Kamis, 07 Juni 2012

[Novel Anak] Matahari Kecil -2


             [Novel Anak] episode 2

Matahari Kecil
Oleh Ali Muakhir



(2)
Bunda Asma mengiyakan.
Suasana panti yang cukup tenang membuat perbincangan mereka seolah tidak ada putusnya. Padahal, Bunda Asma telah selesai mem-bantu Ines memakai jilbab yang baik dan benar.
"Bunda, sebetulnya arti jilbab sendiri itu apa, sih?"
Sebelum menjawab, Bunda melipat kembali jilbab-jilbab yang telah dicoba Ines. Jilbab-jilbab tersebut, kemudian disimpan di lemari Ines yang terletak persis di dekat tempat tidur Ines. Bukan lemari sebetulnya, tetapi kotak sangat sederhana. Besarnya hanya satu kali satu meter, yang kemudian mereka sebut "lemari" karena tempat tersebut menjadi milik paling pribadi tiap anak yang tinggal di panti. Tiap anak diberi satu lemari.
Panjang-lebar Bunda Asma menjelaskan apa arti jilbab yang sesungguhnya. Dalam Kitab Al-Munjid, jilbab diartikan sebagai baju atau pakai-an yang lebar. Dalam Kitab Al-Mufradat, jilbab diartikan baju atau kerudung. Sedangkan dalam Kitab Al-Qamus, mengartikan jilbab sebagai pakaian lebar sekaligus kerudung yang biasa dipakai wanita untuk menutupi pakaian.
Kitab Lisanul Arab, mengartikan jilbab seba­gai jenis pakaian yang lebih lebar dan panjang daripada kerudung, dan lebih kecil ketimbang selendang yang biasa dipakai perempuan untuk menggendong bayi.
"Berarti, jilbab itu pakaian longgar yang bisa menutup kepala dan dada," tuntas Bunda Asma.
"Mmm ..., seperti yang Bunda kenakan?" tebak Ines.
Bunda Asma mengangguk-angguk, "Kalau baru belajar dan belum bisa memakai yang panjang, ya yang penting untuk menutup aurat juga tidak apa-apa. Yang pasti, harta kita ter-jaga."
Sekali lagi, Ines mengangguk-angguk. Ke-palanya yang sekarang sudah tertutup jilbab dengan rapi, bergoyang-goyang sejenak.
"Bunda, beberapa kali Ines melihat, sekarang banyak anak seusia Ines pakai jilbab dengan macam-macam model. Menurut Bunda gimana?"
"Wah, kalau itu Bunda belum bisa jawab," mata Bunda Asma berbinar-binar. "Kalau sekadar model, mungkin tidak masalah. Kan biar yang muda-muda seperti Ines, mau pakai jilbab. Tetapi, kalau sudah keterlaluan, Bunda tidak setuju juga."
"Misalnya?"
"Jilbab kan, awalnya untuk menutup aurat supaya tidak menimbulkan prasangka yang bukan-bukan. Kalau pakai jilbab malah menim­bulkan prasangka yang bukan-bukan, ya nama-nya bukan jilbab, dong."
"Namanya apa?" kejar Ines.
"Penutup aurat atau kerudung."
Ines tersenyum, "Kerudung gaul?"
Mereka berdua tersenyum. Bunda mencium kening Ines. Ines memejamkan mata menikmati rasa sayang yang diberikan Bunda Asma kepadanya.
Tanpa terasa, waktu sudah semakin senja. Suara azan magrib sudah mengalun dari masjid sebelah panti. Sekali lagi Ines mengucapkan terima kasih, dan sekali lagi memeluk erat Bunda Asma. Seolah tak ingin melepasnya begitu saja.

bersambung ke-3

0 komentar:

Poskan Komentar

Ditunggu Komentarnya Teman-Teman

Blog Archive

Komentar