Jumat, 30 November 2012

[Tips Nulis] Cerita Humor


(Tips Menulis)
Cerita Humor

Beli Telor

Gambar diambil dari http://latifah.msani.net/



Menjelang tengah hari, seorang ibu bergegas mendatangi  salah satu kios bahan pokok, di pasar tradisional yang sangat bersih dan nyaman. Ibu tersebut berhenti persis di tengah kios yang lengang. Dia langsung menunjuk telur yang tertumpuk rapih di antara beras dan garam.
“Mas, telornya sekilo berapa?” tanya ibu tersebut kepada seorang laki-laki di dalam kios.
“Telur ayam atau telur bebek?” laki-laki berusia sekitar dua puluh tahunan tersebut balik bertanya.
“Telor ayam.”
“Oh ..., telur ayam kampung atau telor ayam biasa?”
“Telor ayam biasa,” si Ibu mulai lebay gaya bicaranya.
“Oh ..., yang lokal atau yang import, Bu?”
“Yang lokal saja.”
“Mmm ..., lokalnya, mau yang dari Jakarta, Bogor, atau Depok?” duh, pertanyaan laki-laki tersebut membuat manyun si Ibu.
“Yang Jakarta aja, deh,” si Ibu mulai kesal rupanya.
“Mau yang Jakarta Pusat, Barat, Timur, Utara, atau Selatan?”
Grrr! Sebelum menjawab, si Ibu menggerutukan rahangnya, “Mas ini jual telur apa mau jalan-jalan?” akhirnya kemarahannya keluar juga.
Laki-laki tersebut terlihat mulai ketakutan, “Maaf, Bu. Saya penjual mie ayam di sebelah. Kebetulan yang punya kios ini lagi ke belakang. Saya disuruh ngobrol dulu dengan pembeli sampai dia datang,” ujarnya kemudian.
---

Jika membaca cerita di atas, kelihatannya sangat sepele dan terlalu simpel, bukan? Jangan salah, pada saat menemukan ide pasti tidak mudah. Apalagi, jika ditulis sebagai naskah humor. Pasti perlu pemikiran yang lebih. Berikut tips menulis cerita humor.
1). Memanfaatkan sumber kelucuan di sekeliling kita. Ingat, segala sesuatu yang tidak umum biasanya mampu membuat kita tersenyum. Untuk itu, penting sekali penulis cerita humor untuk memperluas pergaulan.
2). Selain dari pergaulan, cerita lucu juga bisa kita peroleh dengan membaca. Tulisan-tulisan humor dapat kita beli dengan murah di toko buku atau browsing internet. Dengan catatan, kita tidak boleh menjiplaknya. Kita boleh memakainya dengan bahasa yang lain, tentu saja yang lebih lucu. Ingat, plagiat adalah dosa besar penulis. Kita dituntut kreatif untuk membikin ulang tulisan lucu tadi menjadi cerita baru yang bahkan lebih kocak.
3). Menjadikan sesuatu yang paradoks, ironi, dan anti-logika menjadi sesuatu yang mengundang tawa. Ini memang bukan pekerjaan mudah, tetapi pasti bisa dilakukan.
4). Akan tetapi, lebih dari 3 tips di atas, kita mesti bijaksana. Jangan sampai tulisan yang kita anggap lucu itu justru norak dan slapstick (dagelan, kasar). Misalnya, humor yang mengeksploitasi seks secara vulgar atau menjadikan cacat fisik sebagai materi lawakan.
Cerita humor, boleh jadi tidak menginspirasi dan tidak penting. Akan tetapi, penulisnya wajib menjamin tulisan itu benar-benar mampu mengundang senyum atau tawa segar pembacanya. []

8 komentar:

  1. wah, mau coba praktekkan ah, selama ini menulis kadang malah menjadi beban karena terlalu banyak berfikir harus bagaimana dan apa awalnya. makasih mas ;)

    BalasHapus
  2. Sama-sama Syifa ... hayuk segera bikin, hehe. Jangan lupa share nanti ya

    BalasHapus
  3. terima kash atas tipsnya yang menarik, sangat berarti. Apalagi saya mau mencoba kirim ke majalah RDI. Sukses trus untuk karya2nya ya, Kang Alee .Siiip dah :-bd

    BalasHapus
  4. sama-sama Cputri ... kalau udah dicoba karyanya dibagi ya ... cemungud!

    BalasHapus
  5. Haha..
    Lucu kang..
    saya juga lagi nyoba nulis yang lucu-lucu tapi lebih banyak garingnya dari pada lucunya..
    Harus belajar banyak dari Kang Alee nih.. :)

    BalasHapus
  6. Sip Reyandha ... tetep semangat! Hehe

    BalasHapus
  7. Mas Alee, saya izin share lagi langsung di blog saya, ya.
    Terima kasih. :D

    BalasHapus

Ditunggu Komentarnya Teman-Teman

Blog Archive

Komentar