Pada usia 15 tahun, Thia mendapat Anugerah Kebudayaan dan Penghargaan Maestro Seni Tradisi tahun 2016 dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai Penulis Muda Produktif yang Menghasilkan 14 Judul Buku Fiksi Anak dan 23 Karya Fiksi dalam Bunga Rampai pada Usia 15 tahun, serta Sebagai Pegiat Literasi.

Berbeda dengan remaja seusianya, penghargaan tersebut tidak membuatnya besar kepala, sebaliknya, Thia merasa penghargaan itu akan dipegangnya sebagai amanah untuk memajukan dunia literasi.

SAYA mengenal Muthia Fadhila Khairunnisa atau biasa disapa Thia sekitar tahun 2010. Waktu itu Thia masih kecil dan didapuk untuk menari balet pada acara Word Book Day 2010 di Pasar Festival Kuningan Jakarta.
Saat itu, Thia baru memulai sebagai penulis cilik dan telah menulis beberapa cerpen. Kini, setelah hampir sembilan (9) tahun tidak bertemu, karier Thia dalam dunia tulisan menulis, literasi, dan sosial makin cemerlang.
Kebetulan, akhir Bulan Juli 2019 lalu, saya bertemu Thia di kawasan Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang. Saat itu, saya dan ibunda Thia, ada acara di sana. Jadi sekalian bertemu Thia.
“Thia baru kemarin malam balik dari Singapura,” ungkap Shinta Handini, ibunda Thia, sesaat setelah duduk di meja makan untuk sarapan. “Habis ikut NUS Enterprise Summer Programme on Entrepreneurship,” lanjutnya.
NUS Enterprise Summer Programme on Entrepreneurship adalah program Musim Panas NUS Enterprise tentang Kewirausahaan yang diadakan setiap tahun. Thia menjadi salah satu mahasiswa terpilih yang diundang ke sana dengan beasiswa penuh untuk belajar Socialpreneur.

Bersama Mahasiswa dari Berbagi Negara Saat Mengikuti NUS di Singapura (Foto DokPri)
Mewakili Indonesia dalam AICHR Interregional Dialogue di Thailand (Foto DokPri)

Sebelumnya, Thia mewakili Indonesia dalam AICHR Interregional Dialogue: Sharing Good Practices on Business and Human Rights, di Thailand pada Bulan Juni 2019.
Mewakili Indonesia sebagai penulis muda dalam Developing Inclusive and Creative Economy (DICE) Week and Good Deals - Beyond Good Business Conference, United Kingdom di Inggris pada Bulan Mei 2019.
Alhamdulillah aktivitas yang Thia jalani selama ini berkat kecintaan Thia pada dunia literasi,” pungkas Shinta.

Berawal dari Buku
Sejak masih dalam kandungan, Thia sudah diakrabkan dengan buku. Bundanya yang memang dari dulu suka baca buku, sengaja membeli dan mengoleksi buku untuk anak-anak. Mulai dari buku bantal, buku kain, buku plastik, boardbook, semua disediakan dan dibacakan Shinta sejak dalam kandungan.
“Saya bacain sambil ngelus-elus perut,” cerita Shinta sambil tertawa kecil mengenang saat Thia masih dalam kandungan. “Dari dulu, saya pengin punya anak yang suka buku. Terserah nanti mau jadi apa, yang penting suka buku,” lanjutnya.
Karena terbiasa dengan buku, tanpa sadar ketika beli mainan pun kebanyakan bentuknya buku. Entah itu mainan puzzle, piano, dan sebagainya. Mainannya hingga sekarang masih ada walau sudah 18 tahun.
Begitu lahir, Thia sudah akrab dengan buku-buku yang waktu masih dalam kandungan dibacakan. Baik buku kain atau buku bantal saat mau tidur dan buku plastik saat sedang mandi.
“Hebatnya Thia kelihatan senang banget, jadi saya makin semangat,” cerita Shinta lagi.
Pada usia 2,5 tahun, Thia masuk playgroup. Satu tahun kemudian masuk Taman Kanak-Kanak. Saat itu, Thia menjadi murid terkecil dan satu-satunya murid yang sudah lancar membaca. Padahal sama sekali tidak pernah sengaja belajar baca kecuali dibacain buku atau poster yang ditempel di dinding rumah.
Kesenangan Thia pada membaca ternyata terus berlanjut hingga usia Sekolah Dasar pada usia 5,5 tahun, bahkan Thia mulai suka menulis.

Pertama Nulis Melalui Media Blog
Pada usia sekitar enam (6) tahun, saat awal-awal dunia blogging masuk ke Indonesia, Thia terpikat pada blog bundanya. Thia kemudian minta diajarin bagaimana caranya ngeblog.
Tanpa kesulitan, Thia mengikuti arahan ibundanya untuk ngeblog. Ibundanya kemudian membuatkan blog untuk Thia. Tanpa disangka, setelah tulisan pertamanya tayang, respons pembaca sungguh luar biasa. Membuat Thia makin semangat ngeblog.
“Tulisan berupa cerpen anak,” kata Thia, “Ceritanya simpel, tentang seorang anak yang sedang ulang tahun dan ingin ulang tahunnya dirayakan di taman. Anak itu mendapat hadiah kue ulang tahun kesukaannya, yaitu cheese cake,” lanjutnya mengenang cerpen anak pertamanya yang berjudul Cheesecake is Yummy.
Sejak cerpen pertamanya tayang, Thia terus menulis termasuk menulis sebuah artikel singkat tentang Life Skill Memasak di Sekolahku yang membawanya menjadi salah satu peserta Konferensi Anak Bobo Tahun 2009 yang bertemakan Save My Food, My Healthy Food.

Peserta Tercilik dalam Koferensi Anak Bobo Tahun 2009 (Foto DokPri)

“Thia menjadi peserta terkecil. Saat itu baru 8 tahun, kelas 4,” kenang Shinta. “Untungnya Thia berani, jadi mau mengikuti semua rangkaian acara konferensi di bulan November 2009 selama enam hari,” sambungnya.
Pada Desember 2009, Shinta mengirimkan kumpulan cerpen Thia untuk mengikuti seleksi Konferensi Penulis Cilik Indonesia (KPCI) yang diadakan oleh Penerbit Mizan bekerjasama dengan Direktorat Pembinaan Sekolah Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI dan Thia dinyatakan lolos. Beberapa bulan kemudian, buku pertama Thia terbit dengan judul Manusia Bunglon (DAR! Mizan, 2010).
Masih di tahun 2010, Thia kembali mengikuti seleksi KPCI. Thia lagi-lagi dinyatakan lolos.
Karena merasa masih perlu belajar, Thia kembali ikut seleksi KPCI tahun 2011 dan lolos. Saat itu, Thia mendapat penghargaan sebagai Penulis Cilik Terbaik tahun 2011. Pada tahun berikutnya Thia ikut dan mendapat penghargaan sebagai Penulis Cilik Paling Produktif tahun 2012.
Aktivitas menulis Thia sepertinya tak berhenti sampai di sana. Menginjak usia Sekolah Menengah Pertama (SMP) Thia mulai menulis komik dan novel untuk anak-anak usia remaja seperti Fantasteen Ghost Dormitory ini Seoul (Mizan, 2014).

Thia Menerima Pin Emas (Foto DokPri)

Pada usia 15 tahun, tanpa diduga Thia mendapat Pin Emas dalam Anugerah Kebudayaan dan Penghargaan Maestro Seni Tradisi tahun 2016 dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Thia mendapat anugerah sebagai Penulis Muda Produktif yang Menghasilkan 14 Judul Buku Fiksi Anak dan 23 Karya Fiksi dalam Bunga Rampai pada Usia 15 tahun, Serta Sebagai Pegiat Literasi. Pin diberikan  pada 23 September 2016 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Kemudian menginjak usia Sekolah Menengah Atas (SMA) Thia juga menulis beberapa buku seperti Diary Persahabatan Squishy Sissy, Diary Persahabatan Japan Horror Adventure, dan Diary Persahabatan Penghuni Rumah Tua yang semua diterbitkan Muffin Graphics tahun 2018.
Thia juga melebarkan sayapnya menjadi Penulis Skenario Film Pendek di sekolahnya di SMA Labschool Jakarta. Hebatnya, semua film yang digarapnya mendapatkan penghargaan, baik di tingkat regional, nasional, maupun tingkat international.
Sebut saja misalnya film Akar dan Asa yang mendapat Juara 1 dalam ajang FLS2N 2016 tingkat kotamadya Jakarta Timur. Berlanjut film Lembar Masa Depan yang mendapat Juara 2 dalam ajang FLS2N 2016 tingkat provinsi DKI Jakarta. Film Raga yang Fana menjadi 120 film pendek terbaik Indonesia Short Film Festival 2016 yang diadakan SCTV.
Berkat prestasi tersebut, Thia diundang mewakili Indonesia untuk mengikuti Busan International Kids and Youth Film Festival 2018. Di sana, Thia mengikuti Busan International Youth Film Camp di Busan, Korea Selatan dengan gratis. Film Catalyst adalah film yang dihasilkannya bersama tim saat mengikuti camp di Busan dan diputar pada acara penutupan festival.

Thia Saat ikut Camp di Korea (Foto DokPri)
Masih banyak penghargaan-penghargaan lain yang diterima Thia dan semua terkait dengan dunia literasi.

Mantap Menjadi Literacy and Sosial Campaigner
Dukungan keluarga, terutama ibundanya dalam pendidikan literasi yang diterimanya sedari kecil membuat Thia ingin berbuat lebih banyak lagi dalam dunia literasi.
Tidak heran anak pertama dari tiga (3) bersaudara pasangan Shinta Handini dan Faizal Adiputra kelahiran Jakarta, 14 Januari 2001 kini telah menjadi sosok yang sangat aware dalam dunia literasi.


Thia Bersama Ibundanya dan Kedua Adiknya (Foto DokPri)
Thia Bersama Buku-Buku Karyanya (Foto DokPri)
Thia Saat Menjadi Salah Satu Delegasi (Foto DokPri)
Thia Menjadi Ambasador Teens (Foto DokPri)

“Selain menjadi penulis, aku juga mantap menjadi seorang literacy dan sosial campaigner,” tegas Thia saat ditanya keinginannya saat ini.
Gadis cantik yang saat ini kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pajajaran Bandung Jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial tersebut baru-baru ini menjadi salah satu Mahasiswa Berprestasi tahun 2019 di Fakultasnya.

Sebagai Mahasiswa Berprestasi (Foto DokPri)
Prestasi tersebut didapat Thia karena, walau pun Thia aktif di luar kampus, indeks prestasi (IP) yang ditorehkannya tetap tinggi. Bayangkan, pada semester 1 Thia mendapatkan IPK sempurna, begitu pun semester berikutnya.
Padahal selama kuliah, aktivitas Thia semakin padat. Sambil kuliah, Thia banyak menulis artikel remaja di media online. Sudah puluhan artikel yang ditulisnya. Selain itu, Thia ikut beberapa acara tingkat international. Selain yang saya ceritakan di atas, Thia juga menjadi delegasi 5th Asia Pacific Youth Exchaneg 2018 yang diselenggarakan oleh Urban Youth Academy dan Asian Development Bank Manila and Quezon, di Filipina.
Menjadi delegasi Indonesia pada ajang Universal Kids Film Festival 2018 di Istanbul, Turki. Mewakili Universitas Padjajaran dan Indonesia dalam Asean University Student Council Union 2018 (AUSCU) di Singapura.
Menjadi delegasi The DICE (Developing Inclusive and Creative Economics) Young Storymakers Programme 2019 di London. Delegasi ASEAN Intergovermental Commission on Human Rights (AICHR) Interregional Dialogue on Business and Human Rights 2019 bersama Menteri Luar Negeri RI, Ibu Retno Marsudi, di Bangkok, Thailand.
Aktivitas yang bejibun di tahun 2018, selain mampu mempertahankan prestasi akademiknya, Thia juga mampu mempertahankan prestasinya dalam dunia literasi dan dunia sosial.
Thia mendapat penghargaan Internasional  Young Superheroes 2018 sebagai aktivis muda Sustainable Development Goals (SDGs) yang diberikan  oleh Plan Ungdom dari Plan International Norway, Norwegia.
Thia juga mendapat penghargaan Internasional Diana Award 2018, sebagai orang muda inspiratif dunia, dari The Diana Award, Diana Foundation, London, Inggris.

Thia Bersama Ibu Retno Marsudi (Foto DokPri)

Thia Menjadi Salah Satu Delegasi di APYE (Foto DokPri)

Thia Saat Menjadi Bintang Tamu di Acara Kik Andy (Foto DokPri)
International Diana Award Holders untuk Thia (Foto DokPri)

Entah, kalimat apa lagi yang pantas disematkan kepada Thia selain kata luar biasa. Sebagai sesama pegiat literasi, saya hanya berharap, semoga Thia istiqomah sehingga terus menginspirasi anak-anak milenial yang lebih mengenal literasi digital daripada literasi lainnya.
Selain itu keluarga Thia, terutama bundanya juga bisa menjadi inspirasi orangtua zaman now, yang sudah terpapar dunia digital yang demikian pekat. Sehingga, anak-anak mereka pun bisa dididik menjadi anak-anak yang melek literasi.
Terus, apa alasan Thia selain menjadi seorang penulis, juga mantap menjadi Literacy and Sosial Campaigner?
“Seperti motto hidupku, The happiest moment is when you can share your happiness with others, aku ingin berbagi kebahagiaan pada orang banyak,” kata Thia sambil memainkan bola matanya yang indah. “Ketertarikanku di bidang literasi dan isu-isu sosial, khususnya isu perempuan dan anak, mendorong aku untuk menyuarakan hal-hal tersebut, baik secara lisan, tulisan, maupun melalui media video, film pendek, dan media lainnya,” tuntasnya.


Saat ini, sebagai bagian dari program DICE Young Story Makers dari British Council, Thia menjadi salah satu kontributor Pioneers Post, media online dan cetak dari Inggris yang memberitakan tentang kewirausahaan sosial dari seluruh dunia.
“Selain itu, aku sedang menantang diri untuk mempublikasikan artikel ilmiah bersama rekan-rekan di perkuliahan,” cerita Thia lagi sebagai bentuk pertanggung jawabannya dalam dunia akademik.
Sebagai seorang Literacy and Sosial Campaigner, Thia sangat berharap perkembangan literasi saat ini harus bisa beriringan dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Konsep literasi perlu diterapkan sejak dini. Thia berharap, khususnya orangtua dan guru bisa menerapkan hal tersebut di rumah dan di sekolah.
“Karena aku merasakan sendiri, betapa beruntungnya aku sudah mengenal dan suka dengan literasi sejak kecil,” tegas Thia.
Keluarga sebisa mungkin menciptakan suasana dan lingkungan yang nyaman agar anak-anak tertarik dengan literasi. Memberikan fasilitas dan akses agar mudah berliterasi. Memahami bahwa setiap anak mempunyai tingkat ketertarikan yang berbeda dalam hal literasi, sehingga dibutuhkan kreativitas untuk dapat memancing mereka melek literasi.
Harapan tersebut tentu saja akan terwujud jika kerjasama antara orangtua, sekolah, dan masyarakat optimal.[ ]

#SahabatKeluarga #LiterasiKeluarga

Dukungan Mama, Mengantar Thia Menjadi Seorang Penulis dan Seorang Literacy and Sosial Campaigner



Pada usia 15 tahun, Thia mendapat Anugerah Kebudayaan dan Penghargaan Maestro Seni Tradisi tahun 2016 dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai Penulis Muda Produktif yang Menghasilkan 14 Judul Buku Fiksi Anak dan 23 Karya Fiksi dalam Bunga Rampai pada Usia 15 tahun, serta Sebagai Pegiat Literasi.

Berbeda dengan remaja seusianya, penghargaan tersebut tidak membuatnya besar kepala, sebaliknya, Thia merasa penghargaan itu akan dipegangnya sebagai amanah untuk memajukan dunia literasi.

SAYA mengenal Muthia Fadhila Khairunnisa atau biasa disapa Thia sekitar tahun 2010. Waktu itu Thia masih kecil dan didapuk untuk menari balet pada acara Word Book Day 2010 di Pasar Festival Kuningan Jakarta.
Saat itu, Thia baru memulai sebagai penulis cilik dan telah menulis beberapa cerpen. Kini, setelah hampir sembilan (9) tahun tidak bertemu, karier Thia dalam dunia tulisan menulis, literasi, dan sosial makin cemerlang.
Kebetulan, akhir Bulan Juli 2019 lalu, saya bertemu Thia di kawasan Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang. Saat itu, saya dan ibunda Thia, ada acara di sana. Jadi sekalian bertemu Thia.
“Thia baru kemarin malam balik dari Singapura,” ungkap Shinta Handini, ibunda Thia, sesaat setelah duduk di meja makan untuk sarapan. “Habis ikut NUS Enterprise Summer Programme on Entrepreneurship,” lanjutnya.
NUS Enterprise Summer Programme on Entrepreneurship adalah program Musim Panas NUS Enterprise tentang Kewirausahaan yang diadakan setiap tahun. Thia menjadi salah satu mahasiswa terpilih yang diundang ke sana dengan beasiswa penuh untuk belajar Socialpreneur.

Bersama Mahasiswa dari Berbagi Negara Saat Mengikuti NUS di Singapura (Foto DokPri)
Mewakili Indonesia dalam AICHR Interregional Dialogue di Thailand (Foto DokPri)

Sebelumnya, Thia mewakili Indonesia dalam AICHR Interregional Dialogue: Sharing Good Practices on Business and Human Rights, di Thailand pada Bulan Juni 2019.
Mewakili Indonesia sebagai penulis muda dalam Developing Inclusive and Creative Economy (DICE) Week and Good Deals - Beyond Good Business Conference, United Kingdom di Inggris pada Bulan Mei 2019.
Alhamdulillah aktivitas yang Thia jalani selama ini berkat kecintaan Thia pada dunia literasi,” pungkas Shinta.

Berawal dari Buku
Sejak masih dalam kandungan, Thia sudah diakrabkan dengan buku. Bundanya yang memang dari dulu suka baca buku, sengaja membeli dan mengoleksi buku untuk anak-anak. Mulai dari buku bantal, buku kain, buku plastik, boardbook, semua disediakan dan dibacakan Shinta sejak dalam kandungan.
“Saya bacain sambil ngelus-elus perut,” cerita Shinta sambil tertawa kecil mengenang saat Thia masih dalam kandungan. “Dari dulu, saya pengin punya anak yang suka buku. Terserah nanti mau jadi apa, yang penting suka buku,” lanjutnya.
Karena terbiasa dengan buku, tanpa sadar ketika beli mainan pun kebanyakan bentuknya buku. Entah itu mainan puzzle, piano, dan sebagainya. Mainannya hingga sekarang masih ada walau sudah 18 tahun.
Begitu lahir, Thia sudah akrab dengan buku-buku yang waktu masih dalam kandungan dibacakan. Baik buku kain atau buku bantal saat mau tidur dan buku plastik saat sedang mandi.
“Hebatnya Thia kelihatan senang banget, jadi saya makin semangat,” cerita Shinta lagi.
Pada usia 2,5 tahun, Thia masuk playgroup. Satu tahun kemudian masuk Taman Kanak-Kanak. Saat itu, Thia menjadi murid terkecil dan satu-satunya murid yang sudah lancar membaca. Padahal sama sekali tidak pernah sengaja belajar baca kecuali dibacain buku atau poster yang ditempel di dinding rumah.
Kesenangan Thia pada membaca ternyata terus berlanjut hingga usia Sekolah Dasar pada usia 5,5 tahun, bahkan Thia mulai suka menulis.

Pertama Nulis Melalui Media Blog
Pada usia sekitar enam (6) tahun, saat awal-awal dunia blogging masuk ke Indonesia, Thia terpikat pada blog bundanya. Thia kemudian minta diajarin bagaimana caranya ngeblog.
Tanpa kesulitan, Thia mengikuti arahan ibundanya untuk ngeblog. Ibundanya kemudian membuatkan blog untuk Thia. Tanpa disangka, setelah tulisan pertamanya tayang, respons pembaca sungguh luar biasa. Membuat Thia makin semangat ngeblog.
“Tulisan berupa cerpen anak,” kata Thia, “Ceritanya simpel, tentang seorang anak yang sedang ulang tahun dan ingin ulang tahunnya dirayakan di taman. Anak itu mendapat hadiah kue ulang tahun kesukaannya, yaitu cheese cake,” lanjutnya mengenang cerpen anak pertamanya yang berjudul Cheesecake is Yummy.
Sejak cerpen pertamanya tayang, Thia terus menulis termasuk menulis sebuah artikel singkat tentang Life Skill Memasak di Sekolahku yang membawanya menjadi salah satu peserta Konferensi Anak Bobo Tahun 2009 yang bertemakan Save My Food, My Healthy Food.

Peserta Tercilik dalam Koferensi Anak Bobo Tahun 2009 (Foto DokPri)

“Thia menjadi peserta terkecil. Saat itu baru 8 tahun, kelas 4,” kenang Shinta. “Untungnya Thia berani, jadi mau mengikuti semua rangkaian acara konferensi di bulan November 2009 selama enam hari,” sambungnya.
Pada Desember 2009, Shinta mengirimkan kumpulan cerpen Thia untuk mengikuti seleksi Konferensi Penulis Cilik Indonesia (KPCI) yang diadakan oleh Penerbit Mizan bekerjasama dengan Direktorat Pembinaan Sekolah Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI dan Thia dinyatakan lolos. Beberapa bulan kemudian, buku pertama Thia terbit dengan judul Manusia Bunglon (DAR! Mizan, 2010).
Masih di tahun 2010, Thia kembali mengikuti seleksi KPCI. Thia lagi-lagi dinyatakan lolos.
Karena merasa masih perlu belajar, Thia kembali ikut seleksi KPCI tahun 2011 dan lolos. Saat itu, Thia mendapat penghargaan sebagai Penulis Cilik Terbaik tahun 2011. Pada tahun berikutnya Thia ikut dan mendapat penghargaan sebagai Penulis Cilik Paling Produktif tahun 2012.
Aktivitas menulis Thia sepertinya tak berhenti sampai di sana. Menginjak usia Sekolah Menengah Pertama (SMP) Thia mulai menulis komik dan novel untuk anak-anak usia remaja seperti Fantasteen Ghost Dormitory ini Seoul (Mizan, 2014).

Thia Menerima Pin Emas (Foto DokPri)

Pada usia 15 tahun, tanpa diduga Thia mendapat Pin Emas dalam Anugerah Kebudayaan dan Penghargaan Maestro Seni Tradisi tahun 2016 dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Thia mendapat anugerah sebagai Penulis Muda Produktif yang Menghasilkan 14 Judul Buku Fiksi Anak dan 23 Karya Fiksi dalam Bunga Rampai pada Usia 15 tahun, Serta Sebagai Pegiat Literasi. Pin diberikan  pada 23 September 2016 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Kemudian menginjak usia Sekolah Menengah Atas (SMA) Thia juga menulis beberapa buku seperti Diary Persahabatan Squishy Sissy, Diary Persahabatan Japan Horror Adventure, dan Diary Persahabatan Penghuni Rumah Tua yang semua diterbitkan Muffin Graphics tahun 2018.
Thia juga melebarkan sayapnya menjadi Penulis Skenario Film Pendek di sekolahnya di SMA Labschool Jakarta. Hebatnya, semua film yang digarapnya mendapatkan penghargaan, baik di tingkat regional, nasional, maupun tingkat international.
Sebut saja misalnya film Akar dan Asa yang mendapat Juara 1 dalam ajang FLS2N 2016 tingkat kotamadya Jakarta Timur. Berlanjut film Lembar Masa Depan yang mendapat Juara 2 dalam ajang FLS2N 2016 tingkat provinsi DKI Jakarta. Film Raga yang Fana menjadi 120 film pendek terbaik Indonesia Short Film Festival 2016 yang diadakan SCTV.
Berkat prestasi tersebut, Thia diundang mewakili Indonesia untuk mengikuti Busan International Kids and Youth Film Festival 2018. Di sana, Thia mengikuti Busan International Youth Film Camp di Busan, Korea Selatan dengan gratis. Film Catalyst adalah film yang dihasilkannya bersama tim saat mengikuti camp di Busan dan diputar pada acara penutupan festival.

Thia Saat ikut Camp di Korea (Foto DokPri)
Masih banyak penghargaan-penghargaan lain yang diterima Thia dan semua terkait dengan dunia literasi.

Mantap Menjadi Literacy and Sosial Campaigner
Dukungan keluarga, terutama ibundanya dalam pendidikan literasi yang diterimanya sedari kecil membuat Thia ingin berbuat lebih banyak lagi dalam dunia literasi.
Tidak heran anak pertama dari tiga (3) bersaudara pasangan Shinta Handini dan Faizal Adiputra kelahiran Jakarta, 14 Januari 2001 kini telah menjadi sosok yang sangat aware dalam dunia literasi.


Thia Bersama Ibundanya dan Kedua Adiknya (Foto DokPri)
Thia Bersama Buku-Buku Karyanya (Foto DokPri)
Thia Saat Menjadi Salah Satu Delegasi (Foto DokPri)
Thia Menjadi Ambasador Teens (Foto DokPri)

“Selain menjadi penulis, aku juga mantap menjadi seorang literacy dan sosial campaigner,” tegas Thia saat ditanya keinginannya saat ini.
Gadis cantik yang saat ini kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pajajaran Bandung Jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial tersebut baru-baru ini menjadi salah satu Mahasiswa Berprestasi tahun 2019 di Fakultasnya.

Sebagai Mahasiswa Berprestasi (Foto DokPri)
Prestasi tersebut didapat Thia karena, walau pun Thia aktif di luar kampus, indeks prestasi (IP) yang ditorehkannya tetap tinggi. Bayangkan, pada semester 1 Thia mendapatkan IPK sempurna, begitu pun semester berikutnya.
Padahal selama kuliah, aktivitas Thia semakin padat. Sambil kuliah, Thia banyak menulis artikel remaja di media online. Sudah puluhan artikel yang ditulisnya. Selain itu, Thia ikut beberapa acara tingkat international. Selain yang saya ceritakan di atas, Thia juga menjadi delegasi 5th Asia Pacific Youth Exchaneg 2018 yang diselenggarakan oleh Urban Youth Academy dan Asian Development Bank Manila and Quezon, di Filipina.
Menjadi delegasi Indonesia pada ajang Universal Kids Film Festival 2018 di Istanbul, Turki. Mewakili Universitas Padjajaran dan Indonesia dalam Asean University Student Council Union 2018 (AUSCU) di Singapura.
Menjadi delegasi The DICE (Developing Inclusive and Creative Economics) Young Storymakers Programme 2019 di London. Delegasi ASEAN Intergovermental Commission on Human Rights (AICHR) Interregional Dialogue on Business and Human Rights 2019 bersama Menteri Luar Negeri RI, Ibu Retno Marsudi, di Bangkok, Thailand.
Aktivitas yang bejibun di tahun 2018, selain mampu mempertahankan prestasi akademiknya, Thia juga mampu mempertahankan prestasinya dalam dunia literasi dan dunia sosial.
Thia mendapat penghargaan Internasional  Young Superheroes 2018 sebagai aktivis muda Sustainable Development Goals (SDGs) yang diberikan  oleh Plan Ungdom dari Plan International Norway, Norwegia.
Thia juga mendapat penghargaan Internasional Diana Award 2018, sebagai orang muda inspiratif dunia, dari The Diana Award, Diana Foundation, London, Inggris.

Thia Bersama Ibu Retno Marsudi (Foto DokPri)

Thia Menjadi Salah Satu Delegasi di APYE (Foto DokPri)

Thia Saat Menjadi Bintang Tamu di Acara Kik Andy (Foto DokPri)
International Diana Award Holders untuk Thia (Foto DokPri)

Entah, kalimat apa lagi yang pantas disematkan kepada Thia selain kata luar biasa. Sebagai sesama pegiat literasi, saya hanya berharap, semoga Thia istiqomah sehingga terus menginspirasi anak-anak milenial yang lebih mengenal literasi digital daripada literasi lainnya.
Selain itu keluarga Thia, terutama bundanya juga bisa menjadi inspirasi orangtua zaman now, yang sudah terpapar dunia digital yang demikian pekat. Sehingga, anak-anak mereka pun bisa dididik menjadi anak-anak yang melek literasi.
Terus, apa alasan Thia selain menjadi seorang penulis, juga mantap menjadi Literacy and Sosial Campaigner?
“Seperti motto hidupku, The happiest moment is when you can share your happiness with others, aku ingin berbagi kebahagiaan pada orang banyak,” kata Thia sambil memainkan bola matanya yang indah. “Ketertarikanku di bidang literasi dan isu-isu sosial, khususnya isu perempuan dan anak, mendorong aku untuk menyuarakan hal-hal tersebut, baik secara lisan, tulisan, maupun melalui media video, film pendek, dan media lainnya,” tuntasnya.


Saat ini, sebagai bagian dari program DICE Young Story Makers dari British Council, Thia menjadi salah satu kontributor Pioneers Post, media online dan cetak dari Inggris yang memberitakan tentang kewirausahaan sosial dari seluruh dunia.
“Selain itu, aku sedang menantang diri untuk mempublikasikan artikel ilmiah bersama rekan-rekan di perkuliahan,” cerita Thia lagi sebagai bentuk pertanggung jawabannya dalam dunia akademik.
Sebagai seorang Literacy and Sosial Campaigner, Thia sangat berharap perkembangan literasi saat ini harus bisa beriringan dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Konsep literasi perlu diterapkan sejak dini. Thia berharap, khususnya orangtua dan guru bisa menerapkan hal tersebut di rumah dan di sekolah.
“Karena aku merasakan sendiri, betapa beruntungnya aku sudah mengenal dan suka dengan literasi sejak kecil,” tegas Thia.
Keluarga sebisa mungkin menciptakan suasana dan lingkungan yang nyaman agar anak-anak tertarik dengan literasi. Memberikan fasilitas dan akses agar mudah berliterasi. Memahami bahwa setiap anak mempunyai tingkat ketertarikan yang berbeda dalam hal literasi, sehingga dibutuhkan kreativitas untuk dapat memancing mereka melek literasi.
Harapan tersebut tentu saja akan terwujud jika kerjasama antara orangtua, sekolah, dan masyarakat optimal.[ ]

#SahabatKeluarga #LiterasiKeluarga

84 komentar:

  1. MasyaAllahh... dan beneran berdecak kagum akunya, Kang
    Dek Thia beneran menginspirasi untuk siapapun bisa mengenal dan belajar literasi nih, Prestasinya juga masyalllahh.
    KEsuksesan seorang anak juga tidak terlepas dari bimbingan ortunya ya Kang, Salut sama pendidikan yg diberikan ibunda Dek Thia hingga mengantarkannya ke tahap ini,
    Makasih kang, untuk berbagi informasinya

    BalasHapus
  2. Bakat anak2 berprestasi itu memang sedianya terlihat dari kecil ya. Alhamdulillah bundanya bisa mengarahkan ke jalur yg tepat

    BalasHapus
  3. Usaha yang keras dan minta doa restu orang tua akan selalu mendapatkan hasil yang maksinal ya kak.

    BalasHapus
  4. Kreasi literasi tanpa mengenal batas. Sejak kecil sudah banyak menghasilkan karya yang diakui. Semoga makin menginspirasi terutama di era digital yang semua digampangkan. Emang kudu dijadikan contoh bagi orang tua deh

    BalasHapus
  5. Belajar literasi memang sangat penting banget ya. Apalagi bisa menjadi karir menunjang masa depan. Keren juga nih berawal dari hobby buku, menulis hingga penulis literacy.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget, siapa lagi kalau bukan orangtua ya, Kak yang mengenalkan

      Hapus
  6. HAlo Thiaa, salam kenal ya.
    Duh speechless banget sama perjuangan mamanya yang mengantarkan Thia sampe menjadi saat ini.
    Anak muda berbakat yang patut dicontoh, tetep menginspirasi sesama dan berkarya ya Thiaa.

    Makacih kang Alee sharingnya bergizi pisan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga speeshless lho, makanya saya tulis perjuangannya, hehe

      Hapus
  7. Aku kenal juga nih kang.. kan sempat menang lomba vlog yg diselenggarakan kita di Kemlu. She’s a great inspiration

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah, iya, itu di atas fotonya sama Ibu Menteri Ya Kak

      Hapus
  8. Duh aku langsung mengingat-ingat di usia 6 tahun dulu aku masih main apa ya, Thia lho udah blogging dari usia 6 tahun. Mantaapp

    BalasHapus
  9. Ini anak pinter, rajin, Kreatif dan berani mencapai cita2 & mengolah bakat. Yang kayak gini yg harus diviralkan .supaya jadi Inspirasi buat yang lainnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul banget Mas, bukan yang kaleng-kaleng ya

      Hapus
  10. Luar biasa kang.
    Ini tak bisa dipungkiri karena ibunya adalah ibu yg hebat juga. Di samping anaknya juga tak kalah semangat!
    Inspirasi hebat buat anak muda ya kang...

    BalasHapus
  11. Thia memang luar biasa ya. Salut banget dengan usianya yang masih muda pencapaiannya segitu banyaknya. Terus menginspirasi ya, Thia :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, apalagi sudah ketemu bakatnya dari kecil, ya

      Hapus
  12. Remaja cabe rawit yang sukses berkat dukungan orangtuanya.
    Masyallah dah ini, kalau ngitung prestasi yang ditorehkan nggak akan ada habisnya nih adek Thia. Apalagi ikut berpartisipasi membagikan ilmunya untuk peduli terhadap sekitarnya,
    Itu nihh kerenn dehh, Salutt pokoknya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berderet banget ya, prestasinya, hebatnya ditoreh sebelum usianya genap 19th

      Hapus
  13. wah.. terimakasih udah nyeritain soal Thia ini mas..
    aku jadi terinspirasi mau nulis apa buat suatu kontes menulis hehehe
    makasih banget banget....

    BalasHapus
  14. Kang Ali, aku dari awal sampai akhir ngga kedip bacanya, dan bolak/i merapalkan doa semoga berkaaahhh untuk Thia, dan kecerdasan serta karakter Thia yg keren ini bisa menular ke anakku
    Aamiin aamiiin ya robbal alamiiin
    --bukanbocahbiasa(dot)com--

    BalasHapus
  15. Hebat banget!
    Anak hebat begini pasti punya Ibu yang jauh lebih hebat

    BalasHapus
  16. Masyaallah, Dek Thia keren sekali. Ini lho anak muda yang harusnya ditiru anak Indonesia lainnya, bukannya yang...ah gaboleh nyinyir yes. Hehe
    Pengen banget kayak mamanya Dek Thia, mampu membimbing buah hati supaya mengembangkan potensinya dengan maksimal

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, harusnya profil-profil seperti ini harus terus dimunculkan ya

      Hapus
  17. Menginspirasi banget ini Mas Ali, tulisan ttg Thia The Literacy & Social Campaigner. Belajar dari ibunya Thia, semoga satu saat dari keempat anak saya pun ada yg nurun hobi baca-tulis. Tfs yaa

    BalasHapus
  18. Keren bingit... Menulis itu kemampuan istimewa. Salut ada anak yang sudah sedari kecil terlihat potensi menulis dan bisa mengembangkannya. Sungguh peran ibu luar biasa...

    BalasHapus
  19. Kalau pengin ikutan NUS harus daftar sendiri atau program yg bisa daftar di setiap kampus?

    BalasHapus
  20. Wah menginspirasi sekali sebagai genenrasi muda harus terus aktif dan berprestasi. Tentunya sesuai dengan bidang kesuakaannaya masing-masing

    BalasHapus
  21. Wah prestasinya seabrek
    Insyaallah masa depan cerah ya kang ?
    Semoga menginspirasi banyak orang

    BalasHapus
  22. MasyaAllah usia 6 tahun sudah ngeblog dan bisa nulis. Ya Allah minder banget. Prestasinya juga luar biasa. Patut diteladani cara pengasuhan ibunya yang hebat hingga mengantarkan putrinya jadi sukses begini. Terima kasih kang tulisan inspiratifny

    BalasHapus
  23. Masyaallah tabarakallah.
    Hanya berharap keberkahan atas tulisan ini. Berkah buat penulisnya, Mas Ali. Berkah juga buat Thia, semakin tawadhu dan semakin semangat terus berbagi. Aamiin.
    Semua karena dan atas izin Allah Swt. :)

    BalasHapus
  24. Peran orang tua apalagi ibu emang gk main2 ya. Jadi keren banget, walaupun masih muda. Semoga semakin banyak anak bangsa yang membanggakan. Aamiin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul banget, makanya wajar ada yang bilang, Ibu adalah tumpuan bangsa

      Hapus
  25. Thia ini memang keren sekali di dunia menulis. Dan pastinya akan menginspirasi anak-anak zaman now untuk terus semangat menulis ya, kang Ali.

    Dan Pastinya, semua tidak lepas dari dukungan sang Mama, Mbak Sinta Handini yang juga penulis cerita plus editor cerita anak.

    BalasHapus
  26. MasyaAllah,,, merinding aku baca segudang prestasi Thia di bidang literasi mas. Dan memang semua itu berkat usaha dan doa ibunya ya. Semoga akan lahir lagi Thia2 selanjutnya yg senang berbagi melalui literasi.

    BalasHapus
  27. Saya salut dengan orang tuanya. Mampu melakukan seperti itu dari kecil. Membaca tulisan ini membuat saya terinspirasi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, harus orangtua memang yang memulainya ya

      Hapus
  28. Masya Allah..senang dan ikut bangga dengan prestasi Thia di dunia literasi. Terima kasih sudah membagikan info ini. Setuju, Keluarga semestinya menciptakan suasana dan lingkungan yang nyaman agar anak-anak tertarik dengan literasi. Juga memberikan fasilitas dan akses agar mudah berliterasi. Sehingga generasi penerus nanti paham berliterasi.

    BalasHapus
  29. Ini menginspirasi saya untuk mengenalkan buku sejak dini ke anak-anak saya. Semoga banyak orangtua yang mampu mendampingi anak anaknya untuk menemukan minat dan bakat. Hebat Thia dan orangtuanya!

    BalasHapus
  30. inilah salah satu bukti nyata bahwa menulis bisa mengantarkan kita ke mana saja. tanpa diduga dan direncanakan.

    BalasHapus
  31. Nah itu, anak2ku masih belajar membaca dan menulis, rencananya kalau udah lancar merangkai kata juga mau aku bikinin media blog kang, Anak zaman now gtu semangt nulis kalau teken2 tuts keyboard haha.

    BalasHapus
  32. Kereeenn pisan ya Mba Thia, Apalagi dukungan mama yang terus mendoakan yg terbaik. Bukti nyata bahwa pejuang literasi pun bisa berkarya hingga kancah internasional

    BalasHapus
  33. Masya Allah, suka banget dengan semangat bundanya dalam mengenalkan literasi kepada anakj-anaknya. Saya juga mengikuti jejak beliau namun masih pasang surut, masya Allah....tantangannya berat yaaa. apalagi ketika sudah lahir adik-adiknyaaa.... kudu bisa managemen waktu. Tapi salut deh dengan bundanya thia dan keluarganya

    BalasHapus
  34. Wah hebat banget kak thia, masih muda tetapi prestasinya luar biasa. Patut dicontoh oleh anak muda yang lain nih

    BalasHapus
  35. Subhanallah..
    Muda, berbakat, dan punya segudang karya dengan prestasi yang membuat dunia literasi bangga. Dibalik sosok ini ada Bunda yang selalu mendoakannya.

    Kenalin donk kang Ali kalo ada kontaknya.
    Siapa tau aku bisa jadi calon imamnya. hha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Boleh-boleh ... eh, Ibunya komen juga lho di postingan ini, hihi

      Hapus
  36. Wah keren kak. Semoga terus menularkan semangat literasinya ke masyarakat Indonesia ya. PR banget buat kita supaya lebih banyak lagi orang orang yang senang membaca dan membagikan informasi dengan bensr juga objektif

    BalasHapus
  37. Ya ampun mba, kamu kece sekali, percaya diri, pemberani, punya semangat yg luar biasa, benar2 menginspirasi 😃

    BalasHapus
  38. Wow, prestasinya keren bgt ya..

    Smg banyak generasi penerus yg spt ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyesss, dan ini berkat mencintai Literasi sejak kecil

      Hapus
  39. Masya Allah, saya sampai nggak habis berucap syukur, ada lagi anak bangsa yang berprestasi mendunia. Tapi kok saya baru tahu ya Kang. Aku yang kudet nih, jadi baru tahu tentang Thia setelah baca artikel ini. SEmoga makin banyak lagi remaja di Indonesia yang memiliki prestasi dan kegiatan yang positif

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah ... waaah, gaulnya di mana neh, ampe nggak kenal Thia hehehe

      Hapus
  40. Gara-gara Kak Thia, aku semangat banget ngajak Nai dan Alde suka buku dan pelan-pelan belajar nulis..so inspiring, Thia!

    BalasHapus
  41. Pengen banget punya anak didik yang seperti Thia ini, setiap hari sudah mengajarkan anak anak untuk suka buku, saya berharap suatu saat ada anak dampingan saya yang bisa menulis dan menerbitkan buku

    BalasHapus
  42. Kagum sama prestasinya diusia yang masih belia. Semoga akan menular ke seluruh generasi seusianya agar lebih produktif sepertinya

    BalasHapus

Ditunggu Komentarnya Teman-Teman