Senin, 24 Agustus 2015

8 Langkah Cepat Nerbitin Buku

SETIAP orang yang senang membaca dan menulis pasti sering berpikir atau paling tidak terlintas keinginan untuk menerbitkan buku. Entah itu buku yang terlihat paling mudah ditulis atau buku yang sulit untuk ditulis.
Dua Buku Serial Si Olin Kembali Beredar (Foto: Alee)

Akan tetapi, jarang sekali penulis yang kemudian berusaha keras untuk menembus penerbit, kalau pun sudah berusaha keras, biasanya akses menuju penerbit terasa sulit. Ujung-ujungnya melupakan keinginan tersebut.
Lantas, apa yang harus dilakukan? Dari pengalaman selama bergaul dengan dunia tulis menulis dan dunia penerbitan, cara berikut ini bisa diterapkan, apalagi kalau sudah kebelet nerbitin buku.
1). Tanya Kebutuhan Naskah
Kita sebagai penulis harus berani bertanya dan memastikan kebutuhan penerbit. Pastikan dulu kalau penerbitnya membutuhkan naskah seperti yang sedang kita tulis. Caranya, bisa tanya-tanya ke penerbitnya. Tidak usah bimbang atau ragu. Telepon nyambung selama jam kerja. Kalau belum kenal? Kenalan dulu, ya saat telepon itu. Sambungan Langsung Jarak Jauh tidak mahal, kan? Apalagi jika dibandingkan dengan nilai karya kita.
2). Print Naskah
Print rapih karya kita lengkap dengan sampul depan dan sampul belakang. Jangan lupa sertakan ringkasan cerita jika sebuah novel. Jika sebuah seri buku anak-anak, sertakan konsep produknya (mengandung unsur-unsur kelebihan naskah tersebut dengan naskah lainnya, jika ada), contoh visual, dan desain cover, bisa ambil di internet. Terakhir CV lengkap. Setelah diprint dijilid dengan rapi (kalau perlu kasih parfum biar wangi, biar editor akuisisinya terpelet, eh, terpikat).
3). Identitas Naskah
Tulis besar-besar di pojok amplop jenis naskah yang kita kirim. Misal Novel Misteri (yang mencerahkan jiwa/ atau yang mengandung unsur-unsur pelajaran fisika). Tulis nama editor yang pernah ngobrol dengan kita ditelepon. Eh, pas nelepon jangan lupa minta nomer hape-nya ya, jangan nomer hape tetangganya, hehehe.  Untuk memudahkan komunikasi, tulis alamat penerbitnya dengan jelas. Kirim melalui jasa kilat khusus semacam tiki: resinya jangan lupa, disimpan yang rapi buat tanda bukti.
4). Kontak Editor
Satu minggu setelah kirim, coba telepon ke editor yang pernah kontak dengan kita. Syukur-syukur bisa lewat sms/WA/BBM, atau media sosial lainnya, ini akan lebih memudahkan. Jika tidak bisa, sebaiknya telepon untuk memastikan naskah kita sampai ke alamat dengan selamat.
5). Tunggu Naskah
Tunggu naskah kita hingga 1-3 bulan, jika lebih dari 3 bulan tidak ada kabar berita, sebaiknya ditarik dan memulai kembali dengan tips pertama. Kalau ada jawaban, naskah layak terbit, artinya punya peluang besar untuk terbit. Ini baru dari editor akuisi lho, ya, karena pasti akan melewati rapat-rapat lanjutan. Pada rapat lanjutan ini bagian marketing akan cari info pasar, penanggung jawab akan menambah referensi,  copy editor akan membaca berulang kali kalau naskah tersebut jadi terbit, jadi siap-siap untuk masuk jadwal edit. Editor development juga siap-siap mencari referensi visual dan desain, serta layout.
6). Baca Surat Perjanjian
Jika naskah kemudian dinyatakan akan diterbitkan, segera minta surat perjanjian. Baca satu persatu pasal yang ada di surat perjanjian, jangan ada yang kelewat. Apa judulnya, berapa nilai kontraknya, berapa royaltinya, bagaimana cara pembayarannya, berapa lama kira-kira naskah akan didevelop? 3 bulan setelah tanda tangan perjanjian atau 1 tahun? Jika ada yang ganjil, segera lapor polisi, eh maksudnya tanya ke editor yang kasih perjanjian.
7). Jika Tak Terbit-Terbit
Bagaimana jika setelah lewat masa perjanjian belum juga terbit? Tanya ke penerbitnya, yang diwakili editor yang bertanggung jawab pada naskah tersebut, jangan tanya pada dokter atau pengusaha minyak, apalagi tukang cendol yang sering lewat di depan rumah kita. Buat kesepakatan kembali, sehingga kita bisa memperkirakan kapan akan bertanya lagi.
8). Jika Sudah Terbit
Bagaimana jika tiba-tiba sudah terbit dengan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu? Malah dikasih tahu orang lain. Pasti surpraise banget, hehehe. Saya yakin penanggung jawabnya tidak berusaha kasih surpraise, jadi nyantai aja lagi. Segera telepon penerbitnya baik-baik untuk berkomunikasi. Jangan takut, ini hukumnya sangat kuat, jadi kita sebagai penulis bisa komplain bahkan meminta buku yang telah beredar ditarik dari pasaran, jika dasar hukumnya kuat.
Kenapa point  7 dan 8 bisa terjadi? Bisa jadi karena adanya rotasi jabatan pada perusahaan atau ada orang baru yang menangani project buku kita, atau bisa jadi sudah berusaha menghubungi, tapi penulisnya sedang liburan di negeri dongeng, jadi susah banget dihubungi, tapi masa sih, hari gini susah dihubungi? Nah, kalau alasannya rotasi atau pergantian penanggung jawab, bisa dipastikan, kalau mau kambing hitam, ini pasti kesalahan atasannya (atasan yg pernah menangani buku kita) karena atasan wajib meminta laporan sedetil apapun kepada editor yang pernah ada di bawahnya. Sedetil mungkin. Paling tidak sekretaris nyimpen file-file, mana buku yang akan terbit, sedang dikerjakan, sedang dibaca, masih antre buat dibaca, semua tercover dalam sebuah laporan yang simpel, yang siapa pun bisa akses. Jika laporan tersebut diperlukan, mudah sekali dikeluarkan. Jadi, kejadian 7 dan 8 bisa terhindarkan.
Sudah kebelet nerbitin buku? Ikuti saja langkah-langkah di atas. Semoga bermanfaat. Salam dunia perbukuan! []

@KreatorBuku

31 komentar:

  1. asyiiik.. bermanfaat banget, makasih Kang Alee!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih Mbak Tanti udah mampir, hehe

      Hapus
  2. Balasan
    1. Terima kasih kembali.
      Terima kasih udah mampir

      Hapus
  3. salam kenal kak Ali Muakhir, aku pingin banget karya aku di publish, skrg sedang byk menulis, artikel dan novel. need your sharing please, tq

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal juga.
      Bagus kalau banyak nulis artikel ... dikirim ke media. Novel dikirim ke penerbit.

      Hapus
  4. Saya share ya Kang. Pengingat-ingat bagi diri sendiri :D

    BalasHapus
  5. Alhamdulillah...hatur nuhun ilmunya, kang Ali...siipp

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama Ceuceu
      Makasih udah mampir ya

      Hapus
  6. Tahun 2015, alhamdulillah, ada 3 naskah saya yang di-ACC oleh 3 penerbit, yaitu Andi Publisher-Yogyakarta, Indiva Media Kreasi-Surakarta, dan Pustaka Puitika-Yogyakarta. Indiva dan Pustaka Puitika sudah ngasih SPP dan sudah saya tanda tangani. Yang di Andi Publisher belum.
    Insya Allah, yang di Indiva bulan Agustus ini terbit, karena sejak Juli sudah naik cetak. Yang di Pustaka Puitika juga sudah dilay-out, bahkan contoh covernya udah dikirim dan udah saya posting berulang kali di FB (biasa Kang Alee...promooo....).Tapi, yang di Andi Publisher, sejak ACC bulan Februari 2015, sampai sekarang belum tahu kejelasan kapan terbitnya. Beberapa kali saya kontak via inbox dan email, tapi selalu dijawab "sedang antre diedit....".Nah, apa yang harus saya lakukan, Kang Ali?Terima kasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pada surat perjanjian ada pasal batas maksimal buku diterbitkan dari sejak tanda tangan perjanjian apa tidak? Patokannya itu saja. Sebaiknya menunggu dan menulis naskah yang baru lagi biar lebih produktif Mas, hehe.

      Salam Buku

      Hapus
  7. pengen banget bikin buku, tapi selalu merasa kekuarangan waktu.......

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaah, kalau kurang waktu tinggal nambah

      Hapus
  8. Aish manfaat banget nich artikel, kapan lalu di tawarin bikin buku tapi kok masih ntar sok ntar sok mulu ngak sanggup :-)

    BalasHapus
  9. Wah, bermanfaat banget. Saya mungkin masih jauh di belakang Mas Ali yang udah banyak banget nulis buku. Jadi saya pengen belajar ini :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hayuk Mas, biar segera bikin buku

      Hapus
  10. Mau nulis tentang desian aaaaah. Siapa tau bisa terbit

    BalasHapus
  11. Terima kasih infonya Kang... nulisnya sering maju mundir sih ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nulisnya maju terus Mas, hehehe.
      Makasih udah mampir

      Hapus
  12. Poin 4 penting banget tuh. Kemarin saya kirim naskah hard copy dan langsung ditujukan kepada salah satu editor, dua bulan si editor belum terima naskahnya dari bagian sekretariat, akhirnya disuruh kirim ulang via surel. Kalau pegang kontak si editor, setidaknya kita jadi mudah untuk tahu keberadaan naskah kita.

    BalasHapus
  13. Terima kasih, Kang.. Sangat bermanfaat :)

    BalasHapus
  14. Nuhun infonya, Kang Alee :)

    BalasHapus
  15. Halo mas ali, makasih tipsnya :)

    BalasHapus

Ditunggu Komentarnya Teman-Teman

Blog Archive

Komentar