Nama di Tangan, Kaki, dan Perut by Ali Muakhir
Naifa Fadheela Andyra
Misha Aqilla Shafana
Abbad Nailun Nabhan
Dengan tangan
gemetar, Marshel menulis nama ketiga sahabatnya di buku harian yang selalu
dibawa ke mana pun dia pergi, termasuk ke kamp pengungsian di utara Gaza.
Pekan lalu militer
Israel menyuruh keluarga Marshel bersama 1 juta warga Palestina mengungsi ke
utara Gaza, tepatnya di Kota Khan Younis. Mereka berdalih demi keamanan.
Pengusiran pelan-pelan ini mengingatkan pada kejadian tahun 1948 lalu.
Insiden eksodus
massal yang disebut Nakba atau “bencana” buat warga
Palestina. Saat itu 700.000 warga Palestina diusir atau melarikan diri dari
wilayah yang sekarang diduduki Israel.
Banyak yang berharap
bisa kembali ketika perang berakhir, namun hingga tujuh puluh lima tahun
kemudian, tenda-tenda sementara yang tersebar di Tepi Barat, Gaza, dan
negara-negara tetangga menjadi rumah permanen yang dibuat dari batako.
“Doakan mereka masuk
syurga,” Lashira, ibunda Marshel yang baru selesai shalat Dhuha mendekati
Marshel, lantas mencium kepalanya dengan hangat.
Sebelum beranjak
keluar tenda, Ibu melihat kaki Marshel. Masih ada tinta hitam bertuliskan nama Marshel
Aqilla Rafailah, yang berarti anak perempuan yang cerdas, anggun, dan hidup
serba mewah.
“Ini jangan sampai
hilang, Sayang,” kata Ibu.
Marshel menggangguk
sambil tersenyum kecil. Dadanya masih sesak mengingat ketiga sahabatnya yang
kini telah ke alam baka.
Israel ingkar janji
untuk yang kesekian kali. Mereka menyuruh warga Palestina mengungsi ke utara
Gaza dengan aman. Akan tetapi, di tengah jalan mereka menjatuhkan bom sepanjang
jalur pengungsian.
Marshel baru tahu
ketika di perjalanan. Dia melihat ratusan mayat di tepi jalan. Dadanya bergetar
ketika melihat sebuah tangan bertuliskan Naifa Fadheela Andyra.
Tetangganya yang selalu bermain bersama. Dia ingin memeluknya, tetapi Ayah dan
Ibu memintanya segera melanjutkan perjalanan.
Tidak lama dari
sana, mata Marshel tertuju pada sebuah kaki mayat yang tergeletak di antara
tumpukan mayat anak-anak. Misha Aqilla Shafana, sepupu yang juga teman bermainnya. Marshel menjerit.
Ibu langsung menenangkannya.
Menjelang tiba di
penampungan, Marshel melihat perut mayat seorang anak laki-laki di tengah jalan
dengan tinta bertuliskan Abbad Nailun Nabhan. Teman sekolah yang sangat jago main bola. Dia menjadi
mayat terakhir yang Marshel lihat karena setelah itu dia pingsan.
***
Menulis nama di
tangan, kaki, dan perut sudah biasa dilakukan warga Palestina. Orangtua
menuliskan nama anak-anak mereka supaya mudah dikenal jika terbunuh serangan
udara Israel.
Bukan hanya
orangtua, sesama teman dan sahabat seperti Marshel, Naifa, Misha, dan Abbad saling
membantu menuliskan nama. Meski sangat sedih, mereka berusaha menuliskannya
dengan tegar. Tidak jarang pula anak yang lebih besar membantu anak yang lebih
kecil.
Mereka khawatir
terbunuh karena setidaknya setiap hari, 305 anak meninggal akibat serangan
Israel. Mereka bisa meninggal atau terluka kapan saja. Terlebih, banyak
anak-anak yang dibawa ke rumah sakit dalam keadaan terluka parah sehingga sulit
dikenali.
Sejak serangan
dilancarkan pada 7 Oktober 2023 lalu, ratusan ribu warga Palestina di Gaza
menjadi korban. Korban paling banyak adalah perempuan dan anak-anak.
***
Marshel keluar
tenda. Dari jauh, dia melihat ayah dengan semangat membantu membuat roti di dapur
pengungsian untuk makan pengungsi. Ayah yang dia cintai kini pakaiannya
terlihat kumal, padahal sebelumnya pakaiannya selalu rapi.
Melihat ayah yang
semangat, Marshel jadi ikut semangat. Dia tidak mau bersedih. Dia yakin, kini
teman-temannya bahagia di alam sana. Dia tutup buku harian yang telah terisi
ratusan nama teman-temannya yang telah meninggal dunia. Memasukannya ke dalam
tas ranselnya, lantas berlari keluar tenda membantu ayahnya membuat roti.
***




Belum ada Komentar
Posting Komentar
"Monggo, ditunggu komentarnya teman-teman. Terima kasih banyak"