“Traveling ke Labuan Bajo sebaiknya pada saat musim kemarau, selain terhindar dari hujan, lautnya jernih, saat menikmati Puncak Padar kita seperti berada di Zaman Purba”
Kalimat itu terngiang-ngiang sekali ketika pertama kali mendengar destinasi wisata Labuan Bajo. Apalagi setelah melihat foto-foto para traveler yang sudah ke sana, makanya begitu ada kesempatan ke sana, pantang disia-siakan!

PAGI-PAGI sekali, usai subuh saya sudah berada dalam Bus Primajasa jurusan Bandung – Bandara Soekarno-Hatta, Banten. Saya dapat jadwal penerbangan dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Bandara Komodo Labuan Bajo tepat pukul 10.50 WIB.
Sesuai perkiraan, setelah 3 jam bus yang saya tumpangi menembus jalanan, bus merapat di Terminal 3 Ultimate Bandara Soekarno-Hatta. Saya langsung bergabung dengan teman-teman lain yang sama-sama akan menjelajah Labuan Bajo.
Setelah cek-in dan mengurus bagasi, sesuai waktu yang tertera pada tiket pesawat yang akan membawa kami mengarungi angkasa, pesawat melesat menuju Bandara Komodo Labuan Bajo.
Terbang dari Bandara Soekarno-Hatta Banten menuju Bandara Komodo Labuan Bajo Nusa Tenggara Timur hanya memerlukan waktu kurang lebih 2.5 jam. Saya habiskan dengan tiduran karena semalam tidurnya kurang pulas.
Saya baru terbangun setelah teman sebelah membangunkan, “Sudah sampai Labuan Bajo,” katanya, mirip bisikan komodo yang kegirangan ketemu daging segar.

Bandar Udara Komodo Labuah Bajo (Foto Ali)
Karena Bandara Komodo tidak terlalu besar, setiap penumpang tidak boleh berlama-lama berada di area lintasan pesawat. Padahal semua penumpang ingin mengabadikan moment terindahnya di sana. Jadilah, semua terburu-buru masuk ke dalam ruangan Bandara untuk mengambil bagasi dan selekas mungkin menuju pelabuhan dengan bus atau taksi yang sudah dipesan.
Sebelum benar-benar tiba di Pelabuhan Labuan Bajo, wisatawan atau traveler biasanya berhenti sejenak di salah satu sudut jalan yang menanjak. Melihat semenanjung pulau-pulau yang akan didatangi selama berada di Labuan Bajo. Namanya Bukit Waringin.

Pulau Kelor Labuan Bajo
Meski badan masih agak capek karena menempuh perjalanan yang cukup padat dan panjang, namun karena rasa kepenasaran yang demikian pekat, begitu naik kapal langsung ingin buru-buru menuju destinasi pertama selama di Labuan Bajo; Pulau Kelor. 
Konon, Pulau Kelor salah satu pulau indah yang ada di semenanjung Labuan Bajo, yang wajib didatangi. Makanya, meski sebelumnya saya tidak pernah mencari tahu, saya ikut penasaran juga.
“Itu pulaunya,” kata seorang teman  menunjuk pulau kecil yang menjulang cukup tinggi, begitu kapal ditambatkan di tengah lautan. Kapal tidak bisa merapat di pantainya karena dangkal.
Satu persatu penumpang diantar menggunakan boat menuju Pulau Kelor. Eh, ini beda banget lho, dengan Pulau Kelor yang ada di Kepulauan Seribu. Meski sama-sama kecil, tetapi tidak ada benteng. Hanya ada bukit, pantai yang dipenuhi tumbuhan, pasir putih, dan taman bawah laut.
Sebagian memilih main di pantai dan pose-pose cantik, sebagian lagi naik ke atas bukit untuk mengabadikan keindahan pamandangan dilihat dari atas bukit, dan sebagian lagi snorkeling.

Pantai Indah Pulau Kelor Labuan Bajo (Foto Ali)

Kaki Bukit Pulau Kelor Labuan Bajo (Foto Ali)
Karena waktu yang sangat terbatas, saya manfaatkan untuk mengelilingi Pantai Pulau Kelor. Setelah itu ikut gabung melihat keindahan taman bawah lautnya yang indah. Oh iya, saya lihat terumbu di tepian pantai ada beberapa yang rusak, semoga traveler ikut menjaganya supaya kerusakannya tidak lebih parah dan meluas.
Saya kemudian mencoba berenang lebih jauh lagi hingga menemukan terumbu karang dan ikan-ikan cantik yang ada di sana. Menemukan indahnya taman laut Pulau Kelor.
Beruntung sekali, ombak laut di sana hampir tidak ada, kalau pun ada sangat kecil, jadi nyaman sekali untuk snorkeling. Ingin sekali rasanya berlama-lama di sana, tetapi karena matahari mulai tenggelam, saya dan teman-teman buru-buru kembali ke kapal untuk istirahat.

Bermalam di Kapal
Destinasi berikutnya adalah Pulau Padar. Bukit yang terkenal dengan Bukit Purba karena jika dilihat dari atas bukit, gugusan bukit dan lautnya seolah tersesat di zaman purba. Terutama ketika menjejaknya pada saat musim kemarau, pada saat rerumputan kering terpanggang matahari. Letaknya cukup jauh dari Pulau Kelor.
Supaya bisa tiba di sana pagi-pagi, kapal yang membawa kami melanjutkan perjalanan dan akan bermalam di dekat Pulau Padar.
“Kita cari tempat yang ombaknya tidak besar,” kata Kapten Kapal sebelum menjalankan kapal.

Kapal Pinisi yang Saya Tumpangi Selama Menjelajah Labuan Bajo (Foto Ali)
Karena baru kali ini menginap di kapal, rasanya nggak karuan. Antara senang dan takut bercampur menjadi satu. Beruntung saya sudah benar-benar lelah. Begitu usai makan malam, saya langsung tertidur ditemani deru ombak dan angin sepoi-sepoi.

Pulau Padar Labuan Bajo
Pagi-pagi sekali, sebelum matahari terbit, mesin kapal sudah kembali menyala. Saya dan kawan-kawan yang terlelap seketika terbangun. Kapal akan merapat di Pulau Padar.
Pulau Padar adalah pulau ketiga terbesar di Labuan Bajo atau Kawasan Taman Nasional Komodo setelah Pulau Komodo dan Pulau Rinca. Selain itu ada Pulau Bidadari, Kenawa Beach, Loh Buaya, Pink Beach, dan sebagainya.
Pagi-pagi sekali menuju Pulau Padar sebetulnya demi apa? Tak lain dan tak bukan demi mengejar trekking pagi-pagi supaya tidak kepanasaran. Benar saja, sesuai jadwal, kapal merapat di Pulau Padar saat matahari belum tinggi, jadi belum begitu panas.

Pantai Pasir Putih di Kaki Bukit Pulau Padar (Foto Ali)

Undakan Tempat Trakking di Pulau Padar (Foto Ali)
Saya pikir trekking di Pulau Padar hanya sebentar, ternyata untuk mencapai puncak bukit perlu waktu kurang lebih 45 menit hingga 1 jam. Tergantung kecepatan kita menaiki bukit.
Beruntung sekali, sekarang sudah dibangun undakan dari kayu dan batu, jadi cukup membantu siapa pun yang akan naik Bukit Padar. Karena sedang tidak musim hujan, sepanjang bukit rerumputan kering karena terpanggang matahari.
Lebih beruntung lagi, meski baru sepuluh menit menaiki bukit, tanda-tanda keindahan lanscape alam sekitar Bukit Padar sudah terlihat. Bahkan sudah dibangun tempat untuk istirahat sekaligus mengabadikan moment indah di sana.
Puncaknya saat benar-benar berada di atas bukit. Masya Allah ... alam ciptaan Sang Kuasa benar-benar terlihat luar biasa indah. Saya sampai tertegun cukup lama saat menikmatinya.
Sebuah pulau besar berdiri tegak dan memanjang bagaikan kaki-kaki naga. Di sekelilingnya terlihat pantai dan laut lepas. Bernaung di bawah langit biru yang teramat cerah. Sungguh, nikmat mana lagi yang kau dustakan?

Puncak Bukit Pulau Padar yang Memesona (DokPri)
Indonesia benar-benar luar biasa! Tidak perlu jauh-jauh melihat keindahan ciptakan Sang Khalik. Cukup ke Labuan Bajo, kita akan menemukan salah satu pesona keindahannya.
Menjelang matahari memanas di atas kepala, kita turun dan kembali ke kapal. Menjelang sore, saatnya menikmati keindahan taman bawah laut Pink Beach atau Pantai Pink. Letak Pink Beach kurang lebih 1 jam perjalanan dari Pulau Padar.

Pink Beach Labuan Bajo
Sore-sore traveling ke Labuan Bajo, paling enak tentu menikmati keindahan salah satu pantainya. Makanya, usai berlelah-lelah trekking di Pulau Padar, kapal langsung menuju Pink Beach.
Supaya energi tetap penuh, tak lupa selama dalam perjalan menuju Pink Beach makan siang terlebih dahulu. Bukan apa-apa, biar puas bermain-main dan berenang-renang manja di Pink Beach, hehehe.
Pink Beach bikin penasaran karena warna pasir pantainya berwarna pink. Konon, warna pink atau merah muda yang ada di sana merupakan komposisi dari koral, pecahan kerang, dan kalsium karbonat dari biota laut.
Mungkin karena gemas dan penasaran, banyak wisatawan yang mengambil dan membawanya pulang. Pantas saja, sekarang warna pinknya mulai memudar. Duh, padahal yang dibawa cukup foto dan kenangannya saja, nggak perlu bawa pasirnya segala.
Bukan hanya pantainya yang bisa dinikmati dengan berjemur atau duduk-duduk di bawah pohon yang ada di sekitar pantai, taman bawah laut Pink Beach pun bisa dinikmati dengan snorkeling. Lagi-lagi saya dibuat takjub.

Pantai Pink Dilihat dari Salah Satu Bukit (Foto Ali)

Pantai Pink yang Bersih dan Indah (Foto Ali)
Snorkeling di Pink Beach tidak perlu jauh-jauh, hanya berenang dalam jarak beberapa meter saja sudah disuguhi keindahannya. Taman bawah lautnya juga tidak terlalu dalam, jadi buat yang takut berenang tak perlu khawatir tenggelam atau terseret ombak.
Rasanya ingin sekali berlama-lama di sana jika tidak ingat waktu karena selain terumbu karangnya masih terjaga dengan baik, biota lautnya pun beraneka macam. Rasanya tak cukup jika hanya sebentar.
Karena sudah sore, saya dan teman-teman akhirnya mengalah untuk kembali ke kapal. Malam ini kembali menginap di kapal. Kapal pun kembali berlayar. Kali ini mendekati Pulau Komodo.
Malam kedua berbeda sekali dengan malam pertama. Suasana sudah lebih santai dan bisa menikmati malam di kapal. Suasana kapal malam itu sangat meriah di bawah bintang gemintang yang bergelantungan di atas langit.
Selama makan malam semua bercanda dan cerita pengalaman perjalanan yang pernah ditempuh selama ini. Selain itu menggerakan badan dengan Goyang Maumere. Semua baru terlelap setelah malam benar-benar larut.

Pulau Komodo Labuah Bajo
Pagi-pagi sekali, lagi-lagi saya dan teman-teman dibangunkan suara mesin kapal yang mulai bergerak saat fajar mulai menyingkap alam Labuan Bajo. Kapal berlayar menuju Pulau Komodo.
Setelah fajar menyingsing dan matahari mulai bersinar semua membersihkan diri dan sarapan pagi. Menu pagi ini cukup beragam, tetapi saya hanya ambil pisang coklat keju yang lezat.

Menikmati Pemandangan Pagi Hari di Atas Kapal (Dokpri)
Hari ini waktu kita sangat terbatas karena sebelum pukul 14.00 harus sudah kembali ke pelabuhan dan bandara. Saya cek Tiket Pesawat. Jadwal penerbangan dari Bandara Komodo – Bandara Soekarno-Hatta Banteng tepat pukul 15.05 WITA.
Menurut perkiraan Kapten Kapal, dari Pulau Komodo menuju Pelabuhan Labuan Bajo kurang lebih 4-5 Jam, jadi ambil short trek alias hanya diberi waktu 1.5 jam saja untuk mengeksplor Pulau Komodo.

Jembatan yang Menghubungkan Antara Dermaga dengan Pulau Komodo (Foto Ali)

Pintu Gerbang Pulau Komodo (Foto Ali)

Rusa di Pulau Komodo (Foto Ali)
Karena waktunya sangat singkat, begitu kapal merapat di dermaga, semua berlompatan, seolah berlomba-lomba menuju gerbang Pulau Komodo. Setelah diberi pengarahan sebentar, semua berjalan beriringan di belakang pemandu.
Saya agak kaget saat seorang teman menunjuk Komodo sedang tiduran cantik di bawah gazebo. Usut punya usut, komodo tersebut baru saja menghabiskan seekor kambing.
Perjalanan selanjutnya makin mengagetkan dan mendebarkan. Pagi-pagi ternyata Komodo banyak yang berjemur di pantai dan sebagian tiduran manja di tengah rerimbunan hutan. Kurang lebih ada 3 komodo yang menyebar di beberapa tempat. Supaya keamanan tetap terjaga, semua berjalan di belakang pemandu.
Meski keamanan dijaga ketat, tetap saja ada kejadian yang mengerikan. Tiba-tiba seekor Komodo berdiri dan berlari mengejar salah satu teman. Usut punya usut ternyata teman tersebut sedang datang bulan.
Orang yang sedang datang bulan atau sedang terluka sebaiknya tidak masuk ke Pulau Komodo karena jarak penciuman Komodo hingga mencapai 7 Km. Pantas saja dia tahu teman yang sedang datang bulan.

Gagahnya Komodo di Pulau Komodo (Foto Ali)
Pemandu kemudian mengalihkan perhatian Komodo hingga suasana kembali tenang. Teman pun buru-buru kembali ke kapal tanpa terluka sedikit pun. Duuuh, benar-benar pengalaman yang sangat menegangkan.
Walau hanya sebentar, semua tetap bisa menikmati Pulau Komodo dengan bahagia. Salah satunya bisa foto-foto ganteng dan foto-foto cantik bersama tuan rumah alias Sang Komodo.
Tepat pukul 09.00 WITA, semua say goodbye pada pemandu dan Komodo untuk kembali ke dunia nyata. Sambil berharap, suatu kali bisa kembali ke sini, menjelajah nusantara yang indahnya tiara.
Saya yakin sekali, siapa pun yang sudah menginjak Labuan Bajo pasti penasaran dengan pulau, bukit atau pantai lain yang belum sempat dijejak. Bukan hanya penasaran, tetapi juga bakal susah move on.
Apalagi penerbangan menuju Bandara Komodo Labuan Bajo sudah semakin banyak, begitu pun kapal-kapal pesiar. Paket-paket wisata ke Labuan Bajo pun makin beragam, jadi bisa ke sana kapan pun selagi ada biaya dan waktu.

Labuan Bajo Memenuhi Syarat Sebagai Destinasi Wisata
Berpijak pada apa yang dikatakan oleh James J. Spillane dalam buku Ekonomi Pariwisata: Sejarah dan Prospeknya (1994: 63-72) yang diterbitkan Penerbit Kanisius, Jogjakarta, ada lima (5) unsur penting sebuah tempat atau kawasan dinyatakan layak sebagai destinasi wisata.
1).  Punya Daya Tarik
Salah satu motivasi wisatawan atau traveler mengunjungi sebuah tempat wisata adalah karena mempunyai daya tarik. Daya tarik ini yang nanti akan menjadi salah satu yang membuat wisatawan atau traveler terpuaskan kebutuhan berwisatanya.
Ada beberapa ciri yang membuat wisatawan atau traveler tertarik pada sebuah tempat, antara lain; Keindahannya, Iklim dan cuacanya, Kebudayaannya, Sejarahnya, Ethnicity (sifat kesukuannya), dan Accessibility (kemudahan akses menuju ke lokasi tersebut).
Labuan Bajo memenuhi syarat pertama ini, bukan hanya keindahan alamnya yang tak terperi, sejarah, kebudayaan, ethnic, dan aksesnya pun mudah. Terlebih pada tahun 2019 ini pemerintah menambah akses.
Pemerintah melalui Kementerian PUPR melalui Direktorat Jenderal Bina Marga membangun Jalan Lingkar Utara Flores dari Labuan Bajo-Kedindi sepanjang 141,29 kilometer.
2). Fasilitas yang Dibutuhkan
Fasilitas di tempat wisata sangat penting karena dibutuhkan wisatawan atau traveler. Fasilitas yang baik akan mendorong pertumbuhan wisatawan yang datang ke sebuah tempat.
Fasilitas di tempat wisata yang standard antara lain adanya penginapan, restoran atau tempat makan, rumah sakit, pusat informasi, dan kantor keamanan.
Labuan Bajo, meski pun sebagian besar destinasi yang dituju bertebaran di antara gugusan pulau, fasilitasnya cukup lengkap. Selaian fasilitas yang disediakan pemerintah daerah juga fasilitas yang disiapkan di dalam kapal.  


3). Infrastruktur yang Memadai
Lokasi yang mempunyai daya tarik dan fasilitas yang memadai akan percuma jika belum ada infrastuktur yang memadai. Infrastruktur penting yang dimaksud di antaranya;
a). Sistem pengairan yang baik karena kebutuhan air sangat esensial bagi siapa pun.
b). Ketersediaan sumber listrik dan energi yang memadai, bukan hanya pada hari-hari biasa, tetapi juga pada saat peak hours yang kebutuhan pemakaiannya sangat tinggi.
c). Jaringan telekomunikasi yang luas terutama karena kebutuhan wisatawan atau traveler untuk berkomunikasi dengan dunia luar. Terlebih saat ini kebutuhan untuk mengunggah aktivitas di medsos sangat tinggi, jadi jaringan telekomunikasi tidak bisa diabaikan.
d). Sistem pembuangan kotoran /pembuangan air yang mamadai karena kebutuhan air untuk pembuangan kotoran memerlukan kira-kira 90% dari kebutuhan air itu sendiri, jadi memang tidak bisa main-main.
e). Tersedianya Jasa kesehatan agar memudahkan wisatawan atau traveler saat tiba-tiba sakit saat dalam perjalanan.
f). Jalan raya yang menarik buat wisatawan. Ini sudah dilakukan di Labuan Bajo, pada saat akan menuju dermaga, sepanjang jalan wisatawan disuguhi pemandangan yang indah.
4). Transportasi yang cukup
Termasuk informasi transportasi yang lengkap tentang lokasi, tarif, jadwal, rute, dan pelayanan pengangkutan lokal. Sistem informasi harus menyediakan data tentang informasi pelayanan pengangkutan lain yang dapat dihubungi diterminal termasuk jadwal dan tarif.
Informasi terbaru dan sedang berlaku, baik jadwal keberangkatan atau kedatangan harus tersedia di papan pengumuman, lisan atau telepon. Tenaga kerja untuk membantu para penumpang, peta, dan  rambu-rambu jalan yang memudahkan pengunjung. Ini super duper penting.
5). Keramahtamahan
Dalam melakukan pengembangan pariwisata, tentu tidak lepas dari peran organisasi kepariwisataan, terutama Dinas Pariwisata Dan Kebudayaan (Disparbud) daerah yang mempunyai tugas dan wewenang mengembangkan dan memanfaatkan aset daerah yang berupa obyek-obyek wisata.
Disparbud harus menjalankan kebijakan yang paling menguntungkan bagi daerah dan wilayahnya dan berusaha memberikan kepuasan kepada wisatawan yang berkunjung ke daerahannya.
Melakukan koordinasi dengan berbagai macam lembaga termasuk kepada masyarakat agar semua saling mendukung. Salah satunya adalah menyambut wisatawan dengan keramah-tamahan.
Ini mungkin hal sepele, tetapi bagi wisatawan atau traveler sangat penting karena membuat kita nyaman saat berkunjung ke suatu daerah.

Kesimpulan
Dari pengalaman saya dan teman-teman yang telah menjelajah Labuan Bajo, semua merasa senang dan tertarik untuk datang kembali karena menjelajah dalam waktu 3 atau 4 hari tidak cukup.
Ini membuktikan jika Labuan Bajo memang sudah bisa mampu memikat wisatawan atau traveler untuk ke sana. Selain karena mamang alamnya yang sangat indah, Labuan Bajo memenuhi syarat sebagai Destinasi Wisata yang memadai dan layak dikunjungi seperti syarat-syarat yang dikemukakan di atas.
Belum lagi hingga kini pemerintah pusat dan pemerintah daerah terus menerus melakukan perbaikan di sana-sini. Pemerintah pusat bahkan menempatkan Labuan Bajo sebagai salah satu Destinasi Super Prioritas dari lima (5) destinasi lainnya sehingga akan diutamakan.
Saya sebagai salah satu traveler sangat berharap, semoga upaya yang dilakukan pemerintah ini didukung oleh semua lapisan masyarakat dan destinasi wisata Indonesia makin harum di kancah dunia pariwisata international. []

Siapa Pun Akan Susah Move On Setelah Menjelajah Labuan Bajo



“Traveling ke Labuan Bajo sebaiknya pada saat musim kemarau, selain terhindar dari hujan, lautnya jernih, saat menikmati Puncak Padar kita seperti berada di Zaman Purba”
Kalimat itu terngiang-ngiang sekali ketika pertama kali mendengar destinasi wisata Labuan Bajo. Apalagi setelah melihat foto-foto para traveler yang sudah ke sana, makanya begitu ada kesempatan ke sana, pantang disia-siakan!

PAGI-PAGI sekali, usai subuh saya sudah berada dalam Bus Primajasa jurusan Bandung – Bandara Soekarno-Hatta, Banten. Saya dapat jadwal penerbangan dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Bandara Komodo Labuan Bajo tepat pukul 10.50 WIB.
Sesuai perkiraan, setelah 3 jam bus yang saya tumpangi menembus jalanan, bus merapat di Terminal 3 Ultimate Bandara Soekarno-Hatta. Saya langsung bergabung dengan teman-teman lain yang sama-sama akan menjelajah Labuan Bajo.
Setelah cek-in dan mengurus bagasi, sesuai waktu yang tertera pada tiket pesawat yang akan membawa kami mengarungi angkasa, pesawat melesat menuju Bandara Komodo Labuan Bajo.
Terbang dari Bandara Soekarno-Hatta Banten menuju Bandara Komodo Labuan Bajo Nusa Tenggara Timur hanya memerlukan waktu kurang lebih 2.5 jam. Saya habiskan dengan tiduran karena semalam tidurnya kurang pulas.
Saya baru terbangun setelah teman sebelah membangunkan, “Sudah sampai Labuan Bajo,” katanya, mirip bisikan komodo yang kegirangan ketemu daging segar.

Bandar Udara Komodo Labuah Bajo (Foto Ali)
Karena Bandara Komodo tidak terlalu besar, setiap penumpang tidak boleh berlama-lama berada di area lintasan pesawat. Padahal semua penumpang ingin mengabadikan moment terindahnya di sana. Jadilah, semua terburu-buru masuk ke dalam ruangan Bandara untuk mengambil bagasi dan selekas mungkin menuju pelabuhan dengan bus atau taksi yang sudah dipesan.
Sebelum benar-benar tiba di Pelabuhan Labuan Bajo, wisatawan atau traveler biasanya berhenti sejenak di salah satu sudut jalan yang menanjak. Melihat semenanjung pulau-pulau yang akan didatangi selama berada di Labuan Bajo. Namanya Bukit Waringin.

Pulau Kelor Labuan Bajo
Meski badan masih agak capek karena menempuh perjalanan yang cukup padat dan panjang, namun karena rasa kepenasaran yang demikian pekat, begitu naik kapal langsung ingin buru-buru menuju destinasi pertama selama di Labuan Bajo; Pulau Kelor. 
Konon, Pulau Kelor salah satu pulau indah yang ada di semenanjung Labuan Bajo, yang wajib didatangi. Makanya, meski sebelumnya saya tidak pernah mencari tahu, saya ikut penasaran juga.
“Itu pulaunya,” kata seorang teman  menunjuk pulau kecil yang menjulang cukup tinggi, begitu kapal ditambatkan di tengah lautan. Kapal tidak bisa merapat di pantainya karena dangkal.
Satu persatu penumpang diantar menggunakan boat menuju Pulau Kelor. Eh, ini beda banget lho, dengan Pulau Kelor yang ada di Kepulauan Seribu. Meski sama-sama kecil, tetapi tidak ada benteng. Hanya ada bukit, pantai yang dipenuhi tumbuhan, pasir putih, dan taman bawah laut.
Sebagian memilih main di pantai dan pose-pose cantik, sebagian lagi naik ke atas bukit untuk mengabadikan keindahan pamandangan dilihat dari atas bukit, dan sebagian lagi snorkeling.

Pantai Indah Pulau Kelor Labuan Bajo (Foto Ali)

Kaki Bukit Pulau Kelor Labuan Bajo (Foto Ali)
Karena waktu yang sangat terbatas, saya manfaatkan untuk mengelilingi Pantai Pulau Kelor. Setelah itu ikut gabung melihat keindahan taman bawah lautnya yang indah. Oh iya, saya lihat terumbu di tepian pantai ada beberapa yang rusak, semoga traveler ikut menjaganya supaya kerusakannya tidak lebih parah dan meluas.
Saya kemudian mencoba berenang lebih jauh lagi hingga menemukan terumbu karang dan ikan-ikan cantik yang ada di sana. Menemukan indahnya taman laut Pulau Kelor.
Beruntung sekali, ombak laut di sana hampir tidak ada, kalau pun ada sangat kecil, jadi nyaman sekali untuk snorkeling. Ingin sekali rasanya berlama-lama di sana, tetapi karena matahari mulai tenggelam, saya dan teman-teman buru-buru kembali ke kapal untuk istirahat.

Bermalam di Kapal
Destinasi berikutnya adalah Pulau Padar. Bukit yang terkenal dengan Bukit Purba karena jika dilihat dari atas bukit, gugusan bukit dan lautnya seolah tersesat di zaman purba. Terutama ketika menjejaknya pada saat musim kemarau, pada saat rerumputan kering terpanggang matahari. Letaknya cukup jauh dari Pulau Kelor.
Supaya bisa tiba di sana pagi-pagi, kapal yang membawa kami melanjutkan perjalanan dan akan bermalam di dekat Pulau Padar.
“Kita cari tempat yang ombaknya tidak besar,” kata Kapten Kapal sebelum menjalankan kapal.

Kapal Pinisi yang Saya Tumpangi Selama Menjelajah Labuan Bajo (Foto Ali)
Karena baru kali ini menginap di kapal, rasanya nggak karuan. Antara senang dan takut bercampur menjadi satu. Beruntung saya sudah benar-benar lelah. Begitu usai makan malam, saya langsung tertidur ditemani deru ombak dan angin sepoi-sepoi.

Pulau Padar Labuan Bajo
Pagi-pagi sekali, sebelum matahari terbit, mesin kapal sudah kembali menyala. Saya dan kawan-kawan yang terlelap seketika terbangun. Kapal akan merapat di Pulau Padar.
Pulau Padar adalah pulau ketiga terbesar di Labuan Bajo atau Kawasan Taman Nasional Komodo setelah Pulau Komodo dan Pulau Rinca. Selain itu ada Pulau Bidadari, Kenawa Beach, Loh Buaya, Pink Beach, dan sebagainya.
Pagi-pagi sekali menuju Pulau Padar sebetulnya demi apa? Tak lain dan tak bukan demi mengejar trekking pagi-pagi supaya tidak kepanasaran. Benar saja, sesuai jadwal, kapal merapat di Pulau Padar saat matahari belum tinggi, jadi belum begitu panas.

Pantai Pasir Putih di Kaki Bukit Pulau Padar (Foto Ali)

Undakan Tempat Trakking di Pulau Padar (Foto Ali)
Saya pikir trekking di Pulau Padar hanya sebentar, ternyata untuk mencapai puncak bukit perlu waktu kurang lebih 45 menit hingga 1 jam. Tergantung kecepatan kita menaiki bukit.
Beruntung sekali, sekarang sudah dibangun undakan dari kayu dan batu, jadi cukup membantu siapa pun yang akan naik Bukit Padar. Karena sedang tidak musim hujan, sepanjang bukit rerumputan kering karena terpanggang matahari.
Lebih beruntung lagi, meski baru sepuluh menit menaiki bukit, tanda-tanda keindahan lanscape alam sekitar Bukit Padar sudah terlihat. Bahkan sudah dibangun tempat untuk istirahat sekaligus mengabadikan moment indah di sana.
Puncaknya saat benar-benar berada di atas bukit. Masya Allah ... alam ciptaan Sang Kuasa benar-benar terlihat luar biasa indah. Saya sampai tertegun cukup lama saat menikmatinya.
Sebuah pulau besar berdiri tegak dan memanjang bagaikan kaki-kaki naga. Di sekelilingnya terlihat pantai dan laut lepas. Bernaung di bawah langit biru yang teramat cerah. Sungguh, nikmat mana lagi yang kau dustakan?

Puncak Bukit Pulau Padar yang Memesona (DokPri)
Indonesia benar-benar luar biasa! Tidak perlu jauh-jauh melihat keindahan ciptakan Sang Khalik. Cukup ke Labuan Bajo, kita akan menemukan salah satu pesona keindahannya.
Menjelang matahari memanas di atas kepala, kita turun dan kembali ke kapal. Menjelang sore, saatnya menikmati keindahan taman bawah laut Pink Beach atau Pantai Pink. Letak Pink Beach kurang lebih 1 jam perjalanan dari Pulau Padar.

Pink Beach Labuan Bajo
Sore-sore traveling ke Labuan Bajo, paling enak tentu menikmati keindahan salah satu pantainya. Makanya, usai berlelah-lelah trekking di Pulau Padar, kapal langsung menuju Pink Beach.
Supaya energi tetap penuh, tak lupa selama dalam perjalan menuju Pink Beach makan siang terlebih dahulu. Bukan apa-apa, biar puas bermain-main dan berenang-renang manja di Pink Beach, hehehe.
Pink Beach bikin penasaran karena warna pasir pantainya berwarna pink. Konon, warna pink atau merah muda yang ada di sana merupakan komposisi dari koral, pecahan kerang, dan kalsium karbonat dari biota laut.
Mungkin karena gemas dan penasaran, banyak wisatawan yang mengambil dan membawanya pulang. Pantas saja, sekarang warna pinknya mulai memudar. Duh, padahal yang dibawa cukup foto dan kenangannya saja, nggak perlu bawa pasirnya segala.
Bukan hanya pantainya yang bisa dinikmati dengan berjemur atau duduk-duduk di bawah pohon yang ada di sekitar pantai, taman bawah laut Pink Beach pun bisa dinikmati dengan snorkeling. Lagi-lagi saya dibuat takjub.

Pantai Pink Dilihat dari Salah Satu Bukit (Foto Ali)

Pantai Pink yang Bersih dan Indah (Foto Ali)
Snorkeling di Pink Beach tidak perlu jauh-jauh, hanya berenang dalam jarak beberapa meter saja sudah disuguhi keindahannya. Taman bawah lautnya juga tidak terlalu dalam, jadi buat yang takut berenang tak perlu khawatir tenggelam atau terseret ombak.
Rasanya ingin sekali berlama-lama di sana jika tidak ingat waktu karena selain terumbu karangnya masih terjaga dengan baik, biota lautnya pun beraneka macam. Rasanya tak cukup jika hanya sebentar.
Karena sudah sore, saya dan teman-teman akhirnya mengalah untuk kembali ke kapal. Malam ini kembali menginap di kapal. Kapal pun kembali berlayar. Kali ini mendekati Pulau Komodo.
Malam kedua berbeda sekali dengan malam pertama. Suasana sudah lebih santai dan bisa menikmati malam di kapal. Suasana kapal malam itu sangat meriah di bawah bintang gemintang yang bergelantungan di atas langit.
Selama makan malam semua bercanda dan cerita pengalaman perjalanan yang pernah ditempuh selama ini. Selain itu menggerakan badan dengan Goyang Maumere. Semua baru terlelap setelah malam benar-benar larut.

Pulau Komodo Labuah Bajo
Pagi-pagi sekali, lagi-lagi saya dan teman-teman dibangunkan suara mesin kapal yang mulai bergerak saat fajar mulai menyingkap alam Labuan Bajo. Kapal berlayar menuju Pulau Komodo.
Setelah fajar menyingsing dan matahari mulai bersinar semua membersihkan diri dan sarapan pagi. Menu pagi ini cukup beragam, tetapi saya hanya ambil pisang coklat keju yang lezat.

Menikmati Pemandangan Pagi Hari di Atas Kapal (Dokpri)
Hari ini waktu kita sangat terbatas karena sebelum pukul 14.00 harus sudah kembali ke pelabuhan dan bandara. Saya cek Tiket Pesawat. Jadwal penerbangan dari Bandara Komodo – Bandara Soekarno-Hatta Banteng tepat pukul 15.05 WITA.
Menurut perkiraan Kapten Kapal, dari Pulau Komodo menuju Pelabuhan Labuan Bajo kurang lebih 4-5 Jam, jadi ambil short trek alias hanya diberi waktu 1.5 jam saja untuk mengeksplor Pulau Komodo.

Jembatan yang Menghubungkan Antara Dermaga dengan Pulau Komodo (Foto Ali)

Pintu Gerbang Pulau Komodo (Foto Ali)

Rusa di Pulau Komodo (Foto Ali)
Karena waktunya sangat singkat, begitu kapal merapat di dermaga, semua berlompatan, seolah berlomba-lomba menuju gerbang Pulau Komodo. Setelah diberi pengarahan sebentar, semua berjalan beriringan di belakang pemandu.
Saya agak kaget saat seorang teman menunjuk Komodo sedang tiduran cantik di bawah gazebo. Usut punya usut, komodo tersebut baru saja menghabiskan seekor kambing.
Perjalanan selanjutnya makin mengagetkan dan mendebarkan. Pagi-pagi ternyata Komodo banyak yang berjemur di pantai dan sebagian tiduran manja di tengah rerimbunan hutan. Kurang lebih ada 3 komodo yang menyebar di beberapa tempat. Supaya keamanan tetap terjaga, semua berjalan di belakang pemandu.
Meski keamanan dijaga ketat, tetap saja ada kejadian yang mengerikan. Tiba-tiba seekor Komodo berdiri dan berlari mengejar salah satu teman. Usut punya usut ternyata teman tersebut sedang datang bulan.
Orang yang sedang datang bulan atau sedang terluka sebaiknya tidak masuk ke Pulau Komodo karena jarak penciuman Komodo hingga mencapai 7 Km. Pantas saja dia tahu teman yang sedang datang bulan.

Gagahnya Komodo di Pulau Komodo (Foto Ali)
Pemandu kemudian mengalihkan perhatian Komodo hingga suasana kembali tenang. Teman pun buru-buru kembali ke kapal tanpa terluka sedikit pun. Duuuh, benar-benar pengalaman yang sangat menegangkan.
Walau hanya sebentar, semua tetap bisa menikmati Pulau Komodo dengan bahagia. Salah satunya bisa foto-foto ganteng dan foto-foto cantik bersama tuan rumah alias Sang Komodo.
Tepat pukul 09.00 WITA, semua say goodbye pada pemandu dan Komodo untuk kembali ke dunia nyata. Sambil berharap, suatu kali bisa kembali ke sini, menjelajah nusantara yang indahnya tiara.
Saya yakin sekali, siapa pun yang sudah menginjak Labuan Bajo pasti penasaran dengan pulau, bukit atau pantai lain yang belum sempat dijejak. Bukan hanya penasaran, tetapi juga bakal susah move on.
Apalagi penerbangan menuju Bandara Komodo Labuan Bajo sudah semakin banyak, begitu pun kapal-kapal pesiar. Paket-paket wisata ke Labuan Bajo pun makin beragam, jadi bisa ke sana kapan pun selagi ada biaya dan waktu.

Labuan Bajo Memenuhi Syarat Sebagai Destinasi Wisata
Berpijak pada apa yang dikatakan oleh James J. Spillane dalam buku Ekonomi Pariwisata: Sejarah dan Prospeknya (1994: 63-72) yang diterbitkan Penerbit Kanisius, Jogjakarta, ada lima (5) unsur penting sebuah tempat atau kawasan dinyatakan layak sebagai destinasi wisata.
1).  Punya Daya Tarik
Salah satu motivasi wisatawan atau traveler mengunjungi sebuah tempat wisata adalah karena mempunyai daya tarik. Daya tarik ini yang nanti akan menjadi salah satu yang membuat wisatawan atau traveler terpuaskan kebutuhan berwisatanya.
Ada beberapa ciri yang membuat wisatawan atau traveler tertarik pada sebuah tempat, antara lain; Keindahannya, Iklim dan cuacanya, Kebudayaannya, Sejarahnya, Ethnicity (sifat kesukuannya), dan Accessibility (kemudahan akses menuju ke lokasi tersebut).
Labuan Bajo memenuhi syarat pertama ini, bukan hanya keindahan alamnya yang tak terperi, sejarah, kebudayaan, ethnic, dan aksesnya pun mudah. Terlebih pada tahun 2019 ini pemerintah menambah akses.
Pemerintah melalui Kementerian PUPR melalui Direktorat Jenderal Bina Marga membangun Jalan Lingkar Utara Flores dari Labuan Bajo-Kedindi sepanjang 141,29 kilometer.
2). Fasilitas yang Dibutuhkan
Fasilitas di tempat wisata sangat penting karena dibutuhkan wisatawan atau traveler. Fasilitas yang baik akan mendorong pertumbuhan wisatawan yang datang ke sebuah tempat.
Fasilitas di tempat wisata yang standard antara lain adanya penginapan, restoran atau tempat makan, rumah sakit, pusat informasi, dan kantor keamanan.
Labuan Bajo, meski pun sebagian besar destinasi yang dituju bertebaran di antara gugusan pulau, fasilitasnya cukup lengkap. Selaian fasilitas yang disediakan pemerintah daerah juga fasilitas yang disiapkan di dalam kapal.  


3). Infrastruktur yang Memadai
Lokasi yang mempunyai daya tarik dan fasilitas yang memadai akan percuma jika belum ada infrastuktur yang memadai. Infrastruktur penting yang dimaksud di antaranya;
a). Sistem pengairan yang baik karena kebutuhan air sangat esensial bagi siapa pun.
b). Ketersediaan sumber listrik dan energi yang memadai, bukan hanya pada hari-hari biasa, tetapi juga pada saat peak hours yang kebutuhan pemakaiannya sangat tinggi.
c). Jaringan telekomunikasi yang luas terutama karena kebutuhan wisatawan atau traveler untuk berkomunikasi dengan dunia luar. Terlebih saat ini kebutuhan untuk mengunggah aktivitas di medsos sangat tinggi, jadi jaringan telekomunikasi tidak bisa diabaikan.
d). Sistem pembuangan kotoran /pembuangan air yang mamadai karena kebutuhan air untuk pembuangan kotoran memerlukan kira-kira 90% dari kebutuhan air itu sendiri, jadi memang tidak bisa main-main.
e). Tersedianya Jasa kesehatan agar memudahkan wisatawan atau traveler saat tiba-tiba sakit saat dalam perjalanan.
f). Jalan raya yang menarik buat wisatawan. Ini sudah dilakukan di Labuan Bajo, pada saat akan menuju dermaga, sepanjang jalan wisatawan disuguhi pemandangan yang indah.
4). Transportasi yang cukup
Termasuk informasi transportasi yang lengkap tentang lokasi, tarif, jadwal, rute, dan pelayanan pengangkutan lokal. Sistem informasi harus menyediakan data tentang informasi pelayanan pengangkutan lain yang dapat dihubungi diterminal termasuk jadwal dan tarif.
Informasi terbaru dan sedang berlaku, baik jadwal keberangkatan atau kedatangan harus tersedia di papan pengumuman, lisan atau telepon. Tenaga kerja untuk membantu para penumpang, peta, dan  rambu-rambu jalan yang memudahkan pengunjung. Ini super duper penting.
5). Keramahtamahan
Dalam melakukan pengembangan pariwisata, tentu tidak lepas dari peran organisasi kepariwisataan, terutama Dinas Pariwisata Dan Kebudayaan (Disparbud) daerah yang mempunyai tugas dan wewenang mengembangkan dan memanfaatkan aset daerah yang berupa obyek-obyek wisata.
Disparbud harus menjalankan kebijakan yang paling menguntungkan bagi daerah dan wilayahnya dan berusaha memberikan kepuasan kepada wisatawan yang berkunjung ke daerahannya.
Melakukan koordinasi dengan berbagai macam lembaga termasuk kepada masyarakat agar semua saling mendukung. Salah satunya adalah menyambut wisatawan dengan keramah-tamahan.
Ini mungkin hal sepele, tetapi bagi wisatawan atau traveler sangat penting karena membuat kita nyaman saat berkunjung ke suatu daerah.

Kesimpulan
Dari pengalaman saya dan teman-teman yang telah menjelajah Labuan Bajo, semua merasa senang dan tertarik untuk datang kembali karena menjelajah dalam waktu 3 atau 4 hari tidak cukup.
Ini membuktikan jika Labuan Bajo memang sudah bisa mampu memikat wisatawan atau traveler untuk ke sana. Selain karena mamang alamnya yang sangat indah, Labuan Bajo memenuhi syarat sebagai Destinasi Wisata yang memadai dan layak dikunjungi seperti syarat-syarat yang dikemukakan di atas.
Belum lagi hingga kini pemerintah pusat dan pemerintah daerah terus menerus melakukan perbaikan di sana-sini. Pemerintah pusat bahkan menempatkan Labuan Bajo sebagai salah satu Destinasi Super Prioritas dari lima (5) destinasi lainnya sehingga akan diutamakan.
Saya sebagai salah satu traveler sangat berharap, semoga upaya yang dilakukan pemerintah ini didukung oleh semua lapisan masyarakat dan destinasi wisata Indonesia makin harum di kancah dunia pariwisata international. []

15 komentar:

  1. Ahhh kepengen banget traveling ke Labuan Bajo, Kang
    Panorama alam dan liat Komodonya secara langsung pasti bikin kesan 'seneng' nya bukan main, apalagi itu gimana atmosfirnya saat nginep di kapal, dan itu view di atas kapal, bener2 bikin berdecak kagumm pokoknya hehehe
    Makasihh udah bikin mupeng Kang Ali, eehhehehee

    BalasHapus
  2. demi apapun salah satu wishlist aku ya ke sini dong, indah banget kalau di sana pasti takjubnya bener-bener. di gambar aja udah indaaah huhu

    BalasHapus
  3. Subhanallah, pemandangannya indah sekali,Kang
    Semoga suatu saat nanti bisa main menjelajah alam Labuan Bajo.

    BalasHapus
  4. Komodo itu dalam bayanganku horor banget,berbahaya. Tapi rasa penasaran bikin aku tetep pengen banget kesana, liat komodo dan labuan bajo ini wishlist banget

    BalasHapus
  5. Waduh bahaya juga ya kalau pas lagi haid ke Pulau Komodo. Padahal kan pengen banget lihat komodo-nya.. hehe.
    Pulau-pulau dan pantai-pantai di Labuan Bajo indah semua ya, Kang. Duh, saya kapan bisa ke sanaaa... :)

    BalasHapus
  6. Bandara Labuhan Bajo dengan Bandara Komodo beda ya kang? Waktu itu pernah ke Bandara Labuhan Bajo tapi buat lanjut jalan darat ke Kota Ruteng. Blm jelajah area2sana. Senengnya liat komodo moga kelak bisa ke sana dan lbh banyak mengelilingi Labuan Bajo

    BalasHapus
  7. Baca postingan mas Ali bikin pengen ke Labuan Bajo, keren banget mas ali bisa menjelajahi tempat wisata idaman para traveller, moga makmak rumahan kayak saya juga bisa jalan-jalan ke sana

    BalasHapus
  8. Labuan bajo sebenarnya ngga cuman keindahan alamnya, wisata bawah lau dan pantainya juga oke. Apalagi pemerintah sudah menyiapkan semua infrastruktur agar labuan bajo semakin nyaman dikunjungi. Kalau misalnya ada pembatasan wisatawan agar lingkunganngga rusak, aku setuju

    BalasHapus
  9. Saya pun kayaknya susah move setelah lihat pemandangan yang luar biasa indahnya di Labuan Bajo, Kang.
    Kebayang paniknya teman Kang Ali yang dikejar-kejar sama komodo, jadi tau, kalau lagi datang bulan gak boleh dekat-dekat komodo.

    BalasHapus
  10. Wee,, ngeri juga sampai dikejar Komodo, sepertinya memang harus diberi peringatan atau semacam peringatan sebelum memasuki kawasan Komodo, bahwa yang datang bulan atau terluka tidak diperbolehkan melintas di sekitar Komodo.

    BalasHapus
  11. Aduhh labuhan bajo tuh sesuatu banget yaa tempatnya bagus bagus dan pantes beberapa orang kalo kesinii tuh susaj moveon

    BalasHapus
  12. Agak ngeri juga ya kalau tiba-tiba komodonya ngejar kita, kalau buat wanita yang sedang haid berarti gak disaranin main di sana ya mas. Etapi kan ada petugasnya bisa di handle mungkin ya

    BalasHapus
  13. Masyaallah indahnya dan aku iri belum pernah ke Labuan Bajo..huhuhu. yang melihat dari fotonya saja susah move on. Apalagi yang ke sana

    BalasHapus
  14. Ini salahs satu wisata yg ingin aku kunjungi, bahari nya itu kagak nahan sungguh indah. Jadi pengen segera kesana. Lihat foto-fotonya.

    BalasHapus
  15. Meskipun saya belum pernah datang ke Labuan Bajo, keindahan objek - objek wisata di sana bener-bener bikin saya ingin ke sana suatu hari nanti.

    BalasHapus

Ditunggu Komentarnya Teman-Teman