Selasa, 16 Juni 2015

Masjid Al-Karomah Saksi Kesultanan di Banjar

Martapura, selama ini dikenal sebagai kota penghasil intan. Intan hasil kekayaan alamnya terkenal hingga ke manca negara. Tidak heran, jika kota kecil yang menjadi ibukota Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan ini kemudian memiliki salah satu destinasi wisata religi yang layak disambangi, yaitu Masjid Al-Karomah.
Masjid megah dengan kubah berwarna hijau muda yang terletak di pusat kota, di jalur utama  antarkota, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur, dan berdiri tegak di dekat pasar intan tersebut menjadi masjid terbesar di Kalimantan Selatan.
Masjid Terlihat Indah dari Depan (Foto: Alee)

 Saksi Kesultanan
Setelah mengisi pelatihan menulis di sebuah Sekolah Islam Terpadu di Banjarmasin, saya diantar salah seorang teman dari komunitas menulis menuju Martapura. Perjalanan dari Banjarmasin menuju Martapura hanya memakan waktu kurang lebih satu jam, jadi tidak melelahkan.
Kami sempat mampir di salah satu Taman Bacaan Masyarakat yang terletak di dekat pintu gerbang Martapura. Taman Bacaan Masyarakat yang dilengkapi dengan fasilitas belajar untuk masyarakat sekitar.
Setelah sekitar setengah jam berkunjung, perjalanan dilanjutkan dengan terlebih dahulu mampir di alun-alun kota yang bersisian dengan pasar intan. Mata terbelalak disuguhi desain-desain perhiasan cantik bertahta intan dan permata. Harga intan dan permata di sini pastinya jauh lebih murah dibanding jika beli di luar Martapura, apalagi di Bandung.
Setelah puas mengelilingi alun-alun yang bersih dan teduh, saya menuju masjid untuk shalat asar. Masjid yang saya maksud, tak lain dan tak bukan adalah Masjid Al-Karomah. Masjid yang menjadi saksi sejarah kesultanan di Martapura, bahkan hingga kesultanan sekarang.
Dahulu, Masjid Agung Al-Karomah dikenal sebagai Masjid Jamik Martapura. Masjid dahulu hanya berukuran 37,5 X 37,5 meter. Dibangun dengan struktur utama dari bahan Kayu Ulin. Bentuk bangunan meniru Masjid Agung Demak lengkap dengan atap limasan bersusun tiga.  Dibangun pada tanggal 10 Muharram 1280 H atau 27 April 1863 M.
Masjid saat itu berfungsi sebagai tempat ibadah, pusat dakwah, dan benteng pertahanan para pejuang dalam menentang Belanda.
Seiring dengan perkembangan zaman, Masjid Jamik yang terletak di Jalan Ahmad Yani tersebut terus mengalami restorasi dan renovasi besar-besaran. Bangunan yang awalnya terdiri dari kayu ulin berubah menjadi bangunan dengan konstruksi beton yang kokoh.
Sekarang, rangka atapnya terbuat dari baja stainless, yang terangkai dalam struktur space frame. Kubah bawangnya yang berjumlah 6 buah, menjulang tinggi dan dipercantik dengan lapisan dari bahan enamel bercorak. Indah sekali di pandang mata.
Meski sekarang telah berubah menjadi bangunan modern, bangunan awal yang ditopang oleh empat tiang Kayu Ulin yang menjadi Saka Guru peninggalan bangunan pertama masjid masih tegak di tengah-tengah bangunan. Jadi, seolah-olah ada masjid di dalam masjid.
Begitu pula mimbar tempat khatib berkhutbah. Mimbar berukir untaian kembang yang berbentuk panggung dan dilengkapi tangga yang telah berumur satu abad tetap dipertahankan. Sekarang ukuran masjid mencapai 85X85M dengan total luas halaman kurang lebih 210X110M.
Masjid di dalam Masjid dan Tiang Keramat (Foto: Alee)

Tiang Keramat
Usai shalat dan rebahan sejenak, saya masuk sisa bangunan masjid lama, di mana empat tiang kayu Ulin berada. Saya lihat, empat tiang yang dikitari tiang-tiang penyangga bangunan lama ditaburi bunga-bunga. Bunga-bunga tersebut dipasang para peziarah. Mereka sebagian ada yang memercayai mitos kekeramatan tiang-tiang tersebut.
Konon, jika kita mampu memeluk keempat tiang tersebut, kita akan segera mendapat rezeki untuk naik haji. Mitos ini beredar lantaran daerah-daerah yang dahulu pernah dilewati Kayu Ulin, saat dibawa melalui aliran Sungai Barito. Daerah-daerah tersebut menjadi ladang intan.
Mitos tersebut dikuatkan dengan kehebatan Datuk Landak, datuk yang ditugaskan mencari Kayu Ulin. Pada saat pertama kali mendirikan keempat kayu ulin, Datu Landak hanya menepuk tanah dan dengan sendirinya tiang-tiang tersebut berdiri tegak.
Sebagian masyarakat percaya, ada kekuatan dalam tiang-tiang tersebut lantaran keistimewaan Datu Landak, sehingga setiap hari ada saja masyarakat yang memberi bunga pada tiang-tiang tersebut. Wallahu’alam.
Untuk mencapai Masjid Al-Karomah sangat mudah karena hanya butuh waktu kurang lebih satu jam perjalanan darat dari Kota Banjarmasin dan hanya setengah jam dari Bandara Syamsudin Noor, Banjarbaru. Masjid ini juga berada di pinggir jalan trans Kalimantan ruas Kalimantan Selatan-Kalimantan Timur. Tepat di pusat kota Martapura.

Setelah menikmati arsitekur bangunan di dalam yang tidak kalah menarik dengan arsitektur di luar, saya menuju parkiran karena mengejar waktu magrib di Banjarmasin. Di depan masjid, sebuah menara melengkapi kecantikan Masjid Al-Mukaromah. Masjid yang penuh dengan keistimewaan.  (Ali Muakhir, pemilik akun @KreatorBuku, penikmat wisata dari Forum Penulis Bacaan Anak, tinggal di Bandung) ***

10 komentar:

  1. Indonesia itu banyak punya masjid yang keren, ya ternyata. Jadi kepikiran bikin Wisata Masjid ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget Mas.
      Mumpung bentar lagi Ramadhan ... saat yang tepat buat keliling masjid.

      Hapus
  2. pengen ke sanaaaa
    hiks hiks

    BalasHapus
  3. pengen ke sanaaaa
    hiks hiks

    BalasHapus
  4. Wah ya ini salah satunya yang membuat saya pengen ke Banjarmasin :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ajak-ajak kalau ke sana ya Mas, hehe.

      Hapus
  5. Test-test semoha berhasil muncul di sini. ^_^

    BalasHapus
  6. Hore bisa komen. Asyik.

    wihh! Keren deh ulasannya, Mas Ali. Berasa mengalami secara langsung. ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe ... asyiiik ... ayooo cerita Masjid di Taiwan Keyzia

      Hapus

Ditunggu Komentarnya Teman-Teman

Blog Archive

Komentar