LIBURAN paling seru? Ngomongin liburan memang nggak akan pernah ada habisnya karena setiap liburan pasti selalu menyenangkan dan seru. Meski pun kadar menyenangkan dan serunya berbeda-beda, hehehe.
Kalau saya ditanya liburan mana yang paling seru, saya akan jawab salah satunya saat liburan ke Batam. Liburannya sangat singkat sebetulnya, karena hanya punya waktu seharian di sana. Akan tetapi, apa yang saya dapat luar biasa. Menyenangkan, seru, magis, dan mistis!
Jadi ceritanya, usai mengisi sebuah acara kepenulisan di Batam, saya menghabiskan sisa waktu selama di Batam dengan menjenguk Kampung Vietnam yang ada di Pulau Galang.
Saya penasaran dengan Kampung Vietnam karena tidak banyak yang tahu, jika di Batam ada pulau yang pernah disinggahi pengungsi Vietnam pada saat perang Vietnam tahun 1975-1996. Sekitar 250.000 penduduk Vietnam mengungsi karena ingin aman dari peperangan. Tepatnya di Pulau Galang, Desa Sijantung, Kecamatan Galang.
Untuk menuju ke Pulau Galang, kendaraan yang saya tumpangi harus melewati Jempatan Barelang, jembatan yang menjadi penghubung Pulau Batam, Pulau Tonton, Pulau Nipah, Pulau Setotok, Pulau Rempang, Pulau Galang, dan Pulau Galang Baru.
Di antara ketujuh pulau tersebut, ada tiga pulau besar yaitu Pulau Batam, Pulau Rempang, dan Pulau Galang sehingga jembatan tersebut dinamakan Jembatan Barelang (Batam, Rempang, dan Galang).

Seru, Magis, dan Mistis
Setelah kendaraan yang saya tumpangi menyurusi jembatan satu persatu serta menyusuri pulau dengan jalan yang meliuk-liuk, kendaraan memasuki kawasan Kampung Vietnam. Agak merinding ketika melewati pos penjagaan. Aroma mistis terasa sekali menyusupi pori-pori. Semak belukar dan pohon-pohon besar tumbuh subur mengelilingi kampung.
Kendaraan yang saya tumpangi sempat nyasar di jalan buntu karena penunjuk jalan mulai rusak dan tidak terbaca. Agak deg-degan juga karena meski pun ada beberapa mobil, aroma kesunyian amat terasa. Setelah berbalik arah, mulai terlihat tanda-tanda kehidupan.
Begitu melewati gerbang, terlihat sebuah patung perempuan terkulai berwarna putih, kecil, dan menggambarkan seorang perempuan yang duduk. Patung yang menjadi monumen untuk mengenang tragedi kemanusiaan yang terjadi dalam pengungsian. Seorang wanita Vietnam bernama Tinh Han Loai bunuh diri setelah diperkosa sesama pengungsi. Patung tersebut dikenal dengan Patung Humanity Statue.
Kemudian ada komplek pemakaman Ngha Trang Grave Galang. Kurang lebih 500 pengungsi dimakamkan di sini. Mereka meninggal karena sakit setelah berbulan-bulan terombang-ambing di lautan. Terkena penyakit kelamin yang sangat berbahaya Vietnam Rose. Ada juga yang bunuh diri karena tidak mau dipindahkan dari Pulau Galang.
Bangkai Perahu yang Dijadikan Monumen (Foto Ali)
Kendaraan kemudian parkir di area taman. Ada dua perahu besar tergeletak di sana. Dua perahu yang menjadi monumen keberadaan orang-orang Vietnam yang pernah mengungsi di Pulau Galang. Konon, karena mereka tidak mau kembali ke Vietnam, begitu tiba di pantai, mereka sengaja menenggelamkan perahu-perahu mereka. Mereka sudah trauma dengan perang.
Perahu-perahu tersebut kemudian berhasil ditarik ke daratan untuk diperbaiki dan dijadikan monumen untuk mengenang perjuangan dan penderitaan para pengungsi Vietnam.
Tidak jauh dari monumen perahu ada barak tempat pengungsian dua lantai yang berseberangan dengan museum. Museum menyimpan benda-benda yang dibawa dan dipakai para pengungi, alat rumah tangga yang menggambarkan situasi kehidupan di pengungsian, foto keluarga, foto kegiatan, sepeda, dan banyak benda-benda lainnya.
Barak yang Menjadi Tempat Tinggal Pengungsi (Foto Ali)
Tidak jauh dari museum ada bangunan bekas rumah sakit yang masih menyimpan kotak-kotak serta botol-botol obat yang dibiarkan terbengkalai. Kemudian ada bangkai-bangkai kendaraan roda empat yang sudah berkarat dan ditumbuhi tanaman rambat, bangunan-bangunan sekolah bahasa yang hanya terlihat sebagian karena mayoritas dindingnya sudah tertutup tanaman rimbun hingga atap.
Agar hubungan dengan Tuhan tetap terjaga, di Kampung Vietnam juga dibangun tempat ibadah yang masih bisa digunakan hingga sekarang. Tempat ibadah yang masih berfungsi antara lain Vihara Quan Am Tu, gereja Katolik Nha Tho Duc Me Vo Nhiem, gereja Protestan, dan Mushala.
Museum di Kampung Vietnam (Foto Ali)
Mengelilingi Kampung Vietnam persendian rasanya ngilu sekali. Bayangkan, sejak tahun 1979 kampung ini menjadi saksi hasil kekejaman perang saudara. Perang antara Vietnam Utara (komunis) dan Vietnam Selatan. Warga Vietnam yang tidak tahu apa-apa harus rela mengarungi lautan demi menyelamatkan diri hingga terdampar di sini.
Awalnya satu kapal berisi 100 orang, kemudian kapal-kapal lainnya menyusul masuk ke pulau-pulau di sekitar Pulau Galang. Setelah melalui persetujuan dari pemerintah Indonesia dan dibantu United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) dari PBB, ratusan ribu pengungsi diijinkan tinggal di kawasan Pulau Galang.
Vihara yang Sampai Sekarang Tetap Berfungsi (Foto Ali)
Mereka diberi sarana dan prasarana untuk menunjang hidup selama dalam pengungsian. Hingga pada tahun 1996, sedikit demi sedikit mereka dipulangkan. Dengan dipulangkannya seluruh warga Vietnam, Kampung Vietnam di Pulau Galang kosong, yang tersisa hanyalah monumen-monumen yang menjadi saksi sejarah kemanusiaan.

Kembali ke Batam?
Kini Kampung Vietnam sudah sepi dan sudah menjadi kenangan. Menjadi saksi sejarah akibat peperangan. Bagi saya, Kampung Vietnam bisa menjadi salah satu wahana literasi kedamaian.
Ingat dunia literasi, saya sebagai penulis bacaan anak yang juga travel blogger jadi ingat, ketika saya memberikan pelatihan kepenulisan di sana, banyak anak-anak yang belum bisa menikmati bacaan anak-anak yang bergizi dan sesuai dengan dunia mereka.
Bacaan anak-anak yang di Pulau Jawa sangat berlimpah, di sana bagai barang berharga. Tidak heran, ketika saya membawa satu kardus bacaan anak-anak untuk dijual, langsung ludes.
Kesulitan menikmati bacaan anak-anak di sana, selain karena akses yang tidak mudah, sekalinya dijual di sana, harganya sangat mahal. Jadilah, bacaan anak-anak di Batam sana sebagai barang langka.
Seandainya saja saya mendapatkan kesempatan lagi berkunjung ke Batam, saya akan menginap di salah satu hotel yang disediakan Oyo Hotels Indonesia, akan mengunjungi beberapa sekolah Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar di sana. Selain untuk berbagi tentang literasi tulis menulis juga akan mendonasikan sebagian buku anak-anak yang saya koleksi.
Akan membagikan buku anak berjudul Aku dan Anak-anak Kampung Vietnam yang saya tulis beberapa waktu lalu. Buku anak-anak yang saya tulis setelah berkunjung ke Kampung Vietnam.

Supaya buku yang saya bawa bisa berkardus-kardus, saya akan membuka donasi pengumpulan bacaan anak-anak. Banyak penulis bacaan anak-anak yang saya kenal, begitu pun penerbit.
Selain Batam, salah satu pulau yang sampai sekarang belum kesampaian dikunjungi adalah Pulau Lombok. Entah mengapa, setiap kali akan ke sana, selalu saja ada kendala. Entah waktunya berbarengan dengan aktivitas lain atau semua akomodasi seperti Hotel di Lombok yang akan saya pesan fullbook. Jadilah, hingga sekarang belum kesampaian ke Pulau Lombok.

OYO Hotel Indonesia
Pertama tahu OYO Hotel Indonesia  saat hotel dekat rumah dipasang neonbox OYO Hotel Indonesia. Saya penasaran dong, akhirnya saya langsung cari  aplikasinya di Play Store dan langsung downlod.
Aplikasi OYO Hotels Indonesia jadi Andalan (Foto Ali) 
Setelah saya cek lebih detil, ternyata OYO Hotels salah satu star-up jaringan hotel asal India yang sekarang telah menjadi salah satu Unicorn sukses. OYO menjalankan aplikasinya dengan menerapkan sistem manchise (manajemen dan franchise).
Dengan mengusung konsep manchise tersebut, kualitas, kontrol, dan manajemen hotel dipegang penuh oleh OYO Hotels melalui pengelolaan perhotelan berbasis teknologi.
Dengan konsep tersebut,  para pemilik hotel yang sudah menggunakan aplikasi OYO akan mendapatkan keuntungan lebih. Para pemilik hotel tidak perlu lagi repot mengiklankan dan membuat tata kelola hotel karena semua itu sudah dikerjakan oleh OYO.
Semua dikerjakan dengan menggunakan standar management OYO dan pastinya tidak asal karena tim operasional yang ada di dalam OYO Hotels adalah para manajer hotel berbintang yang sudah berpengalaman.
Aplikasi OYO Hotels Indonesia Selalu ada Diskon (Foto Ali)
Selain menggunakan konsep manchise, ada beberapa keunggulan lain yang dimiliki OYO Hotels, antara lain;
1). Mudah Memantau
Aplikasi OYO Hotels yang dipegang pemilik hotel membantu pemilik hotel memantau operasional bisnis hotelnya, memantau performa hotel, dan juga memantau keuangannya secara mudah dan langsung. Selain itu, pemilik hotel dengan mudah dan cepat mendapatkan review pelanggan.
2). Komunikasi Lebih Cepat dan Tepat
OYO Hotels menyediakan informasi yang lebih lengkap dan akurat pada para calon pelanggan karena semua manajemen perhotelan ditangani langsung oleh OYO Hotels. Info dari data yang dilansir oleh OYO Hotels, aplikasi OYO Hotels mampu mengurangi berbagai macam pertanyaan yang diajukan oleh para tamu hingga 60%.
3). Punya Sistem Audit
Seringkali para pemilik hotel yang bergabung dalam jaringan aplikasi hotel hanya mendapatkan review pelanggan secara asal. Asal karena semua review atau ulasan tersebut, baik buruknya tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
OYO Hotels menyediakan aplikasi bernama Krypton Apk. Aplikasi ini untuk keperluan audit hotel baik dalam hal properti hotel secara keseluruhan maupun audit tiap kamar. Tim audit akan turun untuk mengecek secara langsung kondisi hotel dan mengatasi masalah jika ada. Bisa dipastikan review yang diberikan oleh pelanggan adalah nyata dan sesuai dengan kondisi sebenarnya.
4). Penilaian Bagi Pelanggan
Pelanggan hotel pastinya ada yang berperilaku baik dan juga berperilaku buruk. OYO Hotels akan memberikan penilaian bagi setiap pelanggan yang pernah berkunjung. Jadi secara otomatis OYO Hotels dapat membedakan tamu mana saja yang sudah pernah menginap di jaringan OYO Hotels, dan mempunyai perilaku yang buruk.
Hal ini sangat dibutuhkan untuk mempersiapkan tindakan antisipatif terhadap tamu yang dinilai berperilaku buruk, sehingga tidak ada kejadian yang merugikan hotel yang ada dalam jaringan OYO Hotels.
Jaringan OYO Hotels saat ini sudah merambah di berbagai kota di Indonesia dengan ribuan hotel yang ditawarkan. Hebatnya, setiap saat ada saja diskon yang diberikan OYO Hotels. Mau cari hotel? Coba cari di OYO Hotels.

Mau Ngerasain Liburan yang Seru, Magis, dan Mistis? Coba ke Kampung Vietnam



LIBURAN paling seru? Ngomongin liburan memang nggak akan pernah ada habisnya karena setiap liburan pasti selalu menyenangkan dan seru. Meski pun kadar menyenangkan dan serunya berbeda-beda, hehehe.
Kalau saya ditanya liburan mana yang paling seru, saya akan jawab salah satunya saat liburan ke Batam. Liburannya sangat singkat sebetulnya, karena hanya punya waktu seharian di sana. Akan tetapi, apa yang saya dapat luar biasa. Menyenangkan, seru, magis, dan mistis!
Jadi ceritanya, usai mengisi sebuah acara kepenulisan di Batam, saya menghabiskan sisa waktu selama di Batam dengan menjenguk Kampung Vietnam yang ada di Pulau Galang.
Saya penasaran dengan Kampung Vietnam karena tidak banyak yang tahu, jika di Batam ada pulau yang pernah disinggahi pengungsi Vietnam pada saat perang Vietnam tahun 1975-1996. Sekitar 250.000 penduduk Vietnam mengungsi karena ingin aman dari peperangan. Tepatnya di Pulau Galang, Desa Sijantung, Kecamatan Galang.
Untuk menuju ke Pulau Galang, kendaraan yang saya tumpangi harus melewati Jempatan Barelang, jembatan yang menjadi penghubung Pulau Batam, Pulau Tonton, Pulau Nipah, Pulau Setotok, Pulau Rempang, Pulau Galang, dan Pulau Galang Baru.
Di antara ketujuh pulau tersebut, ada tiga pulau besar yaitu Pulau Batam, Pulau Rempang, dan Pulau Galang sehingga jembatan tersebut dinamakan Jembatan Barelang (Batam, Rempang, dan Galang).

Seru, Magis, dan Mistis
Setelah kendaraan yang saya tumpangi menyurusi jembatan satu persatu serta menyusuri pulau dengan jalan yang meliuk-liuk, kendaraan memasuki kawasan Kampung Vietnam. Agak merinding ketika melewati pos penjagaan. Aroma mistis terasa sekali menyusupi pori-pori. Semak belukar dan pohon-pohon besar tumbuh subur mengelilingi kampung.
Kendaraan yang saya tumpangi sempat nyasar di jalan buntu karena penunjuk jalan mulai rusak dan tidak terbaca. Agak deg-degan juga karena meski pun ada beberapa mobil, aroma kesunyian amat terasa. Setelah berbalik arah, mulai terlihat tanda-tanda kehidupan.
Begitu melewati gerbang, terlihat sebuah patung perempuan terkulai berwarna putih, kecil, dan menggambarkan seorang perempuan yang duduk. Patung yang menjadi monumen untuk mengenang tragedi kemanusiaan yang terjadi dalam pengungsian. Seorang wanita Vietnam bernama Tinh Han Loai bunuh diri setelah diperkosa sesama pengungsi. Patung tersebut dikenal dengan Patung Humanity Statue.
Kemudian ada komplek pemakaman Ngha Trang Grave Galang. Kurang lebih 500 pengungsi dimakamkan di sini. Mereka meninggal karena sakit setelah berbulan-bulan terombang-ambing di lautan. Terkena penyakit kelamin yang sangat berbahaya Vietnam Rose. Ada juga yang bunuh diri karena tidak mau dipindahkan dari Pulau Galang.
Bangkai Perahu yang Dijadikan Monumen (Foto Ali)
Kendaraan kemudian parkir di area taman. Ada dua perahu besar tergeletak di sana. Dua perahu yang menjadi monumen keberadaan orang-orang Vietnam yang pernah mengungsi di Pulau Galang. Konon, karena mereka tidak mau kembali ke Vietnam, begitu tiba di pantai, mereka sengaja menenggelamkan perahu-perahu mereka. Mereka sudah trauma dengan perang.
Perahu-perahu tersebut kemudian berhasil ditarik ke daratan untuk diperbaiki dan dijadikan monumen untuk mengenang perjuangan dan penderitaan para pengungsi Vietnam.
Tidak jauh dari monumen perahu ada barak tempat pengungsian dua lantai yang berseberangan dengan museum. Museum menyimpan benda-benda yang dibawa dan dipakai para pengungi, alat rumah tangga yang menggambarkan situasi kehidupan di pengungsian, foto keluarga, foto kegiatan, sepeda, dan banyak benda-benda lainnya.
Barak yang Menjadi Tempat Tinggal Pengungsi (Foto Ali)
Tidak jauh dari museum ada bangunan bekas rumah sakit yang masih menyimpan kotak-kotak serta botol-botol obat yang dibiarkan terbengkalai. Kemudian ada bangkai-bangkai kendaraan roda empat yang sudah berkarat dan ditumbuhi tanaman rambat, bangunan-bangunan sekolah bahasa yang hanya terlihat sebagian karena mayoritas dindingnya sudah tertutup tanaman rimbun hingga atap.
Agar hubungan dengan Tuhan tetap terjaga, di Kampung Vietnam juga dibangun tempat ibadah yang masih bisa digunakan hingga sekarang. Tempat ibadah yang masih berfungsi antara lain Vihara Quan Am Tu, gereja Katolik Nha Tho Duc Me Vo Nhiem, gereja Protestan, dan Mushala.
Museum di Kampung Vietnam (Foto Ali)
Mengelilingi Kampung Vietnam persendian rasanya ngilu sekali. Bayangkan, sejak tahun 1979 kampung ini menjadi saksi hasil kekejaman perang saudara. Perang antara Vietnam Utara (komunis) dan Vietnam Selatan. Warga Vietnam yang tidak tahu apa-apa harus rela mengarungi lautan demi menyelamatkan diri hingga terdampar di sini.
Awalnya satu kapal berisi 100 orang, kemudian kapal-kapal lainnya menyusul masuk ke pulau-pulau di sekitar Pulau Galang. Setelah melalui persetujuan dari pemerintah Indonesia dan dibantu United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) dari PBB, ratusan ribu pengungsi diijinkan tinggal di kawasan Pulau Galang.
Vihara yang Sampai Sekarang Tetap Berfungsi (Foto Ali)
Mereka diberi sarana dan prasarana untuk menunjang hidup selama dalam pengungsian. Hingga pada tahun 1996, sedikit demi sedikit mereka dipulangkan. Dengan dipulangkannya seluruh warga Vietnam, Kampung Vietnam di Pulau Galang kosong, yang tersisa hanyalah monumen-monumen yang menjadi saksi sejarah kemanusiaan.

Kembali ke Batam?
Kini Kampung Vietnam sudah sepi dan sudah menjadi kenangan. Menjadi saksi sejarah akibat peperangan. Bagi saya, Kampung Vietnam bisa menjadi salah satu wahana literasi kedamaian.
Ingat dunia literasi, saya sebagai penulis bacaan anak yang juga travel blogger jadi ingat, ketika saya memberikan pelatihan kepenulisan di sana, banyak anak-anak yang belum bisa menikmati bacaan anak-anak yang bergizi dan sesuai dengan dunia mereka.
Bacaan anak-anak yang di Pulau Jawa sangat berlimpah, di sana bagai barang berharga. Tidak heran, ketika saya membawa satu kardus bacaan anak-anak untuk dijual, langsung ludes.
Kesulitan menikmati bacaan anak-anak di sana, selain karena akses yang tidak mudah, sekalinya dijual di sana, harganya sangat mahal. Jadilah, bacaan anak-anak di Batam sana sebagai barang langka.
Seandainya saja saya mendapatkan kesempatan lagi berkunjung ke Batam, saya akan menginap di salah satu hotel yang disediakan Oyo Hotels Indonesia, akan mengunjungi beberapa sekolah Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar di sana. Selain untuk berbagi tentang literasi tulis menulis juga akan mendonasikan sebagian buku anak-anak yang saya koleksi.
Akan membagikan buku anak berjudul Aku dan Anak-anak Kampung Vietnam yang saya tulis beberapa waktu lalu. Buku anak-anak yang saya tulis setelah berkunjung ke Kampung Vietnam.

Supaya buku yang saya bawa bisa berkardus-kardus, saya akan membuka donasi pengumpulan bacaan anak-anak. Banyak penulis bacaan anak-anak yang saya kenal, begitu pun penerbit.
Selain Batam, salah satu pulau yang sampai sekarang belum kesampaian dikunjungi adalah Pulau Lombok. Entah mengapa, setiap kali akan ke sana, selalu saja ada kendala. Entah waktunya berbarengan dengan aktivitas lain atau semua akomodasi seperti Hotel di Lombok yang akan saya pesan fullbook. Jadilah, hingga sekarang belum kesampaian ke Pulau Lombok.

OYO Hotel Indonesia
Pertama tahu OYO Hotel Indonesia  saat hotel dekat rumah dipasang neonbox OYO Hotel Indonesia. Saya penasaran dong, akhirnya saya langsung cari  aplikasinya di Play Store dan langsung downlod.
Aplikasi OYO Hotels Indonesia jadi Andalan (Foto Ali) 
Setelah saya cek lebih detil, ternyata OYO Hotels salah satu star-up jaringan hotel asal India yang sekarang telah menjadi salah satu Unicorn sukses. OYO menjalankan aplikasinya dengan menerapkan sistem manchise (manajemen dan franchise).
Dengan mengusung konsep manchise tersebut, kualitas, kontrol, dan manajemen hotel dipegang penuh oleh OYO Hotels melalui pengelolaan perhotelan berbasis teknologi.
Dengan konsep tersebut,  para pemilik hotel yang sudah menggunakan aplikasi OYO akan mendapatkan keuntungan lebih. Para pemilik hotel tidak perlu lagi repot mengiklankan dan membuat tata kelola hotel karena semua itu sudah dikerjakan oleh OYO.
Semua dikerjakan dengan menggunakan standar management OYO dan pastinya tidak asal karena tim operasional yang ada di dalam OYO Hotels adalah para manajer hotel berbintang yang sudah berpengalaman.
Aplikasi OYO Hotels Indonesia Selalu ada Diskon (Foto Ali)
Selain menggunakan konsep manchise, ada beberapa keunggulan lain yang dimiliki OYO Hotels, antara lain;
1). Mudah Memantau
Aplikasi OYO Hotels yang dipegang pemilik hotel membantu pemilik hotel memantau operasional bisnis hotelnya, memantau performa hotel, dan juga memantau keuangannya secara mudah dan langsung. Selain itu, pemilik hotel dengan mudah dan cepat mendapatkan review pelanggan.
2). Komunikasi Lebih Cepat dan Tepat
OYO Hotels menyediakan informasi yang lebih lengkap dan akurat pada para calon pelanggan karena semua manajemen perhotelan ditangani langsung oleh OYO Hotels. Info dari data yang dilansir oleh OYO Hotels, aplikasi OYO Hotels mampu mengurangi berbagai macam pertanyaan yang diajukan oleh para tamu hingga 60%.
3). Punya Sistem Audit
Seringkali para pemilik hotel yang bergabung dalam jaringan aplikasi hotel hanya mendapatkan review pelanggan secara asal. Asal karena semua review atau ulasan tersebut, baik buruknya tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
OYO Hotels menyediakan aplikasi bernama Krypton Apk. Aplikasi ini untuk keperluan audit hotel baik dalam hal properti hotel secara keseluruhan maupun audit tiap kamar. Tim audit akan turun untuk mengecek secara langsung kondisi hotel dan mengatasi masalah jika ada. Bisa dipastikan review yang diberikan oleh pelanggan adalah nyata dan sesuai dengan kondisi sebenarnya.
4). Penilaian Bagi Pelanggan
Pelanggan hotel pastinya ada yang berperilaku baik dan juga berperilaku buruk. OYO Hotels akan memberikan penilaian bagi setiap pelanggan yang pernah berkunjung. Jadi secara otomatis OYO Hotels dapat membedakan tamu mana saja yang sudah pernah menginap di jaringan OYO Hotels, dan mempunyai perilaku yang buruk.
Hal ini sangat dibutuhkan untuk mempersiapkan tindakan antisipatif terhadap tamu yang dinilai berperilaku buruk, sehingga tidak ada kejadian yang merugikan hotel yang ada dalam jaringan OYO Hotels.
Jaringan OYO Hotels saat ini sudah merambah di berbagai kota di Indonesia dengan ribuan hotel yang ditawarkan. Hebatnya, setiap saat ada saja diskon yang diberikan OYO Hotels. Mau cari hotel? Coba cari di OYO Hotels.

21 komentar:

  1. Seru tapi juga serem ya, hihihi.
    Betewe, saya dulu pertama kai tahu OYO saat OYO baru saja masuk Indonesia kayaknya, yang mana ngasih imbalan kalau kita bisa mengajak teman download aplikasinya.

    Lalu beberapa waktu kemudian, saya dapat hadiah voucher OYO dan langsung digunakan buat staycation aja di SUrabaya.

    Asyik sih pakai OYO, pelayanannya bagus banget :)

    BalasHapus
  2. Seru dan serem nih hehehehe.

    Saya udah pernah nih pakai jasa OYO, nginap di hotel di Surabaya, pelayanan OYO memang bagus, bahkan saya ditelpon entah dari mana gitu memastikan kalau saya udah datang ke hotel.

    Btw OYO juga banyak promo menarik, bikin bahagia mamak-mamak nih :)

    BalasHapus
  3. Wah, keren bang. Aku kita tadi pas baca judulnya ke vientnam ternyata di batam ya. Semoga aja nanti bisa main ke Batam, Secara dekat dengan domisili kami saat ini yang sekarang sedang stay di Pekanbaru.

    BalasHapus
  4. Wisata mistis memang banyak terdapat disejumlah daerah ya bang, apalagi kalau merupakan bangunan Belanda.
    Tentu banyak cerita mistis tersimpan didalamnya yang membuat penasaran,salah satunya batam seperti yang abang bilang.
    Kalau didaerah saya Bengkulu, Benteng Malborough karena peninggalan penjajah tempo dulu saat masih belum merdeka

    BalasHapus
  5. uwuuuuw dinding baraknya instagramable bangeet.

    bahkan aku baru tau loh kalau ada kampung vietnam di Indonesia. umumnya kan kampung arab atau kampung cina

    BalasHapus
  6. Miris juga dengan tragedi kemanusiaan di Vietnam. Ratusan orang meninggal karena sakit setelah berbulan-bulan terkatung-katung di lautan. Sebuah cara bertahan hidup dengan mengungsi dari peperangan yang menyakitkan. Membayangkannya sudah bikin saya sedih.
    Perang saudara karena perbedaan ideologi itu hanya menimbulkan kehancuran. Bagi anak-anak dan perempuan.
    Suasana perkampungan Vietnam yang suram sekarang semoga kian banyak dikunjungi wisatawan yang ingin belajar sejarah dengan eduwisata. Apalagi adanya aplikasi OYO memudahkan wisatawan untuk penginapan.

    BalasHapus
  7. Yay dulu saya sempat baca - baca reportase tentang manusia perahu yang terdampar di pulau galang. Penderitaan mereka tak terbayangkan,semoga semua yang pernah menghuni pulau galang sekarang hidupnya damai dan bahagia

    BalasHapus
  8. Duh kalau aku mgkin enggak berani kak. Karena aku sendiri penakut akut kl urusan mistis

    BalasHapus
  9. Bukunya udah jadi ya,.
    Speechless aku, aku pikir baru rencana.
    baru tau si batam ada tempat begini, Syukurnya masih terjaga ya kang Ali.
    Btw, aku penasaran bagian mistisnya. Lain kali cerita detail ya kang

    BalasHapus
  10. Kampung Vietnam ini bagus banget ya bersih gitu tempatnya... Kayak terawat gitu... Apalagi skrng bisa liburan murah sejak ada oyo ini

    BalasHapus
  11. Huaa menarik banget nih tapi aku sendiri orangnya penakut huhu. Btw kalau OYO emang lebih murce sih menurutku.

    BalasHapus
  12. Awalnya saya kira Kampung Vietnam itu, tempat wisata yangs sengaja dibuat di Batam, Kang Ali. kebetulan saya tadi menonton tempat wisata yang sengaja dibuat ala-ala Korea.
    Ternyata dulunya tempat pengungsian warga Vietnam ya.

    Sangat menarik sekali ini, Kang. Karena semuanya nyata dan apa adanya. Saat ke sana, seakan ikut merasakan kehidupan orang-orang Vietnam di sana.

    BalasHapus
  13. Yah sayang ya sekarang sudah nggak dipakai lagi. Seru kayaknya kalau masih ada pengungsi Vietnam yang bertahan di Pulau Galang. Keren tempatnya. Moga-moga bisa main ke Batam dan ngerasain nginep di OYO, hehe

    BalasHapus
  14. Keren Mas Ali,, traveling ke Kampung Vietnam, abis itu jadi deh satu buku anak ttg anak² kampung Vietnam. Produktif banget

    BalasHapus
  15. Wah baru kali ini mendengar soal Kampung Vietnam dan Pulau Galang. Trenyuh ya mendengar kisah perjuangan menyelamatkan diri sampai ke negara tetangga. Jadi saat ini pulau Galang hanya buat museum dan dokumentasi saja ya? Apakah pulau ini dibuka untuk umum?

    BalasHapus
  16. Wah jadi di sana udah gak ada pengungsi lagi ya Kang? Kupikir masih ada gtu? beranak pinak di sana...
    Aku kyknya pernah baca berita ttg ini, eh tapi apa beneran mereka pulang, bukannya masih ada yang cari suaka juga ke negeri lain gtu gak sih?
    Tapi bener adanya kampung itu seperti menceritakan kita ttg sisi kemanusiaan gtu yaaa

    BalasHapus
  17. Ya Allah, Mbak, kalau saya pasti ngilu dan sering merinding kalau ke sana. Baca ini saja sudah rasanya gimanaaaa... gitu. Tentulah trauma mereka sedemikian besar sampai ada yang bunuh diri saat akan dipulangkan.

    BalasHapus
  18. Waduww mistis. Gak bisa nih saya..bukan apanya, soalnya saya kemana-mana pasti bareng krucils. Hahahha..yang ada ntar mereka bakal gelisah malah~

    BalasHapus
  19. Seru bangeeett ini jalan2 mistis gitu. Tp Vietnam emang kyknya terkenal sama hal2 mistis yaa

    BalasHapus
  20. Jadi kangen Batam, dulu sering banget jalan2 ke daerah barelang sana, sering lewatin kampung vietnam, pernah menelusuri sambil jalan kaki, berasa merinding kalau jalannya sendiri, kalau bersama rombongan yang ada foto2 terus disana.

    BalasHapus
  21. Aku bayangin aura sedihnya duh...Syukur semua sudah berlalu.
    Semoga harapan Mas Ali untuk bisa membagikan buku Aku dan Anak-anak Kampung Vietnam terkabul ya...

    BalasHapus

Ditunggu Komentarnya Teman-Teman