AKHIR bulan lalu, saya ada acara di daerah Bumi Ayu, Brebes, Jawa Tengah. Kebetulan acara bertepatan dengan long weekand, jadi sekalian ajak keluarga. Sayang kan, sudah pergi jauh tidak sekalian jalan?
Bunyang kemudian bikin itinerary untuk menghabiskan waktu selama di sana. Ke mana lagi kalau bukan mengunjungi beberapa destinasi wisata di sekitar Kota Bumi Ayu seperti Purwokerto, Kebumen, dan Purbalingga.
Jadilah, sehari sebelum acara saya pergi malam-malam dari Bandung menggunakan kendaraan supaya tiba di lokasi acara sebelum subuh. Seperti acara bepergian sebelumnya, supaya anak-anak nyaman, saya biarkan anak-anak membawa handphone untuk menghalau kejenuhan.
Sesuai perkiraan, tiba di lokasi tepat sebelum subuh sehingga saya bisa istirahat sejenak. Kebetulan lokasi acara kali ini di sebuah pesantren yang tak lain adalah almamater saat saya SMP, jadi nostalgia, deh.
Alhamdulillah acara dimulai tepat waktu, jadi saya bisa kembali istirahat setelah mengisi acara. Acara kepenulisan yang dihadiri kurang lebih 700 santri itu buat saya sangat berkesan karena jarang sekali ada acara kepenulisan di pesantren-pesantren. Harapan saya, semoga setelah acara tersebut banyak lagi penulis yang lahir dari pesantren.
Saya dan keluarga sempat menginap semalam di sana sambil mengenang masa-masa di pesantren dulu. Selain mengenang, sempat berkunjung ke salah satu guru yang dulu paling galak, bertemu teman-teman seangkatan yang sekarang jadi pengajar, dan tentu saja berbagi dengan para santri yang siang tidak sempat ikut acara. Benar-benar reuni yang menyenangkan, hehehe.

Keliling Purbalingga dan Kebumen
Setelah puas bertemu teman-teman, saatnya menjamu keluarga, hehehe. Pagi-pagi sekali saya pamit dari pesantren dan langsung menuju Purbalingga. Kenapa saya pilih Purbalingga? Karena anak-anak sudah lama ingin mengunjungi salah satu Waterpark di sana, apalagi kalau bukan Awabong.
Karena ini acara jalan-jalan, saya pastikan batere handphone penuh. Begitu pun batere powerbank. Bukan apa-apa, tahu sendiri, kalau lagi jalan-jalan dan handphone kehabisan batere kita jadi mati gaya.
Selain itu, kuota internet juga sudah diantisipasi supaya bisa tetap update di media sosial, hehehe. Bukan apa-apa, biar semua langsung tahu kondisi terkini dari tempat-tempat yang dikunjungi. Termasuk aplikasi untuk share file seperti bluetooth. Buat jaga-jaga kalau-kalau koneksi internet tiba-tiba hilang.
Secanggih apa pun internet, kalau koneksinya terputus tidak ada gunanya, maka tetap perlu yang namanya bluetooth. Kalau belum punya handphone dengan fasilitas bluetooth, nggak usah ragu untuk cari lewat toko online karena toko online juga jual headphone bluetooth.

Awabong dan Masjid Ceng Ho
Setelah beberapa jam, mobil yang saya kendarai merapat di Awabong. Anak-anak sepertinya sudah tidak tahan untuk menikmati salah satu wisata air terbesar di Jawa Tengah tersebut, jadilah usai mengantongi tiket mereka berlarian mencari spot paling enak untuk bermain air.
Ada beberapa permainan yang dicoba. Seperti kolam ombak, kolam snorkeling, kolam air panas, pijat ikan, dan prosotan yang tingginya membuat saya geleng-geleng kepala, hehe.
Saya sengaja kasih mereka waktu tidak banyak supaya target destinasi yang sudah ada di itinerary tercapai. Makanya, begitu waktu habis anak-anak langsung ganti baju dan melanjutkan destinasi selanjutnya.
Oh iya, sempat juga kita shalat di Masjid Ceng Ho yang ada di Purbalingga, lho. Masjid terletak di Desa Selaganggeng, Kecamatan Mrebet. Dari pusat kota Purbalingga kurang lebih jaraknya 12km ke arah utara. Tidak jauh dari Awabong.
Masjid ini merupakan bentuk akulturasi arsitektur Tiongkok dan Jawa. Sekilas bentuk masjid ini mirip kelenteng. Tidak ada kubah bulat pada bagian atap masjid layaknya tempat ibadah umat muslim kebanyakan.




Kubah masjid ini berbentuk pagoda bersegi delapan yang bertingkat-tingkat. Masing-masing sisi dan tingkat menonjol keluar seperti ekor naga.
Warna merah dan kuning mendominasi keseluruhan masjid Cheng Hoo, mirip dengan warna kelenteng yang ada di berbagai daerah di Indonesia. Selain warnanya yang menonjolkan ciri arsitektur Tiongkok, masjid Cheng Hoo juga dihiasi oleh beberapa lampion khas Tiongkok yang juga berwarna merah dan kuning.
Selain itu, pilar-pilar masjid yang ada di luar juga berwarna merah. Sementara itu jendelanya berbentuk segi delapan dengan tepian berwarna merah dan kuning.
Pada bagian pintu masuk utama, terdapat tulisan kanji berwarna kuning keemasan di atas papan berwarna hitam. Sementara itu di bagian sisi kiri bangunan terdapat sebuah beduk yang berwarna merah, warna yang jarang digunakan pada beduk-beduk di masjid lainnya di Indonesia.
Setelah shalat dan makan jagung yang dijual di pelataran masjid, saya dan keluarga melanjutkan perjalanan menuju Kebumen. Jarak antara Purbalingga dengan Kebumen cukup jauh, jadi rencananya memang akan menginap di Kebumen baru pagi hari eksplor Kebumen.

Benteng Van der Wijck dan Pantai Ayah
Perjalanan dari Purbalingga cukup melelahkan, tetapi karena dari awal niatnya jalan-jalan jadi dibuat enjoy aja. Apalagi begitu tiba di Kebumen langsung melahap makanan khasnya di alun-alun Kebumen, selelah apa pun langsung hilang.
Cukup lama saya dan keluarga menikmati malam di alun-alun Kota Kebumen, sampai-sampai naik odong-odong yang ramai mengelilingi alun-alun. Kalau melihat alun-alunnya, buat saya sepertinya Kota Kebumen kota yang nyaman buat ditinggali.
Kami kemudian menuju penginapan yang sudah kami pesan. Lokasinya tidak jauh dari Benteng Van der Wijck dan dekat dengan pantai-pantai di Kebumen, jadi tak ragu untuk menginap di sana. Seperti saat jalan-jalan ke Garut.
Pagi-pagi setelah sarapan, disambut gerimis kecil saya dan keluarga pun tiba di Benteng Van der Wijck. Tahu nggak sih, ternyata di sini pernah menjadi tempat shooting video klip group band Slank dan Film The Raid, lho.



Benteng Van der Wijck sendiri dibangun pada tahun 1818. Kompleks bangunan di sekitar Benteng Van der Wicjk adalah barak militer yang awalnya digunakan untuk meredam kekuatan pasukan Pangeran Diponegoro.
Benteng didirikan atas prakarsa Jenderal Van den Bosch. Belanda menerapkan taktik benteng stelsel yaitu membangunan benteng di lokasi yang sudah dikuasai. Tujuannya jelas, untuk memperkuat pertahanan sekaligus mempersempit ruang gerak musuh, terutama di karesidenan Kedu Selatan.
Namun karena kehebatan Pangeran Diponegoro yang juga didukung pemimpin-pemimpin lokal di selatan Jawa, Belanda berhasil dikalahkan. Berganti era, pada Zaman penjajahan Jepang, kompleks benteng ini menjadi tempat pelatihan prajurit PETA.
Saya mengangguk-angguk ketika masinis kereta yang membawa saya dan keluarga kecil saya mengelilingi benteng dengan kereta yang ada di atas benteng. Kereta ini menjadi salah satu fasilitas yang disediakan benteng.
Cukup lama berada di benteng karena tempatnya memang eksotik banget. Tak puas hanya sesaat. Akan tetapi karena harus melanjutkan perjalanan berikutnya, semua harus diakhiri.
Awalnya akan melanjutkan ke beberapa pantai yang ada di Kebumen, tetapi karena waktu yang tidak banyak akhirnya memilih mengunjungi Pantai Ayah. Pantai yang berada di perbatasan antara Kebumen dan Purwokerto.
Pantai Ayah sangat dikenal dan menjadi salah satu destinasi wisata andalan Kota Kebumen karena cukup menarik. Di dekat pantai ada pulau kecil yang nyambung dengan hutan mangrove, di sanalah tempat paling nyaman untuk menikmati pantai.
Setelah puas mengekplore Pantai Ayah, ditutup dengan makan ikan bakar di tepi pantai. Duuuh, beneran enak banget deh, makan ikan bakar di tepi pantai dalam kondisi yang senang dan lapar, hehehe. Masih ada satu peer saya, suatu saat akan ke sana lagi menikmati pantai-pantai yang lainnya.
@KreatorBuku

Selain Water Park, Traveling ke Purbalingga dan Kebumen Juga Ada Benteng, Masjid Unik, dan Pantai



AKHIR bulan lalu, saya ada acara di daerah Bumi Ayu, Brebes, Jawa Tengah. Kebetulan acara bertepatan dengan long weekand, jadi sekalian ajak keluarga. Sayang kan, sudah pergi jauh tidak sekalian jalan?
Bunyang kemudian bikin itinerary untuk menghabiskan waktu selama di sana. Ke mana lagi kalau bukan mengunjungi beberapa destinasi wisata di sekitar Kota Bumi Ayu seperti Purwokerto, Kebumen, dan Purbalingga.
Jadilah, sehari sebelum acara saya pergi malam-malam dari Bandung menggunakan kendaraan supaya tiba di lokasi acara sebelum subuh. Seperti acara bepergian sebelumnya, supaya anak-anak nyaman, saya biarkan anak-anak membawa handphone untuk menghalau kejenuhan.
Sesuai perkiraan, tiba di lokasi tepat sebelum subuh sehingga saya bisa istirahat sejenak. Kebetulan lokasi acara kali ini di sebuah pesantren yang tak lain adalah almamater saat saya SMP, jadi nostalgia, deh.
Alhamdulillah acara dimulai tepat waktu, jadi saya bisa kembali istirahat setelah mengisi acara. Acara kepenulisan yang dihadiri kurang lebih 700 santri itu buat saya sangat berkesan karena jarang sekali ada acara kepenulisan di pesantren-pesantren. Harapan saya, semoga setelah acara tersebut banyak lagi penulis yang lahir dari pesantren.
Saya dan keluarga sempat menginap semalam di sana sambil mengenang masa-masa di pesantren dulu. Selain mengenang, sempat berkunjung ke salah satu guru yang dulu paling galak, bertemu teman-teman seangkatan yang sekarang jadi pengajar, dan tentu saja berbagi dengan para santri yang siang tidak sempat ikut acara. Benar-benar reuni yang menyenangkan, hehehe.

Keliling Purbalingga dan Kebumen
Setelah puas bertemu teman-teman, saatnya menjamu keluarga, hehehe. Pagi-pagi sekali saya pamit dari pesantren dan langsung menuju Purbalingga. Kenapa saya pilih Purbalingga? Karena anak-anak sudah lama ingin mengunjungi salah satu Waterpark di sana, apalagi kalau bukan Awabong.
Karena ini acara jalan-jalan, saya pastikan batere handphone penuh. Begitu pun batere powerbank. Bukan apa-apa, tahu sendiri, kalau lagi jalan-jalan dan handphone kehabisan batere kita jadi mati gaya.
Selain itu, kuota internet juga sudah diantisipasi supaya bisa tetap update di media sosial, hehehe. Bukan apa-apa, biar semua langsung tahu kondisi terkini dari tempat-tempat yang dikunjungi. Termasuk aplikasi untuk share file seperti bluetooth. Buat jaga-jaga kalau-kalau koneksi internet tiba-tiba hilang.
Secanggih apa pun internet, kalau koneksinya terputus tidak ada gunanya, maka tetap perlu yang namanya bluetooth. Kalau belum punya handphone dengan fasilitas bluetooth, nggak usah ragu untuk cari lewat toko online karena toko online juga jual headphone bluetooth.

Awabong dan Masjid Ceng Ho
Setelah beberapa jam, mobil yang saya kendarai merapat di Awabong. Anak-anak sepertinya sudah tidak tahan untuk menikmati salah satu wisata air terbesar di Jawa Tengah tersebut, jadilah usai mengantongi tiket mereka berlarian mencari spot paling enak untuk bermain air.
Ada beberapa permainan yang dicoba. Seperti kolam ombak, kolam snorkeling, kolam air panas, pijat ikan, dan prosotan yang tingginya membuat saya geleng-geleng kepala, hehe.
Saya sengaja kasih mereka waktu tidak banyak supaya target destinasi yang sudah ada di itinerary tercapai. Makanya, begitu waktu habis anak-anak langsung ganti baju dan melanjutkan destinasi selanjutnya.
Oh iya, sempat juga kita shalat di Masjid Ceng Ho yang ada di Purbalingga, lho. Masjid terletak di Desa Selaganggeng, Kecamatan Mrebet. Dari pusat kota Purbalingga kurang lebih jaraknya 12km ke arah utara. Tidak jauh dari Awabong.
Masjid ini merupakan bentuk akulturasi arsitektur Tiongkok dan Jawa. Sekilas bentuk masjid ini mirip kelenteng. Tidak ada kubah bulat pada bagian atap masjid layaknya tempat ibadah umat muslim kebanyakan.




Kubah masjid ini berbentuk pagoda bersegi delapan yang bertingkat-tingkat. Masing-masing sisi dan tingkat menonjol keluar seperti ekor naga.
Warna merah dan kuning mendominasi keseluruhan masjid Cheng Hoo, mirip dengan warna kelenteng yang ada di berbagai daerah di Indonesia. Selain warnanya yang menonjolkan ciri arsitektur Tiongkok, masjid Cheng Hoo juga dihiasi oleh beberapa lampion khas Tiongkok yang juga berwarna merah dan kuning.
Selain itu, pilar-pilar masjid yang ada di luar juga berwarna merah. Sementara itu jendelanya berbentuk segi delapan dengan tepian berwarna merah dan kuning.
Pada bagian pintu masuk utama, terdapat tulisan kanji berwarna kuning keemasan di atas papan berwarna hitam. Sementara itu di bagian sisi kiri bangunan terdapat sebuah beduk yang berwarna merah, warna yang jarang digunakan pada beduk-beduk di masjid lainnya di Indonesia.
Setelah shalat dan makan jagung yang dijual di pelataran masjid, saya dan keluarga melanjutkan perjalanan menuju Kebumen. Jarak antara Purbalingga dengan Kebumen cukup jauh, jadi rencananya memang akan menginap di Kebumen baru pagi hari eksplor Kebumen.

Benteng Van der Wijck dan Pantai Ayah
Perjalanan dari Purbalingga cukup melelahkan, tetapi karena dari awal niatnya jalan-jalan jadi dibuat enjoy aja. Apalagi begitu tiba di Kebumen langsung melahap makanan khasnya di alun-alun Kebumen, selelah apa pun langsung hilang.
Cukup lama saya dan keluarga menikmati malam di alun-alun Kota Kebumen, sampai-sampai naik odong-odong yang ramai mengelilingi alun-alun. Kalau melihat alun-alunnya, buat saya sepertinya Kota Kebumen kota yang nyaman buat ditinggali.
Kami kemudian menuju penginapan yang sudah kami pesan. Lokasinya tidak jauh dari Benteng Van der Wijck dan dekat dengan pantai-pantai di Kebumen, jadi tak ragu untuk menginap di sana. Seperti saat jalan-jalan ke Garut.
Pagi-pagi setelah sarapan, disambut gerimis kecil saya dan keluarga pun tiba di Benteng Van der Wijck. Tahu nggak sih, ternyata di sini pernah menjadi tempat shooting video klip group band Slank dan Film The Raid, lho.



Benteng Van der Wijck sendiri dibangun pada tahun 1818. Kompleks bangunan di sekitar Benteng Van der Wicjk adalah barak militer yang awalnya digunakan untuk meredam kekuatan pasukan Pangeran Diponegoro.
Benteng didirikan atas prakarsa Jenderal Van den Bosch. Belanda menerapkan taktik benteng stelsel yaitu membangunan benteng di lokasi yang sudah dikuasai. Tujuannya jelas, untuk memperkuat pertahanan sekaligus mempersempit ruang gerak musuh, terutama di karesidenan Kedu Selatan.
Namun karena kehebatan Pangeran Diponegoro yang juga didukung pemimpin-pemimpin lokal di selatan Jawa, Belanda berhasil dikalahkan. Berganti era, pada Zaman penjajahan Jepang, kompleks benteng ini menjadi tempat pelatihan prajurit PETA.
Saya mengangguk-angguk ketika masinis kereta yang membawa saya dan keluarga kecil saya mengelilingi benteng dengan kereta yang ada di atas benteng. Kereta ini menjadi salah satu fasilitas yang disediakan benteng.
Cukup lama berada di benteng karena tempatnya memang eksotik banget. Tak puas hanya sesaat. Akan tetapi karena harus melanjutkan perjalanan berikutnya, semua harus diakhiri.
Awalnya akan melanjutkan ke beberapa pantai yang ada di Kebumen, tetapi karena waktu yang tidak banyak akhirnya memilih mengunjungi Pantai Ayah. Pantai yang berada di perbatasan antara Kebumen dan Purwokerto.
Pantai Ayah sangat dikenal dan menjadi salah satu destinasi wisata andalan Kota Kebumen karena cukup menarik. Di dekat pantai ada pulau kecil yang nyambung dengan hutan mangrove, di sanalah tempat paling nyaman untuk menikmati pantai.
Setelah puas mengekplore Pantai Ayah, ditutup dengan makan ikan bakar di tepi pantai. Duuuh, beneran enak banget deh, makan ikan bakar di tepi pantai dalam kondisi yang senang dan lapar, hehehe. Masih ada satu peer saya, suatu saat akan ke sana lagi menikmati pantai-pantai yang lainnya.
@KreatorBuku

31 komentar:

  1. Waah keren juga ya ada Masjid Cheng Ho. Belum pernah keliling daerah sana, nih. Ini daerah selatan kan ya, Mas?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, daerah selatan agak ke tengah, hehe

      Hapus
  2. Masjid Cheng Ho bikin inget film Bulan Terbelah Di Langit Amerika 2 loh, dann Benteng Van Der Wijck bikin inget Zainudin sama Hayati. Ya Allah belum pernah berkunjung kesana. Thanks Kak Ali atas tulisannya. Semoga ada kesempatan supaya bisa main ke sana juga

    BalasHapus
  3. Seru banget ada waterparknya. Wisata ramah anak banget ini mah kang

    BalasHapus
  4. Pantai dan benteng nampaknya bagus ya.. ����

    BalasHapus
  5. Ooo banteng Van der Wijck ada juga to? Kirain selama ini cuma nama kapal :D
    Ternyata banyak obyek wisata menarik di sekitaran Purbalingga dan Kebumen ya :D
    Moga2 ada kesempatan jalan2 ke sana jg aamiin :D

    BalasHapus
  6. Asyik ya bisa jalan-jalan sama keluarga ^^
    Aku belom pernah ke sini,, ajakin dong kang Alee.. hehe

    BalasHapus
  7. Semoga suatu saat kami sekeluarga juga bisa mampir ke masjid Ceng Ho. Betapa hebatnya jejak islam disana. Nice ulasannya mas,

    BalasHapus
  8. Sementara aku ngelewatin Kebumen cuma bisa dilewatin begitu aja, ga bisa mampir. Sedih deh. Padahal kan pengen ya mampir dan mengenal tempat wisata yang ada.
    Masjid Cheng Ho ini sekarang mulai marak sepertinya ya.

    BalasHapus
  9. Wah belum pernah saya Explore Purwokerto,,, padahal kalo mudik jaraknya tak jauh dari Kampung halaman

    BalasHapus
  10. Mantap nih. Amu suka yang unik unik kayak gini. Bisa jalan jalan sambil mengagumi karya seni. Prmandangan nya juga bagus banget ya. Pengenlah suatu saat kesana.

    BalasHapus
  11. Enak banget tripnya kak hihihi, ayo lain kali ke Purwokerto, baca2 blog saya kalau mau cari referensi wkwkwkwk btw itu kolam renangnya Owabong bukan Awabong

    BalasHapus
  12. Wah, perjalanannya menyenangkan sekali ya, Kang. Bisa berbagi ilmu, silaturahim, reuni, piknik, wih... semuanya kok bisa keangkut. Hehehe. Btw saya belum pernah ke semua destinasi wisata yang dikunjungi Kang Ali itu :)

    BalasHapus
  13. Masjid Cheng Hoo ternyata ada di Purbalingga ( Jawa Tengah ).
    Karena di Surabaya juga ada.
    Masjidnya kecil namun ramai sekali. Apalagi saat waktu sholat tiba.
    MashaAllah...jamaahnya orang China-Surabaya.

    Kagum sama masjid Cheng Hoo Purbalingga dengan gaya arsitekturnya.
    Barakallahu fiikum.

    BalasHapus
  14. ternyata van der wijck itu bukan hanya kapal tapi juga nama benteng yang ada di Kebumen.. ternyata Kebumen juga punya pantai ayah yang cukup bagus juga mas.. Saya belum pernah jalan ke purbalingga dan kebumen mas, jadi sekarang jadi lebih banyak tahu tentang dua kota tersebut

    BalasHapus
  15. Lengkap sekali wisatanya. Sekali jalan, banyak tempat wisata yang bisa dikunjungi. Mulai dari water park, masjid Cheng Hoo, Benteng Van der Wijck, sampai main di pantai...ah lengkaap deh!
    Itu gunanya itinerary ya, Kang...:))

    BalasHapus
  16. di batam jg ada mesjid cheng ho

    btw itu pantai ayah namanya unik
    kenapa namanya pantai ayah ?
    apa krn seorang ayah yg menemukan ? hehehe

    BalasHapus
  17. Dari dulu saya pingin ke mesjid Cheng Hoo. Dan aku baru tahu dari tulisan ini kalau The Raid syuting di Benteng Van der Wijck, jadi penasaran di adegan mana hehe

    BalasHapus
  18. Ingin banget sejak dulu ke Masjid Cheng Hoo, waktu itu tau sejak kecil gara-gara pembahasan di Majalah Bobo (ya, gue udah tua kok emang), tapi ya sayang semuanya hanya mimpi doang. Ya udah deh. Betewe, "bunyang" itu apa ya, Mas?

    BalasHapus
  19. ternyatra di brebes juga ada masjid ceng ho ya. kirain cuma ada di semarang dan palembang. berarti hampir semua daerah ada semua.

    BalasHapus
  20. Makan ikan bakar dari ikan segar di tepi pantai bersama keluarga, behhh...nikmat mana lagi yang kau dustakan. Kapan.........................lah ya bisa gitu juga di sana

    BalasHapus
  21. Menyenangkan sekali, jadi kangen masa lalu dulu , jaman mahasiwa haha

    BalasHapus
  22. wah kaynya objek wisata disana banyak juga ya terutama mesjid yang memiliki akses suasana lama kaya gitu apalagi arsitekturnya masih alami banget bisa jadi menambah ilmu pengetahuan ya mas klo jalan jalan kesana. tapi, enak tuh waterparknya tapi kok kayanya sepi ya

    BalasHapus
  23. Asik banget jalan2nya mas...pengen juga satu hari nanti bisa jalan2 full team lengkap dengan keluarga.


    Masjid Cheng Hoo, Benteng Van Der Wijck, seruuuuu

    BalasHapus
  24. Wah masjid ceng ho ada juga ya dipurbalingga. Kalau disini kenapa ada masjid cheng ho ya. Apa memang karena rute dia sampe sini dulu?

    BalasHapus
  25. Jawa Tengah memang menarik untuk dikunjungi. Selama 6 bulan di Semararang belum banyak daerah di selatan yang berhasil dikunjungi, padahal liat2 foto ini wilayahnya harus dimasukan list untuo dikunjungi nieh

    BalasHapus
  26. Mertua saya aslinya orang kebumen tapi tinggalnya di tangerang. Penasaran jadinya euy sama kebumen dan daerah sekitarnya

    BalasHapus
  27. Udah lama banget ga ke kebumen. Dulu ke sana belum ada henpon kamera, cuma kamera roll. Fotonya juga di pinggir sawah, hihihi. Kebumen g banjir lagi ya
    Soalnya pas ke sana dulu. Sawah Mbah lagi banjir

    BalasHapus
  28. Keren banget ya masjidnya.
    Unik karena menggabungkan kultur negeri tirai bambu ��
    Kayaknya kalo ke Purbalingga atau Kebumen patut dicoba deh buat kesana ��

    BalasHapus
  29. Cheng Ho pengaruhnya ada di banyak tempat ya.. Aku baru tau juga di Purbalingga ada masjidnya.. Belum pernah ke Kota itu dan Kebumen.. Ternyata banyak jug destinasi menarik di sana..

    BalasHapus

Ditunggu Komentarnya Teman-Teman