SEBAGAI blogger yang suka jalan-jalan, seorang penulis bacaan anak sekaligus kerja di production house, rasanya sulit sekali jika bepergian tidak bawa laptop. Bukan apa-apa, selain sering sekali berkejaran dengan deadline, saya juga paling tidak suka menunda-nunda pekerjaan. Jadilah, ke mana pun pergi pasti bawa laptop.
Masalahnya, laptop saya ukurannya lumayan besar, mengingat spesifikasi yang saya butuhkan memang cukup tinggi. Akibatnya, saya pernah mengalami sakit yang luar biasa pada punggung dan tulang belakang.
Seperti yang saya alami beberapa waktu lalu. Dalam waktu hampir bersamaan saya harus menyelesaikan beberapa pekerjaan sekaligus. Menyelesaikan editing buku anak, cek hasil shooting sebuah film pendek, dan memenuhi undangan jalan-jalan sebuah agen wisata ke Pulau Weh di Aceh dan Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur.
Awalnya ingin menolak, tetapi sayang sekali untuk ditolak. Jadilah semua jadwal aktivitas di-reschedule. Saya tidak mau antara pekerjaan dan jadwal traveling saling menganibal.
Walau reschedule telah dilakukan, tetap saja ada yang meleset. Satu jadwal shooting film pendek yang harusnya dilakukan hari Selasa diundur hari Kamis. Padahal hari Jumat pagi saya harus sudah ada di Bandara Soekarno-Hatta Banten untuk traveling ke Pulau Weh selama 3 hari 2 malam.
Supaya kelar shooting langsung pergi, pagi-pagi packing. Ibarat sebuah peribahasa untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, jadwal shooting yang harusnya selesai pukul 20.00 baru selesai pukul 24.00. Begitu kelar, saya buru-buru menuju pool bus. Beruntung, hari sudah malam, jadi jalanan lengang. Saya tiba di sana tepat sepuluh menit sebelum bus berangkat.

Shooting yang Cukup Melelahkan (Foto Dok.Pri)

Perjalanan bus dari Bandung hingga Bandara Soekarno-Hatta Banten lancar. Selama dalam perjalanan saya bisa tidur nyenyak, seolah mengganti tidur yang belum ditunaikan. Begitu pun saat penerbangan menuju Aceh.

Tetap Buka Laptop
Waktu sepertinya cepat sekali berlalu, tepat pukul 09.15 saya tiba di Bandara Sultan Iskandar Muda Banda Aceh. Menuju dermaga untuk menyeberang dengan kapal feri ke Sabang yang dikenal sebagai Pulau Weh.
Sempat makan siang di salah satu kedai di Kota Sabang, sebelum menuju penginapan yang ada di sekitar Pantai Iboih.  Usai cek in langsung menuju Pulau Rubiah yang ada di seberang penginapan menggunakan speedboat.
Pesona laut Pulau Rubiah selama ini sudah sangat dikenal wisatawan. Tak heran jika hari itu, pulau yang luasnya kurang lebih 26 hektar dan jaraknya sekitar 250 meter dari Pantai Iboih sudah dipadati pengunjung. Jarak taman laut sangat dekat sehingga tidak perlu berenang jauh untuk menikmati keindahannya.
Berbagai macam spesies ikan tropis seperti angel fish, gigantic clams, school of parrot fish, lion fish dan sebagainya langsung menyapa. Terdapat juga berbagai jenis terumbu karang.

Berlayar Menuju Pulau Rubiah (Foto Dok.Pri)

Menurut pemandu, di Pulau Rubiah juga ada beberapa spot untuk snorkeling dan diving. Karena sudah sore,  saya pilih snorkeling menuju ke rumah nemo. Posisinya di sisi kanan dermaga. Saya berenang kurang lebih 200-an meter menyisir tebing.
Benar saja, setelah menyisir tebing akhirnya bisa bertamu di rumah nemo. Ya ampuuun, nemonya lucu sekali. Setelah puas snorkeling saya kembali ke penginepan untuk menghabiskan malam di tepian Pantai Iboih.
Sebelum istirahat, saya kembali buka laptop untuk menyelesaikan pekerjaan yang esok pagi sudah harus kelar. Karena laptopnya ukurannya cukup besar saya hanya bisa membuka di penginapan. Padahal, kalau laptopnya kecil kan bisa membuka di mana saja, termasuk di tepian pantai. Kebayang kan, bekerja di atas bebatuan dengan diiringi suara deburan ombak? Pasti sangat menyenangkan, hehehe.

Dari Titik Nol Hingga Gua Sarang
Jadwal traveling ke Aceh berikutnya cukup padat. Pagi-pagi menuju Titik Nol Indonesia. Saya pikir di sana hanya ada tugu, ternyata sekarang di depan sebelah kanan ada titian menuju tebing pantai yang jadi spot foto.
Titian cukup panjang dan meliuk-liuk yang membebaskan traveler dan wisatawan menikmati sejuknya hutan di tepi pantai, semilir angin, dan keindahan pemandangan laut lepas. Jika tidak kuat jalan, bisa capek apalagi kalau masih ada hutang pekerjaan. Untunglah, semalam satu pekerjaan sudah dikirim ke vendor, jadi agak tenang.
Setelah puas mengeksplor Titik Nol dan makan siang di sebuah rumah makan di tepian Danau Aneuk Laot, melanjutkan perjalanan menuju  Benteng Jepang di Desa Anoi Hitam Suka Karya Sabang.  
Aneuk Laot dalam bahasa Indonesia berarti Anak Laut. Danau Aneuk Laot berada di tengah-tengah Kota Sabang. Di sini sangat dikenal dengan sunset-nya yang indah. Dari Danau Aneuk Laot menuju Benteng Jepang kurang lebih perlu waktu 20 menit perjalanan darat.
Saya sempat ternganga ketika tiba di pintu masuk Benteng Jepang karena mirip gua. Saya makin ternganga ketika tiba di atas bukit, di mana markas utama benteng berdiri. Pemandangan laut lepas dari markas utama luar biasa indah.

Titik Nol Indonesia (Foto Dik.Pri)

Jalan Menuju Benteng Jepang (Foto Dok.Pri)

Pantai Sumur Tiga (Foto Dok.Pri)

Masjid Baiturrahman Aceh (Foto Dok.Pri)

Destinasi berikutnya Pantai Sumur Tiga dan Gua Sarang. Baru kemudian menuju pusat kota dan menikmati makanan khasnya. Lagi-lagi karena diburu deadline, saya kembali buka laptop untuk menyelesaikan pekerjaan.
Keesokan harinya, usai sarapan menuju dermaga, menyeberang kembali menuju Banda Aceh. Tiba di Banda langsung menuju beberapa destinasi di Aceh seperti Museum Tsunami, Museum Kapal, Masjid Baiturrahman, Kubah Masjid, dan pastinya menikmati makanan khasnya sebelum ke bandara pada sore hari untuk kembali ke Bandung.

Ketemu Komodo di Labuan Bajo
Seminggu kemudian, setelah kembali sibuk dengan rutinitas pekerjaan, saya kembali traveling, kali ini eksplore Labuan Bajo. Beruntung kali ini jadwal penerbangan agak siang, jadi dari Bandung ke Bandara Soekarno-Hatta usai shalat subuh. Terbang pukul 10.50 WIB, tiba di Bandara Komodo 14.25 WIT.
Setelah dijemput guide di bandara, langsung menuju dermaga, lalu naik kapal pinisi. Pinisi berlayar kurang lebih 1 jam, jelang sore singgah di Pulau Kelor. Pulau Kelor menurut saya jadi bukti kalau keindahan Indonesia emang sempurna. Mulai dari bawah laut, pantai, hingga bukitnya indah. Sayang tidak bisa berlama-lama di sana.
Seperti kebiasaan saya kalau traveling, malam hari sebelum istirahat pasti buka laptop untuk menyelesaikan pekerjaan. Beruntungnya, pekerjaan tidak harus selesai saat itu, tetapi tetap saya cicil. Lagi pula, kalau harus selesai saat itu tidak mungkin saya kirim karena koneksi internet sangat lambat, hehehe.
Esok harinya, pinisi berlayar ke Pulau Padar. Ini pulau tujuan utama selain Pulau Komodo jika ke Labuan Bajo. Pulau Padar memang pantas disebut sebagai surga tersembunyi karena aslinya memang luar biasa banget pemandangannya. Supaya mendapat pemandangan yang indah harus naik bukit kurang lebih 1-2 jam.
Track menuju Bukit Padar tidak mudah, kita harus naik undakan dan bebatuan terjal, jika tidak siap bisa nyeri sendi dan pegal-pegal.
Setelah puas menikmati indahnya Bukit Padar lanjut menikmati keindahan bawah laut Pantai Pink. Sebagai penutup, destinasi terakhir apalagi kalau bukan mengunjungi Pulau Komodo sebelum kembali ke Bandung.

Meniti Bukit Padar Labuan Bajo (Foto Dok.Pri)

Pantai Pink Labuan Bajo (Foto Dok.Pri)

Komodo di Pulau Komodo (Foto Dok.Pri)

Di Atas Bukit Pulau Padar (Foto Dok.Pri)

Apa yang terjadi setelah melakukan dua (2) perjalanan yang beruntun? Bahu dan punggung saya bukan hanya pegal, melainkan juga terasa sakit, nyeri, dan panas sekali. Saya segera periksa ke dokter dan dokter menyimpulkan ada peradangan dan pembengkakan pada persendian bahu. Dokter menyebutnya Bursitis. 
                             
Bursitis dan Tendinis
Dokter langsung menebak kalau saya selama ini terlalu memaksakan diri membawa beban berat di bahu. Iya sih, habis bagaimana lagi? Kalau traveling kan mau tidak mau bawa banyak barang yang dibutuhkan.
Selain pakaian, peralatan mandi, obat-obatan, kamera beserta perangkatnya, dan laptop. Apalagi saya lebih senang bawa ransel atau tas travel jinjing daripada koper. Sangat wajar kalau bahu keberatan, apalagi tinggi badan saya termasuk mungil, hanya 160 Cm, jadi makin rentan, hehehe.
Membawa beban terlalu berat pada bahu kan berarti menggunakan persendian bahu, jika terlalu sering atau keras menggunakannya dalam jangka panjang bisa menyebabkan jaringan halus di dalam bahu lebih mudah aus. Bahu jadi lebih rentan terhadap cedera, kondisi seperti ini yang disebut dengan tendinitis.

Kebayang Sedihnya Tidak Bisa  Nulis dan Traveling (Foto Dok.Pri)

Tidak jarang pula persendian bahu yang digunakan terlalu berlebihan bisa meradang dan membengkak, sakitnya sungguh luar biasa. Ini yang saya rasakan kemarin, dokter menyebutnya bursitis. Bursitis dapat menyebabkan banyak kegiatan harian seperti menyisir rambut atau berpakaian jadi lebih sulit dari biasanya. Hiks ...
Bursitis terjadi karena ada peradangan atau pembengkakkan dari sebuah kantung berisi cairan pelumas yang disebut synovium. Synovium biasanya terletak di sekitar bahu, siku, pinggul, lutut, kaki. Synovium berfungsi sebagai bantalan antara tulang dan organ-organ di sekitarnya seperti otot, tendon, kulit, untuk mempermudah gerakan.
Kata dokter, meski sudah diobati, bursitis bisa terjadi berulang-ulang, kecuali penyebabnya dihentikan. Saya langsung mikir, jangan-jangan sudah nggak bisa traveling lagi, nulis lagi, shooting lagi ... duuuh ... sedihnya hidup dunia yang saya tekuni saat ini ... hiks ...
Selama beberapa minggu saya melakukan pengobatan. Oh iya, jika teman-teman merasakan apa yang saya rasanya, sebaiknya langsung konsultasi ke dokter supaya segera ditangani. Ada beberapa cara pengobatan yang dianjurkan dokter:
1). Istirahat total dan hentikan pekerjaan selama kurang lebih 2 minggu.
2). Memakai bidai atau gips selama 7-10 hari.
3). Menggunakan es pada area yang nyeri untuk mengurangi pembengkakan dan meredakan rasa sakit.
4). Menggunakan obat-obatan anti radang seperti aspirin, ibuprofen, naproxen yang bisa meredakan bursitis ringan hingga sedang secara efektif.
Dampak paling parah dari bursitis adalah melakukan operasi terbuka untuk memperbaiki dan meredakan tekanan pada kantong synovial atau yang biasa disebut dengan arthroscopic. Ngeri banget, kan? Beruntung saya tidak sampai melakukan arthroscopic, tetapi saya tetap perlu pelatih fisik untuk menghindari kembali terjadinya bursitis.
Praktis, setelah melakukan dua (2) perjalanan di atas, saya rehat cukup panjang, bahkan hingga saya menulis ini. Padahal, ada beberapa ajakan traveling, seperti ke Manado, Gorontalo, dan Raja Ampat ... semua terlewatkan. Sangat sedih memang, hanya gara-gara membawa beban berat di bahu, jadwal traveling jadi terganggung.
Dari sekian barang yang saya bawa saat traveling, sebetulnya semua bisa diminimalisir. Misal, pakaian bisa beberapa helai saja, kamera tidak harus bawa lensa tambahan dan tripod, alat mandi dan obat-obatan bisa ditinggal karena bisa membeli jika diperlukan. Benda yang sama sekali tidak bisa ditinggal apalagi kalau bukan laptop?

ASUS ZenBook UX331UAL Laptop Idaman Saya (Foto Dok.Pri)

Makanya jika ada rezeki, saya ingin ganti laptop yang super. Super tipis dan ringan, super kuat, super lebar, super cepat, super tahan lama, super memudahkan, serta super cantik dan indah.
Satu-satunya laptop yang menurut saya memenuhi impian dan keinginan saya tak lain dan tak bukan, apalagi kalau bukan ASUS ZenBook UX331UAL, laptop tipis, ringan, dan powerfull.


Super Tipis dan Ringan
ASUS ZenBook UX331UAL super tipis dan ringan. Bayangin, ada laptop ukuran 13 inchi, punya ketebalan hanya 13.9 mm, dan bobotnya hanya 985 gram. Disempurnakan dengan desain bingkai NanoEdge jadi makin terlihat ringkas. Beneran laptop super tipis dan super ringan. Ini mah beratnya sama kayak sepatu yang saya pakai, hehehe.
Kebayang, kalau punya laptop setipis dan seringan ini, saya bisa nenteng ke mana pun, termasuk saat traveling tanpa memberatkan tas punggung yang saya bawa. Pastinya, traveling yang saya lakukan jadi makin sehat karena bahu tidak akan sakit lagi.




Super Kuat
ASUS ZenBook UX331UAL yang sudah canggih dan elegan casingnya dibuat dari paduan antara magnesium dan aluminium. Konon paduan antara magnesium dan aluminium ini yang membuat laptop 33% jadi lebih kuat dan lebih ringan dari paduan standar yang digunakan di laptop.
Di samping itu, laptop ini memiliki sifat disipasi panas yang besar. Jadi, walaupun ZenBook UX331 paling ringan di kelasnya namun kemampuannya tidak dikorbankan. Kinerjanya tetap maksimal.
Lebih mencengangkan lagi, ASUS ZenBook UX331UAL telah melewati standar militer MIL-STD 810G yang menuntut keandalan dan daya tahan. Salah satu tesnya adalah mengoperasikan laptop di tempat yang tinggi dengan suhu dan kelembaban yang ekstrim.
Tidak hanya itu, ASUS ZenBook UX331UAL telah melewati tes yang tidak biasa. Laptop dijatuhkan dari ketinggian tertentu dan ditekan dengan benda berat. Hebatnya, laptop tetap kuat.



Super Lebar
Meski ASUS ZenBook UX331UAL dirancang dengan ukuran 13,3 inci, tetapi layar yang dimilikinya terlihat lebar karena ASUS ZenBook UX331UAL  menggunakan layar NanoEdge yang dibingkai sangat tipis.
Layar NanoEdge sudah Full HD 13,3 inci dan memiliki lebar 100% sRGB warna gamut sehingga warna yang ditampilkan akurat dan hidup sehingga semua terlihat alami. Ditambah lagi dengan teknologi wide-view 178° yang membuat kualitas gambar tidak terdegradasi jika dilihat dari sudut ekstrim.
Laptop ini pasti sangat membantu saya saat mengecek ilustrasi buku-buku anak yang saya tulis. Buku-buku anak yang saya tulis selalu penuh dengan ilustrasi, sehingga perlu akurasi warna yang tepat saat dilihat di layar laptop.

Mengecek Hasil Ilustrasi Buku Anak dari Ilustrator (Foto Dok.Pri)

Mengecek Hasil Shooting dengan Mudah (Foto Dok.Pri)

Pun, saat saya mengecek hasil shooting. Pasti laptop ini akan sangat membantu pekerjaan saya. Apalagi, laptop ini sudah dilengkapi dengan ASUS Tru2Life Video, teknologi peningkatan video eksklusif yang mirip dengan teknologi yang ditemukan pada Teve-Teve berkelas.
Teknologi ini menggunakan algoritma software cerdas untuk mengoptimalkan ketajaman dan kontras dari setiap video, sehingga video terlihat lebih jelas, lebih mendetail, dan lebih realistis. Teknologi ini dapat meningkatkan kontras hingga 150%. Mampu memperlihatkan detail walau di area gelap sekali pun. Tuh kan, bener ... emang nggak salah saya pilih laptop ini.




Super Cepat
ASUS ZenBook UX331UAL menggunakan Windows 10 ultrathin dengan prosesor Intel® Core™ i5 generasi ke-8 terbaru, yang bisa ditingkatkan hingga 4.0GHz bila diperlukan. Juga menggunakan RAM 8GB dan storage 256GB PCIe® SSD. Efeknya cukup dahsyat, ketika digunakan, mau berpindah dari satu program ke program lainnya jadi super cepat.
O iya, konon prosesor Intel® Core™ i5 generasi ke-8 ini mampu memberikan peningkatan kinerja hingga 30%, lho. Hebatnya lagi, saat bekerja hanya memerlukan tenaga baterei yang minimalis, jadi nggak boros baterai.
Buat saya yang multitasking, kinerja yang dimiliki ASUS ZenBook UX331UAL sangat mendukung. Maklum, saya orangnya sering tidak sabaran menunggu, inginnya semua serba cepat, hehehe.



Super Tahan Lama
Salah satu tujuan dirancangnya ASUS ZenBook UX331UAL ini adalah untuk membantu kaum urban yang memiliki gaya hidup dengan mobilitas yang tinggi. Oleh karena itu, ASUS ZenBook UX331UAL dilengkapi dengan baterai lithium-polymer 50Wh yang dirancang khusus.
Tahu nggak, berapa daya baterei yang ditawarkan? 15 jam! Wow ... Canggihnya baterai lithium-polymer ini selain daya kekuatannya 3X lebih lama dari baterai standar, juga mampu mempertahankan sebagian besar kapasitas baterai walau telah diisi daya ratusan kali.
Jika sudah seperti ini, siapa yang tidak kepincut coba? Tanpa repor-repot takut kehabisan baterei, saat bekerja atau saat traveling saya bisa tetap menggunakan laptop.




Super Memudahkan
Selain kelebihan-kelebihan di atas, ASUS ZenBook UX331UAL juga sangat memudahkan penggunanya. Di antara kemudahannya antara lain:

1). Keyboard Ergonomis
ASUS ZenBook UX331UAL dilengkapi dengan keyboard backlit ukuran penuh dengan desain yang kokoh dan ergonomis.
Precision Touchpad dirancang untuk kenyamanan saat mengetik dengan akurasi maksimum. Ada penutup kaca supaya kontrolnya mulus. Terus didukung dengan teknologi palm-rejection yang mendukung gerakan multi-jari dan tulisan tangan. Kebayang, bakal nyaman banget saat mengetik, kan?

2). ASUS Wi-Fi Master
ASUS ZenBook UX331UAL menggunakan teknologi ASUS Wi-Fi Master sehingga koneksi ke internet jadi lebih cepat dan lebih andal pada jarak yang lebih jauh daripada sebelumnya. Teknologi eksklusif ini jauh lebih baik dari Wi-Fi 802.11ac dual-band 6-bit yang lebih cepat, Wi-Fi MU-MIMO-capable dual-band 802.11ac.
Dengan ASUS Wi-Fi, ASUS ZenBook UX331UAL memiliki kecepatan hingga 867Mbps, tak heran jika pengguna bisa menikmati streaming video YouTube Full HD pada jarak 300 meter atau lebih. 

3). Sensor Sidik Jari
ASUS ZenBook UX331UAL dilengkapi sensor sidik jari yang ada di touchpad dan Windows Hello, jadi saat kita akan mengaksesnya cukup dengan menyentuhkan jari kita saja, tidak perlu mengetik kata sandi.

4). Audio Terbaik
Karena saya bekerja di dunia kreatif, mau tidak mau saya memerlukan audio yang terbaik. Beruntungnya, ASUS ZenBook UX331UAL telah dilengkapi dengan audio terbaik yang cukup mumpuni, jadi sangat memudahkan saya.
Perangkat audio yang dipasang adalah audio dengan sistem audio yang telah disertifikasi Harman Kardon. Tim ASUS Golden Ear sengaja mengembangkan teknologi ASUS SonicMaster generasi berikutnya.
Dengan perpaduan hardware superior yang telah disesuaikan, termasuk teknologi low-distortion smart-amplifier. Audio mampu ditingkatkan volumenya hingga 3,5x. Kebayang, kan bagaimana serunya saat audio tersebut mengeluarkan suara? Saya jadi bisa cek audio hasil shooting dengan lebih baik dan jelas neh, kalau begini, hehehe. 


Super Cantik dan Indah
Asus menyediakan dua (2) varian warna yang cantik dan indah untuk ASUS ZenBook UX331UAL,  yaitu Deep Dive Blue dan edisi terbatas Rose Gold. Deep Dive Blue adalah warna yang sangat indah yang merembes dengan kecanggihan, sementara Rose Gold menambahkan gaya hidup kita terlihat lebih berkilau dan menyenangkan.



Fhuih, rasanya benar-benar lengkap kelebihan ASUS ZenBook UX331UAL ini. Tidak hanya bagian luarnya saja yang cantik dan indah, tetapi juga bagian dalamnya pun cantik dan indah. Ibarat manusia, doi cantik luar dalam.
Kalau sudah disodori yang cantik luar dalam seperti ini, siapa yang akan nolak coba? Saya pikir tidak ada. Termasuk saya! Hehehe.
@alimuakhir

ASUS ZenBook UX331UAL Laptop Idaman Saya dan Travel Blogger



SEBAGAI blogger yang suka jalan-jalan, seorang penulis bacaan anak sekaligus kerja di production house, rasanya sulit sekali jika bepergian tidak bawa laptop. Bukan apa-apa, selain sering sekali berkejaran dengan deadline, saya juga paling tidak suka menunda-nunda pekerjaan. Jadilah, ke mana pun pergi pasti bawa laptop.
Masalahnya, laptop saya ukurannya lumayan besar, mengingat spesifikasi yang saya butuhkan memang cukup tinggi. Akibatnya, saya pernah mengalami sakit yang luar biasa pada punggung dan tulang belakang.
Seperti yang saya alami beberapa waktu lalu. Dalam waktu hampir bersamaan saya harus menyelesaikan beberapa pekerjaan sekaligus. Menyelesaikan editing buku anak, cek hasil shooting sebuah film pendek, dan memenuhi undangan jalan-jalan sebuah agen wisata ke Pulau Weh di Aceh dan Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur.
Awalnya ingin menolak, tetapi sayang sekali untuk ditolak. Jadilah semua jadwal aktivitas di-reschedule. Saya tidak mau antara pekerjaan dan jadwal traveling saling menganibal.
Walau reschedule telah dilakukan, tetap saja ada yang meleset. Satu jadwal shooting film pendek yang harusnya dilakukan hari Selasa diundur hari Kamis. Padahal hari Jumat pagi saya harus sudah ada di Bandara Soekarno-Hatta Banten untuk traveling ke Pulau Weh selama 3 hari 2 malam.
Supaya kelar shooting langsung pergi, pagi-pagi packing. Ibarat sebuah peribahasa untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, jadwal shooting yang harusnya selesai pukul 20.00 baru selesai pukul 24.00. Begitu kelar, saya buru-buru menuju pool bus. Beruntung, hari sudah malam, jadi jalanan lengang. Saya tiba di sana tepat sepuluh menit sebelum bus berangkat.

Shooting yang Cukup Melelahkan (Foto Dok.Pri)

Perjalanan bus dari Bandung hingga Bandara Soekarno-Hatta Banten lancar. Selama dalam perjalanan saya bisa tidur nyenyak, seolah mengganti tidur yang belum ditunaikan. Begitu pun saat penerbangan menuju Aceh.

Tetap Buka Laptop
Waktu sepertinya cepat sekali berlalu, tepat pukul 09.15 saya tiba di Bandara Sultan Iskandar Muda Banda Aceh. Menuju dermaga untuk menyeberang dengan kapal feri ke Sabang yang dikenal sebagai Pulau Weh.
Sempat makan siang di salah satu kedai di Kota Sabang, sebelum menuju penginapan yang ada di sekitar Pantai Iboih.  Usai cek in langsung menuju Pulau Rubiah yang ada di seberang penginapan menggunakan speedboat.
Pesona laut Pulau Rubiah selama ini sudah sangat dikenal wisatawan. Tak heran jika hari itu, pulau yang luasnya kurang lebih 26 hektar dan jaraknya sekitar 250 meter dari Pantai Iboih sudah dipadati pengunjung. Jarak taman laut sangat dekat sehingga tidak perlu berenang jauh untuk menikmati keindahannya.
Berbagai macam spesies ikan tropis seperti angel fish, gigantic clams, school of parrot fish, lion fish dan sebagainya langsung menyapa. Terdapat juga berbagai jenis terumbu karang.

Berlayar Menuju Pulau Rubiah (Foto Dok.Pri)

Menurut pemandu, di Pulau Rubiah juga ada beberapa spot untuk snorkeling dan diving. Karena sudah sore,  saya pilih snorkeling menuju ke rumah nemo. Posisinya di sisi kanan dermaga. Saya berenang kurang lebih 200-an meter menyisir tebing.
Benar saja, setelah menyisir tebing akhirnya bisa bertamu di rumah nemo. Ya ampuuun, nemonya lucu sekali. Setelah puas snorkeling saya kembali ke penginepan untuk menghabiskan malam di tepian Pantai Iboih.
Sebelum istirahat, saya kembali buka laptop untuk menyelesaikan pekerjaan yang esok pagi sudah harus kelar. Karena laptopnya ukurannya cukup besar saya hanya bisa membuka di penginapan. Padahal, kalau laptopnya kecil kan bisa membuka di mana saja, termasuk di tepian pantai. Kebayang kan, bekerja di atas bebatuan dengan diiringi suara deburan ombak? Pasti sangat menyenangkan, hehehe.

Dari Titik Nol Hingga Gua Sarang
Jadwal traveling ke Aceh berikutnya cukup padat. Pagi-pagi menuju Titik Nol Indonesia. Saya pikir di sana hanya ada tugu, ternyata sekarang di depan sebelah kanan ada titian menuju tebing pantai yang jadi spot foto.
Titian cukup panjang dan meliuk-liuk yang membebaskan traveler dan wisatawan menikmati sejuknya hutan di tepi pantai, semilir angin, dan keindahan pemandangan laut lepas. Jika tidak kuat jalan, bisa capek apalagi kalau masih ada hutang pekerjaan. Untunglah, semalam satu pekerjaan sudah dikirim ke vendor, jadi agak tenang.
Setelah puas mengeksplor Titik Nol dan makan siang di sebuah rumah makan di tepian Danau Aneuk Laot, melanjutkan perjalanan menuju  Benteng Jepang di Desa Anoi Hitam Suka Karya Sabang.  
Aneuk Laot dalam bahasa Indonesia berarti Anak Laut. Danau Aneuk Laot berada di tengah-tengah Kota Sabang. Di sini sangat dikenal dengan sunset-nya yang indah. Dari Danau Aneuk Laot menuju Benteng Jepang kurang lebih perlu waktu 20 menit perjalanan darat.
Saya sempat ternganga ketika tiba di pintu masuk Benteng Jepang karena mirip gua. Saya makin ternganga ketika tiba di atas bukit, di mana markas utama benteng berdiri. Pemandangan laut lepas dari markas utama luar biasa indah.

Titik Nol Indonesia (Foto Dik.Pri)

Jalan Menuju Benteng Jepang (Foto Dok.Pri)

Pantai Sumur Tiga (Foto Dok.Pri)

Masjid Baiturrahman Aceh (Foto Dok.Pri)

Destinasi berikutnya Pantai Sumur Tiga dan Gua Sarang. Baru kemudian menuju pusat kota dan menikmati makanan khasnya. Lagi-lagi karena diburu deadline, saya kembali buka laptop untuk menyelesaikan pekerjaan.
Keesokan harinya, usai sarapan menuju dermaga, menyeberang kembali menuju Banda Aceh. Tiba di Banda langsung menuju beberapa destinasi di Aceh seperti Museum Tsunami, Museum Kapal, Masjid Baiturrahman, Kubah Masjid, dan pastinya menikmati makanan khasnya sebelum ke bandara pada sore hari untuk kembali ke Bandung.

Ketemu Komodo di Labuan Bajo
Seminggu kemudian, setelah kembali sibuk dengan rutinitas pekerjaan, saya kembali traveling, kali ini eksplore Labuan Bajo. Beruntung kali ini jadwal penerbangan agak siang, jadi dari Bandung ke Bandara Soekarno-Hatta usai shalat subuh. Terbang pukul 10.50 WIB, tiba di Bandara Komodo 14.25 WIT.
Setelah dijemput guide di bandara, langsung menuju dermaga, lalu naik kapal pinisi. Pinisi berlayar kurang lebih 1 jam, jelang sore singgah di Pulau Kelor. Pulau Kelor menurut saya jadi bukti kalau keindahan Indonesia emang sempurna. Mulai dari bawah laut, pantai, hingga bukitnya indah. Sayang tidak bisa berlama-lama di sana.
Seperti kebiasaan saya kalau traveling, malam hari sebelum istirahat pasti buka laptop untuk menyelesaikan pekerjaan. Beruntungnya, pekerjaan tidak harus selesai saat itu, tetapi tetap saya cicil. Lagi pula, kalau harus selesai saat itu tidak mungkin saya kirim karena koneksi internet sangat lambat, hehehe.
Esok harinya, pinisi berlayar ke Pulau Padar. Ini pulau tujuan utama selain Pulau Komodo jika ke Labuan Bajo. Pulau Padar memang pantas disebut sebagai surga tersembunyi karena aslinya memang luar biasa banget pemandangannya. Supaya mendapat pemandangan yang indah harus naik bukit kurang lebih 1-2 jam.
Track menuju Bukit Padar tidak mudah, kita harus naik undakan dan bebatuan terjal, jika tidak siap bisa nyeri sendi dan pegal-pegal.
Setelah puas menikmati indahnya Bukit Padar lanjut menikmati keindahan bawah laut Pantai Pink. Sebagai penutup, destinasi terakhir apalagi kalau bukan mengunjungi Pulau Komodo sebelum kembali ke Bandung.

Meniti Bukit Padar Labuan Bajo (Foto Dok.Pri)

Pantai Pink Labuan Bajo (Foto Dok.Pri)

Komodo di Pulau Komodo (Foto Dok.Pri)

Di Atas Bukit Pulau Padar (Foto Dok.Pri)

Apa yang terjadi setelah melakukan dua (2) perjalanan yang beruntun? Bahu dan punggung saya bukan hanya pegal, melainkan juga terasa sakit, nyeri, dan panas sekali. Saya segera periksa ke dokter dan dokter menyimpulkan ada peradangan dan pembengkakan pada persendian bahu. Dokter menyebutnya Bursitis. 
                             
Bursitis dan Tendinis
Dokter langsung menebak kalau saya selama ini terlalu memaksakan diri membawa beban berat di bahu. Iya sih, habis bagaimana lagi? Kalau traveling kan mau tidak mau bawa banyak barang yang dibutuhkan.
Selain pakaian, peralatan mandi, obat-obatan, kamera beserta perangkatnya, dan laptop. Apalagi saya lebih senang bawa ransel atau tas travel jinjing daripada koper. Sangat wajar kalau bahu keberatan, apalagi tinggi badan saya termasuk mungil, hanya 160 Cm, jadi makin rentan, hehehe.
Membawa beban terlalu berat pada bahu kan berarti menggunakan persendian bahu, jika terlalu sering atau keras menggunakannya dalam jangka panjang bisa menyebabkan jaringan halus di dalam bahu lebih mudah aus. Bahu jadi lebih rentan terhadap cedera, kondisi seperti ini yang disebut dengan tendinitis.

Kebayang Sedihnya Tidak Bisa  Nulis dan Traveling (Foto Dok.Pri)

Tidak jarang pula persendian bahu yang digunakan terlalu berlebihan bisa meradang dan membengkak, sakitnya sungguh luar biasa. Ini yang saya rasakan kemarin, dokter menyebutnya bursitis. Bursitis dapat menyebabkan banyak kegiatan harian seperti menyisir rambut atau berpakaian jadi lebih sulit dari biasanya. Hiks ...
Bursitis terjadi karena ada peradangan atau pembengkakkan dari sebuah kantung berisi cairan pelumas yang disebut synovium. Synovium biasanya terletak di sekitar bahu, siku, pinggul, lutut, kaki. Synovium berfungsi sebagai bantalan antara tulang dan organ-organ di sekitarnya seperti otot, tendon, kulit, untuk mempermudah gerakan.
Kata dokter, meski sudah diobati, bursitis bisa terjadi berulang-ulang, kecuali penyebabnya dihentikan. Saya langsung mikir, jangan-jangan sudah nggak bisa traveling lagi, nulis lagi, shooting lagi ... duuuh ... sedihnya hidup dunia yang saya tekuni saat ini ... hiks ...
Selama beberapa minggu saya melakukan pengobatan. Oh iya, jika teman-teman merasakan apa yang saya rasanya, sebaiknya langsung konsultasi ke dokter supaya segera ditangani. Ada beberapa cara pengobatan yang dianjurkan dokter:
1). Istirahat total dan hentikan pekerjaan selama kurang lebih 2 minggu.
2). Memakai bidai atau gips selama 7-10 hari.
3). Menggunakan es pada area yang nyeri untuk mengurangi pembengkakan dan meredakan rasa sakit.
4). Menggunakan obat-obatan anti radang seperti aspirin, ibuprofen, naproxen yang bisa meredakan bursitis ringan hingga sedang secara efektif.
Dampak paling parah dari bursitis adalah melakukan operasi terbuka untuk memperbaiki dan meredakan tekanan pada kantong synovial atau yang biasa disebut dengan arthroscopic. Ngeri banget, kan? Beruntung saya tidak sampai melakukan arthroscopic, tetapi saya tetap perlu pelatih fisik untuk menghindari kembali terjadinya bursitis.
Praktis, setelah melakukan dua (2) perjalanan di atas, saya rehat cukup panjang, bahkan hingga saya menulis ini. Padahal, ada beberapa ajakan traveling, seperti ke Manado, Gorontalo, dan Raja Ampat ... semua terlewatkan. Sangat sedih memang, hanya gara-gara membawa beban berat di bahu, jadwal traveling jadi terganggung.
Dari sekian barang yang saya bawa saat traveling, sebetulnya semua bisa diminimalisir. Misal, pakaian bisa beberapa helai saja, kamera tidak harus bawa lensa tambahan dan tripod, alat mandi dan obat-obatan bisa ditinggal karena bisa membeli jika diperlukan. Benda yang sama sekali tidak bisa ditinggal apalagi kalau bukan laptop?

ASUS ZenBook UX331UAL Laptop Idaman Saya (Foto Dok.Pri)

Makanya jika ada rezeki, saya ingin ganti laptop yang super. Super tipis dan ringan, super kuat, super lebar, super cepat, super tahan lama, super memudahkan, serta super cantik dan indah.
Satu-satunya laptop yang menurut saya memenuhi impian dan keinginan saya tak lain dan tak bukan, apalagi kalau bukan ASUS ZenBook UX331UAL, laptop tipis, ringan, dan powerfull.


Super Tipis dan Ringan
ASUS ZenBook UX331UAL super tipis dan ringan. Bayangin, ada laptop ukuran 13 inchi, punya ketebalan hanya 13.9 mm, dan bobotnya hanya 985 gram. Disempurnakan dengan desain bingkai NanoEdge jadi makin terlihat ringkas. Beneran laptop super tipis dan super ringan. Ini mah beratnya sama kayak sepatu yang saya pakai, hehehe.
Kebayang, kalau punya laptop setipis dan seringan ini, saya bisa nenteng ke mana pun, termasuk saat traveling tanpa memberatkan tas punggung yang saya bawa. Pastinya, traveling yang saya lakukan jadi makin sehat karena bahu tidak akan sakit lagi.




Super Kuat
ASUS ZenBook UX331UAL yang sudah canggih dan elegan casingnya dibuat dari paduan antara magnesium dan aluminium. Konon paduan antara magnesium dan aluminium ini yang membuat laptop 33% jadi lebih kuat dan lebih ringan dari paduan standar yang digunakan di laptop.
Di samping itu, laptop ini memiliki sifat disipasi panas yang besar. Jadi, walaupun ZenBook UX331 paling ringan di kelasnya namun kemampuannya tidak dikorbankan. Kinerjanya tetap maksimal.
Lebih mencengangkan lagi, ASUS ZenBook UX331UAL telah melewati standar militer MIL-STD 810G yang menuntut keandalan dan daya tahan. Salah satu tesnya adalah mengoperasikan laptop di tempat yang tinggi dengan suhu dan kelembaban yang ekstrim.
Tidak hanya itu, ASUS ZenBook UX331UAL telah melewati tes yang tidak biasa. Laptop dijatuhkan dari ketinggian tertentu dan ditekan dengan benda berat. Hebatnya, laptop tetap kuat.



Super Lebar
Meski ASUS ZenBook UX331UAL dirancang dengan ukuran 13,3 inci, tetapi layar yang dimilikinya terlihat lebar karena ASUS ZenBook UX331UAL  menggunakan layar NanoEdge yang dibingkai sangat tipis.
Layar NanoEdge sudah Full HD 13,3 inci dan memiliki lebar 100% sRGB warna gamut sehingga warna yang ditampilkan akurat dan hidup sehingga semua terlihat alami. Ditambah lagi dengan teknologi wide-view 178° yang membuat kualitas gambar tidak terdegradasi jika dilihat dari sudut ekstrim.
Laptop ini pasti sangat membantu saya saat mengecek ilustrasi buku-buku anak yang saya tulis. Buku-buku anak yang saya tulis selalu penuh dengan ilustrasi, sehingga perlu akurasi warna yang tepat saat dilihat di layar laptop.

Mengecek Hasil Ilustrasi Buku Anak dari Ilustrator (Foto Dok.Pri)

Mengecek Hasil Shooting dengan Mudah (Foto Dok.Pri)

Pun, saat saya mengecek hasil shooting. Pasti laptop ini akan sangat membantu pekerjaan saya. Apalagi, laptop ini sudah dilengkapi dengan ASUS Tru2Life Video, teknologi peningkatan video eksklusif yang mirip dengan teknologi yang ditemukan pada Teve-Teve berkelas.
Teknologi ini menggunakan algoritma software cerdas untuk mengoptimalkan ketajaman dan kontras dari setiap video, sehingga video terlihat lebih jelas, lebih mendetail, dan lebih realistis. Teknologi ini dapat meningkatkan kontras hingga 150%. Mampu memperlihatkan detail walau di area gelap sekali pun. Tuh kan, bener ... emang nggak salah saya pilih laptop ini.




Super Cepat
ASUS ZenBook UX331UAL menggunakan Windows 10 ultrathin dengan prosesor Intel® Core™ i5 generasi ke-8 terbaru, yang bisa ditingkatkan hingga 4.0GHz bila diperlukan. Juga menggunakan RAM 8GB dan storage 256GB PCIe® SSD. Efeknya cukup dahsyat, ketika digunakan, mau berpindah dari satu program ke program lainnya jadi super cepat.
O iya, konon prosesor Intel® Core™ i5 generasi ke-8 ini mampu memberikan peningkatan kinerja hingga 30%, lho. Hebatnya lagi, saat bekerja hanya memerlukan tenaga baterei yang minimalis, jadi nggak boros baterai.
Buat saya yang multitasking, kinerja yang dimiliki ASUS ZenBook UX331UAL sangat mendukung. Maklum, saya orangnya sering tidak sabaran menunggu, inginnya semua serba cepat, hehehe.



Super Tahan Lama
Salah satu tujuan dirancangnya ASUS ZenBook UX331UAL ini adalah untuk membantu kaum urban yang memiliki gaya hidup dengan mobilitas yang tinggi. Oleh karena itu, ASUS ZenBook UX331UAL dilengkapi dengan baterai lithium-polymer 50Wh yang dirancang khusus.
Tahu nggak, berapa daya baterei yang ditawarkan? 15 jam! Wow ... Canggihnya baterai lithium-polymer ini selain daya kekuatannya 3X lebih lama dari baterai standar, juga mampu mempertahankan sebagian besar kapasitas baterai walau telah diisi daya ratusan kali.
Jika sudah seperti ini, siapa yang tidak kepincut coba? Tanpa repor-repot takut kehabisan baterei, saat bekerja atau saat traveling saya bisa tetap menggunakan laptop.




Super Memudahkan
Selain kelebihan-kelebihan di atas, ASUS ZenBook UX331UAL juga sangat memudahkan penggunanya. Di antara kemudahannya antara lain:

1). Keyboard Ergonomis
ASUS ZenBook UX331UAL dilengkapi dengan keyboard backlit ukuran penuh dengan desain yang kokoh dan ergonomis.
Precision Touchpad dirancang untuk kenyamanan saat mengetik dengan akurasi maksimum. Ada penutup kaca supaya kontrolnya mulus. Terus didukung dengan teknologi palm-rejection yang mendukung gerakan multi-jari dan tulisan tangan. Kebayang, bakal nyaman banget saat mengetik, kan?

2). ASUS Wi-Fi Master
ASUS ZenBook UX331UAL menggunakan teknologi ASUS Wi-Fi Master sehingga koneksi ke internet jadi lebih cepat dan lebih andal pada jarak yang lebih jauh daripada sebelumnya. Teknologi eksklusif ini jauh lebih baik dari Wi-Fi 802.11ac dual-band 6-bit yang lebih cepat, Wi-Fi MU-MIMO-capable dual-band 802.11ac.
Dengan ASUS Wi-Fi, ASUS ZenBook UX331UAL memiliki kecepatan hingga 867Mbps, tak heran jika pengguna bisa menikmati streaming video YouTube Full HD pada jarak 300 meter atau lebih. 

3). Sensor Sidik Jari
ASUS ZenBook UX331UAL dilengkapi sensor sidik jari yang ada di touchpad dan Windows Hello, jadi saat kita akan mengaksesnya cukup dengan menyentuhkan jari kita saja, tidak perlu mengetik kata sandi.

4). Audio Terbaik
Karena saya bekerja di dunia kreatif, mau tidak mau saya memerlukan audio yang terbaik. Beruntungnya, ASUS ZenBook UX331UAL telah dilengkapi dengan audio terbaik yang cukup mumpuni, jadi sangat memudahkan saya.
Perangkat audio yang dipasang adalah audio dengan sistem audio yang telah disertifikasi Harman Kardon. Tim ASUS Golden Ear sengaja mengembangkan teknologi ASUS SonicMaster generasi berikutnya.
Dengan perpaduan hardware superior yang telah disesuaikan, termasuk teknologi low-distortion smart-amplifier. Audio mampu ditingkatkan volumenya hingga 3,5x. Kebayang, kan bagaimana serunya saat audio tersebut mengeluarkan suara? Saya jadi bisa cek audio hasil shooting dengan lebih baik dan jelas neh, kalau begini, hehehe. 


Super Cantik dan Indah
Asus menyediakan dua (2) varian warna yang cantik dan indah untuk ASUS ZenBook UX331UAL,  yaitu Deep Dive Blue dan edisi terbatas Rose Gold. Deep Dive Blue adalah warna yang sangat indah yang merembes dengan kecanggihan, sementara Rose Gold menambahkan gaya hidup kita terlihat lebih berkilau dan menyenangkan.



Fhuih, rasanya benar-benar lengkap kelebihan ASUS ZenBook UX331UAL ini. Tidak hanya bagian luarnya saja yang cantik dan indah, tetapi juga bagian dalamnya pun cantik dan indah. Ibarat manusia, doi cantik luar dalam.
Kalau sudah disodori yang cantik luar dalam seperti ini, siapa yang akan nolak coba? Saya pikir tidak ada. Termasuk saya! Hehehe.
@alimuakhir

1 komentar:

  1. Saya tidak akan nolak kalau dikasih rezeki Zenbook 13 ini, Kang hehe... btw, travelingnya mantap banget dari ujung ke ujung Indonesia. Titik nol destinasi impian aku hoho...

    BalasHapus

Ditunggu Komentarnya Teman-Teman