Jumat, 11 Desember 2015

Menjadi Full Time Writer (Sebuah Peluang dan Tantangan)


Full Time Writer

PERNAH terbayang menjadi Full Time Writer? Barangkali sepuluh atau duapuluh tahun lalu tidak sedikit yang tidak pernah membayangkannya. Akan tetapi, melihat perkembangan kepenulisan dewasa ini, mulai banyak yang membayangkannya. Bukan saja karena peluang, melainkan juga lantaran begitu menggiurkannya tawaran dalam dunia tulis menulis.
Banyak calon penulis yang berpikiran kalau penulis itu hanya menulis buku saja, itu salah besar karena peluang dalam dunia tulis menulis sangat banyak. Selain menulis buku, penulis juga bisa menulis skenario, menjadi co writer, ghose writer, naskah pidato, skrip radio, skrip iklan, editor sebuah penerbitan, atau trainer kepenulisan.
Dunia kepenulisan sudah menelusup ke berbagai bidang pekerjaan, jadi tidak perlu di khawatirkan. Jika sudah sedemikian banyak peluang, apa kita masih bertanya? Bisa kah hidup hanya dari menulis? Jawabannya sudah pasti sangat bisa.
Sebagai gambaran, dari menulis buku seharga Rp. 100.000 saja, dengan royalti 10%, jika buku kita best seller sampai 100.000 eksemplar, kita akan mendapatkan kurang lebih 1 Miliar.
Itu jika buku kita best seller kalau tidak? Jangan khawatir, masih banyak peluang, seperti yang saya sebutkan di atas.

Apa Syarat Menjadi Full Time Writer?
Sebagaimana profesi lain, profesi menulis juga perlu persyaratan. Paling tidak, walaupun tidak tercantum dalam undang-undang, persyaratan ini wajib dipenuhi.
Pertama, harus suka baca. Baca bisa bermakna zahir, bisa juga bermakna maknawi. Zahir dalam artian benar-benar suka membaca buku, media massa, atau apapun yang berbau bacaan karena ini akan memperkaya kepekaan kita dalam hal berbahasa.
Maknawi berarti kita membaca sekeliling kita, dunia kita dari berbagai sisi. Dengan BumBaTa (Buka Mata Buka Telinga) kita jadi makin peka pada sekeliling kita dan tentu saja semakin membuat kita mudah memunculkan ide-ide cemerlang.
Kedua, harus mampu menuangkannya dalam betuk kata dan kalimat. Namanya dunia tulis menulis memang produknya kata dan kalimat, kalau menulis satu kalimat yang baik dan benar saja tidak bisa, bagaimana mampu menulis berlembar-lembar? Makanya, ini diperlukan latihan yang terus menerus. Makanya, ini ada trainingnya.
Ketiga, harus bergaul dengan sesama penulis (komunitas) karena ini membantu kita untuk terus mengasah kemampuan menulis. Kan katanya, kalau kita mau wangi, kita harus gaul sama tukang minyak wangi, menulis juga sama.
Keempat, tahu seluk-beluk dunia yang berhubungan dengan dunia tulis menulis. Hal ini diperlukan supaya tidak mentok pada satu bidang konsentrasi. Misal nulis buku saja, walau nulis buku juga kalau kita sangat serius menekuninya, tidak akan ada waktu jeda sedikit pun. Kita bakalan dikejar-kejar penerbit sampai kita kehabisan alasan.
Dengan mengetahui seluk-beluk dunia yang berhubungan, kita jadi makin kaya ide, gagasan, dan kaya peluang.
Kelima, punya etika dan ahlak yang baik dan menyenangkan. Ini poin sangat sepele kelihatannya, tetapi ini sangat penting mengingat bahwa dunia tulis menulis selain sangat erat  dengan dunia pendidikan juga dengan dunia kehumasan.
Dengan etika dan ahlak yang baik, kita akan mudah memasuki semua bidang yang menyangkut dunia tulis menulis.
Keenam, usaha dan tawakal. Ini sudah harga mati untuk semua bidang keprofesian.

Literary Agent
Salah satu bidang kepenulisan yang dua tahun belakangan berkembang di Indonesia adalah Literary Agent atau biasa disebut Agen Naskah. Sementara yang perkembangannya sangat pesat adalah Agen Naskah untuk penerbitan.
Salah satu agen naskah yang sedang berkembang LineProduction yang menyediakan layanan konsep naskah, penulisan naskah, ilustrasi, lauyout, dan desain. LineProdution selain menampung ide-ide penulis, juga menampung ilustrator, layouter, desainer, dan editor.
Bidang pekerjaannya tidak jauh berbeda dengan penerbitan, hanya tidak melayani full untuk cetak. Ada beberapa melayani jasa percetakan, tapi bukan prioritas.
Bidang ini sangat menjanjikan, apalagi seiring dengan informasi dunia penerbitan yang semakin terbuka lebar. Pun, dunia tulis menulis dan dunia ilustrasi. Bidang ini ada karena penerbit sekarang menginginkan jumlah karyawan yang sedikit (untuk mengurangi biaya operasional) sehingga penerbit hanya memproduksi ide-ide cemerlang yang dihasilkan dari hasil survei, sehingga buku yang dikeluarkan menjadi buku yang terbaik.
LineProductian sementara ini hanya melayani buku anak-anak dan buku remaja jadi belum merambah buku umum. Ini saja hingga akhir tahun 2011 sudah full produksi dengan target 20-30 judul perbulan.
So, tidak ada kata tidak serius untuk menekuni bidang tulis menulis dan literary agen karena keduanya menjadi simbiosis mutualisme. 
@KreatorBuku

27 komentar:

  1. Tapi mungkin hanya orang2 tertentu yg bisa tembus penjualan sampai 100 ribu eksemplar gitu ya, Kang? Apa sy yg terlalu pesimis? Hehehe... Tapi setuju lahan lain masih tersedia untuk penulis walau kadang buat orang awam masih perlu petunjuk menemukan peluang tersebut :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selalu ada kesempatan Mbak Hairi, hehe

      Hapus
  2. Mantap ilmunya Bang Ale.. Bang Ale punya list agen penulisan yang terpecaya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sejauh ini belum banyak listingnya Mbakyu ... nanti saya post di blog ya

      Hapus
  3. Salam kenal, Kang. Saya bercita-cita jadi full time writer. Terima kasih untuk postingannya. Duh, poin 5 kadang saya masih pingin ngumpet. Terutama kalau habis seteru dengan teman duel di rumah. Hghghgh. Gemes. Eh, maaf. Keceplosan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal juga, hehe.
      Semoga bisa lebih baik ya ke depan

      Hapus
  4. Ide banyak. Ilustrasi brjubel. Yang bingung mnjadkkan tulisan yg mnarik orang untuk membaca. Share jg dong cara menanggulangi kbuntuan saat mnulis...

    BalasHapus
    Balasan
    1. In syaa' Allah nanti posting Kiat Mengurai Kebuntuan.
      Thx u udah mampir

      Hapus
  5. Saya masih kurang paham dengan Literary Agent naskah kang. '....sehingga penerbit hanya memproduksi ide-ide cemerlang yang dihasilkan dari hasil survei, sehingga buku yang dikeluarkan menjadi buku yang terbaik.'

    Apakah mereka hanya bekerjasama dengan panulis yang sudah punya 'nilai jual'? atau menerima naskah calon penulis juga dengan melakukan sejenis bimbingan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Justru agen naskah lebih banyak penulis baru yang nanti akan dibimbing, hehe.
      Dus, penulis baru itu menjadi salah satu syarat buku menjadi best seller lho, jadi penerbit malah lebih suka cari penulis baru yang kontennya juga antimainstream. Semangat Haya!

      Hapus
  6. Saya mungkin termasuk suka baca secara maknawi bang Ali, saya suka menulis hal yang saya alami. Sejauh ini, saya posting di wa , bb dan fb, supaya jadi uang, apa yang harus saya lakukan bang? He he he, berani-beraninya nanya, saudara bukan temanpun bukan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harus terus nulis pastinya Mas. Kalau sudah siap nulis buku tinggal buat draf dan tulis hingga kelar, setelah itu tawarkan ke penerbit, hehe.
      Salam kenal Mas

      Hapus
  7. Balasan
    1. Ngantrinya bisa 3-12 Bulan, hehehe

      Hapus
  8. Saya pengennya jadi full time travel writer, kang.. :)

    BalasHapus
  9. Wah, angka 1 M-nya sangat menggiurkan. Aamiin bisa kayak gitu. Tapi ya, memang bener deh, bergaul dengan penulis, mau nggak mau jadi semangat nulis juga. Bukan karena nggak mau kalah, ya, tapi aura semangatnya kerasa. :)

    BalasHapus
  10. Makasih tulisanya Kang Ali, berarti banget! Jadi inget obrolan sama temen mungkin tahun 2005an, kita ngerasa gelisah ketika mau jadi fulltime writer di Indonesia, jadi mesti punya "pegangan", sekarang perkembangan dunia tulis menulis berbeda. Membuka banyak peluang, tinggal mau belajar, mengasah diri dan berani. Eh bukan tinggal ketang eta mah butuh keeja keras juga, heheee... salam dari Ledeng.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama Mbak Ima. Moga bermanfaat.

      Hapus
  11. Makasih tulisanya Kang Ali, berarti banget! Jadi inget obrolan sama temen mungkin tahun 2005an, kita ngerasa gelisah ketika mau jadi fulltime writer di Indonesia, jadi mesti punya "pegangan", sekarang perkembangan dunia tulis menulis berbeda. Membuka banyak peluang, tinggal mau belajar, mengasah diri dan berani. Eh bukan tinggal ketang eta mah butuh keeja keras juga, heheee... salam dari Ledeng.

    BalasHapus
  12. Jadi ingat sebuah kutipan yang menyebutkan bahwa rezeki insya Allah mampir kepada mereka yang suka membaca dan punya aktivitas terkait membaca. Tulisan ini bawa semangat mengembangkan literasi juga ya Kang. Semoga bisa terus aktif ngeblog dan berbagi. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah.
      Terima kasih sudah mampir

      Hapus
  13. Informatif tulisannya..thanks

    BalasHapus
  14. sangat memotivasi, makasih kang :)

    BalasHapus

Ditunggu Komentarnya Teman-Teman

Blog Archive

Komentar