Rabu, 27 Maret 2013

[Cerita] untuk Gurita Kaos Bandung


Gara-Gara Gurita, Ajah Jadi Tidak Malu
Oleh Ali Muakhir

Ici Kelinci dan Ipus si kucing anggora sudah tidak tahu lagi bagaimana memberi tahu Ajah supaya tidak malu. Padahal, dia terpilih mewakili sekolahnya untuk ikut lomba nyanyi.
“Kalau berdiri di panggung saja malu, bagaimana bisa menang?” kata Ici sambil duduk di bawah pohon besar yang meneduhi taman kota.
“Kamu sudah bicara sama Induk Ajah?” tanya Ipus.
Ici mengangguk, “Induk Ajah sudah menasihati Ajah, tapi tetap saja Ajah malu,” jawab Ici. “Padahal ini lomba akhir tahun, lomba nyanyi ini akan menentukan, sekolah siapa yang akan juara umum,” lanjutnya.
Lomba-lomba sebelumnya sekolah Ici dan kawan-kawan sudah menang, sekolah mereka mendapat nilai yang sama dengan sekolah laut. Tinggal satu lomba yang akan menentukan, siapa di antara sekolah mereka yang paling unggul. Lomba nyanyi.
Ajah sebetulnya gajah kecil yang pandai dan pintar, suaranya paling nyaring dan merdu daripada teman-temannya, makanya dia terpilih untuk menjadi wakil sekolah dalam lomba nyanyi kali ini. Hanya saja, dia pemalu.
“Memang malu kenapa, sih?” Ipus bertanya lagi. Dia murid baru di sekolah, jadi belum begitu mengenal Ajah.
Ici mengerlingkan matanya. Memainkan bola matanya yang bulat seperti kelereng.
“Kenapa?” desak Ipus.
Ici tersenyum, “Tapi kamu jangan tertawa, ya,” kata Ici.
“Tertawa?”
Ici mengangguk.
“Nggaklah … kenapa musti tertawa?”
“Iya, kali aja. Ini juga yang mungkin membuat Ajah jadi malu.”
Ipus menyimak sambil mereka-reka dalam hati.
“Ajah malu karena badannya paling besar di kelas. Beberapa kali dia harus ganti kursi karena kursinya kekecilan atau kursinya patah. Akibatnya, beberapa teman tertawa tanpa sengaja. Ini membuat Ajah malu.”
Ipus langsung mengangguk-angguk. Ipus ingat sama Pepsi, kucing anggora sahabat di sekolahnya dahulu yang juga badannya paling besar, tapi dia tidak pernah malu, malah dia senang dan bahagia dengan badannya yang besar.
“Aku punya cara, bagaimana supaya Ajah tidak mau dengan badannya,” kata Ipus tiba-tiba.
Ici yang sejak tadi duduk merenung langsung mendongakan kepalanya, “Apa?”
“Aku punya teman yang jago bikin kaos, si Guri, Gurita Merah. Dia yang bikin anak-anak bangga dengan kaos buatannya.”
“Gurita Merah? Berarti dia sekolah di sekolah laut, dong.”
“Iya.”
“Wah, bakal susah nanti minta tolongnya.”
“Jangan khawatir, Guri baik hati dan tidak sombong kok. Dia selalu membantu siapapun yang perlu dibantu.”
Kalimat terakhir Ipus sedikit membuat Ici lega. Dia sangat berharap, Ajah kembali seperti dahulu, sebelum badannya makin besar. Sebelum dia merasa malu dengan badannya yang tumbuh besar seiring dengan pertambahan usianya.
Beberapa hari kemudian Ipus datang bersama Guri dan Ici ke rumah Ajah. Guri yang ramah dan sangat menyenangkan membuat Ajah tidak malu diajak bercanda. Bahkan waktu Guri menanyakan ukuran bajunya pun, Ajah mau menjawabnya.
“Kamu mau nggak aku kasih kaos?” tanya Guri setelah beberapa saat bersama Ajah.
“Kaos apa?”
“Tapi ada syaratnya.”
“Syaratnya apa?”
“Kamu harus mau mewakili sekolah kamu ikut lomba nyanyi,” ujar Guri.
Ops … Ajah langsung terdiam seribu bahasa.
“Bagaimana, mau nggak?” Guri terus memancing.
“Boleh tahu dulu, nggak, kaos apa?” Ajah makin panasaran.
Guri lantas melepas tas rangsel merah kesukaannya yang sejak tadi dipakai di punggungnya. Rangsel itu ternyata rangsel ajaib, walau pun bentuknya kecil, tetapi isinya banyak. Guri mengeluarkan seluruh kaos koleksinya. Dia memilih beberapa kaos yang pas buat teman-teman barunya.
“Nah, ini pasti cocok buat kamu Ajah,” Guri memberikan kaos hitam ukuran besar kepada Ajah. Yang membuat Ajah melotot kaget, tulisan yang ada di depan dan belakang kaos itu. “Mau nggak?” tawarnya lagi.
Ajah mengangguk lantas menerima kaos dari tangan Guri. Dia masuk kamar, tidak lama kemudian dia keluar dengan memakai kaos pemberian Guri. Teman-temannya saling sikut melihat Ajah senyum-senyum sendiri.
“Gimana, kamu suka?” tanya Guri setelah cukup lama terdiam.
Ajah mengangguk.
“Suka nggak? Kalau suka bilang aja, jangan hanya mengangguk.”
“Suka banget,” jawab Ajah.
Guri, Ici, dan Ipus tersenyum senang mendengar jawaban Ajah.
“Jadi kamu mau ikut lomba nyanyi dengan memakai kaos itu?” Ici sudah tidak sabar.
Ajah mengangguk lagi.
“Mau nggak?”
“Mau banget!”
Ici, Ipus, dan Guri lega sekali mendengar jawaban Ajah. Guri hebat sekali, hanya dengan memberikan kaos, Ajah langsung mau ikut lomba nyanyi dan mewakili sekolahnya. Sejak memakai kaos pemberian Guri, Ajah tidak lagi merasa malu dengan badannya yang besar.
Kalian mau tau nggak, kenapa Ajah tidak malu lagi? Karena kaos pemberian Guri itu kaos yang bisa ngomong. Lihat aja tulisan di depan dan di belakang kaosnya. Kalian mau tahu, apa bunyinya? Bunyinya, “Sebenarnya Aku Kurus, lho.”
Hebat ya, kaos pemberian Guri. Kira-kira, Ajah menang apa tidak ya, pada lomba nanti? Apapun hasilnya, buat Ici, Ipus, atau Guri tidak penting lagi, yang penting Ajah sudah menang melawan rasa malunya.***





Mau Jago Nulis dan Jadi Pemenang di Dunia Tulis Menulis? Ikut Kelas Nulis "WinnerClass" aja.

9 komentar:

  1. Hihihi ...
    nunggu diundang Mbak Eka lagi ..

    BalasHapus
  2. Canggih euy idenya... Lanjutkan ke seri berikutnya hahaha... Nuhun ya bikin cerita yang menarik :)

    BalasHapus
  3. Hehehe, gurita koasnya udah canggih ... jadi idenya muncul begitu saja.

    BalasHapus
  4. Siapa dulu dong? Mas Aliii ... ^_^

    BalasHapus
  5. Kalo dah Suhunya, ya, enak aja dibacanya :). Mantaaappp ...

    BalasHapus
  6. Makasih Bang Aswi, Mbak Ridha ...

    BalasHapus

Ditunggu Komentarnya Teman-Teman

Blog Archive

Komentar