Minggu, 01 September 2013

[10daysforASEAN] Laos Vs Indonesia

Obrolan
Nyi Iteung dan Kang Kabayan
6_#10daysforASEAN

Laos Vs Indonesia

Pada Maret 2013 lalu,
 bersama-sama dengan Negara di Tiga Aliran sungai bersepakat
ASEAN menjadi basis produksi utama, dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT)
 Kerja Sama Ekonomi Strategis (ACMECS) di Vientiane, Ibu Kota Laos.


Pagi-pagi di akhir pekan, tidak biasanya Kang Kabayan hanya duduk di depan rumah sambil baca koran. Padahal, biasanya jalan santai mengelilingi kompleks atau bersepeda bareng Nyi Iteung.
Kang Kabayan tiba-tiba ingat Negara Laos yang beberapa bulan lalu sempat dikunjunginya. Negara yang tidak memiliki wilayah laut atau biasa disebut Land-Lock. Kondisi ini menyebabkan Laos menjadi salah satu negara yang kurang menguntungkan dari segi pertahanan dan keamanan, terutama dari serangan atau invasi negara lain.

Visual dari Blog Ini

Pada tanggal 23 Juli 1997, Laos memutuskan untuk bergabung dengan ASEAN, berbarengan dengan Myanmar. Laos bergabung selain karena untuk meningkatkan keamanan juga meningkatkan berbagai sektor untuk memajukan kesejahteraan rakyatnya.
Pertumbuhan ekonomi Laos terlihat meningkat setelah pada tahun 1986, pemerintah mengizinkan swasta untuk mendirikan banyak perusahaan. Hasilnya, pertumbuhan ekonomi melesat tajam, setiap tahun peningkatannya tidak kurang dari 6% pertahun.
Sebagaimana negara berkembang pada umumnya, hanya kota-kota besarlah yang paling banyak menikmati pertumbuhan ekonomi, seperti Vientiane, Luang Prabang, Pakxe, dan Savannakhet.
Upaya pemerintah untuk terus memajukan masyarakatnya juga terus ditingkatkan dengan banyak keterbatasan. Mengingat, hingga sekarang Laos masih memegang pemerintahan yang berasazkan komunis, segala bentuk perbedaan pendapat yang ada selalu dimusnahkan sehingga tidak terlacak.
Karena keterbatasan lapangan kerja, di Laos juga banyak sumber daya manusia terpelajar yang meninggalkan Laos dan memilih bekerja di luar negeri, jika ini dibiarkan terus menerus Laos akan kehilangan putra bangsa.
Laos masih mengandalkan sektor pertanian sebagai sektor andalan untuk menumbuhkan ekonomi negaranya. Sektor pertanian menyerap tenaga kerja yang ada hingga mencapai 80%. Selain sektor pertanian ada sektor tambang yang jumlahnya terbatas.
Ada satu sektor yang beberapa tahun terakhir ini pertumbuhannya sangat pesat, yaitu sektor pariwisata. Sebagai salah satu negara yang masih memegang adat istiadat dan patuh pada tradisi, Laos terlihat menarik dan berbeda dengan bangsa-bangsa lain. Laos juga terdiri dari bermacam suku bangsa dan budaya. Ditambah lagi, Laos memiliki banyak bangunan sejarah seperti candi.
Laos juga memiliki potensi alam yang luar biasa. Sebagai salah satu negara yang mempunyai lembah sungai yang subur, sehingga mampu bersaing pada sektor pertanian dan perkebunan, terutama padi, kopi, dan tembakau. Walau Laos tidak memiliki lautan, tetapi Loas memiliki  bukit dan pegunungan yang tertutup hutan lebat, sehingga mampu menghasilkan kayu sebagai salah satu komoditas.

Visual dari Blog Ini

“Akang teh jadi ke Laos?” tanya Nyi Iteung tiba-tiba sudah berada di dekat Kang Kabayan.
“Jadi atuh, Nyi. Kang Akang teh ke sana untuk misi kebudayaan,” jawab Kang Kabayan. “Eh, Nyi, mau coba pindah ke Laos nggak?” ujar Kang Kabayan membuat Nyi Iteung teu ngerti.
“Pindah ke Laos kumaha, Kang?”
“Iya, pindah ke sana. Di sana kan banyak potensi budayanya, Nyi.”
“Emang kalau pindah mau ngapain, kitu?
Kang Kabayan membayangkan, seandainya pindah dan menjadi warga negara di Laos, pertama Kang Kabayan akan makin menggencarkan kebudayaan dan pariwisata di sana. Bukan apa-apa, budaya dan pariwisata di sana belum terkontaminasi oleh budaya apapun. Istilahnya masih virgin. Para wisatawan sekarang lebih senang berwisata di tempat-tempat yang berbeda, eksotik, dan memberikan banyak pengalaman serta pengetahuan yang belum pernah dirasakan sebelumnya.
Kedua, karena Laos berbatasan langsung dengan beberapa negara tanpa disekat oleh lautan, infrastruktur akan diperbaiki. Memperbiki jalur darat jauh lebih mudah dan murah diripada jalur laut ataupun jalur udara seperti Indonesia yang berpulau-pulau.
Ketiga, akan lebih banyak lagi membuka lapangan pekerjaan karena banyak sekali sumber daya manusia di Laos yang pindah ke luar negeri lantaran tidak cukup tersedianya lapangan pekerjaan. Bisa lapangan pekerjaan di sektor perdagangan, sektor industri, atau sektor pariwisata.
Ketiga hal di atas pasti akan semakin memperkuat posisi Laos sebagai salah satu negara ASEAN yang kuat dan hebat dalam kancah menyukseskan ASEAN Economic Community (AEC) 2015. Apalagi, pada Maret lalu, bersama empat negara lainnya Kamboja, Thailand, Vietnam, dan Myanmar telah berkumpul dan menuntaskan  Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Kerja Sama Ekonomi Strategis (ACMECS) di Vientiane, Ibu Kota Laos.
Lima negara di aliran tiga sungai Ayeyawady, Chao Phraya, dan Mekong tersebut salah satunya membahas agenda penting yang akan dijalin dengan seluruh Negara ASEAN, salah satunya adalah upaya menjadikan kawasan ASEAN menjadi basis produksi utama. Kerja sama ini menjadi jalan menuju pasar ASEAN 2015.
ACMECS sendiri memprioritaskan kerjasama di bidang perdagangan dan investasi, pertanian, energi, jaringan transportasi, pariwisata, pembangunan sumber daya manusia, kesehatan, dan lingkungan.
“Akang mau minum teh manis?” tanya Nyi Iteung kemudian.
“Bolehlah, tapi sekalian cemilannya, ya,” jawab Kang Kabayan.
“Iya atuh Akang.”
“Jadi pergi ke Laosnya kapan, Kang?” tanya Nyi Iteung lagi.

“Masih sebulan lagi, jadi masih bisa mikirin mau pindah ke sana, apa mau menetap di sini.” ***


Mau Jago Nulis dan Jadi Pemenang di Dunia Tulis Menulis? Ikut Kelas Nulis "WinnerClass" aja.

0 komentar:

Poskan Komentar

Ditunggu Komentarnya Teman-Teman

Blog Archive

Komentar