Jumat, 18 Desember 2015

Uji Nyali Ketemu Mayat dan Tengkorak di Tana Toraja


Jelajah Sulawesi


SETELAH melakukan perjalanan darat dari Kota Palu Sulawesi Tengah hingga Tana Toraja Sulawesi Selatan selama 4 hari 3 malam, Lelaki Berciput akhirnya bisa istirahat seharian di hotel bernuansa Rumah Tongkonan di Jalan Poros Makale Rantepao Toraja bersama peserta ekspedisi Sulawesi, sebelum melanjutkan perjalanan ke Makasar.
Hari ini, seluruh peserta ekspedisi ditantang untuk uji nyali di pemakaman batu Tana Toraja. Padahal teman-teman blogger tahu, Lelaki Berciput itu paling takut dengan makam, kain kafan, mayat, tengkorak, dan peti mati. Akan tetapi, karena ini sebuah tantangan yang akan berpengaruh pada eksistensi timnya, dia pun menekan dalam-dalam ketakutannya.

Desa Ke’te’ Kesu’
Tim ekspedisi digiring menuju Desa Ke’te’ Kesu’.  Salah satu desa wisata yang dikenal karena adat dan kehidupan tradisional masyarakatnya. Ternyata dari hotel tempat menginap menuju Ke’te’ Kesu’ hanya memerlukan waktu kurang lebih 15 menit.
Saat iring-iringan tim memasuki kawasan, cuaca sangat bersahabat. Terlihat sawah yang baru saja panen, pohon-pohon rindang, dan rumah-rumah tongkonan terhampar indah di depan mata. Semua berdecak kagum. Tanpa perlu komando semua turun dari kendaraan dan mengabadikan moment tersebut termasuk Lelaki Berciput.

Jelajah Sulawesi

Ke’te’ Kesu’ didapuk sebagai salah satu kawasan cagar budaya dan pusat berbagai upacara adat Toraja seperti Rambu Solo (pemakaman yang dirayakan dengan meriah), Rambu Tuka (upacara memasuki rumah adat baru), dan ritual adat lainnya. Setiap bulan Juni hingga Desember upacara ramai dilakukan oleh masayarakat sekitar.
Ke’te’ Kesu’ menyimpan 6 Tongkonan dan 12 lumbung padi yang tetap terjaga dengan baik, padahal usianya telah lebih dari 300 tahun. Saat Lelaki Berciput ke sana, ada satu lumbung padi baru yang masih tercium aroma kayunya, lumbung padi tersebut dibuat dengan harga 200juta! Glek! Luar biasa pisan!
Kemudian ada tanah tempat upacara yang dihiasi 20 menhir. Museum benda kuno Toraja seperti seni ukir, senjata, keramik, patung, kain dari Cina, dan bendera Merah Putih yang konon bendera pertama yang dikibarkan di Toraja.
Supaya budaya Toraja tak tergerus zaman, di sini ada pusat pelatihan pembuatan kerajinan dari bambu dan kayu. Kebetulan sebagian besar warga Ke’te’ Kesu’ memiliki keahlian memahat dan pelukis. Hasil kerajinan mereka dipamerkan dan dijual sebagai suvernir tradisional Toraja sehingga melengkapi keindahan Ke’te’ Kesu’.
Tidak jauh dari rumah tongkonan, ada makam batu, sebuah tebing yang cukup terjal dan penuh dengan gua, di sinilah uji nyali yang sesungguhnya terjadi. Lelaki Berciput sempat terpekik kecil saat melihat Erong –peti tradisional Toraja tergantung di atas tebing. Kalau jatuh dan mayatnya berserekan bagaimana? Membayangkan saja sudah bikin bulu hidung kuduk merinding disko, apalagi benar-benar kejadian?

Jelajah Sulawesi

Semakin ke atas tebing, ada beberapa makam yang ditutup dengan jeruji besi, katanya untuk mencegah pencurian Tau-Tau –patung jenazah. Hadoooh, kok ada orang seiseng itu, ya. Beberapa jenazah bisa dilihat jelas dari luar bersama dengan harta yang dikuburkan di dalamnya. Erong yang ada di desa ini tidak hanya berbentuk seperti perahu, tetapi juga ada yang berbentuk kerbau dan babi yang diperindah dengan ukiran yang khas.
Suku Toraja percaya, kematian bukanlah sesuatu yang datang tiba-tiba, melainkan sebuah proses yang bertahap menuju Puya (dunia arwah atau akhirat). Pada saat menunggu dilakukan upacara, jenazah dibungkus dengan beberapa helai kain dan disimpan di Tongkonan. Arwah orang mati dipercaya tetap tinggal di desa hingga upacara pemakaman selesai, setelah itu arwah akan melakukan perjalanan ke Puya.
Sambil gigit sendal bibir dan sesekali mengusap keringat dingin, Lelaki Berciput memberanikan diri masuk dalam gua, semakin ke dalam makin banyak tulang belulang berserakan dan semakin banyak Erong. Sepertinya di sudut mana pun di luar atau di dalam gua tak ada tempat selain untuk orang mati. Fhuih …
Lelaki Berciput sempat tersipu saat melihat sesajen yang ada di sekitar tengkorak, ada botol air soda, rokok, kue, dan uang recehan. Emangnya orang mati masih suka minum soda, ngerokok, dan makan kue ya?
Setelah hampir satu jam berkeliling di Ke’te’ Kesu’ akhirnya Lelaki Berciput bisa bernapas lega. Uji nyali kali ini berhasil dilewati dengan baik.
Jelajah Sulawesi


Londa
Uji nyali berikutnya adalah Makam Batu Londa, salah satu pemakaman unik yang terletak di Tadongkon. Sebuah desa di antara Kota Makale dan Rantepao. Tempat ini dapat dijangkau dengan kendaraan umum dari Makale atau mobil pribadi. Tim ekspedisi pun beriring-iringan menuju ke sana. Lelaki Berciput kembali menguji andrenalinnya untuk melihat mayat dan tengkorak yang berserakan.
Dahulu, Londa hanyalah makam keluarga yang kemudian dibuka untuk umum dan menjadi objek wisata. Londo terbilang unik karena mayat yang disimpan di sini hanya dimasukkan ke dalam Erong dan diletakkan di dalam gua batu. Ada banyak tengkorak yang tergeletak di dinding tebing, di bawah, dan di sudut mana pun yang usianya sudah ratusan tahun. Bujubuneng labuset!

Jelajah Sulawesi

Begitu tiba di depan tebing, Lelaki Berciput melihat gua yang menggantung di atas tebing yang berisi puluhan Erong. Kata guide, isinya tulang dan tengkorak para leluhur dan Tau-Tau. Banyaknya Tau-Tau menandakan, di sini banyak dikubur putra-putra terbaik Tana Toraja yang dikubur dengan adat Rambu Solo. Biayanya, miliran rupiah, Bro.
Kuburan alam purba ini, konon dilengkapi dengan sebuah benteng pertahanan Patabang Bunga bernama Tarangenge. Letaknya di atas punggung tebing. Benteng Tarangenge dibangun untuk membendung serangan pasukan kerajaan Bone yang diboncengi VOC yang ingin menaklukkan Toraja. Peperangan berlangsung hingga diadakan perjanjian perdamaian antara Bone dan Toraja di Duri (kabupaten Enrekang) sekitar tahun 1670-1710.
Ada banyak kisah menarik di Londo selain Tau-Tau, Erong, dan Benteng Pertahanan, sebut saja kisah sepasang tengkorak yang dikubur di dalam gua, yang merupakan sepasang kekasih yang tak direstui orangtuanya dan mereka bunuh diri. Sepasang tengkorak tersebut kemudian dikenal dengan tengkorak Romi dan Julie. Ternyata, dibalik keseramannya, ada juga kisah yang menghibur hati Lelaki Berciput.
Lelaki Berciput makin terhibur saat keluar dari kawasan Londa dan kembali ke hotel untuk melanjutkan ekspedisinya menuju Kota Makasar. Uji nyali kali ini benar-benar membuatnya lega karena akhirnya bisa mengalahkan ketakutannya. Mau mencoba uji nyali seperti Lelaki Berciput? Sok atuh, mampir ke Ke’te’ Kesu’ dan Londa!

Jelajah Sulawesi

@KreatorBuku



30 komentar:

  1. Ngeri ngeri sedap Kang Ali .... keren!

    BalasHapus
  2. Lelaki berciput hehe..
    Budayanya unik y..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget perempuan berhijab, hehehe

      Hapus
  3. Waaaa udah lama pengen explore ke Sulsel. Moga-moga secepatnya.

    BalasHapus
  4. sayang sy ga ikut, kalau ikut saya akan puas ngagetin dan nakutin lelaki berciput itu. makanya ajak nanti ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaah, bisa mendadak dangdut, hahaha.
      Siap Bro

      Hapus
  5. padahal kalo dijadiin GANTUNGAN KUNCI bagus tuh...

    :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Buat kunci truk apa kunci museum Mas?
      Hahaha

      Hapus
  6. Waaa... Kayaknya asik banget ini

    BalasHapus
  7. Bener - bener uji nyali yaw kak,,, Nggak kebayang kalau di situ tengah malam sendirian lagi. Aya yang terjadi? hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget, hehe. Jangan sampai deh ke sini malem-malem, hihihi

      Hapus
  8. iihh...berani ga yaa eykeh ikutan uji nyali ke sono?

    hmm..*ngumpulin nyali dulu :D

    BalasHapus
  9. menakjubkan ya budaya di Tana Toraja..

    BalasHapus
  10. Pengen kesana, nyobain sensasinya bertemu mayat sama tengkorang secara langsung hihi

    BalasHapus
  11. Beberapa kali ke sulawesi selatan,sy tidak pernah ke tanatoraja. Pengin banget. Bisa kemping di situ kali ya, hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaah, spekta banget kalau camping di sono, hahaha

      Hapus
  12. Ngeri ngeri sedap petualangannya, Mas hehehe

    BalasHapus
  13. belum kesampaian ke toraja, ingin sekali melihat londa & rangkaian upacara adat rambu solo :)

    BalasHapus
  14. Ke Toraja, saya sempat mengambil kesimpulan saat itu. Di sana, orang hidup untuk mempersiapkan mati. Kita serasa berziarah pada dimensi dunia lain, yang kadang antara rasa keheranan dan tertegun dengan budaya yang unik dan khas, menambah keberagaman budaya lokal negeri ini :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget Mas ... mereka hidup memang untuk mati dengan adat istiadat mereka.

      Hapus
  15. Aku tahun kmrn nginep di salah satu rumah di toraja dan di rumah itu ada mayat yg blm di makam kan

    BalasHapus
  16. Seru banget ya, indah budayanya

    BalasHapus

Ditunggu Komentarnya Teman-Teman

Blog Archive

Komentar