditabung. Rp260.000.
Coba hitung Rp260.000 X 12 bulan (1tahun)? Kita jadi bisa menabung untuk keperluan lain yang lebih penting hingga Rp3.120.000,- , lumayan banget, kan? So, kalau sudah seperti ini, apa kita masih mau terus mengabaikan pengeluaran recehan? Kalau saya sih, nggak ogah!
Semoga bermanfaat.

Dalam Perencanaan Keuangan, Jangan Pernah Abaikan Latte Factor



LIBURAN paling seru? Ngomongin liburan memang nggak akan pernah ada habisnya karena setiap liburan pasti selalu menyenangkan dan seru. Meski pun kadar menyenangkan dan serunya berbeda-beda, hehehe.
Kalau saya ditanya liburan mana yang paling seru, saya akan jawab salah satunya saat liburan ke Batam. Liburannya sangat singkat sebetulnya, karena hanya punya waktu seharian di sana. Akan tetapi, apa yang saya dapat luar biasa. Menyenangkan, seru, magis, dan mistis!
Jadi ceritanya, usai mengisi sebuah acara kepenulisan di Batam, saya menghabiskan sisa waktu selama di Batam dengan menjenguk Kampung Vietnam yang ada di Pulau Galang.
Saya penasaran dengan Kampung Vietnam karena tidak banyak yang tahu, jika di Batam ada pulau yang pernah disinggahi pengungsi Vietnam pada saat perang Vietnam tahun 1975-1996. Sekitar 250.000 penduduk Vietnam mengungsi karena ingin aman dari peperangan. Tepatnya di Pulau Galang, Desa Sijantung, Kecamatan Galang.
Untuk menuju ke Pulau Galang, kendaraan yang saya tumpangi harus melewati Jempatan Barelang, jembatan yang menjadi penghubung Pulau Batam, Pulau Tonton, Pulau Nipah, Pulau Setotok, Pulau Rempang, Pulau Galang, dan Pulau Galang Baru.
Di antara ketujuh pulau tersebut, ada tiga pulau besar yaitu Pulau Batam, Pulau Rempang, dan Pulau Galang sehingga jembatan tersebut dinamakan Jembatan Barelang (Batam, Rempang, dan Galang).

Seru, Magis, dan Mistis
Setelah kendaraan yang saya tumpangi menyurusi jembatan satu persatu serta menyusuri pulau dengan jalan yang meliuk-liuk, kendaraan memasuki kawasan Kampung Vietnam. Agak merinding ketika melewati pos penjagaan. Aroma mistis terasa sekali menyusupi pori-pori. Semak belukar dan pohon-pohon besar tumbuh subur mengelilingi kampung.
Kendaraan yang saya tumpangi sempat nyasar di jalan buntu karena penunjuk jalan mulai rusak dan tidak terbaca. Agak deg-degan juga karena meski pun ada beberapa mobil, aroma kesunyian amat terasa. Setelah berbalik arah, mulai terlihat tanda-tanda kehidupan.
Begitu melewati gerbang, terlihat sebuah patung perempuan terkulai berwarna putih, kecil, dan menggambarkan seorang perempuan yang duduk. Patung yang menjadi monumen untuk mengenang tragedi kemanusiaan yang terjadi dalam pengungsian. Seorang wanita Vietnam bernama Tinh Han Loai bunuh diri setelah diperkosa sesama pengungsi. Patung tersebut dikenal dengan Patung Humanity Statue.
Kemudian ada komplek pemakaman Ngha Trang Grave Galang. Kurang lebih 500 pengungsi dimakamkan di sini. Mereka meninggal karena sakit setelah berbulan-bulan terombang-ambing di lautan. Terkena penyakit kelamin yang sangat berbahaya Vietnam Rose. Ada juga yang bunuh diri karena tidak mau dipindahkan dari Pulau Galang.
Bangkai Perahu yang Dijadikan Monumen (Foto Ali)
Kendaraan kemudian parkir di area taman. Ada dua perahu besar tergeletak di sana. Dua perahu yang menjadi monumen keberadaan orang-orang Vietnam yang pernah mengungsi di Pulau Galang. Konon, karena mereka tidak mau kembali ke Vietnam, begitu tiba di pantai, mereka sengaja menenggelamkan perahu-perahu mereka. Mereka sudah trauma dengan perang.
Perahu-perahu tersebut kemudian berhasil ditarik ke daratan untuk diperbaiki dan dijadikan monumen untuk mengenang perjuangan dan penderitaan para pengungsi Vietnam.
Tidak jauh dari monumen perahu ada barak tempat pengungsian dua lantai yang berseberangan dengan museum. Museum menyimpan benda-benda yang dibawa dan dipakai para pengungi, alat rumah tangga yang menggambarkan situasi kehidupan di pengungsian, foto keluarga, foto kegiatan, sepeda, dan banyak benda-benda lainnya.
Barak yang Menjadi Tempat Tinggal Pengungsi (Foto Ali)
Tidak jauh dari museum ada bangunan bekas rumah sakit yang masih menyimpan kotak-kotak serta botol-botol obat yang dibiarkan terbengkalai. Kemudian ada bangkai-bangkai kendaraan roda empat yang sudah berkarat dan ditumbuhi tanaman rambat, bangunan-bangunan sekolah bahasa yang hanya terlihat sebagian karena mayoritas dindingnya sudah tertutup tanaman rimbun hingga atap.
Agar hubungan dengan Tuhan tetap terjaga, di Kampung Vietnam juga dibangun tempat ibadah yang masih bisa digunakan hingga sekarang. Tempat ibadah yang masih berfungsi antara lain Vihara Quan Am Tu, gereja Katolik Nha Tho Duc Me Vo Nhiem, gereja Protestan, dan Mushala.
Museum di Kampung Vietnam (Foto Ali)
Mengelilingi Kampung Vietnam persendian rasanya ngilu sekali. Bayangkan, sejak tahun 1979 kampung ini menjadi saksi hasil kekejaman perang saudara. Perang antara Vietnam Utara (komunis) dan Vietnam Selatan. Warga Vietnam yang tidak tahu apa-apa harus rela mengarungi lautan demi menyelamatkan diri hingga terdampar di sini.
Awalnya satu kapal berisi 100 orang, kemudian kapal-kapal lainnya menyusul masuk ke pulau-pulau di sekitar Pulau Galang. Setelah melalui persetujuan dari pemerintah Indonesia dan dibantu United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) dari PBB, ratusan ribu pengungsi diijinkan tinggal di kawasan Pulau Galang.
Vihara yang Sampai Sekarang Tetap Berfungsi (Foto Ali)
Mereka diberi sarana dan prasarana untuk menunjang hidup selama dalam pengungsian. Hingga pada tahun 1996, sedikit demi sedikit mereka dipulangkan. Dengan dipulangkannya seluruh warga Vietnam, Kampung Vietnam di Pulau Galang kosong, yang tersisa hanyalah monumen-monumen yang menjadi saksi sejarah kemanusiaan.

Kembali ke Batam?
Kini Kampung Vietnam sudah sepi dan sudah menjadi kenangan. Menjadi saksi sejarah akibat peperangan. Bagi saya, Kampung Vietnam bisa menjadi salah satu wahana literasi kedamaian.
Ingat dunia literasi, saya sebagai penulis bacaan anak yang juga travel blogger jadi ingat, ketika saya memberikan pelatihan kepenulisan di sana, banyak anak-anak yang belum bisa menikmati bacaan anak-anak yang bergizi dan sesuai dengan dunia mereka.
Bacaan anak-anak yang di Pulau Jawa sangat berlimpah, di sana bagai barang berharga. Tidak heran, ketika saya membawa satu kardus bacaan anak-anak untuk dijual, langsung ludes.
Kesulitan menikmati bacaan anak-anak di sana, selain karena akses yang tidak mudah, sekalinya dijual di sana, harganya sangat mahal. Jadilah, bacaan anak-anak di Batam sana sebagai barang langka.
Seandainya saja saya mendapatkan kesempatan lagi berkunjung ke Batam, saya akan menginap di salah satu hotel yang disediakan Oyo Hotels Indonesia, akan mengunjungi beberapa sekolah Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar di sana. Selain untuk berbagi tentang literasi tulis menulis juga akan mendonasikan sebagian buku anak-anak yang saya koleksi.
Akan membagikan buku anak berjudul Aku dan Anak-anak Kampung Vietnam yang saya tulis beberapa waktu lalu. Buku anak-anak yang saya tulis setelah berkunjung ke Kampung Vietnam.

Supaya buku yang saya bawa bisa berkardus-kardus, saya akan membuka donasi pengumpulan bacaan anak-anak. Banyak penulis bacaan anak-anak yang saya kenal, begitu pun penerbit.
Selain Batam, salah satu pulau yang sampai sekarang belum kesampaian dikunjungi adalah Pulau Lombok. Entah mengapa, setiap kali akan ke sana, selalu saja ada kendala. Entah waktunya berbarengan dengan aktivitas lain atau semua akomodasi seperti Hotel di Lombok yang akan saya pesan fullbook. Jadilah, hingga sekarang belum kesampaian ke Pulau Lombok.

OYO Hotel Indonesia
Pertama tahu OYO Hotel Indonesia  saat hotel dekat rumah dipasang neonbox OYO Hotel Indonesia. Saya penasaran dong, akhirnya saya langsung cari  aplikasinya di Play Store dan langsung downlod.
Aplikasi OYO Hotels Indonesia jadi Andalan (Foto Ali) 
Setelah saya cek lebih detil, ternyata OYO Hotels salah satu star-up jaringan hotel asal India yang sekarang telah menjadi salah satu Unicorn sukses. OYO menjalankan aplikasinya dengan menerapkan sistem manchise (manajemen dan franchise).
Dengan mengusung konsep manchise tersebut, kualitas, kontrol, dan manajemen hotel dipegang penuh oleh OYO Hotels melalui pengelolaan perhotelan berbasis teknologi.
Dengan konsep tersebut,  para pemilik hotel yang sudah menggunakan aplikasi OYO akan mendapatkan keuntungan lebih. Para pemilik hotel tidak perlu lagi repot mengiklankan dan membuat tata kelola hotel karena semua itu sudah dikerjakan oleh OYO.
Semua dikerjakan dengan menggunakan standar management OYO dan pastinya tidak asal karena tim operasional yang ada di dalam OYO Hotels adalah para manajer hotel berbintang yang sudah berpengalaman.
Aplikasi OYO Hotels Indonesia Selalu ada Diskon (Foto Ali)
Selain menggunakan konsep manchise, ada beberapa keunggulan lain yang dimiliki OYO Hotels, antara lain;
1). Mudah Memantau
Aplikasi OYO Hotels yang dipegang pemilik hotel membantu pemilik hotel memantau operasional bisnis hotelnya, memantau performa hotel, dan juga memantau keuangannya secara mudah dan langsung. Selain itu, pemilik hotel dengan mudah dan cepat mendapatkan review pelanggan.
2). Komunikasi Lebih Cepat dan Tepat
OYO Hotels menyediakan informasi yang lebih lengkap dan akurat pada para calon pelanggan karena semua manajemen perhotelan ditangani langsung oleh OYO Hotels. Info dari data yang dilansir oleh OYO Hotels, aplikasi OYO Hotels mampu mengurangi berbagai macam pertanyaan yang diajukan oleh para tamu hingga 60%.
3). Punya Sistem Audit
Seringkali para pemilik hotel yang bergabung dalam jaringan aplikasi hotel hanya mendapatkan review pelanggan secara asal. Asal karena semua review atau ulasan tersebut, baik buruknya tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
OYO Hotels menyediakan aplikasi bernama Krypton Apk. Aplikasi ini untuk keperluan audit hotel baik dalam hal properti hotel secara keseluruhan maupun audit tiap kamar. Tim audit akan turun untuk mengecek secara langsung kondisi hotel dan mengatasi masalah jika ada. Bisa dipastikan review yang diberikan oleh pelanggan adalah nyata dan sesuai dengan kondisi sebenarnya.
4). Penilaian Bagi Pelanggan
Pelanggan hotel pastinya ada yang berperilaku baik dan juga berperilaku buruk. OYO Hotels akan memberikan penilaian bagi setiap pelanggan yang pernah berkunjung. Jadi secara otomatis OYO Hotels dapat membedakan tamu mana saja yang sudah pernah menginap di jaringan OYO Hotels, dan mempunyai perilaku yang buruk.
Hal ini sangat dibutuhkan untuk mempersiapkan tindakan antisipatif terhadap tamu yang dinilai berperilaku buruk, sehingga tidak ada kejadian yang merugikan hotel yang ada dalam jaringan OYO Hotels.
Jaringan OYO Hotels saat ini sudah merambah di berbagai kota di Indonesia dengan ribuan hotel yang ditawarkan. Hebatnya, setiap saat ada saja diskon yang diberikan OYO Hotels. Mau cari hotel? Coba cari di OYO Hotels.

Mau Ngerasain Liburan yang Seru, Magis, dan Mistis? Coba ke Kampung Vietnam