BEBERAPA waktu lalu, saya ikut acara ngobrol-ngobrol santai tentang mengelola keuangan. Ada satu hal yang membuat saya tercengang, terutama ketika salah satu pemateri yang notabene seorang Financial Planner bilang jika saat ini, siapa pun termasuk Kaum Milenial telah terpapar Latte Factor.
Latte Factor adalah berbagai pengeluaran kecil yang tidak disadari, tetapi rutin sehingga ketika dijumlahkan selama 1 bulan bahkan 1 tahun nilainya bikin mata terbelalak. Misalnya jajan air kemasan, camilan, top-up uang elektronik, ngopi di cafe, dan hal-hal kecil lain yang menjadi gaya hidup.
Contoh jajan kopi di cafe yang hanya Rp50.000,- perhari. Nilai tersebut jika dikalikan satu bulan bisa mencapai Rp50.000,- x 30 (hari) = Rp1.500.000,-. Coba dikali satu tahun? Hasilnya cukup mencengangkan. Hanya untuk ngopi saja setahun harus mengeluarkan Rp1500.000,- x 12 (bulan) = Rp18.000.000,-.
Latte Factor banyak menjangkiti Kaum Milenial karena mereka generasi yang terbiasa dengan kecanggihan teknologi, ditambah semakin mudahnya berbagai akses kebutuhan hidup melalui gadget. Kebiasaan ini membuat mereka lebih gampang mengeluarkan uang hanya untuk eksistensi di media sosial, ikut-ikutan tren atau memuaskan nafsu belanja yang disesali kemudian.
Apa yang saya dapat dalam acara tersebut semakin dikuatkan ketika Senin, 23 Desember 2019 lalu saya ikut Financial Digital Influencer Camp dengan tema “Financial Freedom in Digital Era”, yang digelar Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dan Ayo Media Network di Hotel Courtyard, Jalan Dago Bandung.
Peserta Financial Digital Influencer Camp (Foto Ali)
Dalam acara bincang-bincang santai yang dihadiri media, blogger, influencer, dan para mahasiswa tersebut mendatangkan AZ Mutakim –Public Relation Officer LPS dan Mellysa Widyastuti –Social Media Strategist Ayo Media Network.

Kaum Milenial Boros
Mellysa yang menjadi pembicara kedua memberikan statement yang cukup menampar Kaum Milenial. Dia bilang, “Milenial Indonesia senang mengeluarkan uang untuk dikenang, bukan untuk dimiliki.”
Statement tersebut tentu bukan tanpa alasan. Paling tidak ada lima (5) hasil survei yang melatarbelakanginya;
1). 95% Milenial Indonesia diprediksi tidak memiliki rumah di tahun 2020.
2). Menutut Go Banking Rate; Milenial sangat boros untuk kebutuhan gaya hidup.
3). 69% Milenial Indonesia tidak memiliki stategi keuangan (Asia Tenggara Luno).
4). Bunga tabungan Milenial kalah dengan inflasi.
5). 80% Milenial memiliki tabungan konvensional.
Dari hasil survei tersebut kita bisa menyimpulkan jika Kaum Milenial memang hidupnya boros banget. Mungkin karena jaman sudah berubah. Kondisi seperti ini jika dibiarkan tanpa edukasi tentu akan merugikan Kaum Milenial.

Padahal, Kaum Milenial adalah generasi ke depan yang akan membangun bangsa. Apa jadinya jika mereka lalai? Mengelola keuangan diri sendiri saja tidak becus apalagi mengelola keuangan negara, coba?
Padahal di era digital seperti sekarang ini, Kaum Milenial dimanjakan dengan kemudahan akses dalam mencari pendapatan. Baik melalui dunia kreatif yang saat ini sedang tumbuh pesat atau cukup mengoptimalkan media sosial yang mereka miliki.
Mereka bisa menjual barang, jasa, atau kebisaan apa pun yang mereka miliki melalui media sosial. Bisa menjadi blogger, vlogger, selebgram, youtuber atau influencer berbagai brand.
Tidak sedikit pula Kaum Milenial yang usianya belum genap 20 tahun sudah menjadi miliarder atau memangku sebuah jabatan di perusahaan yang dirintisnya. Semua sukses berkat media sosial.
Mereka juga menjadi panutan bahkan diidolakan. Tidak heran jika anak-anak sekarang ditanya cita-cita, mereka dengan lantang menjawab ingin menjadi selebgram, menjadi vlogger, youtuber, atau bisnis online. Sudah jarang yang ingin menjadi guru, polisi, atau presiden, hehehe.
 Anak-anak jaman now tahu, jika sukses menjadi youtuber bakal kaya raya. Padahal kerjanya seolah mudah, hanya bikin video yang informatif duit akan mengalir begitu saja. Mereka belum tahu, untuk membuat video itu effort-nya luar biasa. Begitu pun profesi lain di era digital.

Nabung di Bank, Yuk
Pada awal pemaparan, Mellysa menjelaskan tema yang diusung pada Financial Digital Influencer Camp kali ini. Financial Freedom in Digital Era yang dimaksud adalah kita memiliki pendapatan pasif, pendapatan aktif, dan pendapatan investasi.
Pendapatan pasif, pendapatan yang diperoleh dari aset yang kita miliki, jadi biarkan aset yang bekerja dan menghasilkan. Pendapatan aktif, pendapatan yang dihasilkan dengan cara menukar waktu dan pikiran alias bekerja. Pendapatan investasi, uang yang bekerja untuk kita.
Semua pendapatan tersebut akan membuat kita menjadi seorang yang bebas secara keuangan dengan catatan kita mampu mengelolanya dengan benar. Catat ya, mengelola dengan benar.
Mellysa Widyastuti –Social Media Strategist Ayo Media Network (Foto Ali)
Salah satu cara mengelola keuangan yang dianjurkan adalah dengan menabung. Kenapa menabung? Karena menabung banyak sekali manfaatnya. Sebut saja misalnya untuk kebutuhan yang sifatnya mendadak, pendidikan, sarana menggapai impian, beli properti, investasi, dan sebagainya sehingga uang yang kita hasilkan tidak lenyap dan tinggal kenangan.
“Kalau bisa setiap bulan kita sisihkan rutin uang tabungan dan selebihnya untuk keperluan sehari-hari. Jangan kebalik, nabungnya dari uang sisa keperluan sehari-hari,” tegas Mellysa sambil tersenyum kecil.

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS)
Salah satu kelebihan menabung di Bank, selain tabungan kita menumpuk dengan aman, tabungan kita juga dijamin Lembaga Penjamin Simpanan atau LPS sehingga keamanannya semakin terjamin.
“Sejarah berdirinya LPS sendiri cukup berliku. Berawal dari tahun 1998, saat krisis moneter menghantam Indonesia. Krisis tersebut mengakitbatkan 16 bank dilikuidasi dan kepercayaan masyarakat pada perbankan menurun,” ungkap AZ Mutakin yang menjadi pembicara pertama.
AZ Mutakim –Public Relation Officer LPS (Foto Ali)
Pada saat itu pemerintah sempat mengeluarkan kebijakan memberikan jaminan untuk seluruh kewajiban bank terhadap nasabahnya, termasuk simpanan masyarakat yang dikenal dengan blanket guarantee.
Kebijakan tersebut ternyata mampu mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap perbankan. Sayangnya, karena ruang lingkup penjaminannya terlalu luas, malah membebani keuangan negara dan bisa menimbulkan moral hazard bagi pelaku perbankan dan nasabah.
Pemerintah kemudian membentuk LPS, sebuah lembaga independen yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan (UU LPS) yang diubah dengan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2009. UU LPS diundangkan tanggal 22 September 2004 dan mulai berlaku 12 bulan setelah diundangkan, yaitu tanggal 22 September 2005.
LPS diberlakukan sejak tanggal 22 September 2005. Perubahan yang signifikan dalam penjaminan melalui LPS adalah dihapusnya blanket guarantee menjadi limited guarantee atau penjaminan terbatas.

Tugas Lembaga Penjamin Simpanan
LPS selain menjamin simpanan nasabah bank juga ikut aktif memelihara stabilitas sistem perbankan sesuai kewenangannnya. Simpanan nasabah bank yang dijamin, simpanan dalam bentuk tabungan, deposito, giro, sertifikat deposito, dan bentuk lain yang dipersamakan dengan apa yang saya sebut di atas.
LPS juga menjamin simpanan nasabah bank syariah yang berbentuk giro wadiah, tabungan wadiah, tabungan mudharabah, dan deposito mudharabah. Berikut ini tugas LPS secara lengkap;
1). Melindungi nasabah perbankan dengan program penjamin simpanan.
2). Melaksanakan resolusi perbankan.
3). Melaksanakan program restrukturisasi perbankan.
4). Turut aktif dalam memelihara stabilitas perbankan.
LPS menjamin simpanan nasabah hingga Rp2 Miliar rupiah pernasabah perbank. Jika ada nasabah mempunyai beberapa rekening simpanan dalam satu bank, maka simpanan yang dijamin dihitung dari jumlah saldo seluruh rekening.

Nilai simpanan yang dijamin meliputi simpanan pokok ditambah bunga untuk bank konvensional dan simpanan pokok ditambah bagi hasil untuk bank syariah.
Bagaimana dengan simpanan nasabah dengan nilai di atas Rp2 Miliar? Jika hal itu terjadi maka akan diselesaikan oleh Tim Likuidasi berdasarkan likuidasi kekayaan bank. Kemudian bagi nasabah yang mempunyai rekening gabungan atau joint account, saldo pada rekening gabungan dibagi sama besar antar pemilik rekening.

Syarat Berlakunya Simpanan yang Dijamin LPS
“Hati-hati jika ada bank yang memberikan penawaran bunga tidak wajar karena itu menjadi tanda-tanda bank tidak sehat,” ungkap AZ Mutakim lagi saat saya tanya ciri-ciri bank yang tidak sehat. “Maka jangan pernah sekali pun menyimpan uang kita di sana,” pungkasnya.
Selain banknya tidak sehat, jika di kemudian hari bank dinyatakan bangkrut dan dilikuidasi maka LPS tidak akan menjamin simpanan nasabah. Baik simpanan pokok mau pun bunganya.
Jadi, kalau kita mau menabung kita harus tetap melihat bunga yang ditawarkan bank supaya simpanan kita dijamin LPS. Lebih jelasnya, berikut ini syarat berlakunya simpanan yang dijamin LPS, yang biasa disingkat dengan 3 T;
1). Tercatat pada pembukuan bank.
2). Tingkat bunga simpanan tidak melebihi bunga penjaminan LPS.
3). Tidak melakukan tindakan yang merugikan bank.
Sesuai Pasal 37B Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1999 tentang Perbankan, setiap bank wajib menjamin dana nasabah yang disimpan di bank. Semua biaya peserta penjaminan simpanan LPS ditanggung bank yang bersangkutan dan nasabah tidak dibebani biaya apapun.

Jenis bank peserta penjaminan LPS meliputi bank umum dan BPR, termasuk bank nasional, bank campuran dan bank asing, serta bank konvensional dan bank syariah. Jadi, semua bank yang ada di Indonesia bisa menjadi peserta penjaminan LPS tanpa pandang bulu.
Tanpa terasa acara yang  dimulai sejak pukul 14.00 WIB dan sarat faedah tersebut berakhir sekitar pukul 16.30 WIB. Usai tanya jawab dan pembagian hadiah, acara ditutup dengan ramah tamah dan makan-makan dong pastinya, hehehe.
Ramah tamah dan makan-makan peserta (Foto Ali)

Peserta saling berdiskusi sambil makan (Foto Ali)
Btw, kalau sudah seperti ini kondisi perbankan di Indonesia, saya rasa tidak ada alasan lagi untuk tidak menabung di bank karena uang tabungan atau uang simpanan kita pasti aman. Bagaimana tidak aman? Jika terjadi apa-apa pada bank, uang tabungan atau uang simpanan kita sudah dijamin Lembaga Penjamin Simpanan alias LPS.
Semoga bermanfaat!
***

Kaum Milenial, Yuk Nabung di Bank Mumpung Tabungan Kita Dijamin LPS




BEBERAPA waktu lalu, saya ikut acara ngobrol-ngobrol santai tentang mengelola keuangan. Ada satu hal yang membuat saya tercengang, terutama ketika salah satu pemateri yang notabene seorang Financial Planner bilang jika saat ini, siapa pun termasuk Kaum Milenial telah terpapar Latte Factor.
Latte Factor adalah berbagai pengeluaran kecil yang tidak disadari, tetapi rutin sehingga ketika dijumlahkan selama 1 bulan bahkan 1 tahun nilainya bikin mata terbelalak. Misalnya jajan air kemasan, camilan, top-up uang elektronik, ngopi di cafe, dan hal-hal kecil lain yang menjadi gaya hidup.
Contoh jajan kopi di cafe yang hanya Rp50.000,- perhari. Nilai tersebut jika dikalikan satu bulan bisa mencapai Rp50.000,- x 30 (hari) = Rp1.500.000,-. Coba dikali satu tahun? Hasilnya cukup mencengangkan. Hanya untuk ngopi saja setahun harus mengeluarkan Rp1500.000,- x 12 (bulan) = Rp18.000.000,-.
Latte Factor banyak menjangkiti Kaum Milenial karena mereka generasi yang terbiasa dengan kecanggihan teknologi, ditambah semakin mudahnya berbagai akses kebutuhan hidup melalui gadget. Kebiasaan ini membuat mereka lebih gampang mengeluarkan uang hanya untuk eksistensi di media sosial, ikut-ikutan tren atau memuaskan nafsu belanja yang disesali kemudian.
Apa yang saya dapat dalam acara tersebut semakin dikuatkan ketika Senin, 23 Desember 2019 lalu saya ikut Financial Digital Influencer Camp dengan tema “Financial Freedom in Digital Era”, yang digelar Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dan Ayo Media Network di Hotel Courtyard, Jalan Dago Bandung.
Peserta Financial Digital Influencer Camp (Foto Ali)
Dalam acara bincang-bincang santai yang dihadiri media, blogger, influencer, dan para mahasiswa tersebut mendatangkan AZ Mutakim –Public Relation Officer LPS dan Mellysa Widyastuti –Social Media Strategist Ayo Media Network.

Kaum Milenial Boros
Mellysa yang menjadi pembicara kedua memberikan statement yang cukup menampar Kaum Milenial. Dia bilang, “Milenial Indonesia senang mengeluarkan uang untuk dikenang, bukan untuk dimiliki.”
Statement tersebut tentu bukan tanpa alasan. Paling tidak ada lima (5) hasil survei yang melatarbelakanginya;
1). 95% Milenial Indonesia diprediksi tidak memiliki rumah di tahun 2020.
2). Menutut Go Banking Rate; Milenial sangat boros untuk kebutuhan gaya hidup.
3). 69% Milenial Indonesia tidak memiliki stategi keuangan (Asia Tenggara Luno).
4). Bunga tabungan Milenial kalah dengan inflasi.
5). 80% Milenial memiliki tabungan konvensional.
Dari hasil survei tersebut kita bisa menyimpulkan jika Kaum Milenial memang hidupnya boros banget. Mungkin karena jaman sudah berubah. Kondisi seperti ini jika dibiarkan tanpa edukasi tentu akan merugikan Kaum Milenial.

Padahal, Kaum Milenial adalah generasi ke depan yang akan membangun bangsa. Apa jadinya jika mereka lalai? Mengelola keuangan diri sendiri saja tidak becus apalagi mengelola keuangan negara, coba?
Padahal di era digital seperti sekarang ini, Kaum Milenial dimanjakan dengan kemudahan akses dalam mencari pendapatan. Baik melalui dunia kreatif yang saat ini sedang tumbuh pesat atau cukup mengoptimalkan media sosial yang mereka miliki.
Mereka bisa menjual barang, jasa, atau kebisaan apa pun yang mereka miliki melalui media sosial. Bisa menjadi blogger, vlogger, selebgram, youtuber atau influencer berbagai brand.
Tidak sedikit pula Kaum Milenial yang usianya belum genap 20 tahun sudah menjadi miliarder atau memangku sebuah jabatan di perusahaan yang dirintisnya. Semua sukses berkat media sosial.
Mereka juga menjadi panutan bahkan diidolakan. Tidak heran jika anak-anak sekarang ditanya cita-cita, mereka dengan lantang menjawab ingin menjadi selebgram, menjadi vlogger, youtuber, atau bisnis online. Sudah jarang yang ingin menjadi guru, polisi, atau presiden, hehehe.
 Anak-anak jaman now tahu, jika sukses menjadi youtuber bakal kaya raya. Padahal kerjanya seolah mudah, hanya bikin video yang informatif duit akan mengalir begitu saja. Mereka belum tahu, untuk membuat video itu effort-nya luar biasa. Begitu pun profesi lain di era digital.

Nabung di Bank, Yuk
Pada awal pemaparan, Mellysa menjelaskan tema yang diusung pada Financial Digital Influencer Camp kali ini. Financial Freedom in Digital Era yang dimaksud adalah kita memiliki pendapatan pasif, pendapatan aktif, dan pendapatan investasi.
Pendapatan pasif, pendapatan yang diperoleh dari aset yang kita miliki, jadi biarkan aset yang bekerja dan menghasilkan. Pendapatan aktif, pendapatan yang dihasilkan dengan cara menukar waktu dan pikiran alias bekerja. Pendapatan investasi, uang yang bekerja untuk kita.
Semua pendapatan tersebut akan membuat kita menjadi seorang yang bebas secara keuangan dengan catatan kita mampu mengelolanya dengan benar. Catat ya, mengelola dengan benar.
Mellysa Widyastuti –Social Media Strategist Ayo Media Network (Foto Ali)
Salah satu cara mengelola keuangan yang dianjurkan adalah dengan menabung. Kenapa menabung? Karena menabung banyak sekali manfaatnya. Sebut saja misalnya untuk kebutuhan yang sifatnya mendadak, pendidikan, sarana menggapai impian, beli properti, investasi, dan sebagainya sehingga uang yang kita hasilkan tidak lenyap dan tinggal kenangan.
“Kalau bisa setiap bulan kita sisihkan rutin uang tabungan dan selebihnya untuk keperluan sehari-hari. Jangan kebalik, nabungnya dari uang sisa keperluan sehari-hari,” tegas Mellysa sambil tersenyum kecil.

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS)
Salah satu kelebihan menabung di Bank, selain tabungan kita menumpuk dengan aman, tabungan kita juga dijamin Lembaga Penjamin Simpanan atau LPS sehingga keamanannya semakin terjamin.
“Sejarah berdirinya LPS sendiri cukup berliku. Berawal dari tahun 1998, saat krisis moneter menghantam Indonesia. Krisis tersebut mengakitbatkan 16 bank dilikuidasi dan kepercayaan masyarakat pada perbankan menurun,” ungkap AZ Mutakin yang menjadi pembicara pertama.
AZ Mutakim –Public Relation Officer LPS (Foto Ali)
Pada saat itu pemerintah sempat mengeluarkan kebijakan memberikan jaminan untuk seluruh kewajiban bank terhadap nasabahnya, termasuk simpanan masyarakat yang dikenal dengan blanket guarantee.
Kebijakan tersebut ternyata mampu mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap perbankan. Sayangnya, karena ruang lingkup penjaminannya terlalu luas, malah membebani keuangan negara dan bisa menimbulkan moral hazard bagi pelaku perbankan dan nasabah.
Pemerintah kemudian membentuk LPS, sebuah lembaga independen yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan (UU LPS) yang diubah dengan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2009. UU LPS diundangkan tanggal 22 September 2004 dan mulai berlaku 12 bulan setelah diundangkan, yaitu tanggal 22 September 2005.
LPS diberlakukan sejak tanggal 22 September 2005. Perubahan yang signifikan dalam penjaminan melalui LPS adalah dihapusnya blanket guarantee menjadi limited guarantee atau penjaminan terbatas.

Tugas Lembaga Penjamin Simpanan
LPS selain menjamin simpanan nasabah bank juga ikut aktif memelihara stabilitas sistem perbankan sesuai kewenangannnya. Simpanan nasabah bank yang dijamin, simpanan dalam bentuk tabungan, deposito, giro, sertifikat deposito, dan bentuk lain yang dipersamakan dengan apa yang saya sebut di atas.
LPS juga menjamin simpanan nasabah bank syariah yang berbentuk giro wadiah, tabungan wadiah, tabungan mudharabah, dan deposito mudharabah. Berikut ini tugas LPS secara lengkap;
1). Melindungi nasabah perbankan dengan program penjamin simpanan.
2). Melaksanakan resolusi perbankan.
3). Melaksanakan program restrukturisasi perbankan.
4). Turut aktif dalam memelihara stabilitas perbankan.
LPS menjamin simpanan nasabah hingga Rp2 Miliar rupiah pernasabah perbank. Jika ada nasabah mempunyai beberapa rekening simpanan dalam satu bank, maka simpanan yang dijamin dihitung dari jumlah saldo seluruh rekening.

Nilai simpanan yang dijamin meliputi simpanan pokok ditambah bunga untuk bank konvensional dan simpanan pokok ditambah bagi hasil untuk bank syariah.
Bagaimana dengan simpanan nasabah dengan nilai di atas Rp2 Miliar? Jika hal itu terjadi maka akan diselesaikan oleh Tim Likuidasi berdasarkan likuidasi kekayaan bank. Kemudian bagi nasabah yang mempunyai rekening gabungan atau joint account, saldo pada rekening gabungan dibagi sama besar antar pemilik rekening.

Syarat Berlakunya Simpanan yang Dijamin LPS
“Hati-hati jika ada bank yang memberikan penawaran bunga tidak wajar karena itu menjadi tanda-tanda bank tidak sehat,” ungkap AZ Mutakim lagi saat saya tanya ciri-ciri bank yang tidak sehat. “Maka jangan pernah sekali pun menyimpan uang kita di sana,” pungkasnya.
Selain banknya tidak sehat, jika di kemudian hari bank dinyatakan bangkrut dan dilikuidasi maka LPS tidak akan menjamin simpanan nasabah. Baik simpanan pokok mau pun bunganya.
Jadi, kalau kita mau menabung kita harus tetap melihat bunga yang ditawarkan bank supaya simpanan kita dijamin LPS. Lebih jelasnya, berikut ini syarat berlakunya simpanan yang dijamin LPS, yang biasa disingkat dengan 3 T;
1). Tercatat pada pembukuan bank.
2). Tingkat bunga simpanan tidak melebihi bunga penjaminan LPS.
3). Tidak melakukan tindakan yang merugikan bank.
Sesuai Pasal 37B Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1999 tentang Perbankan, setiap bank wajib menjamin dana nasabah yang disimpan di bank. Semua biaya peserta penjaminan simpanan LPS ditanggung bank yang bersangkutan dan nasabah tidak dibebani biaya apapun.

Jenis bank peserta penjaminan LPS meliputi bank umum dan BPR, termasuk bank nasional, bank campuran dan bank asing, serta bank konvensional dan bank syariah. Jadi, semua bank yang ada di Indonesia bisa menjadi peserta penjaminan LPS tanpa pandang bulu.
Tanpa terasa acara yang  dimulai sejak pukul 14.00 WIB dan sarat faedah tersebut berakhir sekitar pukul 16.30 WIB. Usai tanya jawab dan pembagian hadiah, acara ditutup dengan ramah tamah dan makan-makan dong pastinya, hehehe.
Ramah tamah dan makan-makan peserta (Foto Ali)

Peserta saling berdiskusi sambil makan (Foto Ali)
Btw, kalau sudah seperti ini kondisi perbankan di Indonesia, saya rasa tidak ada alasan lagi untuk tidak menabung di bank karena uang tabungan atau uang simpanan kita pasti aman. Bagaimana tidak aman? Jika terjadi apa-apa pada bank, uang tabungan atau uang simpanan kita sudah dijamin Lembaga Penjamin Simpanan alias LPS.
Semoga bermanfaat!
***

43 komentar:

  1. Yang ini menampar banget:

    “Milenial Indonesia senang mengeluarkan uang untuk dikenang, bukan untuk dimiliki.”

    Duh.

    Bagusnya sekarang, ada LPS yang menjamin simpanan. Jadi dana kita in syaa Allah aman.

    BalasHapus
  2. Aku nggak tahu nih mana yang menjadi sebab atau akibat.

    Di masa aku masih usia 20 tahunan, nyaris nggak ada lho event yang membahas perencanaan keuangan. Tapi belum pernah diperkirakan juga bahwa generasi kami tidak punya properti.

    Nah, generasi orang-orang muda sekarang ini tuh malah gencar banget ada event-event perencanaan keuangan. Bisa jadi banyak diselenggarakan karena mengamati gaya hidup kaum milenial yang cenderung boros gitu, ya.

    Tapi ambil manfaatnya aja, yang namanya punya pendapatan wajib hukumnya paham bagaimana mengelola uang yang ada. Jangan sampai pintar cari uang, pintar menghabiskan doang (kayak saya, ups ...)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget Kak, event-event kayak gini mustinya bikin anak milenial makin melek ya kak

      Hapus
  3. Waw aku kaget juga lho. Pas tadi ngopi di cafe perhari 50 ribu pertahunnya bisa 18 juta. Mahal banget ya jatoh. Tulisan di atas juga mengajarkan kita kalau hidup jangan kebanyakan gaya ya kang apalagi gayanya itu cuma buat pencitraan biar dibilang tajir, punya ini itu padahal akhirnya jadi nggak memiliki apa-apa. Aku juga ngerasa ketampar nih waktu bilang soal tabungan. Harusnya menabung itu emang diniatkan disisihkan dari awal ya bukan dari uang sisa belanja. Hadeuhhh nampar banget ini 🙈

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, hayuk Bun, nabung lagi, nabung lagi

      Hapus
  4. Milenial itu generasi terkaya sekaligus termiskin. Hehehe. Semua bergantung pada si mumpung, mumpung masih muda ya gak ada salahnya sesekali foya2, mumpung masih belum menikah ya gak ada salahnya hura2. Sebetulnya gak ada yg salah juga sih dengan kalimat2 itu. Cuma, kalo kita bisa selangkah memikirkan masa depan, pasti kesadaran untuk menabung dan berinvestasi itu akan muncul sendiri.

    BalasHapus
  5. Jadi ingat tabungan saya di Bank, Kang Ali. Walau isinya kadang limit, tapi sekarang sudah ada jaminan ya, Kang. Jadi dana kita aman. Soalnya masih ada yang berpikiran kolot, uang segepok disimpan di bawah kasur hehehe. Jadi acara seperti ini sangat keren untuk mensosialisasikan soal LPS ini.
    Jadi semangat nabung lagi nih, Kang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bang bing bung yuuuk, kita ke bank. Tang ting tung yuk, jangan dihitung, tahu-tahu kita nanti jadi untung

      Hapus
  6. Ada lho bang Ali, salah satu bank pemerintah, yang banyak bener potongannya.
    Sampe2 saya ilpil de...
    Segan saya nulisnya di sini 😑

    BalasHapus
  7. Hihi..betul juga ya...sedikit kalau sering jadinya ya banyak...latte factor, benar-benar sesuatu yang butuh perhatian dan direm, agar uang tidak terbuang ..

    BalasHapus
  8. Ayoo nabung di bank...
    Biar punya masa depan lebih cerah selagi produktif maka banyak2 lha menabung. Jika sudah sakit atau tua, maka tabungan itu bisa menjadi tumpuan hidup mu sehingga tidak merepotkan orang lain.
    Tapi pengennya yang biaya bulanannya kecil tapi g aada ya, udah ada biaya bulanan, ada biaya kartu nya juga. Lhaa sebulan bisa kena potong bnyk saldo kita hehehe

    BalasHapus
  9. Zaman sekarang sering banget ada seminar financial gini ya, tapi ya gitu, tantangan untuk mengatur financial lebih banyak.

    Banyak boba enak di mall, kuliner beragam, wisata bertebaran.
    Rasanya, semua tempat siap menggoda uang kita ditabung di sana, bukan di bank hahaha

    BalasHapus
  10. Udah lama nabung di bank, tepatnya Bank Mandiri. Tapi baru tahu lebih detail tentang LPS di postingan ini. Tengkyu ya, Kang :)

    BalasHapus
  11. generasi yg punya kategori terkaya dan ter missqueen ya generasi milenial. bagi sebagian yang pintar memilah komunitas yg diikuti insyaAllah akan tau fokus nya bakal kemana. ya memang hidup itu pilihan. seperti saya yang memilih menjadi blogger parttime dan menjadi ibu dan istri fulltime menjadi penting buat saya utk menggunakan LPS agar dana yg saya miliki tersimpan sgb inventasi masa depan.

    BalasHapus
  12. Aku masih menabung kok kak soalnya emang perlu banget untuk jaga jaga di hari tua..tabungan aku juga ada dibeberapa bank

    BalasHapus
  13. Menabung tidak melulu orang tua ya mba, kaum Milenial yang masih muda tetapi udah bekerja pun juga mesti menabung.
    Karena tidak hanya punya simpanan di Bank tetapi juga melatih agar hidup tidak boros.
    Apalagikan anak muda kebanyakan hidup konsumtif, lebih lagi jika awal bulan dan ada diskonan.
    Wah bisa kalap belanja dong

    BalasHapus
  14. Alhamdulillah aku ada tabungan hehe, tentu aja pilih yang dijamin ma LPS siihh.
    Hmmm mungkin "penyakit" milenial sekarang adalah doyan traveling dan melakukan hal2 berbau sosial jd suka lupa nabung, eh tapi siapa tau kan gak nabung tapi investasinya buanyaak hehehehe

    BalasHapus
  15. Aku belajar mengelola keuangan dari kecil mas. Udah diajari ibu menabung dari mulai tabungan bambu sampai nabung di bank. Kebiasaan itu yang sampai sekarang masih dilakukan. Alhamdulillah...

    BalasHapus
  16. Tidak dipumgkiri soal perkopian itu benar adanya.. hehe.. Jadi emang harus memikirkan saving money untuk jangka panjang ya.

    BalasHapus
  17. Saya merasakan dan mengkhawatirkan apa yang jadi hasil survey itu. Kaum milenial, bagi kaum tua, seperti hidup berfoya-foya setiap saat. Semua digampangkan dan dibuat sesimpel mungkin.
    Ada yang salah di sini.

    Sebagai milenial imigran, krn saya Gen X, saya banyak belajar positif-negatifnya dan mencoba memberitahukan ke anak yang akan menjadi generasi muda seperti mereka. Hanya saja, kelak, sebutannya apa, ya?

    BalasHapus
  18. Kapan ya even even kayak gini ada di jember kotaku. huuuu . masih menunggu

    BalasHapus
  19. Menabung di usia muda itu investasi yac mba, belajar mengatur keuangan millenial itu keren loh, apalagi di dukung dengan sarana yang mudah teraplikasi.

    BalasHapus
  20. Saya punya tabungan di bank tetapi sebatas tempat uang transferan mendarat untuk numpang lewat. Soal latte factors, sepertinya saya juga demikian karena terkadang jajan di warung dekat rumah.
    Dengan penghasilan suami yang pas-pasan sepetniya saaya harus lebih gigih kerja dalam dunia menulis dan blog agar saldo tabugan bertambah da bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya demi masa depan.

    BalasHapus
  21. latte factor, selalu terbayangnya secangkir latte yang creamy-creamy gimana gitu hehe.
    Jangankan anak milenial, emak milenial kayak saya aja kena latte factor nih..hmm
    memang edukasi finansial saya kuraaang sekali, adanya artikel seperti ini nambah ilmu baru yang bermanfaat

    BalasHapus
  22. ada beberapa factor sepertinya usia produktif suka nongkrong di café. kalo buatku, ke café bias jadi suatu hal yang tidak merugikan, karena dsana aku bisa lebih produktif menciptakan karya hehe tapi tergantung orangnya juga sih yaa. memang bener, mengelola keuangan itu penting

    BalasHapus
  23. Haduhh,, latte factor itu kayaknya saya dan suami banget. Sedikit kalo sekali-dua kali, tapi kalo sampe tiap hari sebulan? Wow juga ternyata ya. Harus belajar mengelola keuangan lagi nih saya.

    BalasHapus

Ditunggu Komentarnya Teman-Teman