Jumat, 22 Januari 2016

Keajaiban Alam yang Terabaikan di Pantai Bone Bula Donggala Sulawesi Tengah


Pusat Laut Donggala Palu

SEJAK beberapa tahun lalu, saya sudah mendengar adanya keajaiban alam di salah satu pantai di Donggala, Kota Palu, Sulawesi Tengah. Tepatnya di Pantai Bone Bula. Ada kolam alam besar, berair jernih, dan hanya satu-satunya di Indonesia atau bahkan di dunia. Namanya Pusat Laut Donggala.
Pusat Laut dikenal dalam Bahasa Kaili, salah satu bahasa yang digunakan Suku Kaili, suku asli Sulawesi Tengah sebagai Pusentasi (Pusen berarti pusat dan Tasi berarti laut). Sementara pantai di belakangnya yang pasirnya halus dan jika terkena pantulan sinar matahari terlihat kuning keemasan dinamakan Bone Bula, dalam Bahasa Kaili berarti “Pasir yang sangat halus”.
Kepenasaran saya pada Pusat Laut membuat saya tak sabar untuk berwisata ke sana, makanya, begitu mendapat kesempatan mengikuti Ekspedisi Sulawesi untuk mengekspolari kekayaan sumber alam dan wisatanya  yang dimulai dari Kota Palu, satu destinasi yang wajib dikunjungi adalah Pusat Laut Donggala.
***
Pagi-pagi sekali, saya dan dua orang tim ekspedisi dari Bandung berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta Banten menggunakan pesawat pagi menuju Bandara Mutiara SIS Al-Jufrie Palu. Mata masih agak ngantuk dan kepala terasa nyut-nyutan karena berangkat dari Bandung menggunakan bus tengah malam.
Tiba di Bandara Mutiara SIS Al-Jufrie Palu kurang lebih pukul 09.00 dan langsung menuju hotel yang telah disediakan panitia. Setelah berkenalan dengan seluruh peserta yang ternyata dari beberapa daerah dan briefing sejenak, saya istirahat sekadar untuk menghilangkan kantuk. Kurang lebih dua jam kemudian, tim ekspedisi menuju Pusat Laut Donggala dengan kendaraan roda empat. 
Pusat Laut Donggala berada di Dusun Simbe, Desa Limboro, Kecamatan Banawa Tengah, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Jika menggunakan kendaraan roda empat dari Kota Palu memerlukan waktu kurang lebih satu jam.
Kendaraan bergerak perlahan meninggalkan penginapan menyusuri jalanan Kota Palu yang cukup lengang. Melewati beberapa komplek perumahan dan komplek pertokoan yang mulai menjamur. Melewati Jembatan Ponulele, salah satu jembatan yang menjadi Landmark Kota Palu karena keunikannya, Masjid Apung yang terlihat indah, Pantai Donggala yang berada di tepian jalan dan dikelola dengan baik, hingga keluar Kota Palu.
Sepanjang jalan, saya berdecap kagum pada keindahan laut yang berada di sisi jalan sepanjang Palu hingga Donggala. Laut yang masih asri dan belum terjamah oleh industri wisata.
Sampai Donggala, jalanan mulai menyempit, tetapi masih terasa nyaman karena jarang sekali ada lubang di tengah jalan. Begitu pun saat jalanan mulai naik dan berkelak-kelok menyusuri bukit, saya masih tetap bisa menikmati perjalanan.
Rupanya, sebelum mencapai pantai, siapa pun yang akan berwisata ke Pusat Laut Donggala harus merasakan bukit terlebih dahulu. Begitu tiba di puncak bukit dan jalanan mulai menurun, perlahan terlihat kembali hamparan pantai dari atas bukit. Indah sekali.
Tepat di pertengahan jalan Dusun Simbe, tim ekspedisi masuk pintu gerbang kawasan Pusat Laut. Dari gerbang, jalan masuk Pusat Laut sangat sempit, hanya muat satu kendaraan roda empat. Banyak lubang dan aspal yang mengelupas sehingga membuat kenyamanan terganggu. Saya lihat di kanan kiri jalan semak belukar tak ada yang merawat.
Kondisi makin mengkhawatirkan begitu kendaraan berhenti di parkiran Wisata Pusat Laut. Saya sampai kaget luar biasa. Saya yang sejak dari Bandung sudah membayangkan akan melihat keindahan Pusat Laut, apa yang ada di depan mata sebaliknya.
Saya lihat sekeliling, ternyata bukan hanya jalanan yang tak terawat, fasilitas yang ada di tempat wisata pun sama tak terawat, bahkan lebih mengenaskan. Mulai dari gardu tiket yang sudah tak terpakai, arena bermain yang sudah aus, rumah makan yang reyot, toilet yang kotor dan bau, masjid yang sudah tak berfungsi, hingga jalanan setapak  di area wisata yang sudah berbaur dengan tanah. Semua seolah sudah mati.
Padahal, wisata Pusat laut Donggala, sejak tahun 2003 hingga 2008 masih menjadi salah satu destinasi wisata andalan. Wisatawan berdatangan dari dalam negeri dan luar negeri, bahkan sempat dicanangkan sebagai cagar alam karena keunikan dan keajaiban yang dimilikinya.
***
Pusat Laut Donggala Palu
Karcis yang Sangat Murah (Foto: Kang Alee)

Pemugaran
Setelah membayar tiket yang sangat murah. 2.500 untuk dewasa  anak-anak, tim ekspedisi menuju Pusat Laut Donggala. Ada pemugaran yang sepertinya tak diperhitungkan dengan matang.
Pusat Laut adalah sebuah sumur atau kolam dengan lebar kurang lebih sepuluh meter persegi dengan kedalaman hingga tujuh meter. Tidak ada yang tahu pasti siapa yang pertama kali menemukannya. Tidak pula ada yang tahu, bagaimana terjadinya Pusat Laut. Penduduk di sana hanya mendengar cerita, dahulu ada sapi yang sedang merumput kemudian sapi tersebut terjatuh di dalam lubang dan hilang. Sapi tersebut kemudian ditemukan di tepi pantai. Lubang besar tersebut yang kemudian dikenal sebagai Pusat Laut Donggala.
Pusat Laut dikelilingi batu cadas yang tak beraturan. Airnya terlihat sangat jernih hingga ikan-ikan yang berenang di sana terlihat dari atas. Dasar kolam juga batu cadas yang tidak terjal, sehingga tidak melukai siapa pun yang terjun dan berenang di sana serta tidak membuat air keruh.
Ada pohon besar dan rindang berada di salah satu sisi kolam. Pohon tersebut terlihat sangat subur dan kokoh. Pada salah satu dahannya ada tali yang melilit, yang digunakan oleh wisatawan untuk naik usai puas berenang di dalam kolam. Ada tangga yang baru dibuat untuk naik turun wisatawan.
Dahulu, banyak anak-anak yang meramaikan Pusat Laut. Mereka berenang dan berebut mengambil koin uang yang dijatuhkan para wisatawan. Tak jarang pula, dengan imbalan suka rela mereka mengambil air yang ada dalam kolam yang dipercaya memiliki khasiat untuk menyembuhkan.
Sayang sekali, kejayaan Pusat Laut kini memudar karena tidak dirawat dengan baik. Akibatnya,  wisatawan pun mulai melupakannya. Bahkan sekarang, Pusat Laut yang harusnya cukup diberi pembatas yang kokoh dan kuat supaya siapa pun yang datang bisa melihat, malah sedang ditutup dengan tembok yang cukup tinggi. Entah, apa yang ada di kepala pengelola. Barangkali, penembokan tersebut supaya bisa menarik tiket pengunjung yang akan berenang di sana dan menambah pundi-pundi untuk menghidupi wisata.
Pusat Laut Donggala Palu
Pusat Laut Dipagari Tembok Tinggi (Foto: Kang Alee)

Saya sempat masuk ke dalam tembok, bahkan beberapa tim ekspedisi lompat dan berenang di Pusat Laut. Keadaan di dalam tembok sangat sempit, jarak antara tembok dengan pusat laut tidak lebih dari 1.5 meter. Padahal, kalau lihat foto-foto dahulu, pagar pembatas cukup luas sehingga wisatawan leluasa melihat pusat laut.
Satu-satunya fasilitas yang masih terlihat bersih adalah aula yang menghadap laut, beberapa gazebo, dan cottage yang siap untuk disewakan kepada wisatawan. Saya membayangkan, seandainya fasilitas-fasilitas tersebut diperbaiki dan direnovasi, pasti akan kembali menarik wisatawan.
Pusat Laut Donggala Palu
Sejuknya Berenang di Pusat Laut (Foto: Kang Alee)

***

Pantai Pasir Halus
Kecewa melihat kondisi Pusat Laut, saya menuju Pantai Pasir Halus atau Pantai Bone Bula yang terletak kurang lebih 30 meter di belakang Pusat Laut. Sebagaimana namanya, pasir di pantai yang panjangnya kurang lebih 500 meter membentang indah itu memang halus. Jika kita menginjakkan kaki di sana, seolah tidak senang menginjak pasir, melainkan menginjak keramik.
Jarak antara pantai dengan air laut cukup luas, sehingga kita bisa puas bermain-main pasir atau air laut. Ombak Teluk Palu yang cukup besar, begitu tiba di pantai seolah menjadi buih yang ingin menyapa para wisatawan.
Pusat Laut Donggala Palu
Pantai Bone Bula yang Sangat Memesona (Foto: Kang Alee)

Ada gugusan karang yang tidak terlalu tajam. Karang-karang tersebut berada di sisi kanan dan sisi kiri pantai. Karang  seolah menjadi penjaga pantai dari gempuran ombak. Pada sisi kanan ada bekas jembatan untuk wisatawan yang ingin menikmati pemandangan dari tengah laut, sayang sekali jembatan sudah ambruk.
Ujung jembatan tersebut, dahulu menjadi dermaga kecil untuk kapal nelayan yang membawa wisatawan keliling pantai menikmati keragaman biota bawah laut. Nelayan juga membawa wisatawan menuju Pantai Tanjung Karang yang tidak jau dari Pantai Bone Bula untuk snorkling.
Sepanjang pantai setidaknya adal 17 (tujuh belas) gugusan karang yang berada dalam radius kurang lebih 20km dari bibir pantai. Wisatawan bisa menikmati karang dari kedalaman 1 meter hingga 40 meter yang menawarkan pemandangan indah.
Pusat Laut Donggala Palu
Pusat Laut Donggala Palu


Pusat Laut Donggala Palu
Penginapan Asri yang Bisa Disewa Pengunjung (Foto: Kang Alee)

Wisatawan yang tidak bisa menyelam, bisa menikmati biota laut dengan menggunakan perahu khusus untuk menjelajahi gugusan karang sepanjang sekitar 500 meter dan melihat biota laut melalui kaca yang ada di bawah perahu. Perahu memang dimodifikasi khusus untuk menikmati perjalanan tersebut.
Saya mencoba mengambil gambar dari berbagai sudut, rasanya tak ada satu sudut pun yang tidak enak untuk dijadikan objek foto. Saya benar-benar terpesona. Beberapa jenak, saya duduk di atas karang sambil memandang laut lepas. Laut berwarna biru jernih. Seandainya ada waktu, rasanya saya ingin sekali mandi, sayang sekali, harus buru-buru meninggalkan Pantai Bone Bula dan Pusat Laut.
Semoga saja, bisa kembali ke sini dengan kondisi yang jauh lebih baik dan lebih indah dari yang pernah saya bayangkan dan saya lihat.
@KreatorBuku

8 komentar:

  1. Aku ke donggala cuman lewatdoang mau menuju palu
    Yg selalu gw ingget dari donggala ini adalah nama kota di permainan monopoli hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh iya ya, main monopoli lagi yuk, Kak. Harus ke sana lagi neh biar bisa njebur

      Hapus
  2. Balasan
    1. Iya, indah dan luar biasa neh alam Indonesia

      Hapus
  3. Pusat Laut ini air tawar ya? Malah ngebayangin berenang di sana dan nemu ikan-ikan. Bukan ikan hiu ya.

    BalasHapus
  4. kok aku ngeliatnya mistis gitu ya (aduhh apa deh ini hhe)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget, memang agak mistis dan atis, hehehe

      Hapus

Ditunggu Komentarnya Teman-Teman

Blog Archive

Komentar