APA yang terlintas di kepala ketika ada seseorang menyebut Kota Garut? Kalau bukan dodolnya, pasti dombanya, hehehe. Padahal, di salah satu kota tujuan wisata Jawa Barat tersebut tidak hanya ada dodol dan domba, lho. 
Garut memiliki banyak potensi daerah yang bisa dikembangkan, salah satunya sektor wisata yang sudah dikenal sejak dulu. Turis-turis dari luar, terutama dari Eropa menyebut Garut sebagai Swiss van Java.
Kemiripan bentang alam pegunungan Garut dengan Swiss –sebelumnya bernama Limbangan, membuat Garut dipublikasikan ke dunia sebagai tempat wisata alam yang tak kalah indahnya dengan Swiss.
Popularitas Garut sebagai Swiss van Java berkat Thilly Weissenborn, seorang fotografer perempuan yang dulu banyak melakukan pemotretan di Pulau Jawa dan di luar pulau Jawa. Salah satu foto lanscape pegunungan Garut yang dihasilkan Thilly mampu memukau para turis dari Eropa.
Selain pegunungan, Garut memiliki pemandian air panas, pantai-pantai yang indah, beberapa kampung adat, Candi Cangkuang, dan berbagai kuliner khas. Garut juga memiliki kawah yang tidak banyak dimiliki daerah lain, kawah yang kemudian dimanfaatkan untuk Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP), namanya PLTP Kamojang.
Selain menjadi PLTP, siapa sangka di Kamojang juga dijadikan tempat wisata. Karena penasaran, saya dan beberapa teman blogger dari beberapa daerah sengaja datang ke Kamojang untuk mengeksplorasi wisatanya.
Kami janjian bertemu di Bandung saat makan siang. Usai makan siang kami menuju Garut menggunakan mobil elef sewaan. Tiba di penginapan kurang lebih pukul 20.00 WIB dengan suhu udara di bawah 10 derajat. Kami istirahat setelah makan malam.

Geotermal Information Center
Tidak lengkap rasanya, jika sudah berada di kawasan PLTP Kamojang, tetapi tidak mengunjungi Geotermal Information Center (GIC). Makanya setelah sarapan, seperti dalam itinerary kami semua menuju GIC yang lokasinya memang tidak jauh dari penginapan.
Begitu tiba di lokasi GIC, semua langsung berlompatan keluar mobil. Halaman GIC yang asri membuat siapa pun nyaman berada di sana. Apalagi ketika sudah masuk gedung GIC.

Halaman GIC yang luas (Foto Ali)
Halaman GIC jadi miniatur pipa PLTP (Foto Ali)



Gedung GIC meski pun dijaga dengan ketat, siapa pun bisa berkunjung untuk wisata edukasi geotermal. Siapa pun yang berkunjung akan masuk ruang audio visual untuk mendapatkan informasi tentang geotermal, baru kemudian menjelajah ruang pamer yang sangat luas.

Ruang Pamer GIC yang bersih dan informatif (Foto Ali)

 Energi Terbarukan
Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang dikelola oleh PT. Pertamina Geothermal Energy (PGE) Unit Kamojang. Salah satu anak perusahaan PT. Pertamina (Persero) dengan PT. Pertamina Dana Ventura yang bergerak di bidang pemanfaatan energi panas bumi. Pertamina sebagai perusahaan panas bumi (geotermal) terbesar di Indonesia tidak ingin sumber alam Indonesia dikuasai oleh asing.
Pemanfaatan energi bumi di Kamojang telah dilakukan sejak  29 Januari 1983 dan digunakan untuk menggerakkan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang unit 1 dengan kapasitas pembangkit sebesar 30MW.
Setelah unit 1 berhasil kemudian dikembangkan unit 2, unit 3, unit 4, hingga unit 5. Bedanya, jika unit 1-3 dikelola PT. Indonesia Power, unit 4 dan unit 5 dikelola oleh PGE. Energi yang dihasilkan dari unit 4 sebesar 60MW sementara unit 5 sebesar 35MW. Total pembangkit mencapai 235 MW.
Sebagai perusahaan yang konsen pada pemanfaatan energi bumi, perusahaan-perusahaan tersebut berperan penting bagi masyarakat, terutama dalam memberikan sumber energi alternatif terbarukan yang ramah lingkungan.
Mereka mengeksplorasi potensi energi bumi menjadi sumber energi alternatif sekaligus menjaga lingkungan supaya tetap sehat bagi masyarakat sekitar.

Kantor Pusat PLTP (Foto)

 Energi Panas Terbaik di Dunia
Tidak banyak yang tahu jika energi panas bumi yang dihasilkan kawah Kamojang adalah energi panas terbaik di dunia. Uap yang dikeluarkan sangat kering  dan kelembabannya sangat rendah. Keadaan tersebut membuat uap bisa langsung masuk ke turbin dan tidak perlu chemical treatment demi mendapatkan kualitas uap yang bagus.
Energi panas bumi sendiri adalah salah satu sumber energi terbarukan di Indonesia yang bisa diolah selain biofuel, biomassa, air, angin, matahari, gelombang laut, dan pasang surut. Potensi panas bumi di Indonesia mencapai 29.000 MW atau 40% cadangan dunia.
Energi panas bumi sendiri mulai dikenal sejak tahun 1970, sebagai upaya untuk mengimbangi pengembangan energi berbahan bakar nuklir dan fosil. Energi terbarukan senantiasa tersedia di alam dalam waktu yang relatif sangat panjang sehingga tidak perlu khawatir akan kehabisan, hehehe.

Pipa-pipa PLTP yang menjalar (Foto Ali)

 Kawah Kamojang yang Unik
Setelah puas mengelilingi GIC dan mendapat banyak informasi penting, kami melanjutkan perjalanan menuju lokasi PLTP. Jalan yang dilalui meliuk-liuk karena mengikuti kontur lembah.
Sepanjang jalan terlihat pipa-pipa besar untuk mengalirkan uap kawah yang akan diubah menjadi tenaga listrik. Entah berapa kilo meter panjangnya, enggak sempat ngitung, hehehe.
Lima belas menit kemudian, kendaraan masuk parkiran kawasan Wisata Kawah Kamojang yang cukup luas dan bersih. Ada beberapa warung berderet di tepi parkiran yang menyediakan kopi dan camilan buat wisatawan. Begitu pun saat menaiki tangga menuju kawah.
Begitu tiba di ujung tangga, mata saya terpaku pada pemandangan alam pegunungan yang terlihat indah. Ada halaman cukup luas yang bersih, ada gazebo, dan Kawah Manuk.

Kawah Manuk
Kawah Manuk menjadi kawah pertama yang menjadi bagian dari obyek wisata Kawah Kamojang. Kawah berukuran cukup luas yang terhampar di sisi jalan obyek wisata tersebut mengeluarkan uap yang membumbung ke udara.
Kawah berlatar rimbunan semak belukar tersebut diberi nama Kawah Manuk karena dari beberapa lubang yang tertutup kubangan kawah sering terdengar siulan seperti suara manuk. Manuk dalam Bahasa Sunda berarti burung. Sayangnya saat saya ke sana tidak sempat mendengar siulannya.
Tidak jauh dari Kawah Manuk ada kawah yang paling populer di kawasan wisata, yaitu Kawah Kereta Api. Saking populernya, hampir semua wisatawan yang berwisata ke kawah kamojang pasti akan berlama-lama bermain di kawasan Kawah Kereta Api.

Kawah Kereta Api
Kawah Kereta Api memang sangat unik karena bisa mengeluarkan suara seperti Kereta Api jika tempat keluarnya asap kawah dihubungkan dengan sebuah bambu. Ada seorang penjaga yang siap beratraksi di dalam Kawah Kereta Api.
Sesekali penjaga mengajak wisatawan untuk ikut merasakan keunikan kawah. Baik dengan memasang bambu atau membumbungkan barang-barang seperti plastik atau kain bekas, melalui asap Kawah Kereta Api.
Setelah puas menikmati Kawah Kereta Api, kami menaiki tangga, melewati jembatan yang di bawahnya ada aliran sumber air hangat yang dipenuhi uap. Tak jauh dari jembatan ada sebuah pohon cukup besar, tangga, dan jalan menurun yang menjadi penanda Kawah Hujan.

Kawah Hujan 
Saat tiba di Kawah Hujan, sudah ada beberapa wisatawan yang sedang merasakan kehangatan uap kawah serta telur yang direbus dengan air panas kawah. Saya pun tak mau ketinggalan. Langsung mengambil telur puyuh dan telur ayam untuk direbus di genangan air panas Kawah Hujan.
Kawah tersebut dinamakan Kawah Hujan karena jika wisatawan berada di kawah tersebut otomatis baju akan sedikit basah terkena semburan uap yang lembut seperti hujan gerimis.
Cukup lama kami berada di Kawah Hujan. Selain bermain-main dengan air mancur alami juga menghabiskan stok telur penjaga Kawah Hujan.
Eh, katanya penjual telur di Kawah Hujan itu sudah hampir 40 tahun berada di sana, lho. Bahkan sekarang sudah ada generasi keduanya, salah satu anaknya ikut menjual telur.
Sebetulnya selain Kawah Manuk, Kawah Kereta Api, dan Kawah Hujan masih ada Kawah Beureum, kawah terakhir yang ada di kawasan Wisata Kamojang. Kemudian ada bumi perkemahan kamojang, pemandian air panas terbuka yang letaknya di sekitar bumi perkemahan, air terjun, dan danau, tetapi karena sudah siang dan harus melanjutkan perjalanan berikutnya, kami memutuskan meninggalkan Wisata Kamojang yang tidak hanya indah, tetapi juga cantik.

Penangkaran Elang
Selain kawah-kawah yang dioptimalkan untuk PLTU dan dijadikan objek wisata, ada lokasi wisata lain yang tidak banyak diketahui wisatawan, yaitu penangkaran Elang.
Konon, karena kawasan Kamojang lingkungannya terus dijaga, selain penduduk, binatang yang hidup di sana pun merasakan manfaatnya. Salah satu binatang yang nyaman tinggal di sana adalah Elang Jawa.
Sejak tahun 2014, di Kamojang ada Pusat Konservasi Elang yang didirikan oleh PGE. Pusat konsevasi  dilengkapi dengan fasilitas yang merujuk standar internasional dari International Union for Conservation of Nature (IUCN), Global Facilities for Animal Sanctuary (GFAS), dan International Wildlife Rehabilitation Council (IWRC).
Sejak konservasi tersebut dibuka, banyak elang yang didatangkan dari berbagai daerah untuk dikembalikan ke alam bebas.

Salah satu Elang di penangkaran (Foto Ali)
Pada saat saya ke sana, di Pusat Konservasi Elang Kamojang ada 16 ekor elang yang sedang menjalani masa karantina, terdiri dari 2 ekor Elang Jawa, 5 ekor Elang Brontok, dan 9 Elang Ular. Setelah melewati masa karantina, mereka akan dilepas dan hidup di alam bebas.
Sebagai upaya lanjutan, dalam waktu dekat Pusat Konservasi Elang Kamojang akan menambahkan fasilitas edukasi untuk masyarakat. Fasilitas tersebut nantinya dibuka untuk umum, tujuannya supaya masyakarat dapat berpartisipasi dalam menyelamatkan elang dari kepunahan. Program lainnya akan melengkapi rangkaian destinasi Desa Wisata Kamojang.

Lokasi Wisata Kawah Kamojang
Lokasi wisata Kawah Kamojang berada di dalam area Geothermal PLTU Kamojang Garut. Berada di perbatasan antara kecamatan Ibun dan Kabupaten Bandung.

Bagaimana Menuju Kawasan Kamojang?
Menuju kawasan Wisata Kamojang tidak susah, paling tidak ada 2 (dua) rute yang bisa digunakan.
1). Rute Bandung-Majalaya-Ibun-Kamojang
Dulu jalur ini jalanannya sempat rusak di beberapa bagian, sempit, ada beberapa tanjakan yang panjang dan tikungan yang curam. Tanjakan terakhir jelang memasuki area kamojang dikenal dengan nama Tanjakan Monteng, Monteng dalam bahasa Sunda berarti miring. Sesuai namanya, Tanjakan Monten selain panjang juga curam dan tajam alias miring, hehehe.
Seiring dengan perkembangan Wisata Kamojang, kini wisatawan nggak perlu lagi melewati Tanjakan Monteng karena sudah ada jalan baru yang memotong dan langsung masuk kawasan wisata. Bahkan ada bonus Kamojang Hill Bridge, jembatan kuning yang sekarang menjadi salah satu ikon kawasan Wisata Kamojang.
2). Rute Garut-Samarang-Kamojang
Rute ini lebih direkomendasikan bagi wisatawan karena cukup gampang dan mudah bagi wisatawan. Dari Kota Garut, wisatawan cukup menuju arah Samarang lalu belok kanan di pertigaan menuju kamojang atau Kampung Sampireun.
Rute ini memang satu jalur dengan lokasi wisata lain yang terkenal di Garut seperti Kampung Sampireun, Kebun Mawar Situhapa, dan lokasi wisata lainnya.

Fasilitas
Selain kawah-kawah yang disebutkan di atas, ada fasilitas lain yang ada di kawasan Wisata Kawah Kamojang.
-          Tempat Parkir Luas
-          Mushola
-          Toilet Umum
-          Gazebo
-          Kamar Mandi Air Panas
-          Warung Makan
-          Tempat Duduk
-          Tempat Sampah

Harga Tiket
Harga tiket masuk kawasan Wisata Kawah Kamojang termasuk cukup murah;
Wisatawan Lokal Dewasa :
Hari Biasa : Rp. 7.000 + Asuransi Rp. 2.000 / Orang / Hari
Hari Libur : Rp. 9.500 + Asuransi Rp. 2.000 / Orang / Hari

Wisatawan Manca Negara Dewasa :
Hari Biasa : Rp. 105.000 + Asuransi Rp. 5.000 / Orang / Hari
Hari Libur : Rp. 155.000 + Asuransi Rp. 5.000 / Orang / Hari

Kendaraan di hari biasa dikenakan biaya:
Motor: Rp. 5.000
Mobil: Rp. 10.000
Bus/Truck: Rp. 50.000
Sepeda: Rp. 2.000

Kendaraan di hari Libur dikenakan biaya:
Motor: Rp. 7.500
Mobil: Rp. 15.000
Bus/Truck: Rp. 75.000
Sepeda: Rp. 3.000

Selamat berwisata di Swiss van Java ... eh, Kota Garut, hehehe

Wisata Kawah Kamojang Garut Tak Hanya Indah, Melainkan Juga Unik dan Edukatif



APA yang terlintas di kepala ketika ada seseorang menyebut Kota Garut? Kalau bukan dodolnya, pasti dombanya, hehehe. Padahal, di salah satu kota tujuan wisata Jawa Barat tersebut tidak hanya ada dodol dan domba, lho. 
Garut memiliki banyak potensi daerah yang bisa dikembangkan, salah satunya sektor wisata yang sudah dikenal sejak dulu. Turis-turis dari luar, terutama dari Eropa menyebut Garut sebagai Swiss van Java.
Kemiripan bentang alam pegunungan Garut dengan Swiss –sebelumnya bernama Limbangan, membuat Garut dipublikasikan ke dunia sebagai tempat wisata alam yang tak kalah indahnya dengan Swiss.
Popularitas Garut sebagai Swiss van Java berkat Thilly Weissenborn, seorang fotografer perempuan yang dulu banyak melakukan pemotretan di Pulau Jawa dan di luar pulau Jawa. Salah satu foto lanscape pegunungan Garut yang dihasilkan Thilly mampu memukau para turis dari Eropa.
Selain pegunungan, Garut memiliki pemandian air panas, pantai-pantai yang indah, beberapa kampung adat, Candi Cangkuang, dan berbagai kuliner khas. Garut juga memiliki kawah yang tidak banyak dimiliki daerah lain, kawah yang kemudian dimanfaatkan untuk Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP), namanya PLTP Kamojang.
Selain menjadi PLTP, siapa sangka di Kamojang juga dijadikan tempat wisata. Karena penasaran, saya dan beberapa teman blogger dari beberapa daerah sengaja datang ke Kamojang untuk mengeksplorasi wisatanya.
Kami janjian bertemu di Bandung saat makan siang. Usai makan siang kami menuju Garut menggunakan mobil elef sewaan. Tiba di penginapan kurang lebih pukul 20.00 WIB dengan suhu udara di bawah 10 derajat. Kami istirahat setelah makan malam.

Geotermal Information Center
Tidak lengkap rasanya, jika sudah berada di kawasan PLTP Kamojang, tetapi tidak mengunjungi Geotermal Information Center (GIC). Makanya setelah sarapan, seperti dalam itinerary kami semua menuju GIC yang lokasinya memang tidak jauh dari penginapan.
Begitu tiba di lokasi GIC, semua langsung berlompatan keluar mobil. Halaman GIC yang asri membuat siapa pun nyaman berada di sana. Apalagi ketika sudah masuk gedung GIC.

Halaman GIC yang luas (Foto Ali)
Halaman GIC jadi miniatur pipa PLTP (Foto Ali)



Gedung GIC meski pun dijaga dengan ketat, siapa pun bisa berkunjung untuk wisata edukasi geotermal. Siapa pun yang berkunjung akan masuk ruang audio visual untuk mendapatkan informasi tentang geotermal, baru kemudian menjelajah ruang pamer yang sangat luas.

Ruang Pamer GIC yang bersih dan informatif (Foto Ali)

 Energi Terbarukan
Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang dikelola oleh PT. Pertamina Geothermal Energy (PGE) Unit Kamojang. Salah satu anak perusahaan PT. Pertamina (Persero) dengan PT. Pertamina Dana Ventura yang bergerak di bidang pemanfaatan energi panas bumi. Pertamina sebagai perusahaan panas bumi (geotermal) terbesar di Indonesia tidak ingin sumber alam Indonesia dikuasai oleh asing.
Pemanfaatan energi bumi di Kamojang telah dilakukan sejak  29 Januari 1983 dan digunakan untuk menggerakkan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang unit 1 dengan kapasitas pembangkit sebesar 30MW.
Setelah unit 1 berhasil kemudian dikembangkan unit 2, unit 3, unit 4, hingga unit 5. Bedanya, jika unit 1-3 dikelola PT. Indonesia Power, unit 4 dan unit 5 dikelola oleh PGE. Energi yang dihasilkan dari unit 4 sebesar 60MW sementara unit 5 sebesar 35MW. Total pembangkit mencapai 235 MW.
Sebagai perusahaan yang konsen pada pemanfaatan energi bumi, perusahaan-perusahaan tersebut berperan penting bagi masyarakat, terutama dalam memberikan sumber energi alternatif terbarukan yang ramah lingkungan.
Mereka mengeksplorasi potensi energi bumi menjadi sumber energi alternatif sekaligus menjaga lingkungan supaya tetap sehat bagi masyarakat sekitar.

Kantor Pusat PLTP (Foto)

 Energi Panas Terbaik di Dunia
Tidak banyak yang tahu jika energi panas bumi yang dihasilkan kawah Kamojang adalah energi panas terbaik di dunia. Uap yang dikeluarkan sangat kering  dan kelembabannya sangat rendah. Keadaan tersebut membuat uap bisa langsung masuk ke turbin dan tidak perlu chemical treatment demi mendapatkan kualitas uap yang bagus.
Energi panas bumi sendiri adalah salah satu sumber energi terbarukan di Indonesia yang bisa diolah selain biofuel, biomassa, air, angin, matahari, gelombang laut, dan pasang surut. Potensi panas bumi di Indonesia mencapai 29.000 MW atau 40% cadangan dunia.
Energi panas bumi sendiri mulai dikenal sejak tahun 1970, sebagai upaya untuk mengimbangi pengembangan energi berbahan bakar nuklir dan fosil. Energi terbarukan senantiasa tersedia di alam dalam waktu yang relatif sangat panjang sehingga tidak perlu khawatir akan kehabisan, hehehe.

Pipa-pipa PLTP yang menjalar (Foto Ali)

 Kawah Kamojang yang Unik
Setelah puas mengelilingi GIC dan mendapat banyak informasi penting, kami melanjutkan perjalanan menuju lokasi PLTP. Jalan yang dilalui meliuk-liuk karena mengikuti kontur lembah.
Sepanjang jalan terlihat pipa-pipa besar untuk mengalirkan uap kawah yang akan diubah menjadi tenaga listrik. Entah berapa kilo meter panjangnya, enggak sempat ngitung, hehehe.
Lima belas menit kemudian, kendaraan masuk parkiran kawasan Wisata Kawah Kamojang yang cukup luas dan bersih. Ada beberapa warung berderet di tepi parkiran yang menyediakan kopi dan camilan buat wisatawan. Begitu pun saat menaiki tangga menuju kawah.
Begitu tiba di ujung tangga, mata saya terpaku pada pemandangan alam pegunungan yang terlihat indah. Ada halaman cukup luas yang bersih, ada gazebo, dan Kawah Manuk.

Kawah Manuk
Kawah Manuk menjadi kawah pertama yang menjadi bagian dari obyek wisata Kawah Kamojang. Kawah berukuran cukup luas yang terhampar di sisi jalan obyek wisata tersebut mengeluarkan uap yang membumbung ke udara.
Kawah berlatar rimbunan semak belukar tersebut diberi nama Kawah Manuk karena dari beberapa lubang yang tertutup kubangan kawah sering terdengar siulan seperti suara manuk. Manuk dalam Bahasa Sunda berarti burung. Sayangnya saat saya ke sana tidak sempat mendengar siulannya.
Tidak jauh dari Kawah Manuk ada kawah yang paling populer di kawasan wisata, yaitu Kawah Kereta Api. Saking populernya, hampir semua wisatawan yang berwisata ke kawah kamojang pasti akan berlama-lama bermain di kawasan Kawah Kereta Api.

Kawah Kereta Api
Kawah Kereta Api memang sangat unik karena bisa mengeluarkan suara seperti Kereta Api jika tempat keluarnya asap kawah dihubungkan dengan sebuah bambu. Ada seorang penjaga yang siap beratraksi di dalam Kawah Kereta Api.
Sesekali penjaga mengajak wisatawan untuk ikut merasakan keunikan kawah. Baik dengan memasang bambu atau membumbungkan barang-barang seperti plastik atau kain bekas, melalui asap Kawah Kereta Api.
Setelah puas menikmati Kawah Kereta Api, kami menaiki tangga, melewati jembatan yang di bawahnya ada aliran sumber air hangat yang dipenuhi uap. Tak jauh dari jembatan ada sebuah pohon cukup besar, tangga, dan jalan menurun yang menjadi penanda Kawah Hujan.

Kawah Hujan 
Saat tiba di Kawah Hujan, sudah ada beberapa wisatawan yang sedang merasakan kehangatan uap kawah serta telur yang direbus dengan air panas kawah. Saya pun tak mau ketinggalan. Langsung mengambil telur puyuh dan telur ayam untuk direbus di genangan air panas Kawah Hujan.
Kawah tersebut dinamakan Kawah Hujan karena jika wisatawan berada di kawah tersebut otomatis baju akan sedikit basah terkena semburan uap yang lembut seperti hujan gerimis.
Cukup lama kami berada di Kawah Hujan. Selain bermain-main dengan air mancur alami juga menghabiskan stok telur penjaga Kawah Hujan.
Eh, katanya penjual telur di Kawah Hujan itu sudah hampir 40 tahun berada di sana, lho. Bahkan sekarang sudah ada generasi keduanya, salah satu anaknya ikut menjual telur.
Sebetulnya selain Kawah Manuk, Kawah Kereta Api, dan Kawah Hujan masih ada Kawah Beureum, kawah terakhir yang ada di kawasan Wisata Kamojang. Kemudian ada bumi perkemahan kamojang, pemandian air panas terbuka yang letaknya di sekitar bumi perkemahan, air terjun, dan danau, tetapi karena sudah siang dan harus melanjutkan perjalanan berikutnya, kami memutuskan meninggalkan Wisata Kamojang yang tidak hanya indah, tetapi juga cantik.

Penangkaran Elang
Selain kawah-kawah yang dioptimalkan untuk PLTU dan dijadikan objek wisata, ada lokasi wisata lain yang tidak banyak diketahui wisatawan, yaitu penangkaran Elang.
Konon, karena kawasan Kamojang lingkungannya terus dijaga, selain penduduk, binatang yang hidup di sana pun merasakan manfaatnya. Salah satu binatang yang nyaman tinggal di sana adalah Elang Jawa.
Sejak tahun 2014, di Kamojang ada Pusat Konservasi Elang yang didirikan oleh PGE. Pusat konsevasi  dilengkapi dengan fasilitas yang merujuk standar internasional dari International Union for Conservation of Nature (IUCN), Global Facilities for Animal Sanctuary (GFAS), dan International Wildlife Rehabilitation Council (IWRC).
Sejak konservasi tersebut dibuka, banyak elang yang didatangkan dari berbagai daerah untuk dikembalikan ke alam bebas.

Salah satu Elang di penangkaran (Foto Ali)
Pada saat saya ke sana, di Pusat Konservasi Elang Kamojang ada 16 ekor elang yang sedang menjalani masa karantina, terdiri dari 2 ekor Elang Jawa, 5 ekor Elang Brontok, dan 9 Elang Ular. Setelah melewati masa karantina, mereka akan dilepas dan hidup di alam bebas.
Sebagai upaya lanjutan, dalam waktu dekat Pusat Konservasi Elang Kamojang akan menambahkan fasilitas edukasi untuk masyarakat. Fasilitas tersebut nantinya dibuka untuk umum, tujuannya supaya masyakarat dapat berpartisipasi dalam menyelamatkan elang dari kepunahan. Program lainnya akan melengkapi rangkaian destinasi Desa Wisata Kamojang.

Lokasi Wisata Kawah Kamojang
Lokasi wisata Kawah Kamojang berada di dalam area Geothermal PLTU Kamojang Garut. Berada di perbatasan antara kecamatan Ibun dan Kabupaten Bandung.

Bagaimana Menuju Kawasan Kamojang?
Menuju kawasan Wisata Kamojang tidak susah, paling tidak ada 2 (dua) rute yang bisa digunakan.
1). Rute Bandung-Majalaya-Ibun-Kamojang
Dulu jalur ini jalanannya sempat rusak di beberapa bagian, sempit, ada beberapa tanjakan yang panjang dan tikungan yang curam. Tanjakan terakhir jelang memasuki area kamojang dikenal dengan nama Tanjakan Monteng, Monteng dalam bahasa Sunda berarti miring. Sesuai namanya, Tanjakan Monten selain panjang juga curam dan tajam alias miring, hehehe.
Seiring dengan perkembangan Wisata Kamojang, kini wisatawan nggak perlu lagi melewati Tanjakan Monteng karena sudah ada jalan baru yang memotong dan langsung masuk kawasan wisata. Bahkan ada bonus Kamojang Hill Bridge, jembatan kuning yang sekarang menjadi salah satu ikon kawasan Wisata Kamojang.
2). Rute Garut-Samarang-Kamojang
Rute ini lebih direkomendasikan bagi wisatawan karena cukup gampang dan mudah bagi wisatawan. Dari Kota Garut, wisatawan cukup menuju arah Samarang lalu belok kanan di pertigaan menuju kamojang atau Kampung Sampireun.
Rute ini memang satu jalur dengan lokasi wisata lain yang terkenal di Garut seperti Kampung Sampireun, Kebun Mawar Situhapa, dan lokasi wisata lainnya.

Fasilitas
Selain kawah-kawah yang disebutkan di atas, ada fasilitas lain yang ada di kawasan Wisata Kawah Kamojang.
-          Tempat Parkir Luas
-          Mushola
-          Toilet Umum
-          Gazebo
-          Kamar Mandi Air Panas
-          Warung Makan
-          Tempat Duduk
-          Tempat Sampah

Harga Tiket
Harga tiket masuk kawasan Wisata Kawah Kamojang termasuk cukup murah;
Wisatawan Lokal Dewasa :
Hari Biasa : Rp. 7.000 + Asuransi Rp. 2.000 / Orang / Hari
Hari Libur : Rp. 9.500 + Asuransi Rp. 2.000 / Orang / Hari

Wisatawan Manca Negara Dewasa :
Hari Biasa : Rp. 105.000 + Asuransi Rp. 5.000 / Orang / Hari
Hari Libur : Rp. 155.000 + Asuransi Rp. 5.000 / Orang / Hari

Kendaraan di hari biasa dikenakan biaya:
Motor: Rp. 5.000
Mobil: Rp. 10.000
Bus/Truck: Rp. 50.000
Sepeda: Rp. 2.000

Kendaraan di hari Libur dikenakan biaya:
Motor: Rp. 7.500
Mobil: Rp. 15.000
Bus/Truck: Rp. 75.000
Sepeda: Rp. 3.000

Selamat berwisata di Swiss van Java ... eh, Kota Garut, hehehe

29 komentar:

  1. Ingatnya garut tapi ternyata banyak yang bisa digali. Kalau PLTP dipasok untuk industri ya?

    BalasHapus
  2. Jadi makin ingin ke garut, nih. Swiss van Java gitu lho... Sekalian belajar soal pemanfaatan uap kawah, ya

    BalasHapus
  3. Aduh kang Ali ngabibita ...., backpackeran ka Garut ah ^^

    BalasHapus
  4. Yahh hari ini mau ke Garut tapi susur pantai selatan kang, next pulangnya bisa lewat kamojang ahh hehehe. Nuhun infonya

    BalasHapus
  5. pemandangan yang begitu menggoda, ku jadi ingin ke sana tapi apalah daya, hanya bisa di Medan dengan spasi dan kata kata

    apa kabar Netizen MPR kita mas ali?

    BalasHapus
  6. saya baru tau kalo garut itu julukannya swiss van java... wahhh...

    btw harga tiket masuk di kawasan kamojang ini jauh ya bedanya antara turis domestik dan turis internasional... yang satu tujuh ribu yang satu seratur ribu lebih hehehehehehehe

    BalasHapus
  7. wuaw PLTP ya. aku belum pernah tau konsepnya PTLP. berarti kudu ke garut nih biar tau lebih detail, hahaha

    btw itu tiketnya murah banget sih
    gak sepadan ah

    BalasHapus
  8. Keren banget Garut bisa jadi alternatif kunjungan ke Jawa Barat selain Bandung

    BalasHapus
  9. Baru tahu ada tempat wisata sekeren ini di garut..

    Bener, klo ada yg ngomong garut, ingatanu langsung ke dodol, hehe

    BalasHapus
  10. Saat mendengar atau membaca kata Garut, saya memang langsung terbayang dodolnya, Kang hahaha. Padahal pastinya di sana banyak juga tempat-tempat menarik untuk dikunjungi ya, Kang. Salah satunya Kawah Kamojang.

    Saya langsung mupeng nih, Kang. Apalagi saya belum diberi kesempatan eksplor wilayah Jawa Barat. Kalau saatnya saya akan ke sini.

    BalasHapus
  11. Ahh aku pernah tahu pertama kali salahsatu kawah di Kamojang dulu saat di TV. Kalau ga salah ya yg Kawah hujan itu Kang.
    Aku pensaran sama hasil bidikan fotografer Thilly Weissenborn macam mana huhuu.
    Tiketnya terjangkau tapi saat berwisata di sana bisa dapatin banyak hal ya Kang, ehh pengetahuan maksudnya heee

    BalasHapus
  12. kang ali kok barungulas sekarang. aku dulu ke garut gk tau ada tempat kyk begini dsana.

    BalasHapus
  13. Bagus sekali tempatnya mas. Wisata edukasi juga buat orang awam. Kalo kesana kayaknya wajib bawa telur ya, biar sekalian mencoba telur yang direbus alam,, #halah... Bawa anak boleh kah?

    BalasHapus
  14. Selalu suka ih dg pemandangan alam yg menarik kayak Kawah Kereta Api gini. Dapat asupan oksigen yg bikin pikiran fresh. Nice share Mas Ali

    BalasHapus
  15. Duh,, jadi ingin ke Garut juga deh.
    Lihat pemandangan indah + udara yang sejuk, hati jadi adem banget ya mba

    BalasHapus
  16. Adududu pengen banget ke Garut. Gak nyangka, kirain dodol aja yg bisa ditemuin disana. Ternyata ada potensi lain yaa

    BalasHapus
  17. Garut keren ya punya PLTU dari kawah. Bisa jadi ciri khas selain dodol Garut hehe. Menarik juga ada konsevasi elang. Ayo jaga mereka dari kepunahan!

    BalasHapus
  18. Aku udah pernah sekali ke Garut. Alamnya indaaah banget. Walau gak keliling Garut cuma stay di pedesaaan tapi Garut ini indaah. Kudu diniatin buat backapackeran ke Garut.

    BalasHapus
  19. Wah, ada Geotermal Information Center (GIC) di Kamojang. Asyik banget ya. Jadi bisa tau tentang pembangkit listrik di sana juga. Apalagi jika bisa ketemu elang jawa. Semoga kedatangan kita tak mengganggu habitatnya, ya. BTW, kenapa tarif wisatawan asingnya bisa semahal itu? Jadi ingat tahun lalu ada protes besar dari para wisman.

    BalasHapus
  20. Liat ini kok tiba-tiba kebayang angle foto yang bagus ya. Efek kabutnya itu lho keren banget kalau buat efek foto

    BalasHapus
  21. Baru tau soal potografer Thilly Weissenborn, penasaran fotonya yang seperti apa ya soal Garut. Bisa digugling gak yaaa...
    Oh iya di sana ada penangkaran burung itu ya.
    Manteb banget ternyata tenaga uap dr panas bubu adalah yang terbaik di dunia ya. Kalau dikelola dengan baik pasti mampu mencukupi kebutuhan tenaga di negeri ini ya...

    BalasHapus
  22. bener banget kak, yang aku tau tentang garut ya dodol atau dombanya. hihihih
    baru tau aku kalau ada tempat wisata kawah gitu, ada teman yang orang garut ngajak liburan kesana, bisa kali ya sekalian ke PLTU nya . penasaran kalau deket uap tuh rasanya gimana

    BalasHapus
  23. Iya, garut mengingatkanku pada dodol. Malah baru tahu kalau bentang alam garut memesona seperti Swiss. Jadi pengen kapan-kapan berkunjung ke sanam eh, garut terkenal seblaknya juga kan? Seblak Asgar.

    BalasHapus
  24. Enaknya kalo berwisata itu juga sekaligus menambah pengetahuan ya. Wisata yang juga mengedukasi gitu. Tarif juga tidak terlalu mahal sehingga terjangkau untuk bawa keluarga yah.

    BalasHapus
  25. Hahaaa iya bener bgt, secara dodol garut kan terkenal bgt, boleh nih kapan2 ajak keluarga kesini, sekalian nambah pengalaman 😁

    BalasHapus
  26. Wadaaaaaw, biaya lokal sama mancanagera jomplang abis wgwgw

    Ku ingin keeee Garut. Penasaraaaaan sama wisata kawahnya ini ya ampon.

    BalasHapus
  27. Kalau nggak bawa kendaraan sendiri, ada akses kendaraan umum buat ke Kamojang dan sekitarnya nggak Kang?

    BalasHapus
  28. Saya tuh pengin banget ke Garut krn wisatanya banyak yg menarik.. Kebetulan ada adik ipar yg bermukim di sana.. Semoga liburan akhir tahun nanti say bisa main ke Garut.. Penasaran sama Kaaah Kamojang..

    BalasHapus
  29. Wahh Penangkaran Elang membuat kami penasaran...

    BalasHapus

Ditunggu Komentarnya Teman-Teman